
Lula
Lula mengaduk-aduk makanan di hadapannya. Ia tidak berselera. Bagaimana tidak? Adrian, suaminya belum pulang. Ia menatap jam dinding. Pukul sepuluh malam. Ia segera bangkit berdiri, mencuci piring, dan merapikan kembali meja makan.
Di kamar, Lula menatap layar ponselnya. Tidak ada notifikasi. Ia berusaha memejamkan mata.
Beberapa jam kemudian..
Lula membuka matanya perlahan. Ia terbangun karena sebuah suara. Lula melemparkan pandangannya ke seluruh kamar. Wangi shampoo Adrian. Dua detik kemudian, Adrian keluar dari kamar mandi. Lula tersenyum.
"Apa aku membangunkanmu?" ucap Adrian lembut.
Lula menggeleng.
Adrian mengeringkan rambut pirangnya asal dengan handuk.
"Kau sudah makan?" tanya Lula sambil menyenderkan punggungnya di headboard.
Adrian mengangguk. "Kembalilah tidur," ia merebahkan tubuhnya di kasur, di sebelah Lula. Tak lama kemudian, Adrian terlelap.
Lula membalikkan tubuhnya menghadap jendela.
Percakapan terpanjang kami minggu ini. Batin Lula.
Lula tahu. Adrian sibuk. Selama dua tahun pacaran dan tiga tahun menikah, ia selalu sibuk. Adrian adalah seorang dokter muda di rumah sakit tempatnya bekerja. Lula dan Adrian sudah pacaran sejak Lula masih menempuh pendidikan Magister. Sedangkan Adrian? Ia sekarang sedang melanjutkan pendidikan Doktoral sambil bekerja menjadi dokter spesialis jantung. Hal itulah yang menyebabkan Lula dan Adrian jarang bertemu. Bila bertemu pun, Adrian sudah terlalu lelah untuk menghabiskan waktu bersama.
Keesokan harinya..
Lula pergi kerja disaat Adrian belum bangun. Ia tidak ingin membangunkan suaminya itu. Lula tahu, waktu istirahat Adrian sangat berharga. Ia sendiri tidak tahu jadwal kuliah dan kerja suaminya karena jadwal Adrian sangat padat dan berubah-ubah. Tidak jarang di tengah tidurnya pun, Adrian masih menerima telpon emergency yang mengharuskan ia pergi ke rumah sakit.
Lula memakirkan Mercedes Bens nya di tempat parkir khusus Manager. Di sebelah, Nathan baru keluar dari mobil Lamborghininya. Nathan adalah CEO bank tempat Lula bekerja. Lula sengaja berlama-lama keluar dari mobil agar tidak perlu menyapa atasanya itu. Tapi ternyata, mereka tetap bertemu di lift khusus petinggi perusahaan.
"Pagi, Pak." Lula menundukkan kepalanya.
Nathan tersenyum. "Lantai 25 kan?"
Lula mengangguk.
Nathan menggeser tombol 25 dan 40 dengan telunjuknya di atas tombol lift touchless ini.
Hening.
__ADS_1
Lift berdenting begitu mereka tiba di lantai 25.
Pintu terbuka perlahan. "Saya duluan, Pak Nathan."
Nathan mengangguk.
Lula menghela nafas begitu ia keluar dari lift. Tiba-tiba, ponselnya berbunyi. Mama.
"Halo, Ma?" jawab Lula sambil terus berjalan dengan hak tingginya menuju ruangannya.
"Lulaa.. Halo, sayang.. Apa kabar?"
"Baik, Ma. Mama sendiri gimana? Papa gimana?" tanya Lula. Ia mengangguk sepanjang jalan begitu ada yang menyapanya.
"Baik, sayang. Semalam, Adrian baik banget. Dia dateng dulu ke rumah Mama cek kondisi jantung Mama. Kan terakhir tahun lalu Mama ke rumah sakit." ujar Mama panjang lebar.
"Oh, emang Adrian datang jam berapa?" Lula membuka pintu ruangannya.
"Jam delapan gitu. Terus dia setelah cek Mama dan kata dia oke, dia balik lagi ke rumah sakit."
Mertua aja diperhatiin. Istri engga.
"Oh gitu. Ya bagus lah kalau Mama baik-baik aja. Ya udah ya, Ma. Aku mau kerja dulu." ujarku. Setelah mengucapkan perpisahan, kami pun menyudahi telepon.
Aku dengar dari Mama kemarin kamu cek kondisi Mama ya. Makasih, ya. Ada waktu untuk dinner malam ini?
Satu menit. Dua menit. Tiga menit berlalu. Tidak ada jawaban. Lula tidak heran. Adrian pasti masih tidur. Kalaupun sudah bangun pun ia akan buru-buru pergi lagi.
Lula melemparkan tubuhnya ke atas sofa di ruangannya. Ia mengambil botol obat dari tasnya, mengambil sebuah pil dan menelannya. Itu adalah pil KB. Lula dan Adrian memiliki perjanjian. Mereka belum siap memiliki anak. Adrian lebih tepatnya. Ia masih sibuk dan gila kerja. Ia juga yang menyediakan pil itu untuk Lula. Kadang Lula berpikir, cintakah Adrian padanya? Jangankan dari kata-kata manis, sikapnya saja tak pernah menunjukkan Adrian cinta. Mungkin orang akan berpikir bahwa mereka menikah karena dijodohkan, bukan karena cinta.
Lula sibuk sepanjang hari. Rapat ini dan itu. Jam lima sore, Lula sedang bersiap-siap pulang ketika ponselnya berbunyi. Pesan dari Adrian.
Oke. Jam 20.00 di Wolfgang Restaurant.
Lula tersenyum. Ia sedikit meloncat kegirangan. Entah sudah berapa lama mereka tidak pernah makan bersama. Lula memacu Mercedes nya ke rumah. Ia mandi dan bersiap-siap. Ia bahkan menyetel playlist lagu favoritnya dan bersenandung. Ia berdandan dengan telaten. Ia ingin menyenangkan hati Adrian.
Ia memutuskan untuk memakai dress cokelat tua selutut yang memamerkan pundaknya. Sepatu hak tinggi dan clutch berwarna senada.
Lula tiba di Wolfgang tepat jam delapan malam. Ia memesan satu gelas white wine sambil menunggu di sebuah meja kecil untuk dua orang.
Lima menit..
Sepuluh menit..
__ADS_1
Tidak ada pesan. Adrian juga tidak muncul-muncul.
Lula mengedarkan pandangan ke sekeliling. Tiba-tiba pandangannya berhenti di seseorang yang ia kenal. Nathan. Nathan juga sedang melihatnya sejak tadi. Ia duduk di sebuah meja panjang dengan beberapa pria lainnya. Rekan bisnisnya mungkin. Tiba-tiba Nathan bangkit berdiri dan berjalan ke arah Lula.
"Lula?" sapanya. Ia membuka kancing jasnya dan duduk di hadapan Lula.
"Eh, hai, Pak. Pertemuan bisnis, ya?" sapa Lula basa basi sambil memegang gelas anggurnya.
Nathan tersenyum. "Ya, bagaimana dengan kamu?"
"Oh, saya sudah janji dengan suami saya untuk bertemu disini. Mungkin sebentar lagi ia datang." ucap Lula.
Tiba-tiba ponsel Lula berdering.
"Halo? Adrian?" jawab Lula cepat. Ia berpikir mungkin Adrian terjebak macet.
"Lula, maaf tapi aku sekarang harus masuk ruang operasi. Ada emergency." Suara Adrian terdengar sedikit panik. Panik atas kondisi pasiennya.
"Oh, oke.."
Belum sempat Lula menjawab panjang, Adrian sudah memotong.
"Oke. Sudah dulu ya. Sampai ketemu di rumah." Telepon dimatikan.
Nathan daritadi mendengar percakapan Lula dan memperhatikan gesturnya.
Lula meletakkan ponselnya di meja. Ia melempar senyum ke arah Nathan. "Sepertinya saya sendiri malam ini."
Nathan terkekeh kecil. Ia sendiri tidak tahu harus menjawab apa. Ia single dan hampir tidak pernah memiliki hubungan romantis.
"Jangan menilai suami saya buruk dulu, Pak." Lula tertawa kecil. "Ia seorang dokter. Jadi, bisa dibilang bahwa ia sangat sangat sangat sibuk." Entah kenapa dari senyum yang dipancarkan Lula, Nathan dapat merasakan kesedihan di dalamnya.
Nathan mengangguk-angguk. "Mau gabung ke meja saya? Saya kenalkan dengan rekan-rekan bisnis saya." tanya Nathan. Lula ragu. Nathan menarik pelan tangan Lula. Lula pun bergabung ke meja Nathan.
Selama dua jam berbincang, Nathan selalu meninggikan dan memuji Lula di hadapan rekan-rekan bisnisnya. Lula sangat berterima kasih di dalam hatinya atas hal itu. Nathan bukan saja atasan kaya raya yang tampan, tapi juga baik hati. Lula juga dapat berbicara dengan luwes di hadapan rekan bisnis Nathan.
"Lula, kamu bawa kendaraan?" tanya Nathan begitu rekannya yang terakhir pamit meninggalkan mereka berdua.
Lula mengangguk.
"Oke. Terima kasih ya untuk hari ini. Kamu jadi seperti lembur ngobrol sama rekan-rekan saya,"
"Gapapa, Pak. Saya senang juga bisa ngobrol sama mereka. Saya duluan, Pak." Lula mengangguk sopan dan segera menuju mobilnya.
__ADS_1