Suamiku, Dokter Adrian

Suamiku, Dokter Adrian
Benci


__ADS_3

Minggu ini merupakan minggu yang sibuk bagiku. Aku pergi ke rumah Adrian setiap hari, memasak untuknya. Kadang, ia juga membantuku. Kadang, ia hanya melihatku memasak. Kami sering berbicara. Ia menceritakan kecintaannya pada Benua Afrika dan apa yang ia ingin lakukan disana. Aku belum menganggap kepergiannya akan benar-benar terjadi dalam waktu dekat. Ia masih punya tesis untuk dikerjakan, dan bagaimana pekerjaannya nanti?


Hari ini, aku baru saja kembali dari kantor Nathan setelah membantunya mengaudit kaporan keuangan. Aku memutuskan untuk kembali ke rumah untuk beristirahat.


Sesampainya di rumah, aku mandi dan makan. Baru saja aku hendak kembali ke kamar, ketika ponselku berdering.


Adrian.


Aku mengangkatnya pada dering kedua.


"Bisa keluar sekarang?" tanyanya.


"Ke.. Keluar? Kamu dimana?"


"Di depan rumah kamu. Aku tunggu." ujarnya cepat lalu mematikan panggilan.


Aku mengganti pakaianku dengan sweater dan celana panjang kashmir warna hijau yang sangat tua. Setelah itu, aku terburu-buru keluar rumah. Di luar, Range Rover Adrian sudah terparkir. Aku membuka pintu samping pengemudi dan masuk.


Aku menatapnya sekilas, heran kenapa ia tiba-tiba datang menjemputku. Tapi mulutku membisu. Berjuta kenangan berkelebat di benakku. Sudah lama sekali sejak aku menaiki mobil ini. Setiap percakapan kami, baik itu yang menyenangkan maupun menyakitkan kembali hadir dalam ingatanku.


Ia mengenakan pakaian serba hitam, rupawan seperti biasa. Aku bisa menghirup aroma musk dari tubuhnya walaupun kami tidak terlalu berdekatan.


Ia mulai menjalankan mobil. Aku memasang sabuk pengaman dan memberanikan diri untuk bertanya.


"Mau kemana?"


Ia tak menjawab. Tapi satu tangannya menggenggam tanganku. Aku tak bisa berkata-kata. Aku begitu bingung. Sepanjang perjalanan, aku memilih untuk menikmati pemandangan. Jalanan tidak begitu macet Sabtu ini.


Sekitar dua puluh menit kemudian, kami tiba di pinggiran kota Jakarta. Suasana begitu rindang dan sejuk disini. Seketika, aku tahu kemana tujuan kami. Seketika itu pula, aku merasakan perasaanku berkecamuk. Aku merasa kesal, sedih, sekaligus merasa bersalah. Aku melempar pandanganku ke jendela.


Adrian menghentikan mobil. Aku tahu kami sudah tiba di pemakaman Papa. Aku memejamkan mataku dan bersandar pada jok mobil, tidak ingin bicara pada Adrian, ataupun melihatnya.

__ADS_1


Aku tahu ia sedang menatapku, dan aku sengaja tetap dalam posisi ini. Memejamkan mata, tak bergerak. Tak lama kemudian aku merasakan tangannya menggenggam tanganku lagi, untuk ke sekian kalinya hari ini.


"Kenapa kamu gak bilang?" Suaranya lembut menyayat hati. Ia terdengar begitu sedih. Aku masih tidak mampu melihatnya. Haruskah aku bilang padanya kalau Papa sudah meninggal? Di saat bahkan kita tidak berbicara? Di saat bahkan ia tidak punya semangat hidup sehingga Ibu pun tidak bilang padanya? Haruskah ia membawaku kesini? Aku benci harus berada disini dengannya. Mungkin salah satu alasannya karena aku merasa bersalah, muncul di hadapan Papa dengan membawa mantan suamiku. Tiba-tiba aku merasa kesal pada Adrian. Aku belum siap dan tidak akan pernah siap untuk datang kepada Papa bersamanya.


"Apa kamu pikir.. dengan aku selama ini datang ke rumah kamu.. Beres-beres rumah kamu.. Masak.. Itu semua membuat kamu merasa pantas untuk bawa aku kesini?" tanyaku dengan nada tinggi. Aku menatapnya tajam. Ia tampak terkejut dengan cecaranku. Aku berusaha tegar, tapi mataku sudah berkaca-kaca.


"Aku cuma mau.. mendoakan Papa.. Pamit dan minta maaf kepada Papa." Ia masih menatapku penuh harap. Kebaikan hatinya semakin membuatku kesal.


"Bisa kan, pergi sendiri? Kenapa sih.. harus bawa-bawa aku! Aku.. udah nggak ada hubungan apa-apa lagi sama kamu!" teriakku. Sebenarnya, keadaan tidak sesederhana itu. Aku ingin bercerita padanya betapa aku malah membuat Papa marah dan kecewa padaku di saat-saat terakhirnya. Aku ingin bilang bahwa terasa aneh berada di makam Papa bersama dia. Tapi, malah kata-kata menyakitkan itu yang keluar.


Penyesalanku datang detik itu juga, ketika aku melihat kesedihan yang terpancar dari tatapan matanya.


"Oke, kalau itu mau kamu. Apa kamu.. mau tunggu di mobil? Aku akan kesana sebentar?" Ujarnya takut-takut.


Aku mengangguk cepat. Apa saja, asal cepat pergi dari sini.


Ia mengambil sebuah buket bunga berwarna putih dari jok belakang, kemudian ia meninggalkanku. Aku memperhatikannya dari balik kaca mobil. Adrian berjalan perlahan menuju makam Papa. Aku bahkan bisa melihat makam Papa dengan jelas dari sini. Aku melihat Adrian berdiri dan menunduk selama beberapa saat. Hatiku tergerak. Aku turun dari mobil dengan cepat. Kemudian berjalan perlahan ke arahnya.


Jantungku serasa berhenti berdetak mendengarnya.


"Semoga Papa tenang disana. Tolong, jaga Lula dan Mama dari atas sana, ya, Pa." Adrian mundur beberapa langkah, kemudian berbalik. Ia terkejut saat melihatku.


"Mau pulang?" tanyanya lembut. Aku mengangguk dan mendahuluinya masuk mobil.


.


.


.


Aku menahan tangis sepanjang perjalanan. Ia tidak boleh melihatku menangis lagi. Sialnya untukku, perjalanan pulang lumayan macet. Aku benci padanya, sungguh benci. Bisa-bisanya ia membawaku ke makam Papa ku sendiri? Apa ia pikir.. Aku tidak bisa datang sendiri? Aku muak padanya dan segala sifat sok benar nya.

__ADS_1


Matahari sudah terbenam satu jam yang lalu saat kami tiba di depan rumahku. Aku segera turun dari mobil, tanpa berkata apa-apa, tanpa menoleh padanya. Hatiku sakit. Mengenang Papa. Mengenang masa-masa pernikahanku dengan Adrian. Mungkin, sebaiknya.. kami tidak usah bertemu lagi.


Aku memasuki gerbang rumahku dengan terburu-buru. Ketika aku hendak membuka pintu, aku berhenti. Aku benar-benar sesak sekarang. Aku tidak ingin Mama melihatku seperti ini. Aku memasukan tanganku ke dalam tas, mencari kunci mobilku. Keberuntungan berpihak padaku malam itu karena ternyata aku membawanya. Aku pun bergegas masuk ke dalam mobilku dan menyalakan mesin.


.


.


.


Aku baru berada di restoran ini selama kurang dari lima belas menit, tapi aku sudah mabuk parah. Aku sudah menghabiskan setengah botol wine sendirian. Dengan perut kosong, tubuhku menyerap setiap tetes alkohol seperti spons. Aku menyentuh pelipisku, menikmati sedikit demi sedikit kesadaranku menghilang.


Seseorang menarik lenganku. "Pulang."


Aku menoleh.


Adrian.


"Pulang sekarang juga." Suaranya dalam, seperti tidak suka dengan apa yang ia lihat. Ia semakin menarik tanganku.


"Aw.." Aku berjalan tertatih karena ditariknya.


"Tapi.. Aku belum baya.." ujarku.


"Aku sudah bayar." ujarnya singkat.


Aku tersenyum, mabuk. "Kamu.. kok bisa tahu aku disini?" Ia tak menjawab. Kami tiba di mobilnya, lagi. Ia membantuku duduk di kursi penumpang. Ia bahkan memundurkan kursiku agar aku bisa bersandar.


Ia duduk di kursi pengemudi, belum menjalankan mobil. Aku tertawa. Entah karena apa.


"Hmm.. Aku benci kamu, Adrian. Sungguh benci." Kemudian aku menitikkan air mata. "Bisakah.. kamu tidak usah muncul lagi di hadapanku?"

__ADS_1


__ADS_2