
Di tengah asyiknya mereka bermain, Jo dan Maria sedang bersenda gurau di ruang tamu. Mereka mengobrol dengan mesra dan saling bercanda. Lalu, bunyi bel pintu kembali menginterupsi kebersamaan mereka. Saat Jo melihat siapa yang datang, seketika raut wajahnya berubah. Dia terkejut bukan main mendapati seorang wanita yang kini berdiri dihadapannya.
"A.. Agnez?" ucap Jo terkesiap
"Apa kabar Jonathan?" balas Agnez dengan senyum tipis
Maria yang penasaran dengan siapa yang datang, dia pun berjalan mendekati Jo yang diam terpaku. Refleks kedua matanya melotot saat melihat kedatangan seseorang dari masa lalu.
"Hai Maria." Agnez menyapa dengan senyum tipis walaupun ia terkejut dengan Maria yang tengah hamil tua
"Apa kalian akan membiarkan aku tetap berdiri diluar?" tanyanya dengan nada bercanda
"Si silahkan masuk." akhirnya Jo meminta Agnez masuk dan duduk di ruang tamu
Mereka terdiam beberapa saat karena masih tercengang dengan kedatangannya yang tiba-tiba. "Ehem." Hingga dehaman Agnez membuat Jo dan Maria tersentak dari lamunan mereka.
"Kalian pasti terkejut dengan kedatanganku yang mendadak." Agnez memulai percakapan. "Aku pasti mengganggu kalian ya"
"Ti tidak Agnez. Kau sama sekali tidak mengganggu kami." balas Maria dengan sedikit panik
"Selama ini kau ada dimana? Dulu, aku berniat untuk mengundangmu hadir di hari pernikahan kedua kami. Tapi aku tidak menemukan siapa-siapa di rumahmu. Aku juga sudah berusaha menghubungimu tapi semua akun media sosialmu sudah tidak aktif."
Agnez tersenyum simpul sebelum menjawab pertanyaan Jo.
__ADS_1
"Itu karena kami pindah ke Jerman. Ayah membangun bisnis disana. Jadi aku terpaksa ikut tinggal bersama orang tuaku. Meskipun aku sebenarnya lebih suka tinggal disini." jawab Agnez dengan wajah sedih
"Lalu kenapa kau tidak memberitahu kami Agnez?" tanya Maria, membuat Agnez dan Jo berpandangan tanpa menjawab pertanyaannya.
"Ada apa? Apa ada yang kalian sembunyikan dariku?" Maria menatap mereka bergantian
"Karena aku sudah berjanji kepada suamimu. Kalau aku tidak akan muncul lagi dalam kehidupan kalian."
Spontan mata Maria membulat, lalu beralih menatap suaminya yang diam dan merasa bersalah. "Apa itu benar Jo?"
Jo pun mengangguk.
"Tapi kenapa? Kenapa kamu tega sekali Jo? Bukankah Agnez adalah temanmu yang berharga?"
"Kau jangan menyalahkan suamimu Maria. Itu memang keinginanku. Sungguh, aku masih merasa bersalah. Karena aku sudah hampir membuatmu keguguran saat itu."
"Aku minta maaf Maria. Aku minta maaf Jo. Ternyata aku mengingkari janji yang ku buat sendiri." ucap Agnez dengan menitikkan airmata
"Selama aku di Jerman, aku sangat merindukan kalian. Meskipun kita baru mengenal dan bertemu dua kali, tapi entah mengapa aku ingin bisa lebih dekat denganmu Maria, sebagai sahabat." kata Agnez dengan senyum sayu
Maria yang mendengarnya sangat terkejut begitupula Jo. Lalu kemudian senyuman terukir dari bibir mereka berdua.
"Tentu saja Agnez. Aku sangat senang bisa menjadi sahabatmu." balas Maria
__ADS_1
Agnez menggigit bibir bawahnya, berusaha mengontrol rasa bahagianya. Namun kebahagiaan yang meluap-luap membuatnya mendekat dan memeluk Maria.
"Terima kasih banyak Maria. Terima kasih."
Agnez menitikkan airmata, sedangkan Maria hanya tersenyum dan melirik Jo yang juga tersenyum bahagia.
"Oh iya, kau sedang hamil ya?" tanya Agnez setelah melepaskan pelukannya
"Iya, ini calon anak ketiga kami." jawab Maria
"Lalu, anak pertama kalian? Pasti sekarang sudah besar kan?" tanya Agnez
"Iya, mereka sudah Tk. Sekarang mereka sedang bermain di lantai dua. Mau aku antar menemui mereka?" tawar Jo, Agnez belum tahu kalau buah hati Jo dan Maria adalah anak kembar.
"Mau sekali. Tapi apa maksudmu dengan mereka?" tanya Agnez sambil mengikuti langkah Jo
"Kau akan tahu nanti."
Setiba di balkon kamar Rachel, Agnez tercengang mendapati dua putri kecil Jo yang serupa.
"Jadi, anak pertamamu kembar?" Agnez ternganga
Jo hanya tersenyum. "Kalau begitu aku tinggal ya. Silahkan bermain bersama mereka." Jo berbalik meninggalkan Agnez yang masih terpaku ditempat
__ADS_1
Dan pada saat itu pula, sepasang mata Marco tertuju pada Agnez yang kini berdiri di hadapannya. Dia terdiam sesaat, seakan tatapannya terkunci pada Agnez yang kini juga memandangnya.
Bersambung