
NATHAN'S POV
Aku sudah merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Bagaimana bisa perempuan baik-baik seperti Lula pergi ke bar seorang diri? Apa ia tidak memiliki seorang pun untuk menjadi tempatnya berkeluh kesah?
Sudah dua hari Lula tinggal disini. Aku sengaja mengacuhkannya. Aku harus membuatnya nyaman tinggal di rumah ini, dengan tidak terlalu menekannya. Kami tidak saling berbicara, atau bertemu. Sepulang kerja, aku hanya berada di ruang tamu, atau kamarku. Sedangkan Lula, hampir tidak pernah keluar kamar tamu yang ia tempati.
Aku sedang menatap langit di balkonku. Sudah hampir pukul sebelas malam. Aku masih mengenakan pakaian kantorku hari ini. Kemudian, aku melihatnya. Lula. Ia sedang memakai pakaian tidurnya dan berjalan menuju kolam renang. Kolam renangku memiliki kedalaman hingga tiga meter di salah satu sisinya. Itu lebih dari cukup untuk.. Apa mungkin..
Aku berlari sangat cepat keluar dari kamarku, menuruni tangga, melewati ruang tamu.. Kakiku terantuk meja, tapi aku tetap berlari. Aku masih belum sampai juga. Sial.. Siapa arsitek bodoh yang mau saja kusuruh menciptakan rumah sebesar istana begini!
Aku terus berlari hingga akhirnya aku dapat melihatnya. Kami hanya terpisahkan sebuah dinding kaca, dan, well, jarak sejauh dua puluh meter. Aku berlari menuju pintu otomatis di sisi kolam renang. Kemudian, aku menariknya.
"Kamu mau apa?" tanyaku. Terengah-engah.
Ia menatapku bingung. Pakaian tidur sutra yang ia kenakan terkena hembusan angin sehingga menabrak pakaianku. Hal itu saja sudah cukup membuat darahku berdesir.
"Aku.." ujarnya pelan. Ia tampak lebih kurus dari yang kuingat. Sial, apa pelayan-pelayan itu tidak memberinya makan?
"Tolong, Lula.. Jangan begini.. Apapun masalah kamu, saya bisa kok jadi pendengar yang baik. Tapi tolong, jangan sampai berpikir untuk mengakhiri hidup kamu.."
Aku menatap wajahnya yang tirus, rambutnya yang panjang dan indah, bibirnya yang pucat namun tampak lembut itu. Aku tidak habis pikir bagaimana ia ingin menghilangkan nyawa mahluk Tuhan paling indah ini.
Tiba-tiba.. Lula tersenyum. Lalu senyumannya itu berubah menjadi tawa. Bagaikan nyanyian di telingaku. Tapi tetap saja, itu tidak menghilangkan rasa penasaranku. Kenapa ia tertawa?
"Kamu.. lucu.." ujarnya. "Saya tidak mau bunuh diri kok.." Tiba-tiba wajahnya berubah muram. Ia menitikkan air mata, namun dengan cepat menghapusnya. Oke. Ia berubah dari tertawa menjadi menangis dalam hitungan detik dan itu mengkhawatirkanku. Apa ia baik-baik saja?
Aku menggenggam tangannya. Dingin. Hatiku teriris melihatnya hancur begini. Aku menariknya untuk duduk di sofa yang terletak di teras sebelah kolam renang.
Aku menarik kursi agar bisa duduk di hadapannya. Jarak kami kurang dari tiga puluh centi. Aku tidak berkata apa-apa. Aku tidak tahu harus berkata apa. Aku hanya menatapnya. Aku berharap aku dapat mengambil semua kesedihan yang ada pada dirinya. Aku berharap aku dapat memperbaiki hatinya.
"Kenapa?" tanyanya.
Aku tidak menjawab. Tidak ada kata-kata yang dapat menjelaskan apa yang berkecamuk di dalam pikiranku.
"Saya baik-baik saja, kok.. Sungguh.. Maaf, saya selalu merepotkan. Besok saya akan per.."
Aku menciumnya. Bibirnya. Ya, sebrengse* itulah aku. Bukannya aku menggunakan kesempatan emas ini, bukan. Aku sanggup menahan diri untuk tidak menyentuh dirinya sedikitpun bahkan hingga sepuluh tahun lagi. Aku menciumnya karena aku berharap sedikit saja kesedihannya akan hilang. Aku berharap sedikit saja kesedihannya berganti dengan kebahagiaan. Aku berharap sebagian dari kesedihannya bisa menjadi milikku dan ia bisa mengambil semua kebahagiaanku.
__ADS_1
Ia mendorongku.
PLAAAKKK..
Oke. Sudahkah ku bilang bahwa aku manusia terbodoh di dunia?
Ia menangis. Wajahnya merah, banjir, tapi dengan suara yang hampir tidak terdengar.
Semua terjadi begitu cepat. Ia bangkit berdiri. Aku tahu. Ia akan pergi dari rumahku. Aku tahu itu. Aku tidak ingin itu terjadi. Tidak dengan keadaannya seperti ini.
"Lula, maaf. Saya minta maaf. Dengar saya dulu.."
Ia berlari menjauhiku. Aku mengejarnya.
"Lula!"
Ia tampak tidak tahu arah. Kadang aku saja masih sering tersesat di rumah ini.
"Lula.."
"Please, let me go.." ujarnya berderai air mata.
Ia menggeleng.
"Kenapa?"
Ia mendengus. "Tidak, jangan kesana. Saya.. bisa sendiri. Tunjukkan saja pintu keluarnya."
"Tidak, La. Tidak saat keadaan kamu seperti ini."
Kemudian ia terduduk di lantai.
"Just kill me, then.." (bunu* saja saya)
Aku tersentak.
Ia memeluk kedua lututnya dan menangis sepenuh hati. Ia tidak lagi menahan volume tangisannya.
__ADS_1
"Why does it hurt so bad? Why.. Why.."
Ia menghentakan kedua kakinya di lantai berkali-kali dengan keras. Ia tampak begitu terguncang. Ia menggaruk kedua tangannya sangat keras sehingga tangannya menjadi begitu merah, bahkan ada yang berdarah.
"Lula.." Aku menarik kedua tangannya, mencoba menghentikannya. Tapi ia mengamuk.
"Pelayan!" teriakku.
Beberapa pelayan datang dan membantuku menenangkan Lula.
"Kamu! Telepon psikiater sekarang!" ujarku pada kepala pelayan.
Singkat cerita, Lula pun tak lagi melawan dan kami membawanya menuju kamarnya.
Oh Tuhan.. derita apa yang dialami perempuan yang kucintai ini?
What?
Cinta?
.
.
.
Psikiater baru saja keluar dari kamar Lula. Ia menjelaskan bahwa Lula mungkin mengidap PTSD atau Post-traumatic Stress Disorder atau Gangguan Stres Pascatrauma. Lula baru saja diberi obat penenang. Yang jelas, Lula tidak boleh dibiarkan sendiri. Ia tidak boleh stres. Ia juga harus dikelilingi oleh orang-orang yang mendukungnya, dan kalau bisa ia sebaiknya menghabiskan waktu dengan melakukan berbagai kegiatan yang menyenangkan.
Aku berterima kasih pada dokter psikiatri itu dan setelah itu, aku masuk ke kamar Lula.
Ia duduk bersandar di head board. Matanya menangkap kehadiranku. Ia tampak jauh lebih tenang sekarang. Sepertinya obat dari dokter itu bekerja.
"Maaf.." ujarku sembari berdiri di sebelahnya. Aku masih menjaga jarak, takut kalau-kalau ia masih marah atas perbuatanku.
"Kamu berhak marah.. Tapi.. Kamu harus tahu bahwa saya melakukan itu karena.. Saya sedih melihat kamu sedih seperti itu.."
"Apa kamu sadar mungkin semua hal buruk di hidup saya ini tidak akan terjadi kalau saja kamu tidak hadir di kehidupan saya?" ujarnya tegas.
__ADS_1
Saat itulah aku tersadar. Aku mengingat-ingat pertemuan-pertemuan kami. Ternyata perkataannya benar. Tidak ada hal apapun yang pernah terjadi di antara kami selama tiga tahun kami menjadi atasan dan bawahan. Hal itu berubah ketika aku menjenguknya di rumah sakit. Lalu aku dengan naifnya mengajaknya untuk makan malam. Begitu juga dengan pertemuan-pertemuan kami lainnya yang menyebabkan suaminya begitu marah. Dengan kata lain, aku lah yang menghancurkan pernikahan mereka. Tunggu.. Bukankah.. Waktu itu.. Adrian tidak sengaja mendorong Lula hingga ia keguguran? Bukankah itu setelah ia melihat kami bersama?
Jadi.. Aku juga turut andil dalam.. AAAARRRGGGHH.. Aku mengacak-acak rambutku. Aku marah pada diriku sendiri. Aku merasa tidak layak berada disini, di satu ruangan dengan Lula. Aku berjalan keluar kamar dan menutupnya. Aku merasa sangat bersalah. Ribuan kata maaf saja tidak akan cukup! Aku masuk ke kamarku dan tenggelam dalam perasaan bersalah.