
Lula menggeleng. "Ga ada masalah apa-apa, Bu." ujar Lula sopan.
Ibu menyentuh pipi Lula. "Pasti berat ya, Nak.." ujarnya keibuan.
Setetes air mata lolos dari mata Lula. Dirinya tak percaya. Ibu mertuanya lebih memahami dirinya dibandingkan Mama yang melahirkannya.
"Lula, biar bagaimanapun kamu sudah Ibu anggap seperti putri Ibu sendiri. Ibu bisa membayangkan bagaimana beratnya hidup dengan seorang Adrian Wijaya. Kamu ga sendiri, Nak. Ibu dan Bapak selalu ada buat kamu. Kalau kami di New York pun, kamu tinggal telepon." ujar Ibu sambil menyesap tehnya.
Lula mengangguk-angguk pelan.
"Jadi, kamu mau cerita apa sama Ibu?" tanya Ibu lagi.
Lula menggeleng. "Ga, Bu. Terima kasih atas perhatian Ibu. Ibu baiiik banget sama aku. Tapi, aku rasa masalah aku sama Adrian adalah masalah kami sendiri. Aku yakin kami bisa menyelesaikannya, Bu." ujar Lula.
Ibu mengangguk-angguk. "Keputusan yang tepat sekali. Ibu juga akan begitu kalau jadi kamu." Lula tersenyum mendengarnya.
"Oh, ya. Ini.. Ada oleh-oleh buat kamu." Ibu mengambil beberapa paper bag yang tadi dibawa oleh bodyguardnya.
"Lain kali ga usah repot-repot, Bu. Tapi, terima kasih untuk oleh-olehnya.."
Ibu meletakkan beberapa paper bag itu di hadapan Lula. Merk ternama. Ada Louis Vuitton, Hermès, dan Chanel. Lula sendiri bisa membelinya, tapi Ibu.. Ia merupakan kolektor sejati. Di negara manapun, ia selalu menjadi pelanggan VVIP brand-brand tersebut.
"Maaf Lula ga sempet bawa apa-apa.." ujar Lula.
"Hush.. Ga usah seperti itu. Ibu ini sudah tua. Mungkin nanti kamar Ibu yang di lantai tiga itu yang isinya tas semua, akan Ibu wariskan ke kamu. Ibu kan ga punya anak perempuan.." ujarnya setengah bercanda. Mereka tertawa.
"Bu, apa Ibu ingin istirahat dulu? Aku bisa pulang dulu, kok Bu. Mungkin nanti malam bisa kesini lagi sama Adrian."
"Oh, oke. Kamu mau istirahat disini juga boleh.." ujar Ibu.
Lula mengingat kejadian semalam saat Adrian menjemputnya di Hyatt dan sebegitu marahnya ia pada Lula.
"Aku pulang aja, Bu. Takut Adrian cari aku.."
"Istri yang berbakti sekali kamu.. Ya udah, tapi ada syaratnya. Supir Mama yang antar, ya?"
"Tapi, Bu.."
"Ga ada tapi. Yuk Ibu antar ke mobil.." ujarnya sambil menarik Lula lembut.
"Lula pamit.. Istirahat ya, Bu.." ujar Lula sambil melambaikan tangan.
Sepanjang jalan pulang, Lula merenung. Ia merasa terberkahi memiliki ibu mertua yang sangat baik padanya. Mungkinkah Adrian merasakan hal yang sama? Karena Mama Luna selalu baik padanya (baca: berada di pihaknya).
Begitu tiba di rumah, Lula melihat mobil Adrian masih ada. Lula menatap jam tangannya. Pukul sebelas. Lula memutuskan untuk memasak untuk Adrian. Hari ini ia akan membuat masakan kesukaan Adrian, shrimp scampi linguine.
Empat puluh menit kemudian, pasta yang Lula masak sudah jadi. Lula menatanya di piring. Ketika Lula hendak berbalik, ia dikejutkan oleh kehadiran Adrian. Rambutnya masih acak-acakan. Kancing atas piyamanya terbuka. Ia baru tidur kurang dari enam jam. Lula ragu untuk menyapanya. Suasana hati Adrian tidak mudah terbaca. Lula memutuskan untuk kembali ke kamar tamu. Ia putuskan bahwa ia akan tidur disini beberapa hari.
Hufff.. Lula menghela nafas. Lega mengetahui bahwa Adrian tidak mengajaknya berbicara. Lula takut itu akan kembali menjadi sebuah pertengkaran. Jujur, Lula masih sangat kesal pada Adrian karena telah dengan mudahnya menyiratkan kata cerai.
__ADS_1
Ponsel Lula berdering.
Nathan.
Lula mengangkatnya.
"Lula?" ujarnya. Ia terdengar terengah-engah.
"Ya? Ada apa?" tanya Lula.
"Kamu gapapa kan?" tanya Nathan lagi.
"Maksud kamu?" tanya Lula.
"Suami kamu.. Emm.. Dia ga pukul kamu, kan?" Ia makin terdengar terengah-engah, nafasnya memburu.
Lula tertawa kecil. "Engga. Adrian.. Dia bukan orang seperti itu."
Nathan menghela nafas lega. "Syukurlah.."
Hening.
"Oke, kalau ga ada yang mau dibicarain lagi.."
BUKKK..
Terdengar suara benda berat jatuh.
"Aw! Iya, Lula. Maaf, aku baru aja jatuh dari treadmill." Ternyata ia terengah-engah karena sedang berolahraga rupanya.
"Ya ampun.. It's so dangerous. Kamu gapapa?"
"Iya, gapapa. Oke kalau gitu.. See you tomorrow?"
"See you.."
Bip. Telepon dimatikan. Tanpa Lula sadari Adrian yang tadinya hendak masuk ke kamar Lula, berhenti di pintu dan mendengar pembicaraan Lula dan Nathan. Adrian mengepalkan tangannya. Adrian diliputi emosi yang begitu dahsyat. Tanpa ia sadari, tembok di hatinya mulai terbangun kembali untuk Lula.
.
.
.
Dua minggu kemudian..
Hari-hari Lula dan Adrian berjalan seperti biasa. Mereka tidak saling berbicara. Lula tetap tidur di kamar tamu, sedangkan Adrian tidur di kamar utama. Mereka hanya sesekali berpapasan di ruang tamu atau di dapur. Lula selalu menghabiskan malamnya dengan menangis. Ia tak tahu apa yang membuat suaminya menjadi dingin seperti ini.
Seminggu dua kali Lula selalu menyempatkan waktu ke rumah Ibu. Lula tidak ingin terlihat sebagai menantu yang kurang ajar di hadapan mertuanya. Lain halnya dengan Adrian. Dalam dua minggu ini, ia hanya pernah sekali mengunjungi Ibu dan Bapak. Lula dan Adrian tidak pernah terlihat bersama.
__ADS_1
Hari ini Adrian sudah pergi ketika Lula bangun tidur. Lula melakukan aktivitasnya seperti biasa. Ketika Lula tiba di kantor..
"Surprise!" Teriak rekan-rekan kantor Lula bersamaan dengan confetti yang mereka ledakkan.
Lula menutup kedua telinganya dengan tangan. Sekarang, rambut dan pakaiannya dipenuhi glitter dan kertas-kertas kecil berwarna-warni.
"Selamat ulang tahun, Bu Lula.." ujar beberapa bawahan Lula. Salah satu dari antara mereka membawa kue yang sudah dihiasi lilin yang menyala.
Lula sampai lupa hari ini ia berulang tahun yang ke 29.
Nissa, Hesti, dan Dion juga datang dan mengucapkan selamat ulang tahun. Mereka memberikan kado untuk Lula. Begitu juga para bawahan Lula semua patungan untuk memberikan sebuah kado untuk Lula.
"Makasih, semuanya.." ujar Lula penuh haru. Ia menitikkan air mata dan cepat menghapusnya.
"Ahh, Lula.. Jangan sedih.." ujar Nissa sambil memeluknya.
"Iya, kenapa sih lu, Lul?" tanya Hesti. Ia memelankan suara, takut ada orang lain yang mendengar.
"Laki lu lagi?" tanya Dion.
Lula mengangguk. Ia kehabisan kata-kata. Apalagi yang harus ia ceritakan pada sahabat-sahabatnya? Adrian si pria sedingin es. Teman-temannya tidak tahu ia dan suaminya sudah tak bertegur sapa selama dua minggu, bahkan tidur di kamar yang berbeda. Ia bahkan tidak perlu lagi cerita bahwa Adrian pasti melupakan ulang tahunnya. Teman-temannya sudah bisa menebak.
"Oke kayanya nanti malem kita harus jalan bareng.. Sekalian celebrate Lula's birthday.." usul Dion.
"Kayanya ga bisa hari ini, deh," ujar Lula.
"Tau nih si Dion. Lula mau celebrate sama suami dong.." ujar Hesti.
Lula hanya tersenyum kecut. "Besok aja deh. Kan hari Jumat tuh besoknya libur. Gimana?" ajaknya.
"Boleh boleh," ujar Nissa.
"Yuk yuk," jawab Dion.
"Oke deh besok gue minta anter laki gue aja. Jadi malemnya gue nebeng lu ya, Di.." ujar Hesti. Hesti dan Nissa sudah menikah. Sedangkan Dion masih lajang.
"Ide bagus juga tuh.. Aku juga nebeng kamu aja ya, La malemnya.." Lula mengangguk pada Nissa. Nissa dan Hesti memang punya suami yang bisa diandalkan. Mereka sering diantar jemput suami mereka.
Setelah acara potong kue, mereka kembali ke ruangan masing-masing.
Lula terkejut melihat sebuah buket bunga di meja kerjanya. Ada sebuah kartu kecil disana.
Happy birthday, Lula
Hoping for you a fantastic year ahead
Love,
Ibu
__ADS_1
Aku memutuskan agar malam ini ke rumah Ibu. Mungkin bersama Mama dan Papa.