Suamiku, Dokter Adrian

Suamiku, Dokter Adrian
Pergi


__ADS_3

Hari-hariku berjalan begitu saja. Aku berusaha untuk melupakan Adrian. Meskipun berat, aku harus tahu bahwa semua sudah berakhir. Ia bukan milikku lagi. Aku harus mengikhlaskannya.


Aku sedang berada di kantorku ketika sebuah pesan masuk ke ponselku.


Aku pergi. Jaga dirimu.


-Adrian


Aku tersadar detik itu juga, aku telah kehilangan dia. Entah kapan aku bisa bertemu dengannya lagi. Mungkin takkan pernah. Aku menganalisa perasaanku yang berkecamuk. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku memang membencinya, tapi juga begitu tidak rela akan kepergiannya.


Aku berjalan mondar-mandir di dalam ruanganku. Tiba-tiba telepon di ruanganku berdering.


"Halo?"


"Lula, tolong antarkan laporan keuangan bulan ini ke ruangan saya, ya.." kata suara di seberang telepon.


"Baik, Pak."


Aku berusaha fokus dan mengambil laporan keuangan kemudian bergegas ke ruangan Pak Richard. Aku berusaha untuk menghilangkan kecemasanku, tapi ternyata sangat sulit. Seluruh tubuhku bergetar menahan tangis.


Dari balik pintu kaca, aku bisa melihat Nathan dan Pak Richard sedang bercengkrama di ruangannya.


Tok tok tok..


Aku dipersilahkan masuk.


"Ini, Pak.." Aku meletakkan laporan keuangan di atas meja Pak Richard dengan sopan.


"Lula, kamu sepertinya sakit?" ujar Pak Richard. Nathan diam saja tapi ia tidak melepaskan pandangannya dariku.


"Tidak apa-apa, Pak.. Mungkin hanya kecapekan.." Aku memperhatikan tanganku yang bergetar, menahan tubuhku agar tidak jatuh ke lantai.


"Kamu yakin?" Nathan menatapku cemas.


Aku baru saja hendak mengangguk ketika aku merasakan kepalaku berdenyut-denyut. Aku menopang tubuhku pada dinding, kedua pria di hadapanku menatapku khawatir.


"Saya antar ke rumah sakit." ujar Nathan.


"Tapi.."


"Tidak ada tapi. Permisi, Om." Nathan membantuku berjalan keluar dari ruangan Pak Richard yang sepertinya mendukung ia untuk membawaku pergi ke rumah sakit.


Sekarang aku sudah duduk di kursi penumpang mobil sport Nathan. Sebelum ia menyalakan mobilnya, aku menyentuh lengannya untuk sesaat.


"Bisa antar aku ke bandara saja?"


"Hmm.. Oke. Tapi.. Untuk apa? Kamu mau pergi kemana?" tanya Nathan.


Aku menggeleng. "Tidak kemana-mana. Aku hanya.. ingin menemui seseorang." ujarku pelan.


"Kamu sendiri gimana? Udah baikan?" tanyanya perhatian.


Aku mengangguk. Nathan tidak bertanya lebih jauh, ia menjalankan mobilnya menuju bandara.


.


.


.

__ADS_1


Begitu kami sudah tiba di terminal keberangkatan internasional, aku bergegas keluar dari mobil. Keadaan di bandara benar-benar ramai hari ini. Aku tidak menemukan dia yang kucari. Refleks, aku berlari menuju tempat check in. Tapi disana, seorang petugas satpam menghalangiku dan memaksaku menunjukkan tiket.


Aku mengeluarkan ponselku, membuka sebuah aplikasi pembelian tiket online. Aku memilih tiket apa saja secara asal dan tiba-tiba seseorang menarikku.


"Please, stop." Nathan menatapku cemas.


Aku tidak menjawab, kembali fokus pada ponselku.


"Lula, stop. Kamu tahu nomor penerbangan orang itu?" tanyanya.


Aku menggeleng.


"Kenapa kamu nggak telepon aja orang yang kamu mau temui itu? Pastikan dia memang benar ada disini dan belum berangkat?" tanyanya lagi.


"Aku.. aku harus ketemu sama dia." Aku fokus kembali menekan-nekan ponselku.


"Jangan beli dulu. Biar aku coba ngomong dulu sama satpam nya ya."


Ia kemudian berbicara dengan satpam itu selama beberapa detik, kemudian ia mengangguk ke arahku.


"Aku disini, ya.. Hati-hati.." ujarnya sambil mengisyaratkanku masuk ke bagian check-in.


.


.


.


Aku setengah berlari. Mencari dan mencari. Tapi tidak ketemu. Entah apa juga yang akan kulakukan jika bertemu dengannya. Memohon padanya agar tetap tinggal?


Aku mengeluarkan ponselku, menghubungi orang yang seharusnya daritadi kuhubungi. Nomornya sudah diluar jangkauan. Sudah pergikah ia?


.


.


.


Aku kembali ke tempat Nathan menunggu sambil mengusap air mataku yang jatuh.


"Tidak ketemu?" tanyanya.


Aku mengangguk.


Ia membimbingku menuju parkiran. Aku tahu pasti banyak pertanyaan di benaknya. Ia tetap diam hingga kami sudah berada di dalam mobil. Tiba-tiba dari radio berputarlah lagu yang sangat terkenal pada saat aku masih sekolah menengah dulu.


Kutatap dua bola matamu


Tersirat apa yang 'kan terjadi


Kau ingin pergi dariku


Meninggalkan semua kenangan


Menutup lembaran cerita


Oh, sayangku, aku tak mau


Ku tahu semua akan berakhir

__ADS_1


Tapi ku tak rela lepaskanmu


Kau tanya mengapa aku


Tak ingin pergi darimu


Dan mulutku diam membisu


Salahkah bila diriku


Terlalu mencintaimu?


Jangan tanyakan mengapa


Kar'na aku tak tahu


Aku pun tak ingin bila


Kau pergi tinggalkan aku


Masihkah ada hasratmu


'Tuk mencintaiku lagi?


Ratu - Salahkah Aku Terlalu Mencintaimu


Jelas, aku terlalu mencintai Adrian. Sedangkan ia tidak. Dengan mudahnya ia melupakanku, meninggalkanku.


Tanpa aba-aba air mataku jatuh begitu saja. Aku menutup wajahku dengan tangan, merasa malu pada pria di sebelahku.


"Kenapa? Kenapa ia meninggalkanku?" Isakku.


Nathan membawaku ke pelukannya yang hangat. Ia mengelus punggungku.


"Siapa?" tanyanya lembut. Tapi aku terlalu terisak untuk menjawab.


"Maaf.." ujarku ketika aku sadar mungkin ia merasa terganggu dengan tangisanku dan kedekatan fisik kami.


"Untuk yang ke seribu kalinya, kamu nggak perlu minta maaf."


"Aku bukan anak remaja lagi, tapi malah menangis seperti ini karena hal sepele."


"Cinta bukanlah hal yang sepele." Kata-katanya menegurku. Cinta. Aku bahkan tidak berani mengakui cintaku pada Adrian.


Hening


"Adrian, kan?" tanya Nathan.


Aku bingung atas pertanyaannya. Maksudnya, apakah aku baru saja mencari Adrian di bandara atau.. cintakah aku pada laki-laki itu?


Nathan mengernyitkan alis. "Yang tadi ingin kamu temui?" jelasnya.


Aku mengangguk. "Ia pergi ke Afrika untuk mendirikan LSM disana."


Nathan mengangguk-angguk. "Kapan ia pulang?"


Aku menaikkan bahu. "Mungkin.. Paling cepat.. dua tahun."


Hening

__ADS_1


Lirik lagu menyedihkan ini kembali terdengar dengan jelas, membuatku kembali sedih. Nathan mengusap kedua pipiku. Ia begitu baik padaku, untuk sesaat rasa sakitku terasa sedikit berkurang dengan kehadirannya.


__ADS_2