Suamiku, Dokter Adrian

Suamiku, Dokter Adrian
Keguguran


__ADS_3

Perutku sakit. Aku memegang perutku sambil mengantri lift.


"Mbak? Itu.. Mbak berdarah.." seorang janitor yang sedang mengepel lantai menunjuk kakiku.


Aku menengok ke bawah, dan benar saja.. Aliran darah berwarna merah tua mengaliri kaki hingga sepatuku. Aku merasa sangat pusing. Semua orang menatapku. Aku seperti kehilangan keseimbangan saat sepasang tangan kokoh menopang lenganku. Aku menoleh. Nathan. Ia menggendongku dan yang ku lihat hanya kegelapan.


.


.


.


NATHAN'S POV


Takdir. Mengapa takdir terlambat mempertemukan kita? Kenapa tidak.. katakanlah.. lima tahun yang lalu? Sebelum kamu ada yang memiliki. Oke mungkin aku tidak bisa seserakah itu. Tiga tahun. Tiga tahun lalu pun masih dapat kuterima. Sebelum kalian mengucap janji sehidup semati itu.


Aku rasa takdir pula yang mempertemukan kita di jalan hari itu. Kamu, begitu sempurna terlihat seperti anomali di tengah keramaian jalan seperti ini. Tentu saja, aku turun dari mobil dan menawarkanmu tumpangan.


Sepanjang perjalanan, aku menahan diri untuk tidak menatapmu. Aku tidak ingin kamu merasa canggung, atau lebih parahnya, takut. Aku salut pada diriku sendiri. Mengenalmu telah membuat aku jauh lebih dapat mengendalikan diri.


Sesampainya di kantor, aku melihatnya. Suamimu. Oh, no.. Apa ia marah? Aku berdoa dalam hati agar ia tidak menyakitimu. Aku lebih suka ia menghajarku. Aku tidak akan membalasnya. Aku layak diberi pelajaran atas apa yang sudah aku rasakan dan pikirkan tentangmu, wanita yang sudah tak bisa lagi kumiliki. Jika aku suamimu, mungkin aku sudah membunuh banyak pria, pria-pria yang bahkan berani menatapmu, apalagi membayangkan untuk memilikimu.


Kamu membuyarkan lamunanku dengan menariknya pergi, ke dalam gedung parkiran. Baiklah. Saatnya aku juga pergi.


Aku sedang berjalan ke arah lift saat orang-orang mulai mengerubungimu. Kamu seperti kehilangan kesadaran dan aku menangkap tubuhmu.


"Permisi! Tolong beri jalan.. Saya akan bawa dia ke rumah sakit!" Beberapa security membantuku membuka jalan. Aku menggendongmu di pelukanku, setengah berlari menuju mobilku.


.


.


.


Di rumah sakit..


"Anda suaminya?" tanya seorang dokter begitu ia selesai memeriksa.


"Bukan. Saya.. Temannya." Aku gelagapan.


Dokter itu mengangguk-angguk dan tiba-tiba, tangan yang daritadi ku genggam bergerak-gerak. Kedua mata Lula terbuka.


"Lula.." ujarku padanya.


"Ini dimana?" tanyanya. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya. Ia hendak menarik tangannya untuk menutupi matanya yang silau karena cahaya lampu, tapi tertahan. Tangannya sedang diinfus.

__ADS_1


"Bu Lula, anda di rumah sakit sekarang. Maaf, saya harus memberitahukan ini tapi.. Anda baru saja mengalami keguguran. Sekitar dua atau tiga jam lagi anda boleh pulang." ujar dokter itu.


DEG


Lula keguguran?


Jadi.. Dia hamil? Aku tak sanggup menoleh ke arahnya.


Dokter itu menjelaskan panjang lebar mengenai apa yang sebaiknya dilakukan setelah Lula pulang ke rumah. Ia juga telah melakukan pemeriksaan dan tampaknya Lula baik-baik saja selain telah kehilangan darah dan pastinya, syok. Aku tetap menggenggam tangannya saat dokter memberikan penjelasan. Setelah selesai, dokter itu keluar ruangan.


Aku masih menggenggam tangannya kuat ketika aku melihat ke arahnya.


Saat itulah aku melihatnya.


Ia menangis sesegukan tanpa suara. Hatiku hancur berkeping-keping. Aku memeluknya. Aku tak peduli ia bukan milikku. Aku tak peduli jika suaminya tahu dan membunuhku. Aku tak mempedulikan apapun. Hanya satu yang kupedulikan. Lula.


Tubuhnya di dekapanku. Aku mengusap kepalanya perlahan. Satu tanganku memeluk tubuhnya. Selama beberapa saat kami seperti itu. Aku kehilangan kata-kata. Aku tidak ingin mencoba menghiburnya terlalu dini. Aku ingin membuatnya meluapkan semua perasaannya.


"Kenapa.." isaknya.


Aku mengusap punggungnya.


"I don't know, La.. Tapi, yang aku tahu.. Kamu harus tabah, ya.. Kamu harus kuat.." ujarku pelan.


Ia semakin terisak. Aku semakin mengeratkan pelukanku.


.


.


.


Setelah Lula sudah sedikit tenang, ia mendongakkan kepalanya menatapku.


"Ini rumah sakit apa?" Matanya yang masih basah menatapku serius.


"Siloam." jawabku.


Ia melepas pelukanku, menarik infusnya kuat-kuat hingga terlepas. Darah segar mengalir dari punggung tangannya.


"Lula!" Aku berusaha mencegahnya tapi terlambat. Ia berlari menuju pintu. Aku menarik tangannya dan memeluknya dari belakang.


"Let me go!" Ia melepas pelukanku. Aku membalik tubuhnya agar menghadapku. Ia masih berderai air mata.


"Oke. Aku akan lepasin kamu, tapi kamu bilang.. kamu mau kemana?" ujarku frustasi.

__ADS_1


"Kemanapun asal jangan rumah sakit ini!"


"Oke.. Aku selesaikan dulu administrasinya. Kamu tunggu.."


"Engga! Aku mau keluar dari sini sekarang! Please.." Ia membungkukan tubuhnya ke depan, seolah tidak kuat lagi menanggung semua yang terjadi. Ia terlihat begitu kacau.


Aku menghela nafas, menahan diri untuk tidak memeluknya untuk ke sekian kalinya hari ini.


"Oke. Kamu ikut aku." Aku melirik ke arah punggung tangannya sekilas. Darahnya sudah berhenti. Aku menarik tangannya pelan keluar dari ruangan itu.


"Loh, Bu.." Seorang perawat melihat kami keluar dari ruangan perawatan dan tampak terkejut.


"Maaf, suster. Sepertinya teman saya tidak mau berlama-lama di rumah sakit. Dia sudah merasa baikan. Kami akan mengurus administrasinya sekarang." jelasku.


"Baik, Pak.. Tapi, sebaiknya Ibu beristirahat dulu. Mengingat kondisinya.."


"Iya, Sus.. Saya pastikan dia beristirahat di rumah."


Aku kembali membimbing Lula menuju kasir di lantai bawah.


Begitu kami tiba di lantai bawah, Lula mengeluarkan sesuatu dari dompetnya, sepertinya kartu kredit. Aku menghentikan tangannya.


"Aku aja, ya.. Kamu tunggu aja disini.." ujarku. Aku berharap ia tidak tersinggung telah menolak kartunya. Kemudian aku membimbing Lula menuju tempat duduk di depan kasir. Aku mempersilahkan ia duduk. Ia duduk dan kemudian mematung. Aku menyelesaikan pembayaran secepat kilat, lalu membimbingnya lagi ke mobilku di parkiran.


.


.


.


Setelah mempersilahkan Lula masuk ke dalam mobilku, aku mengambil kotak P3K dari bagasi. Lalu aku masuk ke bangku kemudi.


"Apa.. masih sakit?" tanyaku.


Ia yang sedari tadi hanya diam mematung, menggeleng pelan.


"Aku obatin ya, tangan kamu.." ujarku meminta izin. Aku mengeluarkan kapas yang telah dibasahi oleh antiseptik lalu aku menekan kapas itu perlahan di lukanya. Ia sedikit meringis, tapi aku tetap melanjutkan. Terakhir, aku menempelkan plester pada luka itu.


"Selesai." ujarku.


Ia masih menatap ke depan dengan tatapan kosong. Aku tahu, ia pasti masih terguncang.


"Lula.. Aku anter kamu pulang, ya?" tanyaku. Aku berpikir mungkin ia ingin bersama keluarganya, suaminya.


Setitik air mata jatuh di pipinya. Hatiku hancur melihatnya. Aku menggenggam kedua tangannya perlahan. Kami tetap begitu untuk beberapa saat. Tubuhku menghadapnya, kedua mataku menatapnya. Ia menatap kosong ke depan.

__ADS_1


Mimpiku bagaikan menjadi kenyataan. Hari ini aku bisa bebas menatapnya, memeluknya, menggenggam tangannya. Tapi bukan begini. Bukan dengan kesedihannya. Demi Tuhan, aku akan melakukan apapun, asal ia bahagia.


__ADS_2