Suami Yang Dibenci

Suami Yang Dibenci
Malam Pertama ++


__ADS_3

MATURE CONTENT !!!


Yang merasa masih dibawah usia 18 tahun, sebaiknya SKIP part ini.


Dan bagi yang tidak sanggup/tidak suka MATURE CONTENT boleh langsung SKIP saja.


Setelah acara tersebut selesai, Dev mengantar Maria pulang. Mobil Dev berhenti ditempat mereka ketemuan.


"Maria, aku pulang ya."


"Hati-hati Dev. Daahh.."


Setelah mobil Dev melaju cukup jauh, mobil Jo datang dan berhenti di depannya. Kaca mobilnya terbuka, dari dalam dia melihat Maria dengan penuh amarah.


"Mau sampai kapan kamu berdiri disitu? Cepat masuk!!"


Tubuh Maria gemetar melihat tatapan tajam suaminya, baru kali ini dia melihat Jo yang begitu marah. Aura kemarahannya sangat terasa di saat dia duduk di sampingnya yang sedang mengemudi. Ekspresi Jo terlihat muram, bahkan Maria tak berani menoleh ke arahnya.


Dalam perjalanan suasana begitu hening, tak ada kalimat yang terucap. Sesampai di rumah, Jo segera menarik lengan Maria dengan kasar menuju kamar mereka.


"Sekarang jelaskan padaku! Bagaimana kamu bisa berdua dengan dia!!"


"Aku.. emm.."


"JAWAB!!"


Maria tersentak mendengar teriakan suaminya dengan sorot mata berapi-api.


"Beraninya kamu bermain di belakangku. Ternyata diam-diam kamu berduaan dengannya saat aku tidak bersamamu."


"Itu tidak seperti yang kamu pikirkan."

__ADS_1


"Aku lihat dengan mata kepalaku! Kamu berciuman dengannya tadi!!"


Maria terbungkam mendengar ucapannya, itu adalah bukti nyata yang tidak bisa dia sangkal.


"Sudah berapa kali kamu bertemu dengannya?"


"Du dua kali, yang pertama saat aku pulang sore kemarin." jawab Maria dengan bibir bergetar


"Pintar ya." Jo mengangkat wajah Maria agar menatapnya


"Sekarang juga cepat mandi, bersihkan tubuhmu sebersih mungkin. Aku tidak mau ada bekas pelukan dari laki-laki itu yang menempel di tubuhmu."


Tanpa menjawab, Maria pun menuruti keinginannya. Selesai mandi, dia kembali masuk kedalam kamar dengan tubuhnya yang masih terbalut handuk. Tanpa dia duga, Jo berdiri di samping pintu kamar mandi. Dengan kasar dia menarik tangannya dan mendorong tubuhnya ke atas ranjang.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Maria yang mulai panik


Jo tidak menghiraukan pertanyaan Maria, dia melepas kancing bajunya dan melemparnya ke lantai, hingga memperlihatkan tubuhnya yang kekar.


Jo tak merespon, dia melepas sabuk celananya lalu dia lempar ke sembarang arah. Sebelum Maria kembali bertanya, dengan cepat dia menindih tubuh Maria dan mlumat bibirnya yang ranum.


"Hmmpp hmmpp.." Maria berusaha meronta, tapi sedikitpun tak kuasa mendorong tubuh kekar suaminya.


"Apalagi yang mau ku lakukan? Aku ini suamimu. Kamu membiarkan Dev menciummu, sedangkan aku tidak kamu beri izin menciummu."


"Tapi.."


Jo kembali mlumat bibir Maria, tubuh Maria menjadi lemas karena lum*tan itu yang begitu liar. Setelah pagutan mereka terlepas, Jo menarik diri lalu melepas celananya. Maria segera menutupi wajahnya dengan kedua tangan melihat tubuh polos suaminya.


Amarah Jo semakin meluap dengan kasar dia menyingkap handuk yang menutupi tubuh istrinya. Sekarang seluruh tubuh istrinya sudah terlihat jelas tanpa sehelai benang pun.


"Jo, kenapa kamu melakukan ini?"

__ADS_1


Jo memandang keindahan yang ada di hadapannya, menyusuri seluruh lekuk tubuh istrinya dari atas sampai ke bawah. Lalu kembali menatap lekat manik mata istrinya yang berkaca-kaca.


"Maria, selama ini aku selalu menyembunyikan perasaanku padamu. Aku ingin jujur sejak kita menikah, tapi aku tahu kamu tidak ada perasaan sedikitpun padaku. Jadi aku lebih memilih untuk menahannya. Dan hari ini perasaanku sangat hancur saat aku melihatmu bermesraan dengannya. Hatiku sakit sekali, aku berusaha bersabar tapi aku tidak bisa lagi. Malam ini dan seterusnya, kamu akan menjadi milikku seutuhnya."


"Apa maksudmu, Jo?"


"Maria, aku jatuh cinta padamu."


Suasana hening, Jo menatap istrinya dalam. Bibirnya pun kembali mlumat bibir istrinya dengan lembut. Maria berusaha melawan, tapi tenaganya tak mampu.


Perlahan Jo mlumat bibir istrinya dengan penuh *****, kemudian turun ke leher dan memberikan tanda kepemilikannya. Setelah itu ciumannya turun ke dada, puas bermain dengan puncak dada Maria dia mulai melebarkan kedua paha Maria.


"Tolong, jangan lakukan itu. Kumohon.."


"Aku suamimu. Aku berhak meminta hak darimu."


Maria sudah tak kuasa melawan, tubuhnya lemas tak berdaya. Maria terus memekik saat Jo terus mencoba dan mencoba lagi untuk menyatukan diri dengannya.


Maria meremas sprei dan terus menekan kepalanya ke bantal. Airmata terus mengalir di pipinya. Hingga remasannya di sprei semakin kuat. Dia merintih, sedikit memekik menahan rasa sakit yang dia terima. Matanya terpejam kuat, airmata mengalir deras, dan kepala dia benamkan ke bantal. Hanya isakan yang terdengar.


Jo melemah, menatap istri tercintanya yang masih terisak. Dia menyadari satu hal. Dia baru saja menerobos sebuah penghalang tebal yang sempat dia anggap telah lenyap. Istrinya masih sangat terjaga, bahkan masih terasa benteng penghalang yang baru saja dia robekan dengan paksa. Dia menatap wajah istrinya terisak, menatap kosong ke sebelah kanan. Jo mengecup keningnya, hidungnya dan bibirnya, tapi tak ada perlawanan.


"Maafkan aku." bisiknya lirih. Dia sadar telah menyakiti istrinya.


Maria tak menjawab, dia hanya terisak, menyadari mahkota yang dia jaga telah lenyap, di renggut paksa oleh lelaki yang tidak ia cintai, meskipun lelaki itu adalah suaminya yang sah. Dia memejamkan mata, merasakan betapa menyakitkan penyatuan ini. Penyatuan tanpa dasar cinta.


Jo membenamkan wajahnya diantara leher dan pundak istrinya. Menikmati aroma wangi istrinya sambil melepaskan ribuan sel kedalam rahim sang istri. Sementara Maria hanya memejamkan mata, tak sedikitpun dia merasakan apa itu yang disebut nikmat malam pertama.


Jo merebahkan diri, meraih tubuh istrinya dan menutup diri mereka dengan selimut putih. Lalu memeluknya dengan erat, seolah takut kehilangan, juga penuh penyesalan.


"I Love You.. Maria."

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2