Suami Yang Dibenci

Suami Yang Dibenci
Memory


__ADS_3

"Hei, apa-apaan kamu! Itu kan lagu ciptaanku, kenapa kamu mainkan?" protes Maria


Jo memutar badannya menghadap ke arah Maria dengan pandangan bingung.


"Lagu ciptaanmu? Ini adalah lagu ciptaanku, kenapa kamu bisa mengakui lagu ini ciptaanmu?" tanya Jo balik pada Maria


Pertanyaan Jo membuat jantung Maria berdetak kencang. Nafas Maria tak beraturan. Dia justru berbalik pergi meninggalkan ruangan itu dan berjalan cepat kembali ke kamarnya.


"Tidak. Ini tidak mungkin. Di dunia ini cuma satu orang yang tahu tentang lagu itu."


Maria bergumam sembari mencari kertas bertuliskan partitur nada-nada yang pernah dia tulis di kontrakannya dulu, tepat saat Dev datang menemuinya malam itu.


"Kertasnya masih ada." gumam Maria sambil membawa kertas lagunya


Tiba-tiba Maria terduduk lesu di sisi ranjang. Ingatannya kembali ke masa lalu.


Flashback


Maria baru menginjak kelas satu SMA di usianya yang ke 16 tahun. Rambutnya panjang terurai dan senyum ceria selalu terpancar di wajahnya. Hobinya adalah menyanyi. Jadi setiap ada kegiatan ekstra kelas musik, dia begitu bersemangat.


Suatu hari ketika jam istirahat, Maria iseng-iseng untuk datang ke kelas musik. Terdengar alunan biola yang sangat merdu dan menyentuh hingga membuat Maria tertarik untuk menghentikan langkahnya dan melihat siapa yang memainkan alat musik itu.


Sejak saat itu, meskipun tidak setiap hari namun Maria sering menghabiskan waktu berdiri didepan kelas musik, memperhatikan seorang siswa laki-laki yang tidak ia tahu siapa karena posisinya membelakangi Maria. Setiap nada yang di mainkan olehnya membuat hati Maria tersentuh. Sampai tak terasa satu tahun sudah Maria melakukan hal itu. Namun tak pernah sekalipun Maria melihat wajah dari siswa tersebut.


"Aku harus meletakkan surat ini, aku yakin dia pasti akan datang hari ini." gumam Maria sambil menaruh amplop berisi surat di atas piano, kemudian dia buru-buru pergi dan bersembunyi di suatu tempat.

__ADS_1


Tak lama kemudian, siswa itu pun datang. Dugaan Maria benar-benar tepat. "Yes." gumam Maria senang dibalik dinding. Lalu Maria kembali mengintip di luar jendela.


Maria melihat siswa itu menemukan amplop darinya, berisi surat berwarna merah muda yang mulai dibaca olehnya.


"Hai.. Suaramu sangat merdu. Aku sering loh datang kesini melihatmu menyanyi dan memainkan alat musik. Aku senang sekali. Melodi biola yang kamu mainkan juga indah. Aku sampai hafal dengan nadanya. Tetap Semangat :)


Dari Pengagum Rahasiamuđź’•."


Setelah membaca isi surat tersebut siswa itu tersenyum. Lalu menoleh ke luar ruangan. Tidak ada siapapun. Padahal saat itu adalah kesempatan bagus untuk Maria agar bisa melihat dengan jelas wajah siswa yang sangat dia kagumi, namun dia lebih memilih untuk bersembunyi.


"Siapapun kamu. Aku ucapkan terima kasih banyak. Karena sudah meluangkan waktumu untuk mendengarkan suaraku dan permainanku. Aku akan mempersembahkan sebuah lagu untukmu. Wahai, pengagum rahasiaku."


Siswa itu pun duduk di bangku piano dan mulai menyanyi (ONCE - DEALOVA)


#sing a song#


Aku ingin menjadi sesuatu yang mungkin bisa kau rindu


Karena langkah merapuh tanpa dirimu


Oh, karena hati telah letih.


Aku ingin menjadi sesuatu yang selalu bisa kau sentuh


Aku ingin kau tahu bahwa ku selalu memujamu

__ADS_1


Tanpamu sepinya waktu merantai hati


Oh, bayangmu seakan-akan


Kau seperti nyanyian dalam hatiku


Yang memanggil rinduku padamu


Seperti udara yang kuhela kau selalu ada


O... o.. o.. o.. oh..


Hanya dirimu yang bisa membuatku tenang


Tanpa dirimu aku merasa hilang


Dan sepi


~


Tak terasa air mata mengalir membasahi wajah Maria. Setiap lirik yang di nyanyikan oleh siswa misterius itu memiliki makna yang mendalam dan penuh penghayatan.


Hari demi hari, bulan demi bulan. Maria terus melakukannya, memperhatikan siswa itu secara sembunyi-sembunyi. Sejak kelulusan kelas 3, siswa misterius itu tidak pernah lagi datang ke ruang musik pada jam istirahat. Dibandingkan rindu dengan kekasihnya, Maria lebih merindukan sosok siswa misterius itu. Rindu akan dirinya, rindu akan suaranya, dan rindu dengan setiap permainan alat musiknya yang sudah tersimpan dalam memorinya. Airmata berjatuhan di atas piano dengan tangan Maria menyentuh piano tersebut. Dia seperti kehilangan seseorang yang sangat berharga dalam hidupnya.


"Aku sangat merindukanmu."

__ADS_1



Bersambung


__ADS_2