
Setelah menerima telfon dari Alvin, Jo mengurungkan niatnya untuk menemui istrinya dan membawanya pulang bersamanya. Baru dia hendak mengemudi, terlihat Maria keluar dari kontrakan dan mengunci pintu. Di halaman rumahnya sudah ada taksi yang menunggu, Jo dengan cepat membuntuti taksi itu.
Setelah cukup lama dalam perjalanan, taksi itu berhenti didepan sebuah kafe. Jo melihat Maria turun dari taksi lalu masuk kedalam kafe tersebut. Jo yang penasaran akhirnya mengikuti Maria masuk kesana. Tapi sebelumnya dia memakai topi kemudian berjalan masuk.
Jo menatap sekeliling, dia mendapati Maria saat ini tengah menyanyi di atas panggung. Jo sangat terkejut, dia tidak menyangka ternyata istrinya bekerja sebagai penyanyi kafe. Jo yang tidak ingin keberadaannya ketahuan oleh istrinya, dia mencari posisi yang agak jauh dari panggung.
Dia masih berdiri di sekitar sudut ruangan, sambil memperhatikan istrinya yang sedang bernyanyi. Kesedihan begitu terasa karena dia hanya bisa memandang istrinya dari jauh dan tidak bisa berbuat apapun.
Hari demi hari, Jo datang ke kafe itu. Dia duduk di meja yang agak jauh dari panggung, namun juga tidak terlalu jauh. Agar dia bisa memandang istrinya dengan jelas, hanya dengan cara itu dia bisa melepaskan rasa rindunya, rindu yang teramat dalam.
Jo hanya memesan minuman. Sesaat setelah pelayan pergi, muncul seorang gadis yang sepertinya tidak asing baginya. Dia merasa seperti pernah bertemu dengan gadis itu, tapi sayang dia lupa.
"Hai kak.."
Jo menatap gadis itu dengan wajah bingung, mengapa tiba-tiba gadis itu menyapanya.
"Bolehkah aku duduk disini?"
"Emm, silahkan."
Gadis itu pun duduk berhadapan dengan Jo.
"Kakak masih ingat aku?"
__ADS_1
Jo tak menjawab.
"Aku yang bersama Maria waktu itu."
Seketika ekspresi Jo berubah.
"Jadi kamu temannya Maria saat di kelas waktu itu?"
Gadis itu mengangguk sambil tersenyum.
"Akhirnya kakak ingat juga. Perkenalkan, aku Sasha." dia mengulurkan tangannya
"Jonathan." Jo menjabat tangan Sasha
Sejak tadi Sasha terus tersenyum, entah apa yang dipikirkannya. Wajahnya merona karena malu, sekaligus jantungnya yang berdetak kencang setelah bersalaman dengan lelaki yang duduk di hadapannya.
Sasha akhirnya melepas jabat tangannya, lalu menarik nafasnya kuat, kemudian membuangnya.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Jo bingung
"Aku baik-baik saja kak. Hehe." Sasha tersenyum kikuk
"Apa kamu tidak takut ketahuan Maria sedang duduk bersamaku?"
"Owh, jangan khawatir kak. Dia masih istirahat, habis ini giliranku."
"Btw, bagaimana kamu bisa tahu kalau ini aku? Kamu masih ingat jelas dengan wajahku."
__ADS_1
"Bagaimana mungkin aku bisa lupa dengan wajah kakak. Dan aku juga sering lihat kakak datang kesini."
"Tolong, jangan beritahu Maria kalau aku datang kemari."
"Kakak tenang saja, aku akan simpan rapat-rapat. Tapi kakak harus beritahu aku. Ada hubungan apa di antara kalian?"
Jo terdiam.
"Jangan khawatir kak, aku tidak akan mengatakannya pada siapapun. Justru aku berniat untuk membantu kakak."
"Membantuku? Kenapa kamu mau membantuku?"
"Maria adalah sahabatku, dia anak yang sangat baik. Aku tidak tega melihatnya terus bersedih."
"Sebenarnya, Maria adalah istriku. Kami sudah menikah."
Spontan Sasha membelalak, mulutnya ternganga. Dia terkejut bukan main.
"Apa? Jadi, Maria sudah menikah."
"Ceritanya panjang. Terlalu rumit untuk di jelaskan. Intinya, dia tidak mencintaiku. Karena sudah ada pria lain yang mengisi hatinya."
Sasha berpikir sejenak, hingga akhirnya dia mendapatkan sebuah jalan untuk membantu Jo.
"Kak, aku yakin kau pasti bisa menakhlukan Maria."
Bersambung
__ADS_1