Suamiku, Dokter Adrian

Suamiku, Dokter Adrian
Inikah rasanya menjadi Adrian?


__ADS_3

Aku membuang muka, tidak berani menatap ke arahnya. Takut akan penolakannya. Sedetik, dua detik.. tidak ada reaksi apapun darinya. Ketika aku menoleh, kepalanya seolah terjuntai ke arah pintu mobil.


"Lula?" ujarku sangat pelan.


Tidak ada jawaban.


Ia tidur rupanya.


Padahal aku belum mengutarakan perasaanku. Aku juga belum bertanya mengenai rumahnya yang disita. Aku menghela nafas kasar dan merasa lega ketika sadar bahwa aku masih bisa bicara padanya saat ia bangun nanti.


Aku segera menekan tombol di ponselku untuk melakukan reservasi di sebuah hotel bintang lima di kota ini. Aku hanya ingin memberikan yang terbaik untuknya.


.


.


.


Aku masih menggendongnya di pelukanku saat salah satu pengawalku membukakan pintu kamar hotel. Aku bisa saja menyuruh mereka menggendong Lula, tapi aku tak rela. Begitu aku masuk ke kamar hotel, aku mengisyaratkannya untuk pergi dan menutup pintu. Terdapat sebuah ruang tamu yang luas dan sebuah kamar presidential suite. Aku memutuskan untuk membawanya ke kamar.


Aku meletakkan tubuhnya dengan hati-hati di kasur. Aku melihat sekeliling. Kemudian aku menatap Lula yang sedang terlelap, ia jauh lebih cantik dari apa yang tersimpan di memoriku. Aku menyelimuti Lula dan segera keluar kamar, tidak ingin menganggunya. Jujur, aku sudah sangat lelah. Tanpa pikir panjang aku memutuskan untuk membaringkan diri sejenak di sofa yang berada di ruang tamu.


.


.


.


Aku terbangun beberapa jam kemudian karena sebuah suara. Tapi aku tidak tahu suara apa itu. Aku mengerjapkan mata. Sinar matahari pagi menyilaukan kedua mataku. Kemudian aku teringat bahwa aku sedang berada di sebuah kamar hotel. Aku sedikit meregangkan tubuhku yang pegal karena tidur di sofa, saat aku melihatnya. Lula yang sedang berdiri di depan mini fridge hanya memakai lilitan handuk sebagai penutup tubuhnya. Darahku berdesir. Aku dapat melihat lekukan tubuhnya dengan jelas dari sini. Tulang selangka nya yang tak tertutup sehelai benang pun. Kedua pahanya yang mulus dan tak bercela.


"Kamu?" Lula menatapku terkejut. Ia berlari menuju kamarnya lagi dan kemudian menutup pintu dengan keras.


"Maaf!" Ujarku setengah berteriak. Sekarang aku bingung. Apakah aku harus pergi? Atau.. tetap tinggal disini untuk menjelaskan semuanya?

__ADS_1


"Bisakah kamu menungguku berpakaian?" kalimat Lula barusan bagaikan nyanyian surgawi di telingaku. Ia sama sekali tidak marah padaku. Ia pasti tahu bahwa aku tidak sengaja melihatnya.


Tidak lama kemudian, Lula keluar dari kamar. Ia sudah memakai pakaian formal berupa kemeja sutra berwarna biru muda dan rok ketat pendek berwarna senada. Kamu benar-benar tidak membantuku dalam mengendalikan nafsuku dengan berpakaian begini!


Ia duduk di sebelahku dengan canggung. Entah kenapa. Padahal kami sering bertemu. Seminggu sekali minimal.


Aku bisa menghirup aroma manis parfumnya dari sini. Wanginya seperti karamel yang seolah menarikku mendekat.


"Kamu.. mau mandi?" kata-katanya benar-benar mengejutkanku.


"Hmm.. Boleh. Tapi, nanti saja. Maaf soal tadi." ujarku.


"Tidak apa-apa. Aku baru ingat semalam kamu yang bawa aku kesini, kan? Aku cuma nggak nyangka aja kamu masih disini. Aku yang harusnya minta maaf karena.."


Aku terkekeh melihatnya. Ia harus minta maaf setelah pemandangan terindah dalam hidupku? Lelucon macam apa itu.


Aku hanya tersenyum padanya sambil menekan tombol ponselku, mengetik pesan untuk bawahanku agar ia membawakanku satu set pakaian formal.


"Jadi.. Kamu.. Di Surabaya." gumamnya seolah ditujukan untuk dirinya sendiri.


"Sebenarnya, aku kesini bukan karena urusan bisnis atau apapun itu." tuturku pelan. Aku tidak ingin menakutinya. Aku mengistirahatkan sikuku di lengan sofa, bersandar agar dapat menikmati pemandangan indah di sebelahku.


Kedua kelopak matanya mengerjap menatapku, sama sekali tidak memiliki petunjuk mengenai apa yang akan kukatakan selanjutnya. Aku hanyut dalam kecantikan wajahnya. Mataku terpaku pada bibirnya yang ranum, warnanya seperti langit sore, merah muda dengan sedikit hint oranye. Seperti yang dipakai oleh Audrey Hepburn pada Breakfast at Tiffany's. Melihatnya seperti ini membuatku terus-terusan ingin menjaganya, menyayanginya, menyentuhnya..


"Jadi?" tanyanya setelah aku juga tak kunjung menjelaskan.


"Ehm.. Aku.. Kesini.. Karena aku mau tanya sesuatu sama kamu. Tapi maaf, kalau pertanyaan ini bersifat pribadi." tuturku.


Matanya membulat mendengar ucapanku. Tapi ia mengangguk.


"Kamu pindah rumah?" Aku bertanya sambil memperhatikan gesturnya. Ia langsung berubah muram karena pertanyaanku.


Ia mengangguk tanpa suara.

__ADS_1


"Kenapa? Kalau boleh tahu? Apa kamu.. butuh.." Aku juga tidak tahu apa yang harus kutawarkan padanya. Uang kah? Tempat tinggal kah? Aku tahu kecil kemungkinannya ia menerima bantuanku. Lagipula, aku tak ingin ia tersinggung.


Ia menggeleng. "Terima kasih. Sekarang.. Aku dan Mama tinggal di sebuah rumah di pinggir kota. Hanya ngontrak, sih.. Tapi mungkin, itu yang terbaik. Kami juga belum terpikir untuk membeli rumah lagi." Ia tersenyum di akhir kalimat.


Sekali lagi, aku kagum pada wanita ini. Mungkin, wanita lain akan melemparkan tubuh mereka padaku untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Tapi, tidak dengan Lula. Sekalipun ia tidak pernah meminta bantuan pada siapapun, termasuk aku.


"Kenapa kamu nggak cerita?" tanyaku lembut.


"Buat apa?"


"Bukannya aku udah bilang? Kalau kamu butuh bantuan apapun itu.. bilang ke aku."


Ia hanya tersenyum. "Jadi.. Kamu ke Surabaya cuma mau tanya itu?"


Aku menggaruk pelipisku yang tak gatal. "By the way, kapan kamu pulang ke Jakarta?" tanyaku mengalihkan pembicaraan.


"Hari ini. Aku hanya akan ke PT. Azura lagi untuk menyelesaikan penandatanganan kerja sama. Setelah itu, aku pulang."


Bel kamar hotel kami berbunyi.


"Biar aku saja.." ujarku lalu berjalan ke arah pintu. Ternyata salah satu bawahanku, ia memberikan satu stel pakaian formal baru untukku. Setelah ia pamit, aku kembali pada Lula.


"Mau mandi? Aku siapkan handuknya, ya.." Ia bangkit berdiri menuju kamar. Aku mengikutinya sambil tak berhenti tersenyum. Inikah rasanya menjadi Adrian? Menjadi suaminya? Walaupun ini hanya angan-anganku tapi rasanya begitu indah.


.


.


.


Aku mandi dengan terburu-buru. Aku tidak ingin Lula pergi ke PT. Azura sendirian. Aku ingin menemaninya. Aku keluar kamar mandi, hanya memakai handuk. Aku menatap satu-satunya ranjang di kamar hotel ini dan membayangkan semalam Lula berbaring disana. Ia begitu dekat, namun begitu jauh.


Aku berpakaian secepat kilat, lalu keluar kamar. Ia sedang menata piring-piring berisi makanan di meja makan dan menatapku.

__ADS_1


"Tadi aku order sarapan di kamar aja. Gapapa kan?" ujarnya sambil tersenyum. Entah apa yang akan kulakukan jika aku terus melihat senyum itu. Aku rasa aku tidak bisa menahan diri. Aku membuyarkan lamunanku sendiri dan mengangguk ke arahnya, kemudian menyusulnya ke meja makan.


__ADS_2