
"Judul lagu ciptaanku adalah, Sweet Night. Wahai pengagum rahasiaku."
Deg
Suasana kembali sunyi. Jo meletakkan biolanya sebelum maju satu langkah mendekati Maria yang diam membeku, merasa terkejut sampai dia tak mampu berkata-kata.
"Maria, apakah selama ini kamu yang selalu mengintipku di ruang musik?" Jo menatap Maria intens, namun senyumnya yang lembut tetap menghiasi wajahnya.
Aduh, bagaimana dia bisa tahu. Rasanya aku ingin menghilang saja jadi debu.
"A apa maksudmu? Aku.. aku tidak mengerti." ujar Maria sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal
Tiba-tiba Jo mengeluarkan sesuatu dari kantung piyamanya, yang semakin membuat Maria syok dan panik.
"Lalu ini apa?" Jo menunjukkan selembar kertas lagu di depan Maria, otomatis mata Maria membola tak percaya.
"Itu.. bagaimana kertas itu bisa ada padamu?" tanya Maria bingung
"Aku tidak sengaja melihat kertas ini di atas nakas, saat kamu sudah tertidur nyenyak semalam."
Jo menjawab dengan jujur. Kertas nada itu semula berada di kamar Maria, dan dia lupa menaruhnya di atas nakas. Lalu ketika para pelayan memindahkan bajunya di kamar suaminya, salah seorang dari mereka juga membawa kertas nada itu barangkali sebuah catatan penting.
"Kan aku sudah pernah katakan, hanya beberapa nada saja yang mirip." Maria berusaha menyangkal sambil menggenggam kedua tangannya dengan erat
__ADS_1
"Benarkah? tapi aku sudah mencoba memainkannya karena aku penasaran. Dan semua nadanya benar-benar sama seperti laguku barusan yang aku mainkan untukmu."
Jantung Maria berdetak semakin tak karuan. Dia tak berani memandang suaminya sekarang. Kepalanya menunduk dengan terus menggenggam kedua tangannya karena menahan malu.
"Maria, katakan yang sejujurnya. Apa benar gadis itu adalah kamu?" Jo menatap sendu ke arah Maria, dan ketika sepasang mata mereka saling bertemu, tidak ada lagi kebohongan yang keluar dari bibir Maria, seakan terhipnotis oleh tatapan mata suaminya yang mendalam.
"Iya, itu aku."
Mata Jo mulai berkaca-kaca, kertas yang semula tergenggam di tangannya kemudian terbang tertiup angin. Lalu memeluk Maria sangat erat dengan menitikkan airmata.
"Kenapa? kenapa kamu tidak berterus terang Maria? kenapa kamu sembunyikan hal itu dariku?"
"Aku.."
Jo kemudian melepas pelukannya, memegang pundak Maria yang kedua maniknya juga mulai berkaca-kaca.
"Maria, aku sudah melupakan semua yang terjadi tentang apa yang kamu lakukan selama ini. Aku bisa memahami perasaanmu, kamu dan.."
"Jangan sebut nama itu." Maria memotong ketika Jo hendak menyebut nama Dev
"Iya, dulu aku sangat menyayanginya. Sampai-sampai aku melakukan kesalahan besar. Dan aku sangat menyesal telah menyakitimu. Apalagi setelah aku tahu kalau kamu adalah lelaki yang sangat aku kagumi, aku semakin menyesal dan merasa bersalah." airmata Maria semakin mengalir deras
"Maria, aku sudah melupakan semua kesalahanmu. Aku pun juga melakukan kesalahan. Awalnya, aku sendiri yang tidak mengakuimu sebagai istri. Sikapku juga menjengkelkan, jadi wajar kalau kamu tidak menyukaiku. Dan rencana kita pada awalnya hanya menikah sementara lalu kita berpisah. Tapi semuanya berubah setelah aku melakukan itu padamu. Saat aku merenungkan semuanya, aku baru menyadari. Harusnya aku bersikap lembut padamu layaknya seorang suami, mungkin kamu bisa membuka hatimu untukku dan ceritanya akan berbeda. Dengan begitu tidak akan ada yang saling tersakiti."
__ADS_1
Semua perkataan Jo membuat Maria terpana. Hingga akhirnya dia meraih kedua tangan Maria dan menggenggamnya di depan wajahnya.
"Maria, maukah kamu memulai semuanya dari awal lagi?"
Tangis Maria kembali pecah, dia menarik tangannya dari genggaman suaminya.
"Aku tidak bisa Jo. Kenapa kamu tetap baik padaku? Kamu harusnya cari wanita lain."
"Tapi aku maunya kamu, yang jadi istriku."
Lagi, ucapannya membuat Maria semakin terpana.
"Tolong katakan kalau kamu membenciku. Katakan Jo, aku mohon katakan." Maria terus meracau dan menangis
"Maria, dengarkan aku." Jo menangkup pipi Maria agar kembali menatap dirinya
"Sebesar apapun kebencianku padamu, tidak sebanding dengan besarnya cintaku untukmu. Maria, aku sangat mencintaimu. Maukah kamu kembali bersamaku? Menjadi teman hidupku dalam suka maupun duka?"
Maria terdiam untuk beberapa saat, seiring dengan airmata yang kembali jatuh membasahi pipinya.
"Iya, aku bersedia. Aku juga sangat mencintaimu."
Akhirnya Maria mencurahkan isi hatinya yang terpendam. Detik kemudian mereka saling tersenyum. Lalu akhirnya, Jo mendaratkan ciumannya pada bibir Maria. Dan ketika bibir mereka terpaut, Maria mengalungkan lengannya pada leher suaminya. Ciuman itu semakin lama semakin dalam, saling melepaskan hasrat kerinduan yang sudah lama tertahan menyesakkan dada. Hingga pagutan mereka terlepas, Jo kembali menarik tengkuk Maria, memagut bibirnya semakin dalam dan memeluknya dengan erat. Bulan dan bintang menjadi saksi bersatunya cinta mereka malam itu.
__ADS_1
Bersambung
Jangan lupa tinggalkan like & komen ya😍