Suamiku, Dokter Adrian

Suamiku, Dokter Adrian
Wijaya Group


__ADS_3

LULA POV


Aku sedang dalam perjalanan menuju rumah Ibu. Aku juga sudah menyuruh Mama dan Papa untuk datang. Sejak kepulangan Ibu Arianna dan Bapak Alexander, Mama dan Papa belum sempat bertemu besan mereka tersebut.


"Lula, how are you?" Ibu memelukku begitu aku tiba. Ia menyerahkan sebuah kotak dibungkus kado warna putih.


"Ya ampun, Ibu.. Ga usah repot-repot.." ujarku.


"Mana Adrian?" tanya Ibu tanpa menghiraukan ucapanku.


"Aku belum ketemu dia hari ini, Bu." ujarku.


Ibu menggeleng. Ia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang yang kurasa pasti Adrian.


Di dalam, Mama dan Papa sudah menungguku. "Selamat ulang tahun, anak Mama satu-satunya.." Mama mencium dan memelukku. Anak Mama? Bukannya Adrian anak Mama? Gerutuku dalam hati.


"Selamat ulang tahun, Lula.." ujar Bapak dan Papa hampir berbarengan.


"Makasih, Ma, Pa.. Makasih juga Ibu dan Bapak." ujarku.


"Loh.. Adrian mana, La?" tanya Papa.


"Emm.. kayanya dia ada operasi, Pa." ujarku bohong. Aku sebetulnya tidak bohong, hanya saja aku tidak tahu apa alasannya tidak ingat bahwa ini ulang tahunku. Kalau saja tadi ia sudah pulang, pasti aku akan mengajaknya kesini.


Bapak yang mendengar hal itu segera bangkit berdiri, menyusul Ibu yang sedang sibuk dengan ponselnya, agak jauh dari ruang tamu. Aku tidak sanggup melihat wajah Mama dan Papa. Mereka pasti kecewa mengetahui menantu kesayangannya tidak datang. Aku memutuskan untuk menyusul Ibu.


"Kamu itu gak tahu ya.. Mertua kamu juga ada disini.. Mau ditaro dimana muka Bapak!" Aku tersentak mendengar ucapan Bapak pada Adrian di telepon. Aku tidak pernah melihat Bapak marah sebelumnya.


"Pokoknya weekend ini kamu ketemu sama mertua kamu. Ajak Lula juga!" Bapak mematikan telepon.


Ibu menyadari kehadiranku. "Lula.."


"Maaf, Bu, Pak. Tapi, Lula gapapa kok kalau Adrian sibuk. Nanti juga kami ketemu di rumah. Lula harap, Bapak sama Ibu maklum. Lula minta maaf ya, Pak, Bu.." ujarku.


Ibu merangkulku. "Kami yang minta maaf, La. Sudah sabaar sekali kamu menghadapi ini. Semoga Adrian bisa lebih banyak waktu sama kamu, ya.."

__ADS_1


Setengah jam kemudian, kami berlima makan bersama.


"La, ngomong-ngomong.. Kamu sama Adrian ga ada kepikiran buat punya anak?" Mama bertanya.


Aku tersedak. Kalau orang-orang malah takut mertuanya yang terus minta cucu, ini malah terbalik. Mamaku sendiri yang menekanku. Haruskah ia bertanya seperti itu di depan mertuaku? Aku benar-benar kesal.


"Kami belum siap, Ma.." ujarku. Kami? Bukan kami. Adrian yang belum siap. Namun aku tidak ingin menyalahkan Adrian di depan mertuaku.


"Apa lagi yang ditunggu? Kita ini sudah tua.. Mama tuh pengeeen banget nimang cucu." ujar Mamaku.


"Iya, Ma.. Nanti aku coba obrolin sama Adrian."


"Iya, Bu Lula. Mungkin mereka masih mau berduaan dulu.." ujar Ibu membelaku. Aku hanya bisa tersenyum mendengarnya. Berduaan apanya? Batinku. Bersamaan dengan kata-kata Ibu, seseorang memasuki ruang makan.


"Loh, Adrian? Kamu datang?" Mamaku terlihat senang. Papa juga. Ibu dan Bapak malah biasa saja.


"Iya, Ma. Tadi aku buru-buru minta dokter lain gantiin. Happy birthday, sayang." Adrian mengecup pipiku mesra. Aku terkejut. Selama dua minggu ini saja kami jarang bicara. Sepertinya Adrian memang pandai berpura-pura.


"Pasti kamu belum makan, deh.. Sini duduk sebelah Lula." ujar Mamaku ramah. Adrian langsung duduk di sebelahku. Aku memutuskan untuk mengambil makanan untuk Adrian. Memang dia saja yang bisa berpura-pura? Adrian menunjuk menu yang ia mau. Tanpa ia beritahu pun, aku sudah tau apa yang ia suka. Pasta.


"Kenapa?" Adrian berujar pelan padaku. Ia menyadari bahwa daritadi aku memperhatikannya. Aku segera melempar pandangan ke segala arah. "Gapapa." ujarku tak kalah pelan. Kami tidak ingin orang tua kami menyadari kecanggungan ini. Adrian tersenyum kecil. Entahlah, sekarang ini di mataku ia terlihat seperti.. malu.


Tiba-tiba aku menyadari sesuatu. Adrian pasti lupa kalau hari ini hari ulang tahunku. Ia pasti baru ingat tadi ketika Ibu dan Bapak menelepon. Aku tidak begitu ingin mempermasalahkan hal itu. Bagiku hari ini sama seperti hari-hari lainnya. Aku hanya tidak mengerti. Apa yang baginya penting benar-benar tidak dapat kumengerti. Pekerjaan? Aku menganggapnya penting. Tapi haruskah sebegitunya?


"Lula.. Kok melamun.. Itu kado dari Mama dan Papa.." kata-kata Ibu membuyarkan lamunanku. Aku menatap ke seberang meja. Mama sedang menyodorkanku sebuah kotak.


"Boleh dibuka sekarang?" tanyaku. Mama mengangguk.


"Buka juga yang dari Ibu.." ujar Ibu.


Aku membuka kado dari Ibu terlebih dahulu. Sudah tak terhitung barang darinya. Biasanya barang-barang bermerk.


"Ibu.. Bagus banget.. Makasih, Bu, Pak.." Mereka (baca: Ibu) menghadiahiku sebuah set berlian dari Frank & Co., sebuah perusahaan perhiasan ternama dari Amerika Serikat.


"Sama-sama.." ujar Ibu dan Bapak bersamaan.

__ADS_1


Aku membuka kado dari Mama dan Papa. Sebuah dress glitter hitam. Versace.


"Makasih, Ma, Pa.. Maaf udah ngerepotin.. Sebenernya gausah kan aku kan udah kerja.." ujarku.


"Ehem.." Bapak berdeham. "Lula, sebetulnya ada satu hadiah yang sudah Bapak pikirkan untuk Bapak berikan pada kamu." ujarnya. Nada bicaranya sangat serius.


"Ya, apa itu, Pak?" tanya Lula.


"Wijaya Group." ujar Bapak lagi.


Aku, Mama, dan Papa sangat terkejut. Lain halnya dengan Bapak, Ibu, dan Adrian.


"Maksud Bapak?" tanyaku.


"Iya, perusahaan Bapak akan Bapak wariskan ke kamu." ujar Bapak lagi.


"Ta.. Tapi.. Bapak kan masih.." Aku melihat Ibu yang hanya tersenyum. Sedangkan Adrian, seperti biasa dengan wajah dinginnya.


"Bapak ini sudah enam puluh tahun. Masa kamu tega sih. Bapak ini juga mau pensiun." ujarnya.


"Tapi kan ada.." Aku menatap Adrian, berharap ia akan membantuku untuk dapat menolak permintaan Bapak.


"Apa? Adrian? Tanpa kami semua tanya juga kamu sudah tau lah dia maunya apa. Mana mungkin dia kerja di kantor." ujar Bapak sinis. "Bapak sudah tau kemampuan kamu dalam memimpin perusahaan. Pendapatan kantor kamu saja benar-benar melesat setelah kamu jadi pimpinan. Sudah, ini tidak bisa dibantah lagi. Jadi, kamu sebaiknya siap-siap keluar dari kantor kamu sekarang."


"Tapi.. Pak.." ujarku lagi.


"Kamu butuh waktu berapa lama?" tanya Bapak to the point.


"Apakah Bapak akan pensiun secepat ini?" tanyaku agak sedih.


"Ya.. Pelan-pelan Bapak akan mundur sambil membantu kamu menjadi CEO." ujar Bapak.


Mama datang dan mengusap punggungku. Ia tampak bahagia dan berterima kasih pada besannya. Papa juga.


"Tiga bulan, paling lama." Bapak memberikanku ultimatum.

__ADS_1


__ADS_2