
MATURE CONTENT !!!
Yang merasa masih dibawah usia 18 tahun, sebaiknya SKIP part ini.
Dan bagi yang tidak sanggup/tidak suka MATURE CONTENT boleh langsung SKIP saja.
"Katakan kalau aku ada salah. Jangan terus mendiamkanku seperti ini. Aku sangat tersiksa."
Maria masih bergeming, menatap wajah suaminya yang begitu dekat di depan wajahnya.
"Apa kamu curiga kalau aku ada apa-apa dengan Jessica?" tanya Jo dengan mata sayu
"Tidak. Bukan masalah itu."
"Lalu apa?"
"Aku tidak bisa mengatakannya." Maria mengalihkan pandangannya ke arah lain
Rahang Jo mengeras, kesal atas sikap aneh istrinya. Di gigitnya dengan pelan daun telinga Maria, membuat Maria terkejut akan perbuatan suaminya yang tiba-tiba. Jo melanjutkannya dengan menjilat daun telinga Maria membuat Maria terangsang sekaligus panik.
Gawat. Aku belum sempat minum pil.
"Jo, tolong hentikan." Maria berusaha menolak suaminya namun ia tak kuasa karena kedua tangannya dipegang oleh suaminya.
"Jo, a.. mmmhh."
Belum sampai Maria meneruskan ucapannya, Jo mencium bibirnya dengan tergesa-gesa.
"Mmmhhh."
Mendapati wajahnya yang tertekan dengan bibir yang saling bersentuhan, Maria pun pasrah. Kini bahkan kewanitaannya sudah terasa panas. Wajahnya merona. Nafasnya mulai berat. Libidonya naik.
Perlahan tapi pasti, Jo melepas pegangannya dan mengarahkan lengan Maria untuk melingkar di lehernya. Masih dengan bibir yang mlumat dan nafas yang menderu cepat, suara desahan Maria yang semakin kencang kala tangan Jo merangkak naik menambah jajahan pada buah dadanya yang montok.
"Ahhhh."
Jo menenggelamkan wajahnya pada leher Maria. "Karena kamu telah mendiamkanku, malam ini aku akan memberimu hukuman."
Maria terkejut. "Tunggu, aku mau ke dapur sebentar mengambil air."
"Kamu mau kabur? Aku tidak akan melepaskanmu Maria."
Maria melenguh saat lidah Jo yang permukaannya tak rata itu menjilat telinganya.
"Jadi." suara Jo semakin berat. "Mendesahlah yang keras untukku sayang. Aku akan bermain liar untukmu."
Kedua tangan Jo bergerak turun, dibukanya kedua kaki Maria dan menempatkan diri di antaranya. Jo semakin ganas mlumat bibir Maria. Bahkan kejantanannya membesar dan menegang.
"Unnghhh." Maria semakin meremas rambut Jo yang memenuhi jemarinya saat kedua tangan Jo meremas dadanya dengan gemas. Membuat tubuhnya membusung kedepan dan menggesek tubuh Jo.
Dengan cekatan Jo melepas gaun malam dan bra yang Maria gunakan. Kini kedua tonjolan kenyal menggoda sudah menggesek-gesek tubuh bagian depannya. Meski bibir Jo belum bosan mlumat habis bibir Maria, jemarinya pun tak kalah liarnya memainkan p*ting Maria yang menegang.
"Ouhhh... Ahhhh... Sayang.."
Desahan Maria terdengar erotis di telinga Jo saat bibir keduanya terpisah. Melihat Maria yang memandangnya sayu, Jo merendahkan kepalanya. Meraih leher dan dada Maria untuk meninggalkan jejak kepemilikannya.
Maria menurunkan pandangannya saat merasa gairahnya semakin meningkat dengan p*ting yang terasa hangat. Dia melenguh hebat mendapati salah satu tonjolan dadanya berada dalam k*luman suaminya. Mlumat dadanya penuh nafsu dan mata yang terpejam. Jo merangkak naik dan kembali mlumat bibir tipis Maria. Keringat Maria sudah menempel pada kaos yang Jo gunakan. Jemarinya menyelinap ke cel-dam warna pink milik Maria.
Bagaimana ini? Aku harus menghentikannya.
__ADS_1
"Jo, aku akan membuatmu klimaks terlebih dahulu."
"Begitu?" Jo menyeringai "Tak akan ku biarkan."
Dengan cepat tangan Jo melepas kain terakhir yang menutupi tubuh Maria. Seketika itu pula wajahnya sudah berada tepat didepan kewanitaan Maria. Menghembuskan nafas panasnya pada lubang yang sudah basah dengan cairan bening yang mengalir keluar pelan.
Maria memekik kecil saat sadar tak ada satupun lagi dari tubuhnya yang tertutup. Sedangkan Jo? Bahkan jika dia keluar untuk membeli makan pun pakaiannya masih rapi dan pantas.
Jo terpana mengagumi kewanitaan Maria yang wangi dan menggoda. Dia menggeram menyadari bahwa tubuh istri yang di kuasainya itu membuatnya menegang seperti tersengat listrik bertegangan tinggi.
Maria semakin menenggelamkan kepalanya pada bantal saat merasakan kehangatan membelai kewanitaannya. Lenguhannya keluar tanpa bisa tertahan.
Jo merasakan pikirannya kosong saat lidahnya menyentuh kewanitaan istrinya. Baru menjilat sekali saja desahan Maria begitu erotis menembus gendang telinganya. Menyeringai tipis, Jo menaikkan pinggul Maria dan menempatkannya didepan wajahnya. Serangan lidah hangatnya begitu gencar menjilat dan mlumat sumber kenikmatan bagi pria seperti dirinya.
"Ooohh.. Ahhhh... Sayang..."
"Oohhh.... Mmhhh.. Nngghhh.."
Jo semakin bersemangat. Tak peduli cairan yang keluar dari lubang Maria semakin banyak, dia menusuk-nusuk liang itu dengan lidahnya.
"Yeesss... Mmmhhh.. Ahhh.."
Wajah Maria mengernyit menunjukkan kenikmatan. Menekan wajah Jo yang semakin cepat menusuk lubangnya penuh nafsu. Jo tahu lubang itu begitu nikmat. Karena itu dia tak ada niat sama sekali untuk menghentikan pergerakan lidahnya meski nafasnya sudah tak beraturan karena Maria menekan kepalanya kuat. Sampai dia merasa otot kewanitaan Maria menegang dan menjepit lidahnya.
"Sayaangg..."
Cairan bening nan kental itu mengalir deras membasahi sebagian wajah Jo. Lidahnya masih menusuk dengan dalam pada liang Maria. Membiarkan istrinya merasakan klimaks yang baru menghampiri.
"Oohhhh..."
Maria terbaring lemas. Memejamkan mata dan mengatur nafas. Tubuhnya bergetar hebat saat kenikmatan itu dirasakannya.
Mata Maria kembali terbuka ketika suara berat dari bibir yang tepat berada di telinganya itu memanggil.
"Kamu belum lelah kan?"
Maria tidak tahu kapan Jo menelanjangkan diri. Begitu dia sudah melihat dengan jelas, tubuh berkeringat suaminya itu sudah menimpa tubuhnya dengan kulit yang saling bersentuhan. Maria bahkan merasa perutnya tertusuk sesuatu yang menegang. Ujung kejantanannya yang licin membuat gesekan nikmat di perut Maria. Jo kembali mengarahkan kedua tangan Maria agar melingkar di lehernya.
Masih saling menatap, Jo menurunkan salah satu tangannya menuju kewanitaan Maria. Lainnya dia tempatkan di tengkuk Maria dan mengarahkannya di wajahnya. Ciuman itu kembali terjadi. Dengan bibir yang saling mlumat, Jo berusaha mendominasi. Menarik liidah Maria untuk bertamu kedalam rongganya. Menyedotnya ganas secepat gerakan keluar masuk jemarinya di lubang Maria.
"Mmmmhhh... Nngghhh.."
Kenikmatan yang Maria rasakan dilampiaskannya dengan meremas rambut Jo yang tak beraturan. Menambah kepuasan birahi pada tubuhnya yang bergairah.
Tautan bibir itu terlepas. Dengan wajah mengernyit penuh nikmat Maria menatap Jo yang semakin cepat menggerakkan jari menusuk lubangnya. Kepalanya menggeleng kesana kemari. Bergerak liar melampiaskan kenikmatan yang membuatnya tak bisa mengatakan apa-apa selain desahan.
"Aaahhh... Ah.. Ah.. Ah... Ahhh..."
Tangan Jo yang bebas meraih dagu Maria dan membuatnya tak bisa bergerak tanpa arah. "Tatap aku. Aku ingin lihat wajahmu."
Nafas Maria semakin berat. Dadanya membusung. Matanya terpejam dan terbuka sayu penuh kenikmatan. Jo tersenyum melihat sang istri dibawahnya begitu menikmati perlakuannya. Dua jarinya yang merengsek masuk pada lubang bawah istrinya itu mulai terjepit.
"Ahh.. Ohh.. Aaahhhh.."
Maria kembali lemas. Matanya terpejam dan berusaha mengatur nafas. Jo mengecup kening Maria singkat "Kamu menyukainya kan?"
Berbohong pun tak berguna "Sayang, sudah."
"Sudah?" Kedua alis Jo naik. "Tentu saja belum."
__ADS_1
Tubuh Maria sedikit terangkat saat Jo menyelipkan kedua tangannya di punggungnya. Memeluk tubuhnya yang penuh keringat itu.
"Tapi aku lelah sayang." rengek Maria
Jo menciumi wajah Maria tanpa melewatkan satu sisi pun. "Kamu hanya perlu menikmatinya saja."
"Iya. Tapi tunggu sebentar. Aku benar-benar lemas sayang."
Jo terkekeh. "Baiklah. Tapi jangan tidur dulu."
Maria memejamkan mata. Membiarkan bibir Jo menjelajahi wajahnya dengan kecupan disana sini. Sesekali mendesah saat ujung kejantanan Jo terasa menggesek kewanitaannya.
"Ungh..." Lenguhan Maria yang kesekian kali menghentikan kecupan Jo.
Keduanya kembali dari awal. Mulai dari ciuman panas dan sentuhan yang menggoda, hingga gesekan liar.
Maria melirik kebawah saat Jo mulai menyiapkan kejantanannya. Begitu menggoda dengan ukiran urat mengelilingi kejantanan besar dan tegak mengundang.
"Sayang?" panggil Jo
"Hmm?" Maria mendongak
Melihat Maria yang bertanya sambil menggigit bibir membuat Jo tersenyum. "Peganglah, buat dia lebih mengeras sayang."
Maria mengangguk. Darahnya berdesir hebat saat batang besar yang memenuhi genggaman tangannya itu dirasakannya. Jemarinya yang memegang erat bergerak naik turun. Perlahan hingga Jo memintanya bergerak lebih cepat.
"Ughh.. sudah." Jo melepaskan tangan Maria dan mengarahkan lengannya itu melingkari lehernya
Ujung kejantanan yang licin itu mencari jalannya menuju lubang nikmat Maria sementara keduanya saling bertatapan dengan nafas berat.
"Ouhhh.." Maria melenguh saat ujung batang tegak itu terdorong memasuki tubuhnya. Jo pun demikian, geramannya berdengung di telinga Maria. Keduanya bertatapan. Jo bergerak mundur sebelum menghentakkan pinggulnya dengan keras. Gesekan dinding otot kewanitaannya dan kejantanan Jo membengkak menjadi lebih besar memenuhi lubang nikmatnya.
"Aahhh.. lebih cepat sayang.."
Melihat Maria yang mulai menikmati, Jo menyeringai. "Tentu, Baby."
Sesuai permintaan Maria, gerakan pinggul Jo semakin kuat menghentak. Membuat Maria dengan leluasa mendesah pasrah pada suami yang memandangnya penuh nafsu itu. Maria membuka matanya. Senyumnya merekah dengan tubuh yang terhentak keras.
Jo benar-benar liar! Dia mampu menggerakkan pinggulnya dengan cepat. Lebih ganas lagi saat Maria melenguh keras.
"Aahhhh... Sayang.."
Ditanamkannya kejantanannya dalam-dalam saat Maria kembali merasakan klimaks. Tapi tak butuh waktu lama, Jo kembali menghentak lubang yang semakin licin itu. Hentakannya membuat dada Maria menggesek dadanya liar. Ditekannya dada itu agar menempel ditubuhnya. Suara kecipak memenuhi telinga keduanya. Diiringi dengan desahan Maria dan erangan Jo.
"Oohhh Sayang.."
"Enngghhh.."
Dengan kewanitaan yang semakin sensitive, Maria tahu tak lama lagi Jo akan merasakan puncaknya. Kejantanannya berkedut kencang dan menusuk kenikmatannya sempurna. Maria mendesah semakin keras.
"Aahhh.. Ahh.. Ahh..Ahhh.."
"Ouuhhhh..."
Maria bisa merasakan sesuatu yang panas memasukinya. Jo masih membenamkan kejantanannya untuk mengalirkan hasratnya kedalam tubuh Maria.
"Haah.. hah..."
Nafas keduanya memburu. Dengan lemas Jo menindih Maria. Bau keringat dan sex bercampur menjadi satu. Dan Maria melupakan sesuatu karena kenikmatan bercinta yang tiada tara.
__ADS_1
Bersambung