
MATURE CONTENT !!!
Yang merasa masih dibawah usia 18 tahun, sebaiknya SKIP part ini.
Dan bagi yang tidak sanggup/tidak suka MATURE CONTENT boleh langsung SKIP saja.
Ditengah asyiknya Marco dan Agnez bersulang menikmati wine. Jo dan Maria saling beradu dalam gelapnya malam.
"Sayang?" Jo memanggil Maria lirih tepat didekat telinganya
"Hmm?" Maria menoleh ke arah Jo yang duduk disampingnya
"Aku ingin menyapa anak kita." Suara Jo semakin berat
Maria mengerti maksud ucapan suaminya. Mereka saling menatap sayu, Jo perlahan mendekatkan wajahnya hingga bibirnya bertemu dengan bibir Maria.
"Mmmhhh..."
Maria melenguh pelan saat Jo semakin dalam menciumi bibirnya. Lidahnya melesak masuk saat lenguhan itu terdengar. Sambil memejamkan mata dan memeluk bahu istrinya, Maria terlihat menikmati. Masih bisa dirasakannya lidah suaminya itu seperti semangka. Sesuai dengan buah yang mereka nikmati selepas makan malam tadi. Jo makin gencar menggerakkan belah bibir dan lidahnya. Menyesap dalam-dalam bagian lunak yang ada di rongga mulut istrinya. Keadaan kamarnya yang gelap semakin menambah suasana keintiman.
"Mmmmhhh..."
Jo menurunkan ciumannya ke leher putih Maria. Menciuminya, menjilatnya, dan menyesapnya lembut. Maria mengangkat kepalanya, membuat Jo semakin bebas menjelajahkan lidahnya disana.
"Uughhh..." Maria menurunkan pelukannya. Mengelus dengan kasar punggung Jo yang sudah berkeringat.
"Hahh..." Nafas Jo terdengar berat. Dilepasnya ciuman panas yang sedari tadi disarangkannya dileher sang istri. Maria pun mengatur nafasnya. Meski matanya menatap Jo yang terlihat lebih sexy dengan kilauan keringat diwajahnya. Jemari Maria menyisir rambut depannya yang menghalangi. Menyapukannya hingga kebelakang kepala. Jo tersenyum. Mencium pipi Maria begitu kuat. Tak mau kalah, Maria menyingkirkan poni panjang Jo dan mengecup berkali-kali keningnya.
"Kamu cantik sayang." Jo menelusuri wajah Maria dengan jarinya. "Sangat cantik."
Maria tersenyum.
Tak tahan dengan senyum yang disunggingkan bibir tipis itu, Jo kembali menciumnya. Menggerakkan bibirnya agar menyesapnya dengan lembut.
Jo melepas ciumannya. Dia tersenyum dan mencium kening Maria. Cukup lama hingga sanggup untuk menyalurkan rasa cintanya pada sang istri. "With all my life and my heart. I love you."
Maria melengkungkan kedua belah bibirnya. Menampakkan senyum manis menawan miliknya. "I love you too."
Ciuman keduanya kembali terpaut. Membuat malam semakin panas dengan lum*tan penuh cinta. Jo menyentuh dua dada Maria. Meremasnya dengan penuh perasaan. Berusaha membuat istrinya senyaman mungkin dengan kegiatan malam mereka.
"Aahh... Unghh..." Tak tahan mendapat serangan memabukkan dari suaminya, Maria mendesahkan kenikmatannya. Meremas lengan Jo yang meremas didadanya.
Kedua tangan Jo mulai bergerak lebih jauh. Menyusupkan salah satu tangannya kedalam bra merah muda itu. Menciumi leher Maria seraya membiarkan tangannya yang lain menjelajahi bibir (v) Maria. Menggeram pelan ketika mendengar desahan Maria tepat di telinganya. Merangsang seluruh sarafnya yang merespon dengan getaran cinta. Maria menggeliat mendapati jemari suaminya memainkan (v) nya dengan penuh perasaan. Memijatnya lembut dan menggesekkan satu jarinya diantara belahan bibir (v) nya. Maria bisa merasakan jemari suaminya yang kian bergerak cepat saat cairannya mengalir pelan membasahi jari-jarinya.
Lemas dengan perlakuan Jo yang begitu memanjakannya, jantung Maria memburu cepat saat Jo dengan tak sabar melepas gaun tidurnya. Membiarkan sang suami melihatnya yang hanya terbalut dengan bra dan ceI-dam. Secepatnya pula Jo melepas seluruh pakaian yang melekat di tubuh bidangnya. Dengan sekejap mata mlumat p*ting coklat Maria. Lidahnya mengitari p*tingnya, kemudian menghisap p*ting menonjol yang telah tegang itu.
"Aahhh... Ah Ah Ahh..."
__ADS_1
Maria melenguh keras saat jemari suaminya kembali bergerak di liang kewanitaannya. Dengan ganas menusuk lubang nikmat itu. Membuat Maria yang telah tertutupi oleh nafsu membusungkan dadanya. Melebarkan kedua kakinya saat Jo semakin gencar memuaskan daerah sensitifnya.
"Ah... Sayang... Ungghhh..."
Wajah Maria sudah memerah sempurna. Jo tersenyum mendapati istrinya yang begitu menikmati. Terlebih saat otot (v) istrinya menghisap jarinya kuat disusul dengan cairan yang mengalir deras.
"Aaaahhhh..."
Desah kepuasan yang terdengar lancar dari bibir Maria membuat Jo tersenyum semakin cerah. Menundukkan wajahnya untuk mengecup pipi istrinya yang merona.
"Kamu memang sangat cantik sayang."
Maria terengah. Menstabilkan deru nafasnya yang terdengar begitu tak teratur. Matanya menatap tanpa bicara pada Jo yang menindihnya. Lalu menggigit bibirnya saat merasakan kejantanannya yang menegang.
Geraman Jo terdengar. Nafasnya yang memburu tertiup di leher Maria. Maria merasakan seluruh tubuhnya kaku ketika Jo melebarkan kedua kakinya. Berjengit kaget saat kejantanannya menyentuh (v) nya.
Jo menurunkan dadanya dan menciumi leher istrinya. "Aku mencintaimu, Maria."
"Ahhh!"
Maria meremas bantal ketika Jo melesakkan kejantanannya kedalam kewanitaannya yang telah basah oleh cairan klimaks beberapa saat lalu.
Jo terpejam. Menghentak dengan tempo pelan sebelum akhirnya menambah kecepatan saat mendengar desahan Maria yang mulai menikmati sentuhan di bagian sensitifnya. Seraya memejamkan matanya, dia menggerakkan kedua tangannya untuk meremas dada Maria yang bergoyang. Seakan tak mau kalah untuk meminta dipuaskan.
"Ah Ah Ahh... Ouhhh..." desah Maria
Maria semakin mengeratkan genggamannya saat gelombang kenikmatan melingkupinya. Deru nafasnya memburu. Namun Jo justru semakin mempercepat gerakannya. Menusuk dengan keras setiap sudut kewanitaan istrinya.
"Ungghhh..."
"Babyyhhh... Ooh!" Jo mendorong kejantanannya lebih kuat saat klimaks melandanya. Membiarkan lahar panas miliknya berlari-lari memasuki tubuh Maria lebih dalam.
"I love you, Maria." Jo mengecup kening berkeringat istrinya. Maria yang masih merasakan kehangatan melingkupi bagian bawah tubuhnya terengah. Tak mau menghabiskan waktunya sia-sia, Jo kembali bergerak. Berhadapan tepat dengan kewanitaan Maria yang basah. Kedua tangannya masing-masing memegang erat lutut Maria. Mencegah agar slngkangan istrinya tak menutup.
"Sayang?" Maria menatap Jo yang sudah berada dibawah kuasanya. Merona saat melihat Jo menatap kewanitaannya penuh nafsu. Tak sampai sedetik sampai Maria kembali mendesahkan nama suaminya. Jo menghisap kewanitaannya begitu kuat. Memainkan lidahnya untuk menjelajahi setiap sudut (v) Maria. Mlumat klit yang menjadi salah satu sumber kenikmatan Maria.
"Ahh! Sayang... Ouuhhh... Ah.. Ah.. Ah..."
Desahannya semakin mejadi-jadi saat Jo menusukkan lidahnya dengan cepat. Membiarkan seluruh lidahnya bisa merasakan cairan Maria yang mengalir deras. Menandakan bahwa istrinya kembali klimaks.
"Disini juga cantik, sayang."
Entah sudah berapa kali wajah Maria memerah karena ucapan suaminya. Kini Maria merona karena melihat Jo yang mencium kewanitaannya seraya memejamkan mata. Begitu menikmati.
Keduanya terlihat lelah. Jo yang sudah berbaring disamping Maria menarik pinggangnya untuk mendekat. Mengeratkan pelukan keduanya sembari sesekali melemparkan senyuman dan kata-kata cinta menggoda.
"Sepertinya kita bisa melakukannya hingga pagi, sayang.."
__ADS_1
Maria membelalakkan kedua matanya. Jo terkekeh. "Kalau kamu masih mampu."
"Aku sudah tidak kuat." Maria memiringkan tubuhnya memunggungi Jo
Sembari tersenyum nakal, Jo mengangkat salah satu kaki Maria. Dan dengan kesempatan itu jugalah, Jo kembali melesakkan kejantanannya di kewanitaan Maria.
"Ah! Pelan-pelan sayang."
Jo terkekeh. "Mendesahlah yang keras untukku sayang."
"Ouhhh... Ahhh... Ahhhh..."
Maria mulai melemah. Setelah klimaks, tubuhnya terasa lemas. Jo membaringkan tubuh Maria dan kembali menggerakkan pinggulnya. Merasa lebih nyaman, Jo mempercepat gerakannya.
"Ahhh.. Ahhh.. Ahhh.. Jo.." wajah Maria terlihat memohon, dia sudah tidak sanggup, kewanitaannya sudah terasa perih. Namun Jo tidak mempedulikannya, dia justru semakin menggila.
Jo menciumi dan menghisap leher Maria. Memberikan ruam merah yang akan terlihat jelas keesokan harinya. Hingga kembali bisa dirasakan oleh Maria aliran hangat memenuhi bagian bawahnya. Untuk kedua kalinya, Jo terdiam dan membiarkan benihnya mengalir cepat memasuki tubuh istrinya. Tanpa bicara dia melepaskan tautannya. Jo mengecup kening Maria. Membelai tanda cinta yang sempat dibuatnya di leher hingga di sekeliling perut Maria. Mencium kening kemudian memeluknya. "I love you."
"Kamu sudah mengucapkannya berulang kali."
"Dan aku tak akan bosan mengucapkannya sepanjang hidupku." Jo memeluk istrinya dengan penuh kasih sayang. "Aku sangat mencintaimu, Maria."
Maria tersenyum. "Aku juga sangat mencintaimu, Jo."
Sedari tadi tak ada penerangan yang menemani keduanya dikamar itu. Cahaya bulanlah yang dengan setia memberikan sinarnya lewat celah-celah ventilasi dan tirai tipis yang menutupi jendela kamar. Diatas ranjang, tubuh keduanya tertutup selimut. Menggerakkan tangannya untuk mengelus rambut halus Maria, Jo tak pernah bosan untuk sesekali mencuri ciuman dari istrinya. Dia bisa melihat wajah cantik penuh kasih istrinya dari jarak dekat. Begitu dekat hingga nafas Maria pun terasa dipipinya.
"Melelahkan."
Maria terkekeh. "Kamu yang tidak mau berhenti."
"Itu karena dirimu." Jo mengecup bahu Maria. "Terlalu cantik sampai membuatku tak tahan."
Pukulan kecil Jo terima dilengannya yang melingkar di pinggang Maria. "Dasar perayu."
Jo tertawa. Menggerakkan kepalanya untuk menggesek leher Maria. Mencium aroma tubuh istrinya yang menjadi aroma penenang pribadinya. Menerima belaian penuh kasih sayang di bahu bidangnya. Maria memeluk Jo bagaikan anak kecil yang meminta untuk ditenangkan. Setelah ciuman selamat malam, tak ada suara lain selain dengkuran halus keduanya.
Sementara disisi lain, tangan Marco mengusap lembut wajah gadis dibawahnya yang sudah terlelap.
"Kamu cantik sekali, Agnez."
Dengan gencar Marco menciumi leher Agnez kemudian..
BRUK!!
Marco pun akhirnya tertidur disamping Agnez karena mabuk berat dan tidak sempat melanjutkan permainannya.
Bersambung
__ADS_1