Suamiku, Dokter Adrian

Suamiku, Dokter Adrian
Cantik


__ADS_3

NATHAN'S POV


Aku tiba di tempat yang sama seperti kemarin aku mengantarkan Lula. Rumah mamanya. Aku turun dari mobil dan menuju gerbang. Kebetulan gerbang depan terbuka. Aku tidak menyia-nyiakan kesempatan dan segera menuju pintu depan.


Aku menekan bel.


"Ya?" seorang perempuan setengah baya membukakan pintu. Seorang ART, kurasa.


"Permisi.. Lula ada?" tanyaku sopan.


"Oh.. Non Lula.. Ada di atas. Bapak siapa, ya?" tanya ART itu.


"Saya.. atasannya. Sekaligus temannya."


ART itu melirik Ferrari ku. Ia tampak takjub. Ia langsung mempersilahkanku masuk.


"Ehmm.. Sebentar saya panggil Non Lula.. Mau minum apa?" tanyanya.


"Tidak usah, Bi. Terima kasih." ujarku. Aku duduk di sebuah sofa besar di ruang tamu. Aku tidak mempedulikan apapun sekarang. Hanya Lula.


Beberapa saat kemudian..


Seorang ART lain datang membawakanku minuman ketika ART yang pertama kali menemuiku kembali.


"Maaf, Pak.. Sepertinya Non Lula tidak ingin bertemu siapa-siapa. Saya ketuk pintunya tapi nggak dijawab."


"Dia sudah makan hari ini?"


ART itu menggeleng. "Sejak kemarin belum. Nyonya besar juga sudah bujuk tapi sekarang Nyonya besar sedang pergi.."


Hatiku menciut mendengarnya. Apa orang tuamu tahu apa yang kau alami?


"Permisi.. Saya harus.." Aku berlari menuju lantai dua. Aku tak peduli jika ART itu akan mengusirku nanti. Aku harus melihat Lula dengan mata kepalaku sendiri.


Aku membuka kamar pertama yang kulewati. Tak dikunci. Mataku menyapu seluruh ruangan. Gelap. Hanya ada satu lampu tidur yang menyala remang. Ranjang kosong. Tiba-tiba aku menangkap pergerakan di ujung kamar. Di lantai. Disitulah aku melihat Lula. Ia duduk memeluk kedua lututnya. Aku melihat kedua bahunya yang bergetar.


Aku berjalan pelan ke arahnya. Ketika berada di hadapannya, aku berlutut. Cahaya lampu redup menyinari setengah wajahnya. Aku pun dapat melihat wajahnya yang sembab.


"Lula.." Aku mengusap pipinya yang basah. Ia masih mengenakan pakaian tidur.


"Kamu?" Suaranya yang serak terdengar pelan. Lula mengerjap-ngerjapkan matanya tak percaya. Mungkin ia kaget melihatku di kamarnya.


"Ikut aku, yuk? Aku mau ajak kamu jalan-jalan sama sekalian breakfast." ajakku.


Ia menggeleng.


Aku menggenggam tangannya.


"Aku udah jauh-jauh kesini, lho.. Sebentaar aja.. Please.."


Ia tak bergeming.


"Aku ga mau keluar dari kamar ini sebelum.."


"Ya sudah, aku mandi dulu.." ujarnya pelan memotong ucapanku. Suaranya serak tidak seperti biasa. Saat itulah aku menyadari mungkin sudah sejak lama ia menangis dan tidak minum. Aku menatap nakas di samping ranjang, menuang air dari pitcher ke dalam gelas.


"Ehm.. Oke.. Tapi, ini.. Minum dulu." titahku lembut.


Ia minum beberapa teguk.


"Habiskan." ujarku lagi.

__ADS_1


Entah apa yang membuatnya menurutiku.


Ia meminum satu gelas penuh dan kemudian berdeham kecil.


"Kamu mau minum?" tanyanya.


Aku terkekeh. "Nanti aku ke bawah.." Bisa-bisanya dia memikirkan orang lain di saat seperti ini.


Aku mengikutinya menuju sudut kamarnya. Ia berbalik.


"Mau ngapain?"


"Ehm.. Kita mau pergi kan?"


"Kamu turun dulu. Saya mau mandi." ujarnya sambil menunjuk pintu kamarnya.


"Oh, oke.." Balik lagi pakai kamu-saya, deh.. batinku.


Aku pun segera keluar kamarnya dan kembali ke bawah.


.


.


.


Lula turun tak lama kemudian. Ia mengenakan atasan kashmir lengan panjang berwarna krem dan celana panjang berwarna senada. Ia terlihat... murung. Aku memaklumi. Siapa yang tidak hancur setelah mengalami apa yang ia alami?


"Yuk?" ajakku. Aku membimbingnya menuju mobilku. Aku membukakan pintu untuknya, seperti biasa.


"Mau kemana?" tanyaku.


"Loh.. Bapak yang maksa ajak saya keluar." Ia tampak sedikit emosi.


Ia tak menjawab. Aku tersenyum. Setidaknya ia sudah mau ikut denganku.


.


.


.


Sepanjang perjalanan kami tidak banyak bicara. Aku berusaha untuk tidak mengungkit-ungkit kesedihannya. Seringnya ia menatap jendela, menghindari kontak mata denganku. Ia menjawab pertanyaanku seperlunya, tanpa bertanya kembali.


Tak lama kemudian..


Kami tiba di sebuah kafe di suburb kota Jakarta. Aku turun dari mobil, membukakan pintu untuknya.


Aku meletakkan tangan kananku di hadapannya, mengisyaratkan agar ia menerima tanganku.


Sedetik..


Dua detik..


Ia keluar dari mobil tanpa menerima uluran tanganku.


Aku tersenyum melihatnya.


Cuaca sejuk hari ini. Angin menerpa rambutnya yang panjang dan tidak tertata seperti biasanya.


Ia masih menghindari tatapanku.

__ADS_1


Aku menutup pintu mobil dan membimbingnya masuk menuju kafe.


Seorang pelayan mempersilahkan kami duduk di meja di sebelah kaca yang menghadap ke sebuah hutan kecil.


"Mau pesan apa?" tanyaku begitu kami duduk.


Ia menatap pelayan sambil berkata, "Chamomile tea satu."


Pelayan itu mencatat dan beralih padaku.


"Loh? Pesen makan dong.." ujarku padanya.


"Saya nggak.."


"Kita bisa sampai malam disini kalau kamu mau." aku memotong perkataannya.


Ia menghela nafas. "Shrimp linguine satu." ujarnya pada pelayan.


Aku tersenyum dalam hati. Aku memesan pada pelayan dan pelayan itu pun pergi.


Lula menatap jendela. Sepoi angin meniup rambutnya. Aku tersenyum. Mungkin kali ini tidak dalam hati, karena saat Lula melirik ke arahku, ia menatapku tidak suka.


"Kenapa?" tanyaku.


"Bapak yang kenapa. Maksud Bapak apa sampai ajak sa.."


Aku menempelkan telunjuk di bibirku, menandakannya untuk diam. Aku tak sabar untuk membalas ucapannya. "Emang kita di kantor?" selaku.


"Hah?" tanyanya bingung.


"Kamu manggil saya bapak terus.. bapak lagi.. Kalau orang lain denger gimana? Nanti saya dikira bapak kamu lagi.." ujarku santai.


Ia menggelengkan kepala dan membuang muka. Bukan reaksi yang kuharapkan. Aku kira ia akan tertawa, atau paling tidak tersenyum.


Kami makan dalam hening. Sesekali aku melihat ke arahnya, tapi ia fokus pada makanannya. Aku senang karena sudah memastikan di hadapanku sendiri bahwa ia makan.


"Terus.. mau kemana habis ini?" tanyaku begitu ia sudah selesai makan.


Ia mengangkat kedua bahu. Aku memperhatikan wajahnya. Satu kata untuknya. Cantik. Ia memiliki garis wajah yang lembut, alis yang tebal, kedua mata berwarna biru kehijauan, semuanya.. terlalu indah. Hari ini, pertama kalinya aku melihatnya tanpa riasan. Bukan hanya itu, ia juga tampak sedih. Tapi semua itu tak mengurangi kecantikannya.


"Nathan?" Lula membuyarkan lamunanku.


"Ehmm.. iya?"


"Antar aku pulang.." ujarnya.


"Boleh.. Tapi, sebelum itu.. Ada yang mau aku tanyakan ke kamu." ujarku sambil membenarkan posisi duduk.


"Apa?" tanyanya.


"Are you feeling okay?" tanyaku.


Ia baru saja hendak membuka mulut ketika aku memotongnya, lagi. "Tunggu. Sebelum dijawab, coba kamu pikirkan dulu jawabannya." ujarku. Ia mengernyitkan alis sedetik, lalu kemudian tampak berpikir. Aku tersenyum. Oh Tuhan.. Apakah salah jika aku mencintainya?


"Nathan?"


Oke. Ini seperti deja vu.


"Ya?"


"Bengong terus.." protesnya. Ia mengerucutkan bibirnya. Lucu. Pikirku.

__ADS_1


"Ehm.. Iya, sorry. Terus.. jawaban kamu?" jawabku.


Aaaahh.. Hari ini akan menjadi hari yang panjang. Batinku.


__ADS_2