
Aku dan Nathan tiba di sebuah restoran mewah di kawasan SCBD. Aku turun dari mobil sebelum ia membukakan pintu untukku. Ia menggandeng tanganku tanpa kusadari. Kami menuju bagian reception.
"Selamat malam, sudah reserve?" Seorang perempuan berpakaian serba hitam menyapa kami.
"Atas nama Nathan."
"Baik, sebelah sini, Pak, Bu.." Perempuan itu membimbing kami masuk ke dalam restoran yang dipenuhi penerangan berwarna keemasan ini. Ia mempersilahkan kami duduk di sebuah meja untuk dua orang dengan city view. Nathan menarik kursiku, hendak membantuku duduk. Penerima tamu itu pun pamit meninggalkan kami.
"Katanya ngopi?" tanyaku, tanpa menyadari bahwa ia masih berada di belakangku, setelah menarik kursiku tadi. Aku yang memang belum duduk pun terkesiap, wajah kami begitu dekat. Aku dapat menghirup aroma musk parfumnya, bahkan aroma aftershave nya.
Ia menatapku tak berkedip. Harus kuakui ia memang sangat tampan. Mata cokelat gelap, rambut gelapnya yang rapi namun agak berantakan di bagian depan hingga menyentuh keningnya.
Aku membuang muka saat ia menatap bibirku. Aku kembali mengatur nafasku. Tapi ia tak bergeming, ia masih di posisi yang sama, menungguku kembali menatap wajahnya.
"Disini juga ada kopi, kalau kamu mau." ujarnya setengah bercanda.
Aku berdeham canggung, lalu duduk. Barulah saat itu ia meninggalkanku dan duduk di kursinya.
Ia memanggil pelayan hanya dengan kontak mata saja.
"Satu medium rare rib eye dan apapun wine terbaik yang kalian punya." ucapnya. Oke, satu hal yang aku tahu tentang Nathan adalah bahwa ia sangat menyukai daging sapi.
Nathan menoleh ke arahku.
"Salmon steak. Itu saja, terima kasih." ujarku pada pelayan. Pelayan pun mencatat dan pamit pergi.
"Oke.. Jadi.. Apa masalah perusahaan kamu?" tanyaku.
"Masalahnya.. Karena kamu resign." ujarnya tanpa ekspresi.
Aku tak bisa menahan tawa.
"I'm serious. Laporan keuangan kacau, La." Ia menyugar rambutnya yang jatuh ke kening, wajahnya berubah serius.
"Tapi kan.. kamu tinggal hire auditor."
"Kalau kamu aja gimana?"
Aku hampir tersedak mendengarnya.
"Tenang aja, La. Kamu bisa kerjain kapanpun sebebas kamu. Sabtu boleh. Saat kamu free aja. Anggap aja pemasukan kamu double, kan."
Aku sedang memikirkan hal tersebut saat pelayan membawa pesanan kami.
"Aku boleh pikir-pikir dulu?" tanyaku.
__ADS_1
"Hmm.. Oke. Boleh." Nathan menyesap wine sambil tersenyum ke arahku.
Kami mulai makan saat ia bertanya, "By the way.. Om Richard.. Dia baik sama kamu?" tanyanya.
Aku mengangguk. "Baik, kok.. Jadi kamu udah kenal dia lama ya?"
"Ya.. Dia teman Papaku. Meskipun.. Papaku lebih tua jauh daripada Om Richard."
Aku mengangguk-angguk mengerti.
"How's life, La?" *bagaimana kehidupanmu
Ia menatap kedua netraku. Tatapannya tajam, seolah ingin mencari jawaban dari sana. Ia tampak.. begitu memperhatikan. Entahlah.
"Baik kok.." ujarku ringan.
"Are you sure?" Ia menatapku cemas.
"Ya, Nathan. Thank you." Terima kasih untuk selalu berada di sisiku, untuk selalu menjadi tali pengamanku, yang selalu siap menolongku saat aku hampir jatuh. Tapi aku tidak berniat mengutarakannya. Aku tidak yakin bersikap mellow di hadapan Nathan adalah sesuatu hal yang baik. Aku hanya tidak ingin.. memberinya harapan palsu.
"Terus.. kamu punya pacar?" tanyanya tiba-tiba.
Aku menggeleng. "Kayanya.. aku belum siap deh.."
Ia mengangguk-angguk, mengalihkan pandangannya dariku. Mungkin aku salah, tapi aku seperti menangkap perasaan kecewa dari bahasa tubuhnya. Setelah itu kami melanjutkan makan malam.
.
.
.
Aku memakirkan mobilku di parkiran. Kembali lagi ke perusahaan ini. Tempat yang menyimpan berjuta kenangan, baik itu senang maupun sedih. Aku menatap lift tempat aku pernah mengalami pendarahan dan akhirnya keguguran. Aku diam membatu. Rasanya.. terlalu sulit melangkahkan kaki kembali ke kantor ini. Aku hendak berbalik ketika seseorang menyentuh pundakku.
"Good morning,"
Nathan.
"Morning, Pak.."
"Ssst.. Stop calling me Pak." Perintahnya.
"Oh.. oke, maaf. Kamu kok ke kantor?"
"Iya, aku bantuin kamu. Gapapa, kan?" tanyanya.
"Hmm.. Aku pikir sama divisi keuangan?"
"Aku mau kita merahasiakan ini dari karyawanku. Aku belum tahu.. masalahnya apa dan siapa yang menyebabkan masalah ini." Wajah Nathan berubah serius.
__ADS_1
Kami pun menaiki lift menuju lantai 20. Disana, ada sebuah ruangan besar yang di sudutnya terdapat tumpukan-tumpukan folder setinggi satu meter. Aku menghela nafas, membayangkan betapa lelahnya harus mengerjakan ini dan entah sampai kapan.
Kami mulai memeriksa laporan keuangan mulai dari awal bulan. Aku bertanya pada Nathan jika ada sesuatu yang harus aku konfirmasi. Tampaknya ia merupakan CEO yang sangat kompeten. Ia tahu apa saja yang terjadi di perusahaannya.
Waktu menunjukkan pukul dua belas siang lewat tiga puluh menit.
"Lunch yuk?" Ajak Nathan tiba-tiba saat aku sedang fokus bekerja.
"Keluar?" tanyaku.
Ia mengangguk. "Kayanya hari ini cukup, deh. Kita lanjutin minggu depan?" usul Nathan. "Tenang aja.. Hanya aku yang bisa masuk ke ruangan ini. Minggu depan dan seterusnya semua file akan masih pada tempatnya." lanjutnya begitu ia melihatku termenung.
"Oh, oke. Tapi.. gapapa kok kalo sampe sore?"
"Masalahnya.. aku capek banget minggu ini. Mungkin next time boleh sampai sore." Ia bangkit berdiri setelah menutup folder yang sedang ia kerjakan. Mau tidak mau aku pun ikut bangkit.
Kami memutuskan untuk makan siang di dekat kantor, ke sebuah mall tepat di seberang gedung. Kami memutuskan untuk berjalan kaki.
Kami sedang menunggu lampu pejalan kaki berubah menjadi hijau saat ia menggandeng tanganku, menarik tubuhku agar pindah ke sisi kirinya. Kendaraan datang dari sisi kanannya. Hal itu membuatku bingung. Apa ia berpikir bahwa aku tidak bisa menyebrang jalan sendiri? Tapi entah kenapa aku juga tersentuh. Belum ada pria yang pernah melakukan itu padaku. Mungkin karena aku dan Adrian jarang berjalan kaki bersama seperti ini. Saat kami berjalan bersama pun, ia lebih sering jauh di depan sedangkan aku ketinggalan di belakang. Aku menghela nafas panjang, kembali memikirkannya. Berharap semoga ia sehat dan bahagia.
Aku dan Nathan sedang berjalan di mall menuju lantai dua tempat beberapa restoran berada ketika seseorang memanggil namaku.
"Lula!" Suara perempuan setengah baya yang penuh wibawa dan kebijaksanaan.
Aku menoleh mencari asal suara itu.
"Ibu?" sapaku.
"Apa kabar.." Suaranya lembut dan merdu di telingaku.
"Baik, Bu.." Kami saling berciuman pipi.
"Ibu apa kabar? Sama siapa kesini?" tanyaku.
Tapi Ibu tidak menjawab.. Ia fokus melihat pria di sebelahku.
BERSAMBUNG..
HAI
TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA NOVELKU
JANGAN LUPA DUKUNG
DENGAN CARA
LIKE
KOMEN
__ADS_1
VOTE
TERIMA KASIH ❤