
Hingga tengah malam, Jo masih belum bisa tidur dan merasa gelisah. Wajahnya terlihat memerah dan seolah sedang menahan rasa sakit. Jo menarik nafas panjang. Sesekali menatap istrinya yang tengah tertidur pulas. Dia tidak pernah merasakan gelombang sebesar ini sebelumnya.
"Kenapa ya tiba-tiba aku seperti ini? Pada saat melakukan itu padanya dulu, perasaanku tidak begini." Jo mendesah panjang
Jo akhirnya beranjak dari ranjang, berjalan menuju kamar mandi. Maria yang menyadari suaminya tidak ada di sampingnya, dia pun menyusul ke kamar mandi.
"Jo, Apa kamu didalam?"
Dengan terburu-buru, Jo kembali memakai celana piyamanya. Lalu membuka pintu.
"Maria, ada apa? Kamu mau ke kamar mandi ya?" tanya Jo dengan tersenyum
"Tidak. Dari tadi aku tidak bisa tidur karena mendengarmu gelisah. Kamu kenapa?" tanya Maria sedikit khawatir
"Hmm.. aku.." Jo tak bisa menjawab
"Apa kamu ingin melakukannya?" Maria menimpali, membuat Jo sontak gelagapan.
"Apa mungkin, itu pengaruh kehamilanku. Sayangnya aku belum siap untuk sekarang. Tapi jangan khawatir, aku akan membantumu."
"Membantuku? Bagaimana caranya Maria?"
Tanpa menjawab pertanyaan Jo, Maria menarik lengannya untuk duduk bersandar di atas ranjang.
"Mulai sekarang, kalau kamu sedang ingin itu, bilang saja padaku. Aku akan berdosa jika membiarkanmu melakukan itu sendirian. Terlebih lagi di kamar mandi."
Jo tertegun dengan ucapan Maria, sampai dia terbelalak ketika Maria hendak membuka celananya.
"Apa yang kamu lakukan Maria?"
"Ssstt, diam." titah Maria sambil menempelkan jari telunjuknya di bibir. "Serahkan saja padaku."
Maria mulai membuka celana suaminya, lalu setelah ********** dibuka, seakan aset berharga milik Jo mau melompat keluar. Maria langsung menelan ludahnya kasar saat mendapati milik suaminya yang besar dan panjang.
Pantas saja dulu sakit sekali. Aku baru melihatnya dengan jelas sekarang.
Jo memalingkan wajahnya dari Maria ke sebelah kanan, terlihat dari wajahnya yang memerah seperti tomat karena hasrat yang tertahan sekaligus malu terhadap istrinya.
"Apa kamu merasa malu, Jo? Bukannya kamu sudah pernah melakukan itu padaku?"
"Dulu aku melakukan itu karena emosi. Tidak ada perasaan senang sedikitpun saat aku menyentuhmu. Dan sekarang rasanya aneh kalau kamu yang melakukannya duluan."
"Kalau begitu pejamkan matamu." pinta Maria, Jo pun menuruti permintaannya.
Maria menarik nafas panjang secara perlahan. Kemudian tangannya bergerak ke antara kedua kaki Jo. Jemari Maria menyentuh ujung (p) suaminya. Lalu dia memberanikan diri untuk menyentuhnya seutuhnya.
"Ahhh.."
Jo mendesah pelan. Maria menghembuskan nafas. Tangan Maria terus bergerak pada kejantanan suaminya. Jo dalam dekapan Maria terus mendesah. Inilah yang dia butuhkan sejak tadi.
"Lebih.. Cepat.. Please.." bisiknya
Tubuh Maria menegang mendengar permintaan tersebut. Tapi tangannya bergerak sesuai dengan permintaan suaminya. Sepertinya Maria mulai kehilangan kontrol. Bahkan tangannya mulai berani menyentuh twinball Jo, menggodanya dengan sentuhan yang begitu sensual.
"Ahhhh.. lebih cepat.."
Tangan Maria bergerak lebih cepat. Memberikan sentuhan yang lebih keras. Jo bereaksi dengan begitu baik dan juga terasa lebih sensitif. Namun gairahnya masih belum terpuaskan walaupun sudah mencapai pelepasannya.
"Maria, kamu tidak perlu memaksakan dirimu. Aku akan melakukannya sendiri." pintanya lemas dengan nafas terengah-engah
"Tidak Jo. Aku yakin pasti ada cara."
Tanpa pikir panjang Maria memasukkan milik suaminya kedalam mulutnya. Mngulumnya sambil menjilati ujungnya dan sesekali menyesapnya gemas.
"Aahhhh... hentikan Maria.. kamu.. tidak perlu.. melakukan ini.."
__ADS_1
Maria tak menggubris penolakan suaminya. Jo tidak pernah menginginkan istrinya melakukan ini untuknya, namun tak bisa di pungkiri bahwa ini sungguh terasa nikmat.
"Ahhh.."
Jo terus mendesah dan memandang ke arah Maria yang masih asyik dengan kegiatannya. Tubuhnya membungkuk dan pipinya yang menggembung karena masih mngulum (p)nya.
"Yeahh lebih cepat Maria.." Jo bergumam tanpa sadar
Maria semakin cepat menggerakkan kepalanya. Tak lupa gesekan giginya yang memberikan getaran hebat pada tubuh Jo. Membuat Jo memekik kenikmatan.
"Ahhh sebentar lagi Maria." teriak Jo
Maria merasa Jo akan segera mencapai puncak gairahnya.
"Aku keluar!!"
Gelombang terbesar itu akhirnya datang. Jo terus mendesah seiring dengan k*luman dan gerakan tangan Maria padanya. Dan pada gerakan akhir yang terasa begitu sensual, Jo berteriak keras penuh gairah. Maria segera melepas k*lumannya ketika cairan suaminya menyembur bukan hanya melumuri tangannya, tapi juga piyamanya pun terkena.
Jo menarik nafas banyak-banyak dari mulutnya, seiring gairahnya yang mereda. Maria membersihkan cairan di sprei. Dia juga perlu mandi dan mengganti piyamanya.
"Kamu sudah lega kan?" tanya Maria pada Jo yang sudah membuka mata
"Sudah." jawabnya dengan mata sayu
"Kalau begitu aku mau mandi dulu terus aku ganti sprei nya."
"Hmm."
Maria sudah mengganti sprei usai mandi. Sementara Jo, masih membersihkan tubuhnya dengan air hangat dibawah shower. Tak lama kemudian dia pun keluar dengan memakai piyama dan merebahkan dirinya disamping istrinya.
"Selamat malam, Maria."
"Selamat malam juga, Jo."
"Terima kasih untuk malam ini."
***
Pagi Harinya...
Jo tengah menyantap sarapan bersama Maria di meja makan. Maria tidak menyadari, sudah sejak bangun tidur dia terus di perhatikan oleh sang suami. Bahkan di meja makan pun, Maria terus menyantap sarapannya dengan lahap tanpa bicara sepatah katapun kepada suaminya.
"Ehem." Jo sengaja berdeham agar sang istri beralih menatapnya
"Apa kamu tersedak?" justru pertanyaan itu yang pertama kali keluar dari bibir Maria
Entah istrinya ini begitu polos atau memang sengaja berpura-pura tidak tahu apa yang tengah di pikirkan suaminya.
"Sedari tadi kamu diam terus." Jo bicara dengan raut kecewa
"Oh.. jadi sedari tadi kamu menungguku bicara ya? Maaf, habis makanannya enak sekali. Jadi aku lebih fokus ke sarapannya." jawab Maria sambil melahap acar dengan garpu
Mendengar jawaban dari istrinya, membuat dahi Jo berkerut. Jengkel? Iya.
"Masa setelah yang terjadi semalam kamu biasa saja sih Maria? Seolah-olah tidak terjadi apa-apa diantara kita." Jo menggerutu
"Oh.. jadi karena itu kamu merasa kesal." Maria meletakkan sendok garpunya di piring
"Memangnya kamu ingin aku bereaksi bagaimana? Apa aku harus loncat-loncat kegirangan?"
"Maria, aku serius." Jo berkata dengan suara meninggi
Maria menghela nafas.
"Lalu, kamu sendiri? Sebenarnya apa yang kamu pikirkan?"
__ADS_1
Otomatis pertanyaan Maria membuat Jo terdiam. Canggung untuk mengatakan apa isi pikirannya.
"Kenapa diam saja? Kalau kamu tidak memberitahuku, aku tidak akan mengerti apa yang sebenarnya mengganggu pikiranmu."
"Sebenarnya, hmm.. aku penasaran." Jo menjawab dengan ragu-ragu
"Penasaran?" tanya Maria dengan alis bertaut
"Kamu melakukannya dengan begitu ahli. Aku benar-benar terkejut kamu bisa melakukan itu." Lanjut Jo dengan sedikit takut
"Apa itu sebuah pujian untukku?" tanya Maria
"Ya.. kamu boleh menganggapnya begitu."
Maria menyunggingkan senyum tipis.
"Tiba-tiba saja terlintas dalam pikiranku untuk melakukannya. Aku hanya mengikuti instingku." sahut Maria dengan santai
"Begitu ya." Jo tampak berpikir sesaat lalu berdiri dari kursinya "Aku berangkat sekarang."
"Sarapanmu belum habis tuh."
"Aku tidak nafsu makan." Jo beranjak dari meja makan meninggalkan Maria disana
"Sebenarnya dia ini kenapa sih?" Maria bergumam sendiri sambil menggelengkan kepalanya
***
But baby, there you again, there you go again, making me love you
(Tapi kasih, kau mulai lagi, kau mulai lagi, membuatku mencintaimu)
Yeah I stoped using my head, using my head, let it all go, ooh
(Yeah ku berhenti gunakan logika, lupakan semuanya)
Got you stuck on my body, on my body, like a tattoo
(Biarkanmu lekat-lekat di tubuhku, seperti tato)
And now I'm feeling stupid, feeling stupid, crawling back to you
(Dan kini aku merasa bodoh, merangkak kembali padamu)
Terlihat, Ramon sudah datang dan menunggu Jo sambil mendengarkan musik melalui headshet dan menyanyi dengan pelan (Maroon 5 - One More Night). Lalu dia mematikan musik dan melepas headshet yang bergelayut dari telinganya setelah melihat Jo memasuki ruang tamu.
"Jo, kau sudah siap? Dimana istrimu?" tanya Ramon yang sudah berdiri dari duduknya
"Dia masih makan. Sudahlah, ayo kita berangkat sekarang." jawab Jo sambil melangkah keluar menuju halaman
"Kau ini kenapa? Apa kau baru bertengkar dengan istrimu? Mukamu kusut sekali." celoteh Ramon yang tidak di respon oleh Jo
Jo kali ini duduk di kursi depan, Ramon disampingnya sudah menyalakan mesin lalu melajukan mobilnya keluar dari gerbang.
"Ada masalah apalagi?" tanyanya
"Apa dia benar-benar istriku? Tapi kenapa dia bisa melakukan itu padaku? Bukankah sikapnya terlalu manis."
"Bukannya bagus kalau istrimu bersikap manis padamu?" tanya Ramon heran
"Entahlah. Aku sangat pusing sekarang." Jo melempar pandangannya keluar kaca mobil
Dasar aneh! Dulu dibenci istrinya, dia pusing. Sekarang istrinya bersikap baik, dia juga pusing.
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa tingalkan like & komen ya😄