
Sinar matahari pagi menyilaukan mataku. Aku meregangkan tubuhku, rasanya pegal sekali. Eh? Apa itu.. Seperti ada orang di sebelahku. Aku membuka mata. Adrian. Aku melempar pandanganku ke sekeliling. Kami berada di kamar apartemenku. Astaga. Aku benar-benar lupa bahwa semalam kami berbaikan.
Aku menatapnya. Adrian. Ia masih terlelap. Wajahnya yang tampan tampak tenang.
"Kamu akan menjadi seorang ayah." ujarku sangat pelan.
Ia tak bergeming.
Aku memutuskan untuk bangun. Aku berusaha tak menimbulkan suara sedikit pun. Aku memakai pakaian tidurku kembali dan mengendap-endap keluar.
Di dapur, aku bersiap-siap untuk masak. Aku menyesal tidak belanja kemarin. Sekarang aku hanya bisa membuat sandwich sederhana saja untuk Adrian.
"Morning." Suara Adrian mengagetkanku. Ia memelukku dari belakang saat aku sedang memasak daging ham. Ia mencium pundakku yang terbuka. Aku meremang. Ciu*mannya berubah menjadi rakus, menjelajahi leher dan telingaku.
"Ehmm.. Aku lagi masak." ujarku serak.
Adrian membalikkan tubuhku. Kini aku menghadapnya. Ia mematikan kompor dengan cepat, lalu menggendongku.
"Akh!" pekikku.
Ia mendudukanku di kitchen island yang terbuat dari granit. Kedua pahaku yang bersentuhan langsung dengan granit terasa dingin.
"Kamu.. mau apa?" tanyaku.
Ia membuka kedua pahaku dan menunduk.
"Sayang, jangan."
Ia tersenyum begitu wajahnya tiba di alat vit*al ku yang tertutup kain segitiga.
"Aku suka kamu panggil aku seperti itu." ujarnya.
Sayang.. Sayang.. Sayang.. Aku terlalu malu untuk memanggilnya lagi.
Ia menghentakan dalamanku sehingga aku tak memakai apapun di bawah sana. Ia semakin mendekatkan wajahnya. Ia mengecup setiap bagian intiku dengan bibirnya. Aku meliuk-liuk tak tahan hingga akhirnya ia menggunakan bibirnya, dan.. "Ahh.." desahku. Ia menahan pinggangku agar aku tidak banyak bergerak, untuk menyiksaku lebih lagi. Tiba-tiba aku merasakan sesuatu memasukiku. Aku mengangkat kepalaku untuk melihat. Ia sedang memasukkan jari telunjuknya ke dalamku. Aku menyentuh tangannya, mengisyaratkannya untuk berhenti. Bukan karena aku tak menikmatinya, tapi karena ini merupakan hal baru bagiku. Aku yakin ini juga hal baru untuknya, mengingat ia dan aku sama-sama belum pernah melakukannya dengan siapapun sebelum menikah.
Ia menghentikan aksinya, dan memelukku. Ia menciumku dengan bergairah, kemudian menggendongku dengan kedua tangannya, membawaku kembali ke kamar.
"Ah, sayang!" Pekikku ketika ia hendak memasuki diriku.
Ia menatapku intens, masih berada di atasku. Kedua tangannya di sisi wajahku, menopang tubuhnya.
"Slowly." pintaku.
Ia mengangguk. Ia menggesekkan miliknya dan memasukannya dalam sekali hentakan. Ia melakukannya dengan lembut hingga kami berdua sama-sama mendapatkan kepuasan.
.
__ADS_1
.
.
Sekarang sudah jam dua belas siang. Kami sedang makan di meja makan. Aku memutuskan untuk memesan makanan tadi, karena tentu saja sandwich tidak akan cukup setelah pergulatan panjang di kamar tadi.
"Pulang, yuk?" Ujar Adrian setelah menghabiskan makanannya di piring.
Aku menaikkan sebelah alisku. Pulang? Apa kami sudah benar-benar.. berbaikan? Kalau aku mau mengambil hatinya, aku harus ikuti apa kemauannya. Mungkin nanti saat makan malam dengan orang tua kami, aku bisa bilang padanya.. tentang bayi kami.
Aku mengangguk.
"Ehm.. Nanti malam, Mama, Papa, Ayah, Ibu mau makan di rumah. Kamu bisa, kan?" tanyaku.
"Bisa kok. Aku ga ada jadwal hari ini."
"Oke." ujarku.
Ia tersenyum. Kemudian ia meraih tanganku dan mengecupnya. Aku tersipu dibuatnya. Tiba-tiba aku merasa mual. Aku berlari ke arah toilet sambil menutup mulutku. Aku menutup pintu kamar mandi dan menguncinya, lalu kutumpahkan semua isi perutku. "Hoek.. Hoek.."
Tok tok.. Kudengar ketukan di pintu kamar mandi.
"Lula.. Kamu kenapa?" tanya Adrian.
Aku bangkit berdiri, kemudian membasuh wajahku.
Adrian menatapku khawatir. Kedua tangannya memeluk sikuku.
"Kamu sakit?" tanyanya.
Aku menghindari tatapannya. Aku tidak yakin bisa menutupinya jika menatap matanya yang tajam itu.
"Kamu pasti belum ke dokter, deh." ujarnya. Ia membimbingku kembali ke ruang makan.
"Suami kamu dokter tapi kamu kok ga manfaatin itu sih?" ujarnya. Ia membantuku duduk di kursi makan dan ia menundukkan tubuhnya agar sejajar denganku. Ia menyentuh keningku dengan punggung tangannya sekilas. Ia tampak lega karena aku tidak demam.
Aku hanya membalas ucapannya dengan senyum. Aku senang ia memutuskan untuk tidak membesar-besarkan masalah ini.
"Bentar aku cari obat, ya.. di kotak obat kamu." Ia hendak berjalan lagi ke kamar mandi.
"Ehm.. Gausah. Aku baik-baik aja, kok." Aku setengah menarik tangannya.
Adrian mengernyitkan alisnya.
"Oke. Ginger tea?" tanyanya. Aku tak menjawab tapi ia bergegas menuju dapur. Ia memanaskan air di teko.
"Habis ini kita pulang. Aku suruh Tina kesini untuk bantu beres-beres." ujarnya ketus, tiba-tiba. Ia tak menatapku. Ia mematung menatap tekonya.
__ADS_1
Kenapa lagi nih orang?
.
.
.
Kami sudah tiba di rumah sore itu. Beruntung aku hanya menyewa apartemen itu selama sebulan. Beruntung pula aku tidak membawa banyak barang ke apartemen. Aku rasa kami akan terus berbaikan setelah ini. Aku berjanji dalam hati akan memberitahunya mengenai kehamilanku nanti malam di depan orang tua kami. Tapi, apalagi ini? Sejak tiba di rumah hingga sekarang, ia malah di ruang kerjanya. Oke.. Jadi.. Apakah kami cuma berbaikan di luar rumah? Sedangkan di rumah kami kembali seperti ini? Sibuk dengan kesibukan masing-masing? Ah, tidak. Tadi.. Adrian baik-baik saja. Apa aku melakukan kesalahan?
Tiba-tiba.. Tok tok tok..
"Ya? Masuk.." ujarku.
Ceklek.. Pintu kamarku dibuka.
Tina datang membawa nampan berisi makanan. Penuh sekali dan semuanya terlihat seperti makanan yang biasa dimakan Adrian, makanan sehat.
"Maaf, Nona. Tuan menyuruh saya untuk membawakan ini. Katanya, Nona harus menghabiskan ini." ujar Tina.
"Oh, tapi kan saya sudah.." Aku baru ingat. Aku muntah di depan Adrian tadi. Pasti ia tahu belum ada apapun yang masuk ke perutku hari ini.
"Oke, taruh aja disini." ujarku pada Tina.
"Iya, saya pamit ke dapur, Non." Tina pamit dan keluar dari kamarku.
Aku baru saja selesai makan saat Adrian membuka pintu kamarku kasar. Ia melirik nampan makananku.
"Sayang," panggilku.
Bukannya menjawab, ia malah mengambil nampan itu dan bergegas membawanya keluar.
Huff.. Kenapa dia? Aku memutuskan untuk mengikutinya. Ia sedang berdiri di dapur setelah meletakkan piring-piring kotor di tempat cuci.
"Kamu kenapa?" tanyaku berusaha selembut mungkin.
Ia memelukku tiba-tiba. "Aku kesal."
"Kesal?"
Ia mengangguk, masih memelukku erat.
"Aku kesal kalau kamu sakit dan.. kamu sendirian disana. Aku ga suka." ujarnya.
Aku tersenyum dibuatnya. "Aku kan udah disini sekarang." ujarku.
Ia mengangguk, semakin mengeratkan pelukannya.
__ADS_1