Suamiku, Dokter Adrian

Suamiku, Dokter Adrian
Pesta Kenaikan Jabatan


__ADS_3



Tiga hari kemudian..


Aku belum bilang padanya. Ia sibuk seperti biasa. Tapi malam ini ada pesta kenaikan jabatan yang diadakan Rumah Sakit Siloam di sebuah ballroom hotel ternama. Adrian sudah memberitahuku sejak kemarin.


Aku sedang mematut diriku di cermin, mencoba banyak gaun. Pilihanku jatuh pada gaun malam backless berwarna abu-abu.


Aku sedang memulas wajahku dengan riasan ketika seseorang membuka pintu kamar.


Adrian.


Aku menoleh ke arahnya dan tersenyum.


"Baru pulang?" tanyaku.


Ia tak berkedip. Aku melanjutkan untuk merias wajahku di cermin, menyapukan blush on dengan kuas di pipiku. Aku menoleh ke arahnya lagi, karena ia tak bersuara. Ia masih dalam posisi sama, menatapku sambil menahan pintu agar tetap terbuka dengan sebelah tangannya.


"Bukannya kita harus pergi? Kamu ga siap-siap?" tanyaku.


Ia berjalan ke arahku setelah menutup pintu kamar.


"Wow.." ujarnya pelan.


Aku mengernyit.


"So beautiful.." ujarnya lagi.


Aku mengangguk. "Ya, ini hadiah ulang tahun dari Ibu."


Adrian menggeleng sambil memelukku dari belakang. "Bukan. Bukan bajunya. Tapi kamu." ujarnya lagi.


Aku tersipu. Adrian bukan tipe pria yang pandai berkata-kata, jadi bagiku ini sesuatu.


"Aku mandi dulu.." ujarnya padaku. Kemudian ia bergegas ke kamar mandi. Tak lama kemudian, ia keluar tanpa busana. Lalu ia memilih setelan formal berwarna abu-abu muda dan dasi yang senada dengan warna gaunku, aku senang karena pakaian kami serasi. Entahlah. Mungkin ia tidak sengaja, tapi tetap saja itu membuatku senang.


Dua puluh menit kemudian, kami sedang berada di mobil menuju tempat acara. Ia tak melepas genggamannya dari tanganku sejak kami berangkat. Kadang aku menatapnya, ia terlihat sangat tampan ketika sedang menyetir.


Tak lama kemudian, kami pun tiba. Ia turun dari mobil dan membukakan pintu untukku. Sepanjang perjalanan kami menuju ballroom, ia terus menggandeng tanganku. Tumben.. pikirku.


Setibanya di ballroom, Adrian menyapa setiap orang yang kami lewati. Ia memperkenalkanku sebagai istrinya. Aku juga ikut menyapa orang-orang tersebut.

__ADS_1


"Itu.. Direktur Rumah Sakit, Prof. Sandi." Bisiknya padaku.


Seorang pria setengah baya berjalan ke arah kami.


"Prof.. Kenalkan ini istri saya, Lula." ujar Adrian.


"Oh, baik. Praktek dimana?" tanyanya.


"Oh, saya bukan.." jawabku.


"Istri saya ini seorang bankir, Prof. Sangat hebat di bidangnya.." ujar Adrian memotong ucapanku.


"Oh, maaf-maaf. Wow, hebat ya.. Ngomong-ngomong, Dokter Adrian ini benar-benar dokter terbaik di rumah sakit kami." ujar Prof. Sandi lagi.


"Ah, Prof. ini selalu memuji." ujar Adrian.


"Oke. Silahkan nikmati pestanya. Dokter Adrian santailah sedikit.." ujar Prof. Sandi seraya meninggalkan kami.


Kami duduk di sebuah meja bundar yang bertuliskan nama kami. Di meja itu juga ada beberapa orang lainnya yang juga Dokter Jantung beserta pasangannya. Mungkin di ruangan ini terdapat lima puluh meja seperti ini. Kami menikmati makan malam diiringi penampilan dari pemain musik klasik ternama.


Selesai makan..


Acara berlangsung dengan meriah. Mulai diumumkan pemenang penghargaan di berbagai kategori, misalnya seperti Dokter Anak Terbaik, Dokter SPKK Terbaik, Staff Administrasi Terbaik, Perawat Terbaik, dan lain-lain. Hingga suatu ketika, Prof. Sandi naik ke atas panggung.


Aku menoleh ke arah Adrian. Ia tak tampak terkejut. Ia bangkit berdiri, mengancing jasnya dan berjalan menuju panggung.


"Dokter Adrian.. adalah dokter terbaik di rumah sakit kita ini. Selalu mengutamakan pasien. Jadi tidak salah jika ia mendapat promosi di usia semuda ini." ujar Prof. Sandi lagi. Kemudian ia mempersilahkan Adrian untuk berbicara.


"Selamat malam.. Saya Adrian Wijaya. Saya dibesarkan di lingkungan yang jauh dari kata sehat. Sejak kecil, saya bertekad untuk menjadi seseorang yang dapat menyembuhkan orang lain. Itulah yang memotivasi saya hingga bisa di titik ini. Semua ini juga tak lepas dari keluarga, kolega, dan tentunya, istri saya.. Lula Wijaya." Ia mengarahkan tangannya ke arahku. Aku tersenyum sambil menahan malu. Tapi apa itu tadi? Lingkungan yang tidak sehat? Ia tidak pernah bercerita lebih jauh. Mungkin aku harus bertanya padanya nanti.


"Enjoy your night!" ujar Adrian di depan mic, kemudian ia turun dari panggung.


"Kamu sudah tahu akan naik jabatan?" tanyaku padanya ketika ia sudah duduk di sebelahku.


Ia mengangguk sambil menyesap champagne. "Kepala departemen yang lama baru saja pensiun." ujarnya percaya diri.


Jadi.. Apa ia akan lebih sering tidak sibuk? Atau malah kebalikannya? Makin sibuk?


Acara sudah selesai. Kami bergegas pulang. Adrian menggandeng tanganku dan kami berpapasan dengan.. Syena. Ia tampil cantik dengan gaun malam berwarna ungu.


"Hai, Adrian. Congrats, ya.." ujarnya. Ia mendekati Adrian, seperti hendak memeluknya. Tapi matanya bertemu denganku yang memang daritadi sedang di belakang Adrian. Entah. Mungkin ia pikir Adrian datang sendiri.


"Lula? Kamu disini.. Apa kabar?" Ia malah memelukku. Aku membalas pelukannya meskipun malas.

__ADS_1


"Baik, makasih." jawabku asal.


"Selamat ya, kalian berdua.." ujarnya lagi.


Aku menggeleng kecil ke arahnya. Adrian yang berada di depanku menatap aku dan Syena bergantian.


"Oh.. Dia.." kata Syena sambil melirik Adrian.


Aku melotot ke arah Syena saat Adrian tak melihatku. Adrian terlihat bingung sekarang.


"Ehm.. Maaf, kayanya aku mau masuk lagi deh ke dalam.. See you, ya Lula, Adrian.."


Aku mengangguk ke arahnya dan melambaikan tanganku.


Sesampainya di mobil..


Adrian tidak langsung menjalankan mobilnya.


"Maksud Syena apa?" tanyanya.


"Ehm?" Aku pura-pura bingung. Aku memasang seat belt dan tidak melakukan kontak mata dengan Adrian.


"Aneh banget.." ujarnya. Ia memakai seat belt nya.


"Ya mungkin terlalu seneng karena ketemu kamu kali.." ujarku asal.


"Maksudnya?"


Aku mendengus kesal. Apa ia masih harus berpura-pura di depanku? Apa ia tidak tahu kalau Syena masih suka padanya?


"Ya.. Tadi aja dia mau peluk kamu kan.."


"Terus?"


"Apa? Terus kata kamu?" aku sudah dipenuhi emosi. Sebenarnya sejak bertemu Syena aku sudah seperti ingin meledak, namun kutahan.


"Kenyataannya engga, kan? Lagian kamu ngapain sih cemburu sama dia.." ujarnya lagi.


"Kenyataannya engga? Jadi kalian pernah ngapain aja selama ini?"


"Loh kamu kok jadi ngaco ngomongnya.."


"Udah! Aku mau pulang!" pekikku. Tanpa sadar setetes air mata jatuh di pipiku. Aku memiringkan sedikit kepalaku, menatap jalan melalui jendelaku, berharap dalam sekejap aku sudah tiba di rumah.

__ADS_1


Aku kesal. Kesal. Kesal. Kesal. Adrian seperti tidak tahu sama sekali isi hatiku. Apakah sikapku diluar kewajaran? Aku bahkan tidak marah ketika Syena hendak memeluknya. Aku bahkan tidak akan marah jika mereka berpelukan. Menangis mungkin. Tapi marah? Tidak akan. Tapi apa yang ia lakukan? Ketidakpeduliannya menghancurkanku.


__ADS_2