Suamiku, Dokter Adrian

Suamiku, Dokter Adrian
Alden


__ADS_3

LULA'S POV


Ketika aku berada di ruang operasi, perasaan khawatir, gugup, dan takut bercampur menjadi satu. Sebelumnya, aku tidak pernah menantikan hari ini akan datang. Tapi sekarang, begitu sudah di depan mata, aku diliputi perasaan yang tak bisa kuungkapkan dengan kata-kata. Mungkin karena ini pertama kalinya aku menjadi seorang ibu. Ibu. Aku tidak yakin aku pantas dipanggil seperti itu. Aku bahkan tidak mengalami keterikatan pada anak yang ada di kandunganku. Mungkin.. karena permasalahan di hidupku yang datang bertubi-tubi. Meskipun begitu, aku merasa bersalah padanya. Bersalah, karena aku bukanlah ibu yang baik untuknya. Ia harus lahir prematur hari ini, karenaku. Bersalah karena ia tidak mendapatkan cinta yang sudah selayaknya ia dapatkan, baik dariku, ataupun dari ayah biologisnya.


Aku tidak memikirkan apapun. Tidak kusangka aku akan setenang ini. Mungkin efek dari anestesi. Aku merasakan tekanan dan tarikan dari perutku.


Aku mendengar sayup-sayup suara sarung tangan beradu dengan sesuatu yang basah.


"Selamat, Ibu.. Bayinya laki-laki. Sehat dan sempurna." ujar Dokter menyelamatiku.


Aku tersenyum. Setidaknya, ia sehat. Aku bahkan tidak tahu jenis kelaminnya karena jarang memeriksakan diri ke dokter kandungan.


Setelah dibersihkan, bayi laki-laki itu dibawa kepadaku.


Saat itulah aku merasakan jatuh cinta. Kulitnya merah dan berkerut. Aku tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas. Yang dapat kulihat adalah rambutnya yang memenuhi seluruh kepalanya.


Aku meneteskan air mata yang tidak bisa kubendung. Entah karena apa. Yang jelas, aku tahu bahwa aku mencintai anak ini.


Ia tertidur di dadaku. Aku merasakan dingin tubuhnya. Perasaan cemas datang begitu cepat.


"Dok.. apa ia.. baik-baik saja?" tanyaku. "Kenapa ia tidak menangis?" tanyaku lagi.


Aku mengusap-usap punggungnya hati-hati. Ia terlihat begitu kecil dan lemah. Aku berusaha menahan tangisku. Aku mencintainya. Sangat. Aku diliputi suatu perasaan yang begitu besar; rasa bersalah. Entah karena apa. Tiba-tiba rasa bersalah ini muncul begitu saja.


"Ia baik-baik saja, hanya saja.. karena ia merupakan bayi prematur, ia harus dirawat di NICU untuk sementara hingga organ-organ vitalnya dipastikan dapat bekerja dan juga mencapai berat badan ideal."


Aku tidak kuasa menahan tangis ketika mereka membawa bayiku. Aku bahkan belum bisa menggerakan bagian bawah tubuhku untuk melihatnya. Nathan, yang entah sejak kapan masuk dan berada di sampingku, terus menenangkanku.


.


.


.

__ADS_1


NATHAN'S POV


Aku menunggu di lorong rumah sakit yang sunyi. Aku berdoa agar Lula kuat dan operasinya berjalan lancar. Aku menghela nafas dan menatap langit-langit rumah sakit. Dilema. Ini rupanya yang dinamakan dilema itu.


Pertanyaanku tadi padanya.. bertanya seperti itu padanya, karena aku tahu. Adrian berada disini. Di rumah sakit ini. Di gedung yang sama. Di hari yang sama ketika anaknya dilahirkan. Aku tahu karena aku membaca riwayat medis Mama Lula. Aku tahu bahwa Adrian yang melakukan operasi terhadap mantan mertuanya itu.


Tentu saja aku tidak akan bersikap lancang. Lula tidak menginginkan kehadirannya disini. Aku menghormati itu. Tapi, sungguh ironis. Tidak mengetahui bahwa kau telah memiliki anak?


Aku menyapu rambutku dengan jari-jariku, frustasi.


Ternyata.. seperti inikah rasanya dilema?


KEESOKAN HARINYA..


Lula sedang menggendong bayinya yang sedang terlelap. Ia kecil sekali. Well, aku belum pernah melihat bayi. Tapi, entah kenapa melihat bayi ini membuatku merasakan kegembiraan yang meluap. Padahal, aku bukan siapa-siapa. Aku tidak bisa membayangkan perasaan Lula.


Aku menatapnya. Aku setengah tidak percaya melihat Lula yang terlihat begitu menyayangi bayi itu. Aku tahu. Ia anaknya. Tapi, melalui pembicaraan kami, Lula tadinya sama sekali tidak mengharapkan anak itu lahir ke dunia. Tapi aku sangat bersyukur bahwa Lula sangat mencintai bayi itu. Siapa yang bisa membenci mahluk seindah, selemah, dan semenggemaskan itu? Aku pun luluh dibuatnya.


"Kau sudah memberinya nama?" tanyaku sambil mendekat ke arahnya.


"Alden." ujarnya sambil tersenyum. Wajahnya memancarkan ketenangan, seolah-olah bayi itu adalah satu-satunya hal yang berharga baginya.


"Nama yang indah." ujarku pelan, hampir seperti berbisik. Aku takut membangunkan Alden.


"Dia sangat tampan. Bibirnya sama seperti ibunya." Bisikku lagi.


Lula tersenyum.


"Kamu mau menggendongnya?" tanya Lula lembut.


Aku kehilangan kata-kata karena gugup. Tapi Lula tidak tahu mengenai kegugupanku, ia hanya mendekat dan meletakan Alden di kedua lenganku.


Alden.

__ADS_1


Mataku terpaku pada mahluk kecil di pelukanku. Kedua matanya terpejam. Kulitnya berwarna kemerahan. Hidung dan bibir kecil. Jari-jarinya kecil dan ringkih. Aku memperhatikan dadanya naik turun karena bernafas. Aku hanya bisa membayangkan masa depannya yang masih panjang terbentang di hadapannya dan entah kenapa.. Aku ingin selalu ada di sisinya. Mendukungnya dan juga Lula.


Seorang perawat datang untuk mengambil Alden dan seorang perawat lainnya datang membawa nampan berisi makanan.


Aku menyerahkan Alden dengan hati-hati.


Lula tampak muram dan tidak bisa melepas pandangannya dari Alden.


"Makanlah dulu. Sebentar lagi, Alden akan dibawa lagi kesini. Kamu butuh nutrisi dan tenaga untuk bisa memberikannya susu." Aku mencoba memberikannya pengertian.


Lula pun duduk dan makan secara perlahan. Di sela-sela pekerjaanku yang sibuk, aku selalu datang untuk memastikannya makan tiga kali sehari. Sekarang, keinginanku untuk datang akan semakin kuat karena juga untuk melihat Alden.


.


.


.


KEESOKAN HARINYA..


Lula dan Alden sudah diperbolehkan pulang. Aku berniat mengantar mereka ke apartemenku. Dengan keadaan seperti ini, ku rasa itu satu-satunya tempat paling aman untuk mereka. Hubungan Lula dengan Mamanya juga belum membaik. Aku hanya ingin melindungi wanita yang kucintai. Dan sekarang, aku juga ingin melindungi Alden.


Lula sedang memasukkan barang-barangnya ke tas ketika ia menoleh ke arahku. "Apakah Mama sudah.."


"Ia masih disini. Mereka akan mengabari jika ia sudah boleh keluar dari rumah sakit. Untuk sementara.. Kamu dan Alden tinggal saja di apartemenku. Oke? Aku juga akan menyuruh asistenku mencari baby sitter."


Lula menggeleng. "Aku tidak ingin merepotkan."


Aku menghela nafas. "Apa kita akan membahas hal ini lagi? Sama sekali tidak merepotkan. Kamu butuh bantuan untuk mengurus Alden. Kamu butuh tidur, kamu butuh.."


"Aku akan membayar sewa untuk tinggal disana." ujar Lula lagi.


Aku meraih tangannya. "Please, Lula. Lakukanlah apa yang kamu mau. Oke? Tapi lihat Alden.. Pikirkan ia juga. Aku ingin ia tinggal di tempat dimana ia merasa aman. Aku ingin kamu aman." Bayangan mengenai Ibu Luna yang belum bisa menerima cucunya sepenuhnya mengkhawatirkanku, dan sebaiknya itu mengkhawatirkan Lula juga.

__ADS_1


"Terima kasih.." ia menatapku dengan pandangan yang sulit diartikan. Aku menariknya ke dalam pelukanku. Aku mengelus pundaknya. Mungkin ia merasa terbantu oleh karena perbuatanku. Tapi aku merasa sebaliknya. Ia yang membantuku menjadi pria yang jauh lebih dewasa, dan aku berterima kasih untuk itu.


__ADS_2