Suamiku, Dokter Adrian

Suamiku, Dokter Adrian
Apakah Ia Cinta Padaku?


__ADS_3

Keesokan paginya..


Lula membuka kedua matanya. Ia merasakan sedikit sakit di kepalanya yang masih diplester. Ia terkejut begitu ia melihat ke sebelah.


Adrian.


Adrian sudah pulang rupanya.


Ia merupakan pria paling tampan yang Lula kenal. Rambut pirangnya seolah berwarna keemasan diterpa cahaya lampu. Rambut-rambut halus di rahang dan dagunya, tak bisa membuat Lula berpaling. Lula menyentuh rahang Adrian dengan punggung tangannya. Kadang Adrian membuatnya cinta setengah mati, tapi juga kadang Adrian membuatnya kesal.


Adrian membuka matanya. Lula terkejut.


"Morning.." Adrian menarik tangan Lula, mengecup telapak tangannya.


Lula tersenyum masam dan segera membalikkan tubuhnya, bersiap turun dari kasur. Adrian menarik tangan Lula hingga Lula terduduk di kasur.


"Mau kemana?" Adrian bangkit duduk, memeluk Lula dari belakang.


"Mandi.." jawab Lula singkat. Ia masih kesal karena Adrian meninggalkannya semalam.


"Kamu marah, ya?" tanya Adrian.


"Menurut kamu?" tanya Lula. Mereka masih ada di posisi yang sama.


"Maaf, La. Aku kan ada panggilan emergency.." Adrian mengusap-usap lengan Lula dengan kedua tangannya.


"Emang kamu doang yang kerja satu rumah sakit?"


Adrian menghela nafas. Ia menyandarkan kepalanya pada pundak Lula.


"Jangan marah lagi, ya.." Bisik Adrian.


"Kamu pulang jam berapa semalem?" Lula mulai melunak.


"Hmm, jam sebelas.." jawab Adrian setelah berpikir sebentar.

__ADS_1


"Gimana pasien kamu?" tanya Lula lagi.


"Survive, kok sayang. I did it well.. Makasih udah perhatian sama aku." jawab Adrian.


Coba kamu juga perhatian sama aku. Batin Lula.


"Mau lanjutin yang semalam?" tanya Adrian sedikit malu.


"Hmm.." Lula mengangguk.


Adrian membalik tubuh Lula. Ia mengecup kening, kedua pipi, dan bibir Lula. Lula membalas kecupan itu dan membuka kancing piyama suaminya. Adrian menarik tali gaun tidur Lula yang berwarna nude itu, menyisakan pakaian dalam saja. Adrian mencium leher Lula, lalu turun ke dada. Adrian mendesah menatap dua gundukan Lula yang besar dan menggairahkan itu. Adrian melepaskan kaitan yang ada di punggung Lula. Setelah dua gundukan itu terbebas, Adrian memainkan lidahnya disana. Lula memeluk kepala Adrian mesra sambil tak henti-hentinya mendesah penuh kenikmatan.


Adrian baru saja hendak turun ke bawah perut Lula dengan mulutnya, ketika Lula menghentikannya. Lula ingat, semalam Adrian lah yang melayani dirinya. "Giliran kamu sekarang, sayang." Lula membalikkan tubuh Adrian yang tidak memakai atasan. Lidah Lula menari diatas tubuh Adrian, membuat suaminya itu menegang. Hingga akhirnya Lula sampai di perut bawah Adrian. Adrian segera melepas celananya. Lula mengulum milik Adrian dengan lembut. Adrian mendesah. Adrian memegang kepala Lula. "Ah, Lulaa.." teriaknya pelan.


"Naik sini.." Adrian menarik tangan Lula. Tampaknya ia menahan dirinya sendiri agar tidak pelepasan terlebih dulu.


Lula meraih tangan Adrian. Kini tubuh Lula berada di atas Adrian, seperti cowgirl. Lula menaikturunkan tubuhnya dengan perlahan.


Adrian memejamkan mata. "Ahh.. La.."


Lula juga terus-terusan mendesah.


"Ah, aku mau.." Lula melengkungkan tubuhnya ke depan. Ia memeluk Adrian. Mencium bibirnya. Lula mengejang, mengeluarkan cairan kenikmatannya. Milik Lula berdenyut-denyut meremas milik Adrian. Adrian pun menyusul Lula. "Ahhh..." Adrian memeluk Lula kuat, menghujamkan miliknya sangat dalam. Mereka berpelukan selama beberapa detik hingga akhirnya Lula membalikkan tubuhnya, terlentang di sebelah Adrian. Tanpa sadar mereka kembali terlelap.


.


.


.


Lula mengerjap-ngerjapkan matanya. Ia masih tanpa busana. Adrian juga polos di sebelahnya. Lula menarik selimut dan memakaikannya pada Adrian. Kemudian ia turun dari kasur, berusaha tidak membuat suara sedikitpun.


Selesai mandi, Lula bergegas menuju dapur. Ia hendak membuat sarapan untuk Adrian. Ketika melewati ruang tamu, Lula melihat jam dinding. Sudah jam sepuluh pagi. Di dapur, Lula membuka kulkas. Ia memang jarang memasak. Adrian dan dirinya lebih sering makan di luar sendiri sendiri. Di rumah mereka, ada ART yang datang setiap dua hari sekali. Hari ini bukan jadwal ART untuk datang.


Lula memutuskan untuk membuat ayam goreng mentega dan cah tauge. Ia sedang sibuk menumis ketika tangan Adrian yang kokoh memeluk pinggangnya.

__ADS_1


"Hmm kamu disini?" Adrian seperti masih setengah sadar.


Lula mengangguk. "Iya, jarang kan kita makan bareng.." mendengar kata-katanya sendiri Lula merasa sedih.


"Aku mandi dulu, ya.." Ujar Adrian sambil melepaskan pelukannya. Ia berjalan masuk lagi ke kamar.


Setelah selesai menata makanan di meja, Lula mencari Adrian di kamar mereka. Tidak ada. Lula berfirasat bahwa suaminya itu ada di ruang kerja. Lula mengetuk ruang kerja suaminya yang tidak jauh letaknya dari kamar mereka. Tidak ada jawaban.


Lula membuka pintu ruang kerja Adrian. Benar saja. Adrian sedang mengetik sesuatu di laptopnya.


"Aku lagi bikin disertasi, nih.." ujarnya tanpa melepaskan pandangan dari layar laptop.


Lula menghela nafas kesal. "Makan dulu, yuk?"


"Kamu makan duluan aja. Aku lagi tanggung.." Adrian menatap Lula sepersekiandetik, lalu kembali menatap laptopnya.


"Tapi, sayang.." Lula berusaha membujuk Adrian.


Adrian memainkan ponselnya sebentar.


"Done. Aku udah transfer uang bulanan ke rekening kamu. Maaf kemarin aku lupa."


Lula menggeleng tak percaya. "Aku ga bu.."


"Jangan ganggu aku dulu. Please. Kamu pergi sana belanja atau ngapain kek."


Lula menutup pintu ruang kerja. Ia kesal. Apakah Adrian pikir ia membutuhkan uang dari suaminya itu? Bukan uang yang Lula butuhkan. Tapi waktu! Lula tahu penghasilan Adrian berkali-kali lipat lebih besar daripada gajinya sendiri sebagai Manager. Tapi gaji Lula sendiri sudah lebih dari cukup.


Buat apa Adrian cuti kalau akhirnya ia hanya di ruang kerja membuat disertasi?


Lula sudah selesai makan. Ia mencuci piring dalam diam. Setetes air mata lolos dari pelupuk matanya. Apakah ia cinta padaku? Selalu pertanyaan itu yang berkecamuk di hatinya. Adrian, pria sedingin es itu. Lula bahkan tidak ingat kapan terakhir kali Adrian bilang ia menyayanginya selain di ranjang. Mungkin di hari pernikahan mereka? Tiga tahun lalu.


Lula memutuskan untuk pergi ke kamar. Ia membuka laptopnya. Ia menyesal cuti kerja. Ia toh juga tidak sakit-sakit amat. Sekarang ia tidak tahu harus berbuat apa. Ia sengaja tidak cerita pada Mama Papanya bahwa kemarin ia masuk rumah sakit. Ia tidak mau membuat orang tuanya khawatir.


Jam sudah menunjukkan pukul satu siang. Lula haus. Ia bangkit keluar kamar dan menuju ke dapur. Di dapur, Adrian sedang mencuci piring. Sepertinya ia baru selesai makan. Lula sengaja tidak menegurnya. Adrian juga diam seribu bahasa. Hal itu membuat Lula semakin kesal. Lula bergegas mengambil tasnya di kamar dan kunci mobilnya di ruang tamu. Adrian tidak berusaha menghentikannya.

__ADS_1


Di mobil yang masih terparkir di halaman rumah, Lula menangis. Awalnya hanya isakan, namun makin lama menjadi semakin keras. Ia menjalankan mobilnya perlahan, tidak ingin Adrian melihatnya seperti ini. Pagar terbuka dan tertutup secara otomatis seiring perginya mobil Lula.


Lula bingung akan pergi kemana. Haruskah ia ke rumah Mamanya? Ia tidak ingin membuat mamanya cemas. Meskipun begitu, ia tahu jika ia bercerita pada Mamanya, ia hanya akan membela Adrian seolah-olah bukan Lula anaknya tapi Adrian. Lula juga tak mengerti kenapa ibu kandungnya itu selalu membela Adrian. Lula memutuskan untuk pergi ke hotel.


__ADS_2