
Ketika aku melihat Ibu dan Bapak meratapi makam yang sama, aku berdoa dalam hati agar itu bukan Adrian. Kumohon, siapapun Tuhan.. Asal bukan Adrian. Ia harus bahagia. Ia sudah memiliki masa kecil yang tidak membahagiakan. Aku akan melakukan apapun asal ia merasakan sebaliknya.
Tapi.. ketika aku menatap nisan itu, seketika pula pertahananku runtuh. Papa.. Apa ini.. benar nyata? Tidak bisakah Tuhan kau cabut saja nyawaku dan tolong kembalikan hidup Papa? Kenapa.. Kenapa ini harus terjadi? Di saat terakhir aku bertemu dengan Papa, aku malah mengecewakannya. Aku menyesal pergi ke Bali. Apa kematian Papa.. disebabkan olehku?
Aku maju ke sebelah nisan Papa, tidak mempedulikan sekelilingku. Hingga kemudian aku tak sengaja bersebelahan dengan Mama. Ia tampak kacau. Matanya bertemu denganku. Tapi, aku merasa.. ia tidak mempedulikanku. Ia kembali menatap makam Papa. Saat itulah aku tersadar. Aku tidak diinginkan disini. Meskipun hatiku hancur, aku harus sadar diri. Mama lah yang paling terluka karena kejadian ini. Aku mundur perlahan, melewati orang-orang di belakangku.
Kini aku sudah berada di belakang sekali. Jauh dari keramaian. Hatiku sakit karena Mamaku sendiri menolakku. Aku berdiri di sana, di bawah terik matahari, menunggu sambil menyesali kedurhakaanku pada Papaku. Aku menangis sendirian dalam keheningan.
Kerumunan orang perlahan-lahan berkurang. Satu persatu orang sudah meninggalkan makam. Hanya ada kurang dari sepuluh orang di sana, di sekeliling makam, termasuk Mamaku, Bapak, dan Ibu.
Tidak lama kemudian, Bapak dan Ibu menghampiri Mama. Mereka berusaha menguatkan Mama. Aku bingung. Haruskah aku kesana? Bertemu tiga orang yang mungkin membenciku? Bapak dan Ibu pasti membenciku karena aku menceraikan anak mereka, tanpa pamit bahkan.
Beberapa menit kemudian, aku memutuskan untuk mendekat ke arah mereka. Ibu menyapaku lewat matanya. "Lula.. Kamu yang sabar, ya.." ujarnya. Aku mengangguk tanpa mampu mengeluarkan sepatah kata pun.
"Ma.." Aku meremas pundak Mama.
Ia tak bergeming. Ia sudah tidak menangis lagi. Tapi sungguh, aku tidak sanggup melihatnya. Separuh jiwanya sudah pergi. Akankah aku seperti dia jika Adrian pergi untuk selamanya?
"Kuatkan Mama kamu, ya.." ujar Ibu lagi.
"Terima kasih, Bu.. Maaf.." ujarku menahan tangis. Kami berdua sama-sama tahu untuk apa maaf itu. Tapi ia menggeleng. "Ibu dan Bapak juga minta maaf kalau ada salah sama kamu.." Wajahnya terlihat teduh, mengingatkanku pada Adrian. Hal itu membuatku berpikir.. dimana Adrian? Sebegitu bencinya kah ia padaku hingga ia tak datang pada pemakaman Papa? Tapi aku tidak bertanya. Aku tidak ingin mengungkit kepedihan semua orang. Aku tidak ingin menyakiti siapa-siapa lagi dan sebaiknya aku tutup mulut.
"Lula, sebaiknya kita antar Mama kamu ke rumah. Sudah berhari-hari ia kurang tidur di rumah sakit menemani Papa kamu." suara Bapak memecah keheningan.
"Ma, kita pulang, yuk?" ujarku pelan.
"Iya, Lun. Lukas sudah tenang disana. Besok, kita kesini lagi, ya.." ujar Ibu pada Mama.
__ADS_1
Aku dan Ibu membantu menopang Mama berjalan menuju mobil. Mereka tidak sadar ada seorang pria berpenampilan rapi memperhatikan mereka dari jauh.
.
.
.
Setelah aku mengantar Mama ke kamar, aku turun ke ruang tamu. Tadi Ibu memutuskan untuk ikut kami pulang, sedangkan Bapak masih ada pekerjaan di kantor.
"Bu, terima kasih sudah mau datang." ujarku.
Ia menatapku dari ujung kepala hingga ujung kaki. Mungkin ia heran, kenapa aku tidak memakai pakaian serba hitam. Tanpa malu aku datang ke pemakaman Papa.
"Aku.. baru tahu kabar Papa barusan dari Bibi." ujarku. Aura Ibu yang terpancar penuh kepercayaan diri membuatku ciut. Apa ia kesal padaku? Apa semua orang kesal padaku karena telah menyakiti Adrian si Tuan Sempurna itu? Percayalah, kalian tak perlu kesal padaku. Aku sudah menghukum diriku sendiri atas apa yang telah ku lakukan.
"Bagaimana kabar kamu?" tanya Ibu.
"Makasih, Bi.." ujarku. Aku duduk berhadapan dengan Ibu. Pikiranku berkecamuk. Ribuan pertanyaan mengenai Papa hadir dalam benakku.
"Selama ini.. Kamu kemana?"
"Bu, maaf.." Aku menitikkan air mata. Maaf karena aku telah bercerai dengan anakmu satu-satunya. Maaf karena aku belum menjadi menantu yang baik.
"Sudah, Lula.." suaranya menenangkanku.
"Maaf kalau aku selalu mengecewakan Ibu dan Bapak." ujarku.
__ADS_1
Ibu bangkit berdiri lalu duduk di sebelahku. Ia menggenggam tanganku. Sepertinya ia tahu apa yang aku butuhkan. Sudah berminggu-minggu aku hidup seperti orang mati, tidak bersosialisasi sama sekali. Sekarang, saat seseorang yang sangat kusayang dan kuhormati bersikap baik padaku, rasanya tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata.
"Bu.. Kalau boleh tahu.. Apa yang terjadi pada Papa?" Aku memutuskan untuk bertanya pada Ibu, mengingat kondisi Mama yang masih sulit berbicara denganku.
"Ibu juga kurang paham. Sudah dua minggu ini Papa kamu masuk rumah sakit. Kesehatannya menurun. Sejak saat itu pula Mama kamu menemani. Ibu tidak menyangka.. secepat ini." ujarnya pelan.
Apa Papa.. sakit karena aku?
Aku tidak sanggup mendengarnya. Semua sangat menyakitkan. Bagaimana aku harus bertahan? Bagaimana Mama harus bertahan?
Ibu pamit tidak lama kemudian. Aku mengantarnya hingga pintu. Aku tidak lagi dapat menyembunyikan rasa sakitku. Aku masuk kamarku. Aku melempar tubuhku ke kasur dan menutup wajahku dengan bantal dan menangis.
.
.
.
Aku terbangun. Gelap gulita. Tapi aku tak peduli. Aku menekan ponselku asal untuk melihat jam. Hampir pukul enam sore. Aku bangkit dari kasur. Perlahan, aku keluar kamar. Aku mengetuk kamar Mama. Pasti seharian ia belum makan. Tidak ada jawaban. Aku membuka pintu. Mamaku duduk seperti patung. Terlihat sekali ia habis menangis. Sebuah nampan berisi makanan tampak tak tersentuh di nakas.
"Ma.." Aku menyentuh pundak Mama, berusaha menyadarkannya.
Ia tak bergeming.
"Ma, makan yah.. Aku suapin?" suaraku tercekat. Aku tak pernah melihat Mama ku yang biasanya cerewet menjadi seperti ini. Aku sangat egois. Aku malah pergi ke Bali, meninggalkan keluargaku disaat kesusahan seperti ini.
Ia menepis tanganku pelan. Hatiku teriris. Aku buru-buru membalik badan dan berjalan keluar kamar Mama. Aku merasa.. tak lagi memiliki alasan untuk hidup. Lihat betapa kacaunya hidupku. Tadinya aku punya Adrian. Sekarang, aku kehilangan Papaku. Apa aku juga harus kehilangan Mama?
__ADS_1
Aku terus tenggelam dalam pikiranku. Aku tak sadar aku telah keluar dari rumah dan berada di jalan raya. Aku terus berjalan di tengah hujan. Aku tak memdengar seseorang telah memanggilku sedari tadi. Aku hanya ingin pergi. Aku ingin menangis dan berteriak tanpa seorang pun bisa mendengarnya. Aku senang hujan menyamarkan jatuh air mataku. Aku diliputi perasaan bersalah. Aku harus merasakan sakit yang lebih lagi.. Aku dengan sadar membelokkan tubuhku ke persimpangan jalan raya. Aku tahu lampu saat itu sedang hijau. Baru saja aku hendak melangkah, seseorang menarik lenganku. Seseorang yang tanpa sepengetahuanku sudah mengawasiku sejak aku berada di pemakaman tadi.
TIIIIIIINNNNNNN.....