
"Mereka semua adalah mantan selirku. Kalau kau bersedia jadi pacarku, dengan senang hati, aku akan menjadikanmu permaisuri. Bagaimana?"
Agnez tercengang mendengar perkataan Marco.
"Kau benar-benar lelaki tergila yang pernah kutemui."
Marco terkekeh. "Aku anggap itu sebagai pujian."
Agnez hanya terdiam dan merasa kesal dengan sikap Marco. Namun jauh dalam lubuk hatinya, dia merasa senang. Meskipun mereka sering berdebat, namun sifat Marco yang ceria dan suka bercanda membuat Agnez merasa nyaman didekatnya.
"Anak-anak, om punya ice cream." seru Marco pada si kembar, Syeina dan Rachel pun menghampiri Marco yang baru saja membeli ice cream untuk mereka berempat.
"Kau mau?" tawar Marco pada Agnez yang duduk disampingnya
"Terima kasih." Agnez menerima ice cream rasa strawbery itu dari tangan Marco
"Andai saja kita bisa seperti ini selamanya." ucap Marco sambil memandang si kembar yang bermain.
"Apa maksudmu?" tanya Agnez
"Bukan apa-apa. Lupakan saja ucapanku." jawab Marco
Setelah menghabiskan waktu cukup lama di taman bermain, mereka pun akhirnya pulang. Terlihat, Maria sedang menimang bayinya yang tengah terjaga. Agnez mendekati Maria, sementara Marco sedang bersama si kembar.
"Maria, ada yang ingin aku bicarakan denganmu." ujar Agnez dengan nada serius
Maria mengernyit, kemudian mereka duduk di sofa ruang tamu.
"Sepertinya serius sekali Agnez. Memangnya apa yang ingin kau bicarakan?"
Agnez terdiam sejenak.
"Aku ingin tanya padamu. Bagaimana awal mula kau bisa menerima Jo? Oh, maafkan aku Maria. Harusnya aku tidak mengungkit masa lalu." kata Agnez tak enak hati
__ADS_1
"Tidak apa-apa Agnez. Aku tidak keberatan menceritakan kisah kami." Maria tersenyum sesaat sebelum kembali melanjutkan ucapannya.
"Dulu, Jo adalah kakak kelasku. Sikapnya cuek dan dingin terhadap perempuan, apalagi kepadaku. Dulu, aku sering sekali datang ke kelasnya untuk meminta bantuan dalam soal yang tidak ku mengerti."
"Apa kau meminta tolong kepada Jo?" tanya Agnez
"Tidak. Aku meminta tolong kepada sahabatnya, Dev. Dia adalah mantanku. Karena dia sangat pintar, baik dan ramah, aku jadi sangat menyukainya. Dia dengan senang hati mau membantuku saat aku datang ke kelasnya, kemudian kami pacaran."
"Kenapa kau tidak minta tolong Jo? Dia juga sangat pintar." tanya Agnez
"Jangankan minta tolong padanya. Dia melihatku saja tidak mau."
"Jo sampai segitunya?"
"Iya, dulu dia sangat menyebalkan. Saat aku berpapasan dengannya ketika aku mencari Dev, dia tidak menjawab pertanyaanku. Dia justru menatapku sinis. Tapi, ada sesuatu yang membuatku menyukainya tanpa ku sadari."
"Apa itu Maria?"
"Dulu aku sering mengintip siswa yang sering bermain musik dan menyanyi di kelas musik, pada saat itu aku belum tahu kalau itu Jo. Dan setelah aku mengetahuinya, aku jadi menyukai semua tentangnya. Aku sangat mencintainya, Agnez."
"Mungkin bagimu itu aneh. Tapi memang seperti itulah cinta. Cinta itu buta. Karena cinta tidak menggunakan logika, tapi.." Maria menunjuk dadanya. "Cinta menggunakan perasaan. Saat kau sudah jatuh cinta, kau akan merasa nyaman dan selalu ingin berada disisi orang yang kau cintai."
Agnez terpana akan ucapan Maria, begitu menyentuh hingga didalam hatinya.
"Jadi begitu ya Maria. Sekarang aku sudah mengerti, terima kasih karena kau telah berbagi kisahmu denganku. Itu sangat berharga bagiku."
Maria tersenyum.
***
Malam hari...
Suara dentuman musik bergema keras di sebuah bar yang terletak di pusat ibukota. Bar itu begitu ramai pengunjung seperti hari-hari biasanya. Beberapa menit kemudian sebuah mobil berhenti, seseorang didalamnya mengamati pengunjung yang keluar masuk. Dan orang itu tersenyum kecil saat melihat orang yang begitu dia kenal memasuki bar tersebut.
__ADS_1
Agnez menenggak minumannya, menandaskannya dalam satu tegukan. Belasan rayuan dan kedipan mata menggoda dari para lelaki diabaikannya. Beberapa bahkan dengan nekad menyentuh pipi dan paha mulusnya.
"Sendirian saja cantik." ucap salah seorang pria
"Pergi kalian semua. Jangan ganggu aku."
"Ck! Sombong sekali, kami hanya ingin menemanimu."
"Menyingkir kalian!!" seru seorang pria yang baru datang ke arah Agnez yang di kerumuni oleh empat orang pria.
"Berani sekali kalian menyentuh pacarku." seru Marco dengan seringai tajamnya
Nyali keempat pria itu pun menciut kemudian pergi. Dengan sigap Marco merebut segelas bir dari tangan Agnez yang hampir saja dia minum.
"Bukannya sudah kubilang, kalau datang kemari jangan sendirian." tutur Marco
"Kau apa-apaan sih. Kembalikan." Agnez berusaha merebut minumannya
"Mulai hari ini tidak ada lagi alkohol." Marco masih merasa trauma untuk minum alkohol lagi, mengingat bahwa hampir saja terjadi sesuatu diatara mereka malam itu.
"Kau masih saja nekad mau minum-minum. Bagaimana kalau sampai ada yang mendekatimu lagi saat kau mabuk?"
Agnez lebih memilih untuk diam tanpa menghiraukan Marco yang berdiri menceramahinya.
"Apa kau mau mengajakku pulang?" tanya Agnez pada Marco yang mengulurkan tangannya.
Marco tersenyum lalu meraih tangan Agnez, membawanya bergabung dengan ramainya orang-orang berkumpul ditengah lantai dansa. Berjoget bersama mengikuti alunan musik menghentak dibawah kilatan lampu-lampu berwarna-warni.
"Bagaimana?" tanya Marco
"Seru sekali. Sudah lama sekali aku tidak merasa sesenang ini." raut muka Agnez yang semula lesu dan frustasi, kini tersenyum ceria.
Sesekali Agnez berteriak kegirangan, seakan dia baru lepas dari sesuatu yang menahannya dan merasakan kebebasan.
__ADS_1
Apa mungkin selama ini aku jatuh cinta padamu, Marco?
Bersambung