Suamiku, Dokter Adrian

Suamiku, Dokter Adrian
Tak Berarti


__ADS_3

LULA POV


Di perjalanan pulang, aku dan Adrian naik mobilku. Aku yang menyetir. Satu, karena mungkin Adrian tidak terbiasa mengendarai mobil sedan. Alasan yang kedua, karena aku tahu ia mungkin sudah sangat lelah. Sedangkan mobilnya sendiri akan diantar supir Ibu.


Hening.


"Maaf aku lupa ulang tahun kamu." ujarnya pelan.


Aku meliriknya dengan ujung mataku. "Itu yang kamu pikirin?" tanyaku. Lama tidak berbicara dengannya membuatku canggung.


"Yang penting aku dateng, kan?" ujarnya lagi.


"Kamu pikir dengan kamu dateng itu penting buat aku?" tanyaku marah.


"Terus apa yang penting?" tanyanya.


Aku menghela nafas, lalu menggeleng tidak percaya. Apa ini benar Adrian? Aku merasa tidak pernah menikahi pria di sebelahku ini. Apa ia pikir datang ke acara ulang tahunku merupakan sesuatu yang penting? Datang selama dua jam itu penting? Sedangkan selama ratusan kali 24 jam aku harus tanpa dia? Aku memutuskan untuk tidak menjawabnya. Hening sampai kami tiba di rumah. Aku memakirkan mobilku. Kami pun masuk ke rumah.


Aku mandi di kamar tamu, yang sudah menjadi kamarku selama dua minggu ini. Ketika aku keluar dari kamar mandi, Adrian sudah disana. Ia duduk di ranjangku. Ia mengenakan piyamanya. Rambutnya basah karena habis keramas.


Aku yang hanya memakai lilitan handuk merasa terganggu. Aku membuka lemariku, mencari baju tidur.


Adrian memelukku dari belakang. Ia menarikku hingga ke meja rias. Terdapat sebuah cermin seukuran setengah badan orang dewasa di meja tersebut. Kini kami dapat melihat satu sama lain melalui cermin itu. Aku dapat merasakan nafasnya di tengkukku. Ia mencium pundakku lembut. Nafasku memburu. Aku hendak membalikkan tubuhku menghadapnya, tapi ia menahanku. Ia melepas lilitan handuk di dadaku sambil terus mengecup punggungku. Kini aku sudah tak tertutup sehelai benang pun.


Desahan demi desahan lolos dari mulutku. Ia menurunkan celananya. "Adrian, kamu.." Aku hendak protes. Aku tidak nyaman jika harus berhubungan sekarang. Apalagi dengan gaya ini.


"Hmm.." Adrian berbisik di telingaku. Ia menggesekan miliknya ke milikku.


"Akh.." aku meringis saat ia memasukkan dirinya ke dalamku. Ia menghujamiku makin cepat.


"Kamu selalu buat aku ingin.." bisiknya.


Ia meremas dua gundukanku. Ia menaikkan satu kakiku di atas meja rias, tanpa melepaskan miliknya. Ia kembali menghujamiku dengan cepat. Kami tak berhenti mendesah. Karena satu kakiku dinaikkan, ia menjadi lebih leluasa. Aku menundukkan kepala, menikmati setiap hentakan. Hujaman demi hujaman menimbulkan rasa penuh di dalam tubuhku yang membuatku seperti ingin menangis.


Adrian menjambak rambutku pelan, menaikkan kepalaku, memaksaku untuk melihat kegiatan kami dari pantulan cermin. Aku tidak bisa memungkiri betapa seksinya ia. Ia tidak menghentikan aksinya, namun tangannya memeluk pahaku yang dinaikkan di atas meja. Ia menyentuh bagian kewanitaanku, memaju-mundurkan jarinya di atas titik kenikmatanku, sambil tetap memasukiku. Aku menggelinjang. Tak lama kemudian, aku merasakan getaran yang hebat di perut bagian bawahku. Aku berteriak, dan merasakan cairan telah keluar dari intiku.


Kini ia menurunkan kakiku sehingga kedua kakiku menapak di lantai. Ia menarik kedua tanganku dari belakang, membuat kedua dadaku terekspos dan berguncang seiring tubuh Adrian yang memasukiku. "Ah, Lula.." tubuhnya bergetar karena pelepasan seiring ia menyebut namaku. Ia menarik miliknya keluar. Ia memakai kembali celananya dengan cepat, meletakkan kedua tangannya di pinggangku dan mengecup pipiku sekilas. Tak sampai satu detik kemudian, ia sudah keluar dari kamarku.

__ADS_1


Aku menghela nafas berat. Tak tahu harus sedih atau senang. Apa sekarang ia hanya menganggapku pemuas nafsu saja? Apa gunanya kata-kata manisnya tadi saat kami sedang berhubungan? Apa semua itu hanya kata-kata yang tidak bisa dipercaya?


Aku memutuskan untuk menyusul Adrian ke kamar utama. Ia sudah bersiap hendak tidur. Aku berdiri di depan pintu, dengan jarak kira-kira dua meter darinya.


"Kamu tau Bapak akan wariskan perusahaannya ke aku?" tanyaku.


Adrian bangkit duduk di kasur. Ia menyandarkan tubuhnya ke headboard. Lalu ia mengangguk. Aku tak bisa percaya apa yang kulihat. Ia tahu tapi selama ini diam saja?


"Sejak kapan kamu tahu?"


Ia terlihat berpikir. "Satu tahun lalu.." ujarnya santai.


"Apa? Kamu ga ada kepikiran buat bilang ke aku kah?"


"Buat apa? Keputusan Bapak ga bisa diganggu gugat."


"Aku ga mau! Aku masih punya pekerjaan!"


"Aku ga bisa mengubah keputusan Bapak." Ia terdengar sedikit emosi.


"Tapi kamu kan anaknya.. Kenapa ga kamu.."


"La, aku capek. Besok aku kerja."


Aku menatapnya tak percaya. Mungkin aku hanya sebutir pasir bila dibandingkan dengan pekerjaan mulianya itu. Aku menahan tangisku. Haruskah ia berbuat seperti ini? Di hari ini?


Aku menggenggam kenop pintu, aku keluar dari kamar itu. Aku merutuki diriku yang telah berhubungan suami istri dengannya barusan. Aku berjanji dalam hati tidak akan berbicara padanya lagi.


Keesokan harinya..


Sudah jam lima sore. Aku dan Nissa sedang berada di ruanganku. Malam ini aku dan ketiga sahabatku akan merayakan ulang tahunku. Aku memutuskan untuk tidak bilang ke Adrian, mengingat perlakuannya padaku akhir-akhir ini. Ia juga tidak pernah bilang padaku mengenai kegiatannya.


"Gue ga tau apa yang ada di pikiran mertua gue sampe mereka mau warisin perusahaannya ke gue, bukan anaknya." ucapku tiba-tiba.


Nissa melongo. Aku pun menceritakan kejadian semalam.


"Wah.. Mertua lo owner Wijaya Group?"

__ADS_1


Aku mengangguk.


"Wow.. Gue tau sih mertua lo tajir.. Tapi gue baru tau setajir itu. Yaampun La.. Hidup lo sempurna banget, sih."


"Hah? Ga salah?"


Nissa cekikikan. "Ya emang ga boleh sempurna sempurna banget. Harus ada minusnya dikit."


Aku tersenyum kecut. Tiba-tiba air mataku menetes.


"La? Kenapa?" Nissa bertanya lembut.


Aku menceritakan kejadian semalam dengan Adrian. Betapa aku tak berarti di matanya. Betapa ia hanya menyentuhku saat ia ingin.


"Gue ga kuat, Nis." aku tersedu-sedu.


Nissa mengusap punggungku. "Sabar, La. Mungkin sebentar lagi dia akan dikasih hikmah sama Yang Diatas. Lo jangan absen berdoa, ya." ujarnya.


Satu jam kemudian, kami tiba di salah satu klub di Jakarta. Hesti dan Dion yang mengusulkan tempat ini. Parahnya, aku dan Nissa memakai pakaian yang terlalu formal sedangkan Hesti dan Dion sudah menyiapkan pakaian ganti.


Suara musik terdengar pelan. Tempat ini baru saja buka. Mungkin semakin malam akan semakin berisik. Kami duduk di sebuah meja dengan tiga sofa panjang yang melingkari meja tersebut.


"Duh, lo kenapa pilih tempat kaya gini?" tanyaku.


Hesti menunjuk Dion.


Yang ditunjuk menjawab "Biar fun dong. Ini tempat lagi hype banget. Kebetulan gue kenal Managernya jadi langsung bisa reserve tempat." Ujar Dion padaku.


Semoga Adrian tidak melacak keberadaanku.


Kami memesan Henessy dan beberapa cemilan. Dion yang gila tampil menyanyi di atas panggung. Ia juga meneriakan "Happy birthday Lula!" di akhir lagunya. Kami hanya bisa menertawakannya.


Sudah hampir satu jam kami disini. Hesti dan Dion yang sudah mabuk terus-terusan melucu, membuat kami tertawa terbahak-bahak. Aku senang bersama mereka. Aku ingin benar-benar lari dari masalah rumah tanggaku.


Suara lagu mulai berdentum-dentum. Kami bergerak mengikuti irama musik.


"La.." panggil Nissa. Ia dan aku masih sepenuhnya sadar. Kami tidak mau minum banyak.

__ADS_1


Aku menoleh pada Nissa.


"Itu kan.." ujarnya.


__ADS_2