Suami Yang Dibenci

Suami Yang Dibenci
Tanda - Tanda


__ADS_3

Maria menggeliat dalam tidurnya setelah bias sinar matahari menyinari penglihatannya. Dia mengerjapkan mata dan mulai membukanya. Melihat sekeliling dan ketika menoleh kesebelah, ranjangnya telah kosong dan rasanya dingin. Sekelebat ingatan muncul dimana dia dan suaminya telah melakukan aktivitas malam hari. Jo begitu bergairah demikian pula dirinya. Mata Maria terbelalak mengingat sesuatu yang ia lupakan.


"Ya Tuhan!"


Derit pintu yang terbuka mengalihkan lamunan Maria ke arah pintu, memandang Jo yang sudah rapi melangkah mendekat dan duduk di pinggir ranjang.


"Kamu kenapa?" lagi-lagi pertanyaan itu yang terucap dari bibirnya


"Semalam kamu seenaknya saja menyerangku." protes Maria


Jo terkekeh pelan.


"Salah sendiri kamu mendiamkanku. Suami mana yang tahan di cuekin istrinya terlalu lama? Apalagi kamu cuek tanpa alasan yang jelas." gerutu Jo


"Maafkan aku. Akhir-akhir ini aku ingin sekali mengatakannya padamu tapi aku takut."


Dahi Jo mengernyit.


"Apa maksudmu Maria?"


"Aku, aku ingin punya anak lagi."

__ADS_1


Spontan mata Jo membulat disusul dengan senyum merekah di wajahnya.


"Kamu serius?" tanyanya


"Tapi aku takut kalau kamu keberatan. Semalam aku lupa minum pil kontrasepsi, kamu juga menahanku agar aku tidak pergi." jawab Maria dengan menunduk


Bukan kemarahan yang ia dapatkan, justru sebuah kecupan yang mendarat di keningnya. Maria yang semula menunduk sekarang menatap suaminya yang tesenyum sayu.


"Itu juga yang ku inginkan Maria. Sudah beberapa hari ini aku memikirkannya. Saat di kantor pun aku juga memikirkannya. Sejak Dev punya Mike, aku jadi ingin punya anak laki-laki."


Maria terkejut. "Jadi kamu.."


Jo mengangguk. "Syeina minta adik. Tapi karena sikapmu yang mendiamkanku dua hari ini, aku jadi tidak berani mengatakannya."


Mereka pun tertawa karena kekonyolan mereka masing-masing.


"Untungnya semalam aku menahanmu." kata Jo


"Aku takut kalau kamu keberatan." sahut Maria


"Kenapa aku keberatan? Malah aku senang, dengan banyak anak rumah ini jadi ramai."

__ADS_1


"Bagaimana kalau anak kita perempuan lagi?" tanya Maria


"Ya kita buat lagi." Jo menjawab dengan entengnya


"Kamu mudah sekali bilang begitu."


"Rumah kita besar sayang, jadi kenapa kamu khawatir. Aku tidak masalah kalau punya banyak anak. Dengan begitu akan semakin banyak yang menyayangiku." ujar Jo dengan mata sendu


"Jo..." Maria pun membalas dengan menatapnya sendu


"Sebelum ada kalian, hidupku sangat sepi. Aku punya banyak teman, tapi rasanya berbeda dengan keluarga. Dan aku sangat bahagia saat berkumpul bersama kalian."


Mendengar pengakuan dari suaminya, hati Maria tersentuh dan matanya berkaca-kaca. Lalu memeluk suaminya dengan perasaan haru dan Jo kemudian juga membalas pelukannya.


***


Kini Jo makan pagi bersama istri dan kedua putrinya. Tak dapat di pungkiri hati bahagianya begitu menguasainya. Bagaimanapun kini orang yang di cintainya berada di jarak pandangnya bahkan dari tadi ia tidak mengalihkan tatapannya barang sedetik pun dari Maria.. wanita yang sedang menghidangkan makanan untuknya membuatnya mengulum senyum melihat istrinya yang tampak cerah pagi ini. Dia menatap lekat tubuh Maria yang terbalut dengan dress berwarna peach dan rambutnya tergulung rapi menyisakan anak-anak rambut di sisi kanan dan di sisi kiri wajahnya.


"Silahkan dimakan, suamiku."


"Terima kasih istriku sayang."

__ADS_1


Hari demi hari mereka lalui dengan penuh kebahagiaan. Sampai tak terasa empat bulan berlalu setelah hari itu. Maria mulai merasakan tanda-tanda, seperti mual-mual dan pusing. Apakah dia hamil?


Bersambung


__ADS_2