Suamiku, Dokter Adrian

Suamiku, Dokter Adrian
Nathan II


__ADS_3

NATHAN POV


Sial. Kenapa aku mengungkitnya? Lula tampak sedih sekarang.


Aku menatapnya, lalu menatap jalan, menatapnya, lalu menatap jalan lagi. Aku ingin melihat raut wajahnya. Aku tidak ingin ia bersedih.


"Sebenarnya kami.. sedang tidak saling bicara." ujar Lula.


Aku tertegun.


"Kok bisa?" tanyaku sambil berusaha tetap fokus melihat jalan.


Lula menggeleng. "Masalah kecil. Nanti kamu kalau udah nikah juga tau."


Aku tersenyum kecut. Boro-boro nikah. Terakhir kali pacaran saja sepuluh tahun lalu. Aku mengingat masa mudaku yang liar. Berganti-ganti wanita. Semuanya harus terhenti begitu perusahaan yang kudirikan berkembang pesat. Aku meninggalkan semua kenikmatan dunia demi perusahaanku. Aku bahkan lupa kapan terakhir kali aku menyentuh wanita.


"Sabar ya.." ujarku.


"Makasih.." ujarnya sambil menyelipkan rambutnya ke belakang telinga. Aku penasaran apa ia selalu punya waktu untuk mengeriting rambutnya setiap hari. Segala hal kecil tentangnya tiba-tiba membuatku penasaran.


Aku ikut-ikutan menyentuh rambutnya saat ia sudah menjatuhkan tangannya ke pangÄ·uannya. Ia tampak kaget dengan perbuatanku.


"Rambutmu bagus.."


Lula tersenyum. "Aku selalu bangun pagi demi ini."


Aku merasa lemah saat melihat senyumnya itu. Ia begitu.. feminim.


"Maaf tadi di club aku.." ujarku lagi. Menciummu.


"Gapapa.. Kita pasti cuma terbawa suasana." Ia memotong perkataanku. Bukan kita, tapi aku. Batinku. Sepertinya ia tidak ingin aku mengungkit-ungkit itu, jadi aku diam saja. Aku menyisir rambutku dengan jari. Aku menyetir dengan perlahan menuju rumah Lula, tidak ingin waktu cepat berakhir.


Aku melirik ke arahnya. Wajahnya, rambutnya yang dikeriting bawahnya, leher jenjangnya. Aku tidak menyangka aku bisa jatuh hati pada bawahanku sendiri. Terima kasih kuucapkan pada Tuhan karena aku tidak bertemu dengannya setiap hari di kantor. Entah apa yang bisa kulakukan jika yang sebaliknya terjadi.


Awalnya ia masuk ke perusahaanku empat tahun lalu. Waktu itu, aku tidak begitu memperhatikannya. Namun seiring berjalannya waktu, aku sering memperhatikannya di parkiran, di kantor, di restoran dekat kantor, dimana pun kami tak sengaja bertemu.


Lula seorang wanita yang cerdas dan mandiri. Tak sekalipun aku pernah melihatnya diantar suaminya. Hingga suatu ketika, aku tak sengaja bertemu dengannya di sebuah restoran. Keajaiban macam apa itu? Aku menghampirinya dan sedikit terluka saat ku tahu ia sedang menunggu suaminya, pria yang berhak atas dirinya. Namun ternyata, yang ditunggu tak datang. Aku makin senang karena ia mau bergabung ke mejaku. Kubanggakan dia di depan rekan bisnisku. Aku tidak bias. Ia memang cerdas dan menawan.


Kemudian aku tahu dari grup kantor bahwa ia kecelakaan. Aku menahan diri untuk tidak datang, namun tak bisa. Biarlah aku dihajar suaminya, yang penting aku tahu ia baik-baik saja. Ternyata, suaminya tak datang.

__ADS_1


Pertemuan kami berikutnya adalah makan malam di Hyatt. Saat itu aku ingin sekali bertemu dengannya. Ia tampak sedih. Aku berusaha menghiburnya. Setiap kali suaminya tak datang aku bertanya-tanya, mengapa menyia-nyiakan perempuan sesempurna Lula? Lula selalu berkilah suaminya sibuk. Aku akan memilih Lula dibandingkan pekerjaanku. Tapi ternyata aku salah, suaminya datang malam itu. Pertemuan pertama kami. Ia tampan, tinggi, dan kekar. Terlalu tampan untuk menjadi seorang dokter. Ia terlihat dingin dan aku benar-benar takut ia akan menyakiti Lula. Hingga akhirnya aku memberanikan diri memintanya untuk jangan menyakiti Lula. Entah pemikiran bodoh macam apa itu. Mana mungkin ia menyakitinya? Mana mungkin ia tidak mencintai wanita seperti Lula?


"Nathan?" Lula membuyarkan lamunanku.


Aku menoleh.


"Ini.. sudah sampai." ujarnya sambil menunjuk rumahnya. Rumah megah bercat hitam meskipun tak semegah rumahku.


"Oh oke.." aku melepaskan seat belt. Aku hendak bersiap-siap turun saat Lula menyentuh punggung tanganku.


"Supir kamu belum sampai. Pasti lama nganterin tiga orang. Kita tunggu disini aja ya," ujarnya lembut.


Aku tersenyum dan mengangguk.


"Jadi.. kamu tinggal berdua aja disini?" tanyaku.


Ia mengangguk.


"Kalau kamu.. tinggal sama siapa?"


Aku membayangkan rumahku. Rumah bak istana namun.. Sepi.


"Sendiri.." ujarku.


Hening.


"La, aku.." ujarku gugup.


Lula menatap mataku lekat. Sepertinya ia benar-benar tidak tahu soal perasaanku. Aku merasa hal itu lucu. Bukankah sudah jelas? Bukankah seharusnya ia tahu? Apalagi setelah ciuman tadi?


"Kamu kenapa?" tanyanya.


"Emm.. Aku cuma mau bilang.. Kalo misalkan kamu ada masalah, atau butuh sesuatu, atau seseorang.." Aku menghela nafas gugup. "Kamu bisa kok dateng ke aku."


Lula tak berkata apapun. Tapi ia tetap menatapku.


"Maaf.. Aku lancang.." ujarku buru-buru. Aku tidak ingin membuatnya merasa tidak nyaman.


Lula menggeleng.

__ADS_1


"Engga, kok."


"Engga apa?" tanyaku bingung.


Ia tertawa kecil.


"Kamu ngga lancang." ujarnya.


Aku menghela nafas lega.


Ia tersenyum lalu berkata, "Makasih, ya.. Aku akan inget terus kata-kata kamu." ujarnya.


Aku tersenyum. Aku mengingat ketika bibir kami bertemu tadi. Ia begitu lembut. Aku menegang, lalu menutup mata dan menyandarkan tubuhku di bangku kemudi.


"Kamu kenapa?" tanya Lula.


"Gapapa." ujarku sambil menyugar rambutku.


Sebuah mobil Lexus hitam berhenti di hadapan kami. Mobilku.


"Supir kamu udah sampe.." ujar Lula. Ia segera turun dari mobil. Aku menyusulnya.


"Thank you, ya.." ujarnya.


"Oh iya, ini kunci mobil kamu." aku mendekat untuk menyerahkan kunci mobil Lula.


Ia mengulurkan tangan, membuat kedua tangan kami bersentuhan untuk sepersekian detik. Hal seperti itu saja sudah membuatku senang.


"Makasih, sekali lagi.. Aku kayanya hutang budi deh sama kamu. Maaf aku ga bisa kasih apa-apa."


Aku menggeleng dan tanpa sadar mengelus lengan atasnya.


"Ga kok. Ga sama sekali. Yaudah masuk sana.." ujarku sambil melirik pagar depan rumahnya.


Ia mengangguk sopan padaku, lalu masuk.


Aku masuk ke mobil setelah ia tak terlihat lagi. Di dalam mobil, aku menghela nafas. Kenapa harus dia? Kenapa harus perempuan yang sudah menikah? Aku mengacak-acak rambutku.


Setengah jam kemudian.. Aku tiba di rumah. Rumahku yang besar namun sepi. Semua pelayanku pasti sudah tidur. Aku setengah berlari menuju kamarku. Aku masuk ke kamar mandi. Aku membuka seluruh pakaianku dan bermain solo. Siapa lagi penyebabnya jika bukan Lula? Tapi bahkan aku tak berhak menyentuh seujung jarinya karena ia milik orang lain. Apa aku sudah gila? Apa tidak ada perempuan lain di dunia ini? Aku bertekad aku harus melupakannya. Aku tidak boleh menginginkan apa yang tak bisa kumiliki.

__ADS_1


Aku naik ke ranjang setelah selesai mandi. Aku tak bisa tidur. Aku terus memikirkannya. Shit. Ini kan hari ulang tahunnya. Persetan dengan janjiku barusan. Aku harus memberikannya sesuatu. Tapi apa?


Aku mengambil ponselku. Aku membuka mesin pencari dan kuketik kado untuk orang terkasih lalu enter.


__ADS_2