Suamiku, Dokter Adrian

Suamiku, Dokter Adrian
Pisah


__ADS_3

AUTHOR'S POV


Adrian sedang mengetik disertasi di ruang kerjanya di lantai dua saat ia mendengar suara mobil berhenti di depan rumah. Adrian menghentikan pekerjaannya dan membuka pintu jendela besar yang mengarah ke balkon. Ia melihat mereka. Lula dan Nathan. Mereka sedang di dalam mobil Lula. Ini benar-benar gila. Batin Adrian.


Adrian tidak bisa melihat apa yang mereka lakukan di dalam sana. Ia hanya melihat sekelibat bayangan mereka karena kaca mobil yang begitu gelap. Tak lama kemudian, sebuah mobil berhenti di depan rumah. Lula dan Nathan turun. Mereka berbicara sebentar dan.. berpegangan tangan. Apa aku tidak salah lihat? Batin Adrian.


Adrian turun ke lantai satu dengan emosi menggebu-gebu. Lula baru saja masuk ke kamarnya. Adrian membuka pintu kamar Lula dan masuk kesana.


Lula membalikkan tubuh menghadapnya.


"Jam berapa ini?" ujar Adrian dengan nada tinggi.


Lula melemparkan pandangannya ke jam dinding. Jam dua belas malam.


"Maaf tadi aku ngerayain ulang tahun aku sama.."


"Sama dia kan?" Adrian mendorong Lula ke tembok, menghimpitnya.


Lula yang ditanya seperti itu malah kebingungan. Dia siapa?


"Sama.. Nissa, Hesti, Dion."


"Kamu minum??" Adrian mencengkram kedua siku Lula. Ia pasti dapat mencium bau alkohol dari mulut Lula. Matanya menunjukkan kekecewaan.


"Sakit.." keluh Lula.


"Aku ga nyangka kamu bertindak sebodoh ini!" Teriak Adrian.


Lula menutupi wajahnya, ketakutan. Ia menangis.


"Terus siapa yang tadi anter kamu?? Kamu pikir aku ga tau?!" Adrian memegang lengan Lula terlalu kuat, sehingga Lula ingin melepaskan diri, namun Adrian tetap memegangnya kuat. Lula terus berusaha hingga akhirnya Adrian melepas cengkramannya, namun hal itu membuat Lula oleng ke samping hingga Lula menabrak sebuah meja, menyebabkan beberapa benda di atas meja itu jatuh.


Lula sudah berlinangan air mata.


"Aw.." teriak Lula sambil memegang pinggangnya yang sakit.


"Aku ga suka kamu ketemu sama dia!" Adrian menatap Lula tajam.


"Tapi kita ketemu ga sengaja.."

__ADS_1


"Terus, yang waktu itu di hotel? Kamu mau bilang ga sengaja juga!"


Lula terdiam.


"Dia bos aku. Sumpah demi Tuhan aku ga ngapa-ngapain sama.."


"Jangan bawa-bawa Tuhan!"


Lula merosot ke lantai. Ia memeluk kedua lututnya, menangis.


"Aku emang ga ngapa-ngapain sama dia.. Atau sama orang lain." isaknya.


"Oke. Kalau gitu coba buktiin."


"Gimana caranya?"


"Kamu resign dan gausah ketemu sama dia lagi."


Lula hendak protes, namun suaranya tak keluar. Ia hanya bisa menangis.


"Ga bisa kan?" Adrian menghembuskan nafas dan keluar kemudian membanting pintu.


Lula mengetuk pintu kamar Adrian, yang beberapa minggu lalu juga menjadi kamarnya.


Tidak ada jawaban.


Lula memberanikan diri membuka pintu.


Adrian sedang berada di balkon, membelakangi Lula. Tangannya mencengkram tiang balkon. Langit mendung. Angin yang bertiup cukup kencang malam ini meniup rambut dan pakaiannya. Cahaya bulan menunjukkan siluetnya. Rambut pirang, hidung mancung, tubuh tinggi kekar. Ia seperti patung dewa. Lula terpana.


Lula yang terpaku mulai sadar dan berjalan mendekatinya. Ia berhenti ketika berada di jarak satu meter dengan Adrian. Ia hendak meletakkan tangannya di punggung Adrian..


"Keluar.." ujar Adrian datar.


Lula menahan diri untuk tidak menuruti perintah suaminya itu.


"Aku cuma mau bilang.. Aku ga bisa resign karena.. Ini cita-citaku. Aku bekerja keras untuk bisa sampai ke posisi ini. Aku minta maaf aku minum hari ini. Aku lupa ka.."


Saat ini posisi Lula berdiri di belakang Adrian.

__ADS_1


Adrian menolehkan kepalanya ke samping, melihat Lula dari ekor matanya.


"Aku bilang keluar. Sekarang." ujarnya setengah menggeram.


Setetes air lolos dari mata Lula.


Bahkan ia tidak mau mendengarkan penjelasanku seolah-olah aku tidak penting. Betapa tidak ada harganya aku dimatanya. Apa pernah ia menganggapku istrinya? Apa ia pernah menginginkanku?


Lula hendak membuka mulut lagi, namun segera mengurungkan niatnya. Ia membalikkan tubuh cepat. Ia bergegas ke kamarnya. Ia begitu diliputi kesedihan yang bercampur dengan amarah.


Ia ingin aku keluar? Oke. Aku akan keluar. Dari rumah ini.


Di kamar, ia membuka lemarinya. Ia mengeluarkan sebuah koper besar. Ia meletakkan pakaiannya asal di sana. Ia menghapus air matanya yang mengalir deras. Ia tidak ingin Adrian melihat bahwa ia adalah seseorang yang menyedihkan.


Lula bertekad. Ia ingin pisah untuk sementara waktu. Ia ingin menenangkan diri. Ia ingin menemukan kembali harga dirinya. Bersama Adrian, ia hanya sebagai objek yang hanya didatangi bila dibutuhkan. Kata-katanya saja tak didengar. Ia lelah berjuang sendirian untuk pernikahan ini sedangkan Adrian tidak pernah mau bicara dengannya.


Lula bergegas keluar kamar sambil membawa kopernya. Ia hendak mengambil kunci mobilnya, namun ragu. Mobilnya adalah kado pernikahan dari Adrian. Ini akan kukembalikan nanti. Batin Lula sambil mengambil kunci itu. Ia berjalan cepat menuju luar rumah.


Ia membuka bagasi mobilnya dan memasukkan kopernya kesana. Ia masuk ke kursi kemudi, menyalakan mesin, dan melesat pergi. Ia tidak tahu akan kemana. Ia butuh waktu. Untuk menenangkan diri dan sekaligus untuk memberikan pelajaran bagi Adrian bahwa ia tidak layak diperlakukan seperti ini.


Lula tahu ia tidak bisa bercerita pada kedua orang tuanya. Apalagi pada mertuanya. Ia sedang tidak ingin mendengar nasehat siapapun. Ia hanya ingin sendiri, meratapi pernikahannya yang gagal. Meratapi kesendiriannya. Menikah tapi selalu merasa sendirian.


Lula menyetir sambil menangis tersedu-sedu. Ia mengusap air matanya sesekali. Ia tidak pernah berpikir bahwa pria pilihannya jugalah yang akan membuat dirinya bersedih.


Akhirnya Lula pergi menuju hotel. Hyatt lagi. Hotel kesukaannya. Mungkin jika butuh waktu sendiri yang lama, ia harus menyewa apartemen. Ia check-in, lalu masuk kamar. Ia merebahkan tubuhnya di kasur king size itu sambil memeluk dirinya sendiri. Tak lama kemudian ia pun jatuh tertidur.


Sementara itu di rumah..


Adrian tahu Lula pergi. Ia dapat mendengar suara koper diseret dan suara mobil Lula yang menjauhi rumah. Ia tidak berbuat apa-apa. Ia sendiri juga diliputi kecemburuan. Ia tidak tahu kenapa Lula pergi. Di matanya, Lula lah yang salah.


- AUTHOR'S NOTE -


Halo, maaf readers! Author baru selesai isolasi mandiri..


Makasih udah selalu menunggu aku UP


Mungkin ke depannya aku ga akan setiap hari UP


Sehat selalu yaa

__ADS_1


Jaga jarak, pakai masker!


__ADS_2