
"Kau? Apa yang kau lakukan disini?" Marco terbelalak akan kehadiran Agnez
"Bolehkah aku main disini?"
Suasana hening terjadi beberapa saat. Kemudian Marco membuka pintu dan mempersilahkan Agnez masuk.
"Selamat datang di istanaku." sambut Marco yang hanya dibalas dengan senyum datar oleh Agnez
"Aku tak menyangka, kau akan datang kemari. Tapi, bagaimana kau bisa tahu alamat apartemenku?"
Agnez tak menjawab.
"Oooh, jangan-jangan kau mengikutiku ya? Diam-diam kau jadi stalker rupanya."
"Jangan bicara sembarangan." bantah Agnez
Marco tersenyum, melepas jaket hitamnya dan melemparnya ke sandaran sofa.
"Silahkan duduk."
Untuk beberapa detik mata Agnez tak berkedip, dia terpana dengan perawakan Marco yang atletis, dan hal itu tidak disadari oleh Marco yang sedang berjalan ke dapur. Terlihat ada lemari-lemari yang berjejer rapi di kitchen setnya, mengambil dua bungkus ramen dari atas lemari yang letaknya cukup tinggi.
Sedangkan Agnez menuju ruang tv, merebahkan tubuhnya diatas sofa empuk dan segera menonton tv. Agnez hanya memperhatikan Marco sesekali saat sibuk memasak ramen didapur. Marco membawa panci berisi ramen yang baru saja selesai ia masak ke meja di depan sofa yang sedang Agnez duduki.
"Ramennya sudah siap. Mmh.. sepertinya ini sangat lezat.." ucap Agnez sambil menghirup aroma ramen yang menguar dari atas panci.
"Mana mangkok dan sumpitnya?" tanyanya
"Kau yang mengambil mangkok dan sumpitnya." perintah Marco
"Ah.. baiklah." Agnez segera bangkit dan berjalan ke dapur. Mengambil dua mangkuk dan dua pasang sumpit.
"Ayo kita makan." Agnez semangat ketika hendak menyantap ramen buatan Marco. Mereka menyantap ramen dengan begitu lahap. Tak perlu waktu lama, ramennya sudah habis bahkan kuahnya pun tak tersisa.
__ADS_1
"Kau yang mencuci piring." perintah Marco selesai menyantap ramennya.
"Harusnya kau yang mencuci piring." sungut Agnez
"Kau sudah kuberi makan jadi kau yang harus membersihkannya." balas Marco dengan kejamnya
"Aissh.. kau orang kaya yang pelit."
"Anggap saja sebagai latihan untuk menjadi istriku nanti." ucap Marco asal
"Dasar gila!" Agnez segera membawa mangkok dan juga panci yang sudah kosong kearah dapur. Dengan sangat berat hati dia akhirnya mencuci semuanya.
Marco mematikan tv, menuju ke arah kaca apartemen yang masih tertutup gorden. Dari arah dapur, Agnez menyusulnya.
"Sudah berapa lama kau tinggal disini?" tanya Agnez yang sudah berdiri disampingnya
"Sudah sangat lama, sejak aku jadi CEO. Tapi aku tetap sering mengunjungi keluargaku." jawab Marco
"Berapa usiamu sekarang?" tanya Agnez
"Owh, ternyata kita seumuran ya." kata Agnez
Marco tersenyum. "Apa kau punya pacar?"
Agnez melotot. "Kenapa kau tanya soal itu?"
"Memang kenapa? itu hal biasa bukan."
"Aku.. sudah putus."
Marco memperhatikan wajah Agnez yang menunduk, berusaha mencari kebenaran disana. Lalu sesaat kemudian sudut bibirnya terangkat. "Kau bohong."
Agnez mendongak. "Ke kenapa kau anggap aku berbohong?"
"Aku bisa merasakannya, apa jangan-jangan kau juga belum pernah pacaran ya?" tebak Marco dengan senyum geli
__ADS_1
"Enak saja. Aku pernah pacaran tahu." Agnez yang tidak terima berusaha menyangkal, namun yang ada pria dihadapannya itu semakin tertawa geli.
"Itu artinya, kau sudah pernah berciuman." tanya Marco dengan mendekatkan wajahnya pada Agnez
"A aku.."
Marco menatap Agnez dalam-dalam, seulas senyum jahilnya terukir jelas dibibirnya. Berniat menggoda Agnez melihat reaksinya yang gugup bila didekati seperti ini. Terlihat sangat gugup dan tentu saja dia bisa mendengar detak jantung Agnez yang berdegup lebih cepat dari biasanya. Marco masih menatap Agnez dengan mata tajamnya. Mengamati ekspresi wajah Agnez yang gugup. Marco semakin mendekatkan wajahnya. Agnez yang terkejut dan gugup seketika menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Genggaman Marco di pundak Agnez mengendur, membuat Agnez sedikit lega.
Agnez mengintip dari celah-celah jemarinya. Sialnya tatapannya bertemu langsung dengan tatapan Marco yang membuatnya membeku seketika. Marco memundurkan tubuhnya, membalik tubuh Agnez menghadap pintu kaca besar yang masih tertutup gorden hitam. Marco menyibak gorden hitam yang menutupi pintu kaca tersebut. Tampaklah pemandangan ibukota di malam hari yang begitu indah dari ketinggian.
"Kenapa kau gugup sekali?" tanya Marco dari belakang Agnez. "Apa kau takut aku akan menciummu?" imbuhnya
Detak jantung Agnez berdetak lebih cepat, saat ini pipinya merona, entah Marco sengaja membalik posisi Agnez membelakanginya, agar dia tidak bisa melihat ekspresi Agnez yang menahan malu saat ini.
"Kenapa kau bisa berpikir begitu?" tanya Agnez dengan bibir sedikit bergetar, dia berusaha menahan mati-matian untuk tetap tenang.
"Kalau begitu kenapa kau tadi menutupi wajahmu?" interogasi Marco dengan senyum manisnya
"Dasar buaya darat." Agnez yang tidak tahu harus memberi alasan apa, dia pun mengucapkan kata-kata itu untuk mengalihkan topik.
"Tahu darimana kalau aku buaya darat?"
Agnez tercengang. Bagaimana mungkin lelaki ini bisa begitu jujur mengungkapkan hal pribadinya.
"Kau pasti tahu dari Maria ya. Haha, image ku sudah terlanjur buruk di matanya. Aku akui dulu aku memang playboy, tapi sekarang aku sudah jomblo." ucap Marco berterus terang
"Masa? bagaimana aku bisa percaya kalau kau berkata jujur?" Agnez merasa ragu
"Aku bisa membuktikannya padamu." balas Marco dengan nada serius, entah mengapa ucapannya ini mampu menggetarkan hati Agnez.
"Bagaimana caranya?"
Dering telefon dari ponsel mengalihkan pembicaraan mereka. Agnez dengan sigap menuju ke sofa mengambil ponselnya yang terus berdering. Marco yang penasaran melihat tingkah Agnez yang panik, dia pun mendekat melihat nama sang penelfon.
"Charles."
__ADS_1
Bersambung