
Lula memutuskan untuk staycation di hotel bintang lima. Ia bosan dan juga kesal pada suaminya. Sepertinya Adrian tidak mempedulikan kepergian Lula. Sama sekali tidak ada notifikasi dari Adrian di ponsel Lula.
Lula check-in sendiri. Ia memang sudah terbiasa serba mandiri, terutama sejak menikah. Setiap hari, Adrian dan Lula hanya bertemu kurang dari satu jam. Biasanya, Adrian masih tidur saat Lula berangkat kerja dan Adrian belum pulang saat Lula sudah terlelap.
Lula masuk ke kamar hotel itu. Tiba-tiba.. ponsel Lula berdering.
Ibu.
Apakah Adrian mengadu? Tidak biasanya. Batin Lula. Ia menghitung sendiri. Di New York hampir pukul dua belas malam.
"Halo?" Suara Ibu terdengar tegas. Tolong jangan marahin aku, Bu.
"Halo, Ibu?" Lula menjawab takut-takut.
"Lulaa.. Kamu lagi di kantor, ya? Ibu ganggu?" tanya Ibu. Rupanya Adrian tidak mengadu bahwa mereka baru saja bertengkar. Lula menghela nafas lega.
"Engga kok, Bu. Lula lagi cuti."
Lula merebahkan dirinya diatas sofa.
"Oh, cuti.. Kenapa? Kamu sakit?" tanya Ibu perhatian.
"Engga, Bu. Cuma mau habisin jatah cuti aja. Hehe.."
"Oh, gitu. Adrian sibuk terus, ya?"
"Emm.." aku ragu-ragu menjawab.
"Ya, Ibu tau lah, La. Anak Ibu itu tergila-gila kerja. Persis bapaknya. Ya kamu maklumi ya, La."
"Ga, kok Bu.. Oh ya, Ibu belum tidur jam segini?" tanya Lula.
"Belum, nih. Ibu sama Bapak besok ke Jakarta, La." ujarnya.
"Oh ya?" Lula tidak dapat menyembunyikan rasa senang. "Sampainya kapan, Bu? Biar Lula jemput."
"Sampainya lusa. Jam delapan pagi. Ga usah jemput. Ga usah repot-repot.."
"Ga repot, Bu. Lula malah seneng kalo bisa jemput Ibu. Ya ya ya?"
"Ya, oke terserah Lula aja. Ya sudah Ibu istirahat dulu ya, nak.."
"Baik, Bu. Sampai ketemu ya.."
Ketika Lula menutup telepon dari Ibu, tak ia sadari air matanya menetes. Sepertinya Lula sudah tiba di ambang batas kesabarannya. Apakah orang tua mereka tahu bahwa Lula dan Adrian tidak bahagia? Kehidupan pernikahan seperti apa ini?
Adrian tidak tahu siapa orang tua kandungnya. Ia diadopsi dari sebuah panti asuhan oleh Ibu Arianna dan Bapak Alexander ketika usianya lima tahun. Lula sendiri tidak pernah bertanya lebih jauh mengenai masa kecil Adrian. Mungkin karena ia dibesarkan oleh kedua orang tua angkat, hatinya seolah membeku. Setahu Lula, Bapak dan Ibu sangat menyayangi Adrian. Mereka membesarkan Adrian dengan bergelimangan harta. Kedua orang tua Adrian bulak balik New York - Jakarta. Kebanyakan karena urusan bisnis Pak Alexander.
Sedangkan Lula juga merupakan anak satu-satunya dari Lukas dan Luna. Luna memiliki penyakit jantung bawaan dari lahir. Luna sangat menyayangi menantunya. Ia selalu membela Adrian dalam setiap pertengkaran Adrian dan Lula. Itulah kenapa Lula jarang bercerita pada Mama Luna. Untuk cerita pada Ibu Arianna lebih tidak mungkin lagi. Ia tidak ingin membuka aib suaminya sendiri. Namun seringkali Ibu Arianna sudah mengerti sifat dan tabiat si anak.
Lula merebahkan dirinya di kasur. Ia lelah. Tak sadar ia pun larut ke dalam alam mimpi.
Ponsel Lula berdering. Nomor tak dikenal. Lula menekan tombol hijau.
"Halo?" jawab Lula sambil mengucek kedua matanya.
__ADS_1
"Halo.. Lula?" tanya pria di ujung telepon.
"Ya. Ini siapa?" tanya Lula ketus. Ia sudah siap-siap ingin marah.
Pria itu terkekeh. "Emm.. Maaf, ini saya Nathan."
"Oh, Pak Nathan! Maaf, Pak. Ada apa ya, Pak?" tanya Lula. Sudah empat tahun bekerja di perusahaan Nathan, baru kali ini bosnya itu menghubungi ponselnya.
"Maaf, saya lancang hubungin kamu. Saya baru denger dari Bu Tasya katanya kamu cuti." ujar Nathan. Tampaknya ia berada di kantor, karena Lula bisa mendengar latar belakang suara dengan jelas.
"Iya, Pak. Saya cuti. Hari ini aja, kok. Senin saya udah masuk." jawab Lula.
"Emm.. Okay."
"Itu saja, Pak?" tanya Lula ragu-ragu ketika ia ingin mengakhiri panggilan. Ia tidak ingin dicap tidak sopan, tapi ia sangat tidak nyaman bicara dengan atasan.
Tok tok tok.. Pintu kamar hotel Lula diketuk.
"Room service!" ujar seorang pria dari luar kamar.
"Sebentar, Pak." ujar Lula pada Nathan. Lula berjalan menuju pintu sambil menahan ponselnya diantara kepalanya dan pundak kirinya.
"Saya ga pesan apa-apa, Mas. Salah kamar," ujar Lula sambil membuka sedikit pintu. Pelayan itu pun meminta maaf dan langsung pamit pergi.
"Maaf, Pak. Tadi sampai dimana ya?" ujar Lula sambil merebahkan dirinya kembali ke atas kasur.
"Kamu di hotel?" tanya Nathan.
"Emm.. Iya." jawab Lula singkat.
"Hyatt."
"Kamu.. mau dinner sama saya? Di restoran hotel itu aja." tanya Nathan lagi.
Emang sekarang jam berapa? Lula menatap jam tangannya. Astaga! Sudah jam enam sore.
"Lula?" tanya Nathan lagi.
"Emm.. boleh, Pak."
"Oke. Sampai ketemu satu jam lagi?"
"Ya, see you."
Bip. Telepon dimatikan.
Lula berjalan mundar mandir. Ia ragu. Haruskah ia kembali ke rumah? Mungkin setelah dinner dengan Pak Nathan. Ngapain lagi tuh orang pake ngajak gue dinner.
Lula menghubungi Nissa. Dari antara sahabat-sahabatnya, Nissa yang paling dekat dengannya. Nissa juga yang paling kalem dan bisa menjaga rahasia dari semuanya. Lula menceritakan semuanya pada Nissa, mulai dari Adrian yang selalu tak acuh padanya hingga Nathan yang mengajaknya makan malam.
"Hmm.." Nissa seperti sedang berpikir keras.
"Jadi, Nis? Menurut lo, gue pulang ga ya malem ini?"
"Oke gue ngerti kenapa laki lo itu selalu cuekin lo."
__ADS_1
"Kenapa?"
"Ya.. dia sibuk."
"Yeeee.. Itu juga gue tau, Nis. Yaudah lah, gue harus siap-siap deh ke bawah. Kayanya kemungkinan besar gue pulang deh abis dinner."
"By the way, La.. Kayanya.."
"Kayanya apa?"
"Kayanya Pak Nathan suka deh sama lo.."
"Gilda! Mana mungkin sih, Nis. Gue kan udah merit. Dia tau kok.."
"Hmm, ya itu kalo feeling gue sih.. Tapi kalo dia beneran suka sama lo, gimana?"
"Ya ga gimana-gimana lah, Nis! Gue tuh udah punya Adrian."
"Tapi kan.."
"Yaudah deh, Nis. Gue kayanya harus siap-siap dulu."
"Oke deh, La. See you hari Senin, ya.."
Bip. Telepon dimatikan. Lula mematut dirinya di cermin. Ia tidak membawa baju apapun, hanya baju yang ia kenakan saja. Ia memutuskan untuk mandi. Setelah mandi, ia kembali memakai pakaiannya, kemeja tangan panjang biru muda dan celana panjang hitam. Sudah hampir pukul tujuh, Lula bersiap-siap ke bawah.
Restoran hotel itu mewah sekali. Penuh chandelier berwarna oranye keemasan. "Meja untuk berapa orang?" tanya seorang pelayan.
"Dua."
Lula diarahkan untuk duduk di sebuah meja di sudut, tepat di sebelah jendela. Jendela yang sangat besar itu menghadap ke jalanan ibukota. Lula bisa melihat lampu-lampu gedung pencakar langit.
Telepon Lula berdering.
Adrian.
Lula malas mengangkatnya. Ia membiarkan ponselnya setelah menyalakan mode silent.
Adrian terus menerus menghubungi ponsel Lula. Akhirnya, Lula menyerah.
"Kamu dimana?" tanya Adrian.
"Dua jam lagi aku sampai rumah." kata Lula.
"Ya tapi aku mau tau kamu dimana! Aku udah sengaja cuti buat kamu, tapi kamunya.."
"Apa? Buat aku? Kamu cuti malah sibuk buat disertasi."
"Ya itu kan tadi. Sekarang kamu kok ditanya ga jawab, sih?"
"Kamu nelfon aku cuma buat marah-marah gini?"
"Yaudah kalo gamau kasih tau kamu dimana."
Bip. Telepon dimatikan.
__ADS_1
Lula menghela nafas kesal kemudian mengedarkan pandangannya. Saat itulah ia melihat seseorang yang menuju ke arahnya. Nathan.