
Hello..
Maaf saya memang jarang update..
Bagi yang tidak sabar silahkan baca novel yg sudah tamat saja ya..
Thank you untuk komentar positifnya, membuat saya semakin bersemangat..
Semoga kita semua diberi kesehatan, kekuatan, kemakmuran oleh Tuhan YME.. Amin..
.
.
.
LULA'S POV
Aku mengerjap-ngerjapkan mataku. Aku merasakan sakit di seluruh tubuhku. Aku menatap sekeliling. Kamar yang sangat indah. Kamar ini besar, didominasi warna putih.
Ya Tuhan.. Pasti penculik itu yang membawaku kesini..
Aku menatap tubuhku. Aku mengenakan kemeja kebesaran berwarna putih, sepertinya ini pakaian pria. Aku bergidik dan merasa jijik dengan tubuhku sendiri. Ini seperti mimpi buruk yang tidak ada habisnya.
Aku bangkit berdiri, mengendap-endap. Aku tidak ingin penculikku tahu aku disini. Aku sudah frustrasi. Aku tidak punya tenaga lagi untuk berhadapan dengan siapapun sekarang.
Aku menopang tubuhku yang lunglai dengan kedua tanganku yang kusandarkan di atas sebuah meja rias besar berwarna putih. Aku tak sengaja menatap pantulanku di cermin. Aku terkejut setengah mati. Sudut bibirku berdarah, kepalaku penuh memar. Ada garis merah sepanjang lima senti di leherku. Aku terkejut melihat luka itu dan tak sengaja menjatuhkan sebuah gelas.
PRAAANNNGGG..
Gelas itu pecah menjadi pecahan-pecahan kecil di lantai. Aku menatap pintu dengan cemas. Aku tak ingin penculikku datang kesini karena mendengar keributan yang aku ciptakan.
Entah karena refleks atau apa, aku duduk di lantai dan meraih pecahan-pecahan gelas itu. Aku tidak peduli lagi apakah pecahan-pecahan itu melukaiku atau tidak. Aku bahkan tidak merasakan sakitnya lagi.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka.
"Lula!" teriak seseorang padaku.
Aku mendongakan kepala.
Nathan?
"Apa yang kamu lakukan?!" Ia tampak marah dan menyeramkan. Aku menunduk.
Ia berjalan ke arahku, suara pecahan kaca terinjak terdengar bagai nyanyian di telingaku. Kemudian ia berjongkok di hadapanku. Dua tangannya meraih kedua tanganku.
"Lepas!" perintahnya. Ucapannya yang membingungkan itu membuatku menatap kedua tanganku. Saat itulah aku tersadar. Kedua tanganku sedang menggenggam pecahan-pecahan kaca. Darah segar menetes dari genggaman tanganku. Kini tangan Nathan juga terkena darahku.
__ADS_1
Aku melepas genggamanku sehingga pecahan gelas itu berhamburan keluar dari tanganku. Saat itulah aku merasa pedih.
Ia membimbingku bangkit dan duduk di sudut kasur.
"Pelayan!" Teriak Nathan.
Dua orang pelayan berseragam datang masuk ke dalam kamar ini yang memang pintunya dalam keadaan terbuka.
"Cepat bereskan ini! Kamu, tolong ambilkan handuk dan P3K!"
Kedua pelayan itu mengerjakan apa yang Nathan suruh.
Tunggu.. Bukankah ini.. Rumah pria yang menculikku? Kenapa pelayannya menuruti perintah Nathan?
"Duduk disini.." suara Nathan melembut. Ia menyuruhku duduk di pinggir ranjang dan aku melakukannya.
"Maaf.." ucapku terbata-bata.
Ia mengernyitkan alisnya. "Kamu yang luka tapi kamu yang minta maaf?" tanyanya pelan.
Pelayan kedua kembali dan menyerahkan kotak P3K pada Nathan. Setelah itu, ia undur diri.
"Kok kamu.. bisa ada disini?" tanyaku.
"Terus? Mau dimana lagi?" Ia balik bertanya. Nathan membuka kotak P3K itu dan mulai membersihkan lukaku.
"Saya bisa sendiri.." ujarku sambil berusaha menarik tanganku. Ia menatapku tajam, seolah marah. Sebelum ia membuka mulutnya, aku sudah mengembalikan tanganku ke posisi semula agar ia bisa melanjutkan untuk membersihkan lukaku.
Aku kebingungan. "Sebelum itu.. Apa ini.. rumahmu?" tanyaku.
"Memang rumah siapa lagi?" tanyanya.
"Lalu.. Apa yang sudah.." Aku melirik pakaian pria yang kupakai.
"Saya punya banyak pelayan, oke? Mereka yang menggantikan pakaianmu. Tidak ada pakaian wanita di rumah ini. Jadi hanya itu yang bisa kamu pakai." jelasnya.
"Lalu.. Bagaimana dengan.."
"Apa? Saya penasaran sama kamu.. Kenapa semalam kamu bisa bersama pria itu?" Tatapan Nathan berubah tajam.
"Pria itu.." ulangku. Ternyata yang semalam benar-benar terjadi. Apa pria itu telah...?
"Ya! Siapa dia? Kenapa dia.. Akhh.. Kamu ga bakal tahu apa yang saya lalui semalam."
"Kenapa?" tanyaku sambil memperhatikan rahangnya yang mengeras.
"Dia.. Sepertinya psikopat. Sekarang kamu harus cerita sama saya kenapa semalam kamu bisa berada di jalan itu sama laki-laki seperti itu!"
__ADS_1
Aku pun kemudian menceritakan semuanya.
.
.
.
Nathan hanya bisa melongo. Kadang wajahnya tampak marah, bukan padaku, sepertinya.
"Jadi.. Kalian bertemu di bar?" tanyanya. Aku mengangguk.
"Jadi.. pria itu bukan pacar kamu seperti yang ia bilang pada saya?!" tanyanya emosi. Aku menggeleng.
"Sialan! Padahal sedikit lagi saya sudah akan.. Bisa-bisanya ia membohongi saya hanya untuk mendapat ampunan! Saya menahan diri untuk tidak.. Ah sudahlah! Lupakan! Yang jelas kamu sudah disini sekarang.."
"Kamu.. percaya saat ia bilang ia pacar saya? Kamu tidak tahu bahwa saya sudah.." Aku tak kuasa melanjutkan kalimatku. Sudah menikah? Hampir bercerai lebih tepatnya. Nathan juga sudah mengetahui hal itu.
"Well, aku benar-benar tidak tahu apa-apa tentang kamu, Lula.." gumamnya pelan hingga aku nyaris tak bisa mendengar.
Pintu diketuk. Seorang pria bertubuh kekar dan berpakaian rapi dengan jas masuk setelah Nathan mempersilahkan. Pria itu tampak familiar. Sepertinya dia supir sekaligus orang kepercayaan Nathan. Aku sering melihatnya di kantor.
Pria itu meletakkan banyak paper bag dan kembali pamit keluar.
"Ini semua.. pakaian untuk kamu. Mungkin kamu butuh waktu untuk memulihkan keadaan kamu, jadi.. tinggalah disini." ujar Nathan.
"Ta.. Tapi.. Saya.. tidak bisa, Pak."
"Apa? Pak?" Nathan tampak kesal.
"Oke, Nathan. Saya ngga bisa tinggal disini."
"Kenapa?" tanya Nathan tak acuh.
Aku baru saja hendak bilang bahwa aku akan pulang ke rumah orang tuaku, tapi aku tahu bahwa aku tidak diharapkan disana. Aku baru sadar bahwa aku tidak memiliki tempat tinggal.
"Aw.." Aku menyentuh keningku yang terasa pening.
"Tuh kan.. Kamu masih sakit. Jadi, tinggalah disini. Kamu boleh pergi saat kamu sudah baikan." ujar Nathan lagi.
"Tapi.."
Nathan membantuku untuk berbaring di ranjang.
"Toh kita bakal jarang ketemu. Kamu tahu sendiri saya sibuk. Kalau butuh apa-apa, panggil pelayan saja." Nathan bangkit berdiri dan meninggalkanku.
Aku terdiam. Aku tidak tahu harus melakukan apa. Di satu sisi, aku tidak punya tempat tinggal. Sehelai pakaian pun aku tidak punya. Tapi di sisi lain, aku masih memiliki cukup banyak tabungan. Aku bisa saja pergi dari sini dan kembali menyewa apartemen. Tapi.. aku merasa sungkan pada Nathan. Haruskah aku pergi? Di saat ia sudah sudi menawarkan bantuannya padaku?
__ADS_1
Seorang pelayan mengetuk pintu. Aku menyuruhnya masuk. Pelayan itu membawakan makanan dan beberapa jenis obat-obatan dan vitamin untukku. Aku hanya mengucapkan terima kasih. Aku terenyuh pada perbuatan orang-orang baik di rumah ini. Aku berjanji, aku tidak akan bertindak bodoh seperti semalam.
Tiba-tiba saja, pikiranku melayang pada kedua orang tuaku, pada Adrian, pada bayi yang tak sempat kulahirkan ke dunia ini. Aku mengharapkan yang terbaik untuk mereka, seperti yang selayaknya kuharapkan untuk diriku sendiri.