Suamiku, Dokter Adrian

Suamiku, Dokter Adrian
Bukan Siapa-Siapanya


__ADS_3

PEMBERITAHUAN


- Bukan Novel yang UP setiap hari, bisa seminggu sekali malah -


- Author bekerja & memiliki bisnis, menulis hanya hobi dan harus mencuri2 waktu -


- Menulis juga perlu MOOD yang baik dan kadang bisa mengalami writer's block atau kurang inspirasi -


- Mohon jangan komen UP nya kelamaan, terima kasih -


- Author baca kok setiap komen yang masuk, makasih buat yang udah dukung dan suka cerita saya ❤ I LOVE U ❤ SEHAT SELALU SEMUANYAA -


.


.


.


Nathan's POV


Sudah hampir setengah jam kami berada di dalam mobilku, di parkiran rumah sakit. Aku hanya bisa menggenggam tangannya.


"Lula.. Kita pulang, ya?"


Ia menggeleng. "Saya pulang sendiri aja.." Ia hendak membuka seat-beltnya.


Aku menahan tangannya. "Jangan.."


Ia menatapku dengan mata cokelatnya yang sendu. Aku tak sanggup berkata-kata dibuatnya.


"Saya anter.. Kamu mau kemana?" tanyaku pada akhirnya.


"Jalan Angsana." ujarnya singkat.


Aku mengangguk-angguk. "Tapi.. kamu harus istirahat. Apa ga bisa tunggu kamu sehat du.."


"Saya bisa sendiri." ujarnya dingin.


"Oke, oke. Aku anterin."


Selama perjalanan, Lula hanya diam. Sesekali aku melirik ke arahnya, tapi ia tidak bergeming.


Kami tiba di sebuah kantor pengacara yang sangat terkenal di Jakarta. Aku bingung. Untuk apa Lula kesini? Tapi aku memilih untuk tidak menanyakan apapun.


"Kamu mau pakai ini?" Aku mengeluarkan sebuah sunglasses dari laci mobilku. Disitu memang terdapat banyak sunglasses karena aku sering sekali memakainya ketika menyetir. Mungkin Lula membutuhkannya untuk menutupi wajahnya yang habis menangis.


Lula menyentuh matanya yang sembab, lalu menerima sunglasses pemberianku. "Terima kasih." ucapnya. Ia memakai sunglasses ku.


Kami turun dari mobil dan masuk ke lobi kantor tersebut.


"Tunggu disini." kata Lula padaku.


Aku mengangguk dan menurutinya untuk duduk di lobi tersebut.


"Selamat siang.. Ibu Lula? Silahkan, Bu.." seorang receptionist mengantarkan Lula menuju lantai dua.


.


.


.

__ADS_1


Aku sudah menunggu Lula sekitar satu jam ketika tiba-tiba ia datang mengagetkanku.


"Sudah?" tanyaku.


Ia mengangguk.


"Yuk.." Aku menggenggam tangannya, membimbingnya menuju mobil.


"Eh.. Kamu.. Belum makan, kan?" Aku berhenti dan menatapnya. Sudah hampir jam dua belas siang.


"Bisa antar aku pulang aja?" ujarnya pelan.


"Oh, oke." aku membukakan pintu mobil untuknya.


"Rumah saya di Jalan X.." ujarnya begitu aku duduk di bangku kemudi.


Aku tertegun. Itu bukan rumah Lula yang ku tahu.


"Itu.. rumah ibu saya." ujarnya menjelaskan.


"Oh, oke.." Aku mengangguk-angguk. Kenapa Lula tidak pulang ke rumah suaminya? Apalagi setelah apa yang ia alami? Lula juga tidak menghubungi suaminya..


Hening sepanjang perjalanan. Hingga kami akhirnya tiba di sebuah rumah megah di salah satu perumahan elit Jakarta.


"Kalau boleh tahu.. Kamu ngapain ke pengacara?" tanyaku memberanikan diri.


Karena ia tak kunjung menjawab, aku memutuskan untuk bersikap sopan. "Kalau kamu ga bisa jawab, gapapa. Maaf saya lancang.."


"Saya.. akan gugat cerai suami saya." ujarnya cepat.


Apa? Apa aku tidak salah dengar?


"Ehm, tunggu.." panggilku.


Ia menghentikan gerakannya. "Ya?"


Aku menatap matanya yang sendu. Aku ingin bilang padanya, saya disini. Saya mau mendengarkan keluh kesah kamu. Tapi yang keluar dari bibirku malah.. "Kenapa?"


Ia tampak bingung dengan pertanyaanku.


"Kenapa.. kamu mau menceraikannya?" tanyaku lagi.


Lula diam sesaat. Ia mengambil nafas dan berkata, "Dia.. tidak mencintai saya."


Jantungku berhenti berdetak untuk sepersekian detik. Laki-laki macam apa suaminya itu? Laki-laki seperti apa yang tidak mencintai Lula?


"Well, saya juga salah. Kami berdua sama-sama bersalah. Saya rasa.. ini jalan yang terbaik." ujarnya tiba-tiba, mengejutkanku yang sedang sibuk dengan pikiranku sendiri.


Hening..


"Lula?"


Ia menjawabku dengan tatapannya.


"Saya disini. Kalau kamu.. butuh teman curhat, atau.. tumpangan.. Apa saja. Telepon saya." ujarku.


Ia mengangguk dan tersenyum kecil.


"Oh ya, mobil kamu.. nanti akan saya suruh orang antar kesini. Jangan menolak.. It's the least I can do for you." ujarku.


Ia mengangguk. "Terima kasih. Saya benar-benar.. berhutang budi."

__ADS_1


Belum sempat ku menjawab, ia sudah bergegas turun. "Saya duluan." ujarnya sebelum menutup pintu mobilku. Ia berjalan menuju gerbang dan menghilang di baliknya.


.


.


.


Malam itu, aku tidak dapat berhenti memikirkan Lula. Perceraiannya seharusnya menjadi berita paling membahagiakan untukku. Wanita yang kucintai akan melepas ikatannya dengan pria lain. Namun sepertinya aku saja yang seorang pecundang. Aku tidak suka dengan kenyataan ini. Aku tidak suka pada kenyataan bahwa ia tidak dicintai. Aku mulai membenci pria itu. Pria yang merupakan suaminya. Apa yang sudah ia lakukan? Oke, oke. Mungkin logika berpikir ku salah. Terakhir kali mereka bertemu.. di parkiran kantorku. Tidak sampai sepuluh menit kemudian, Lula pingsan di depan lift.


Aku mengacak-acak rambutku.


Apakah mungkin?


Apakah mungkin suaminya yang menyebabkan ia ....?


Aku mengambil ponselku. Aku mencari namanya di kontak.


Lula.


Lula, please angkat!


Aku benar-benar khawatir pada Lula.


Bodoh bodoh bodoh! Kenapa tadi aku mau saja mengantar dia pulang ke rumah ibunya? Apa dia sudah makan? Apa bahkan ibunya tahu apa yang dilakukan menantunya?


Tidak ada jawaban.


Sial!


Aku melempar ponselku asal.


.


.


.


Aku tak bisa tidur. Memikirkan Lula. Sudah pukul enam pagi saat aku tersadar bahwa aku sebaiknya ke kantor. Entahlah. Pikiranku kacau. Aku tahu kemungkinan besar Lula tidak ada di kantor. Aku akan marah jika ia kerja hari ini. Ia butuh istirahat. Tapi.. aku harus bertemu dengannya. Aku harus memastikan ia baik-baik saja. Ah sudahlah. Yang jelas aku harus bersiap ke kantor sekarang.


Sepanjang perjalanan menuju kantor, pikiranku berkelana. Aku membayangkan betapa sedihnya Lula. Ia baru saja kehilangan calon bayinya, lalu ia juga akan kehilangan suaminya? Apa yang ia pikirkan? Apa sebenarnya masalah mereka berdua?


Aku memakirkan mobilku dan berjalan cepat menuju lantai tempat departemen Lula bekerja.


Aku masuk ke dalam sebuah ruangan besar yang berisi belasan pegawai yang bekerja di bawah Lula. Beberapa orang berdiri dan menyapaku dengan hormat.


"Lula ada?" tanyaku cepat.


"Ehm.. Bu Lula sedang cuti sakit, Pak." ujar seorang perempuan muda yang sedang menatapku heran. Sama seperti belasan orang lainnya.


Sial. Tentu saja ia tidak masuk.


"Baik. Terima kasih.. Lanjutkan pekerjaan kalian."


Aku pun segera lari dari sana, kembali ke parkiran. Hanya satu yang ada di pikiranku.


Lula.


Aku mencoba menghubunginya lagi, tapi masih tidak diangkat.


Aku menyalakan mesin mobilku dan segera tancap gas, menuju satu tempat yang ku yakin ada Lula disana. Aku tak peduli dengan statusku yang bukan siapa-siapanya. Aku hanya ingin melihat dengan kedua mata kepalaku bahwa ia baik-baik saja.

__ADS_1


__ADS_2