
Kami berada di ruangan dokter kandungan. Nathan meyakinkanku bahwa cepat atau lambat aku harus memeriksa kandunganku.
Seorang dokter wanita berjas putih memeriksa kandunganku dengan alat USG.
"Wah, selamat ya, Pak, Bu.. Anaknya sehat dan bisa dilihat detak jantungnya di monitor."
Aku dan Nathan sama-sama melihat benda bulat kecil yang berkedip-kedip di layar monitor. Kami bahkan tidak terkejut pada pernyataan dokter itu yang menganggap kami pasangan suami istri. Aku tidak bisa fokus. Aku merasa mual. Aku tidak ingin berada disini. Aku bertanya-tanya dalam hati apakah aku harus rutin mengecek kandunganku. Sejujurnya, aku takut. Aku takut memikirkan bagaimana reaksi Mama jika aku memberitahunya tentang kehamilanku. Akankah ia membenciku? Membenci bayi ini?
"Saya sudah resepkan vitamin untuk Ibu. Oh ya, satu lagi.. sepertinya Ibu bisa menambah berat badan ibu sedikit lagi. Jangan lupa untuk selalu makan makanan yang bergizi, ya, Bu.. Sekali lagi selamat, Bu, Pak." kata-kata dokter itu tak berarti apapun di telingaku.
Aku tidak bisa fokus mengurus bayi ini jika aku belum jujur sepenuhnya pada Mama.
.
.
.
Seusai dari dokter, aku dan Nathan memutuskan untuk makan malam. Kami memutuskan untuk berjalan kaki menuju sebuah restoran Prancis di dekat rumah sakit.
Cuaca malam itu lumayan berangin.
"Kamu dengar kata dokter tadi? Kamu harus banyak makan.." ujar Nathan padaku.
"Kamu kedinginan?" tanya Nathan begitu aku tidak menjawabnya.
Aku menggeleng tapi Nathan tetap menyampirkan coat berwarna khaki miliknya ke bahuku.
"Kamu sudah bilang padanya?" tanya Nathan tiba-tiba. Wajahnya berubah sendu, padahal ketika di ruang dokter tadi, ia terlihat bahagia. Saat itu pun aku tahu bahwa ia sedang menanyakan Adrian.
Aku menggeleng.
"Tolong, jangan beritahu siapapun tentang ini." pintaku.
Ia terdiam dan menundukkan kepalanya. Ketika ia mendongakan kepalanya lagi untuk menatapku, ia tersenyum kecil. "Menikahlah denganku." ujarnya cepat.
Aku mengernyitkan kedua alis.
Nathan menggenggam kedua tanganku. "Kita bisa menikah esok hari, kalau kamu mau."
"Apa kamu pikir.. menikah adalah jawabannya?" tanyaku.
Wajahnya berubah sedih. Tidak sulit untuk membacanya. Ia seperti sebuah buku yang penuh tulisan yang mudah dimengerti. Sedangkan Adrian, ia seperti sebuah buku yang dipenuhi teka-teki. Aneh rasanya, selalu memikirkan pria yang tidak ada disampingmu.
"Aku akan bertanggung jawab atas anak yang ada di kandunganmu, Lula."
Dan membiarkanmu bertanggung jawab atas sesuatu yang tidak kamu lakukan?
"Aku hanya memikirkan masa depan anakmu." lanjutnya. "Aku pikir.. jika kamu tidak mau.."
__ADS_1
Aku meneteskan air mata. Aku benar-benar merasa kesal padanya. Siapa dia sehingga dia berhak melakukan itu? Apa katanya tadi? Memikirkan masa depan anakku? Apa ia pikir.. aku tidak bisa berpikir sendiri? Apa ia pikir.. dengan menikah dengannya.. semua masalah akan selesai begitu saja?
Nathan menarik tanganku. "Lula, ada apa?"
Ia menyadari aku yang sedang menangis.
"Bisakah.. kamu tidak.. membicarakan ini lagi? Sakit. Rasanya sangat sakit." ujarku berusaha bicara tanpa sesegukan.
Mengandung dan sendirian. Beban ini begitu berat.
Ia menarikku ke dalam pelukannya. Ia mengelus puncak kepalaku
"Aku tahu, La.. Aku tahu.." ujarnya dan untuk pertama kali dalam berbulan-bulan, aku merasa sedikit tenang.
.
.
.
Ketika tangisku reda, ia kembali bertanya apakah aku baik-baik saja, apa ada makanan yang ingin aku makan, dan sebagainya. Ia sangat.. baik padaku. Aku tidak enak padanya, karena ia belum makan. Sejujurnya, aku juga merasa lapar. Kami pun memutuskan untuk melanjutkan rencana kami untuk makan di restoran Prancis.
Sesampainya disana, seorang penyambut tamu menyapa kami.
"Apa ada tempat private disini?" tanya Nathan.
"Satu escargots du beurre dan satu rib-eye." ujar Nathan pada pelayan.
Aku membuka buku menu dan membaca cepat. "Satu creamy spinach pasta dan.. Oh ya, wine apa yang.." aku hendak bertanya pada pelayan.
Nathan menegurku. "Kamu nggak boleh." ujarnya.
Aku menepuk dahiku. Aku lupa bahwa aku sedang hamil.
"Maaf, aku lupa.. Kamu mau?" tanyaku lagi.
Ia menggeleng.
Tumben, batinku. Aku tahu pasti ia tidak minum karena aku juga tidak.
"Kamu nggak pesan makanan pembuka?" tanya Nathan.
"Aku nggak begitu lapar.." ujarku.
"Tapi kamu kan belum makan.." Nathan berusaha mendebatku.
Aku menatap pelayan di samping kami. "Sudah, itu saja. Terima kasih." ujarku. Pelayan itu pun pergi.
Di tengah-tengah acara makan kami, aku tak sengaja menjatuhkan garpu. Aku memiringkan tubuhku untuk meraih garpu yang jatuh ke kolong meja. Ketika aku mendongak, Nathan sudah berada di atas tubuhku. Satu tangannya menyentuh dahiku. Ketika aku kembali duduk tegak dan Nathan pun kembali ke kursinya, aku baru sadar bahwa tadi tangannya menjadi penghalang antara kepalaku dan meja. Ia tidak ingin aku terantuk meja. Aku tersenyum. Ia pria yang baik. Ia seperti karakter pria yang ditulis oleh seorang penulis perempuan. Segala fiktif yang ia wujudkan nyata selalu membuatku tersentuh dari hari ke hari, membuatku seolah lupa dengan kenyataan yang siap menghantamku kapan saja.
__ADS_1
.
.
.
Keesokan harinya, aku terkejut ketika aku sedang bersiap untuk berangkat ke kantor. Ada mobil Nathan yang baru ia beli. Tidak biasanya pagi-pagi ia datang ke rumah. Seorang pria berusia tiga puluhan akhir turun dari mobil.
"Selamat pagi, Bu. Saya Jonas, disuruh Pak Nathan untuk menjadi supir Ibu."
Aku mengambil ponselku di dalam tas.
"Nathan? Kamu.." Aku kesulitan menata kalimatku.
"Iya, La? Aku pikir.. Kamu pasti terbantu dengan adanya supir itu. Dia supir keluargaku, La. Sudah bekerja bertahun-tahun denganku. Atau.. kamu lebih suka kalau Joe yang menjadi supirmu?"
Joe? Asisten pribadi sekaligus supirnya? Apa ia sudah gila?
"Aku bisa menyetir sendiri!" pekikku pelan. Aku menjauh dari Pak Jonas, tidak ingin menyinggungnya.
"Dengan mobil tua itu? Lula, tolong kamu ngerti. Ini demi kebaikan kamu. Aku gak suka melihat kamu bersusah payah hanya untuk ke kantor setiap harinya. Aku tidak akan menerima kata tidak dari kamu, oke? Maaf aku gak bisa kesana, kerjaanku banyak banget."
"Tapi aku tidak bisa membayar.."
"Ssshh.. Sudah, jangan pikirkan itu. Bukannya kamu harus ke kantor sekarang? Nanti telat? Hm?" ujarnya lembut.
Ia memang pintar berkata-kata. Tapi tidak hanya itu, hatinya juga baik. Aku tersentuh akan kebaikannya. Mungkin aku akan berusaha untuk menolak pemberiannya lagi, tapi nanti saat kita bertemu secara langsung.
"Baiklah. Sampai ketemu." aku memutus telepon.
Pagi itu, Pak Jonas mengantarku dengan mobil Volvo yang baru Nathan beli beberapa bulan yang lalu. Di saat itu pula aku tersadar. Apa mungkin.. Nathan sengaja membeli mobil ini untuk.. Ah, aku rasa tidak. Aku menatap jendela, melambungkan pikiranku pada langit yang terlihat begitu cerah pagi ini.
.
.
.
.
.
.
DILARANG KOMENTAR NEGATIF DAN MEMBERIKAN IDE YANG TIDAK DIBUTUHKAN
KOMEN NEGATIF \= BLOCK!!
Tidak suka \= silahkan delete novel saya dari aplikasi anda dan buat novel anda sendiri, terima kasih 🙏🏻
__ADS_1