
LULA'S POV
Maaf aku menyakitimu. Tapi, aku sudah tidak bisa. Tidak bisa bahkan untuk sedetikpun, menahan perasaan ini.
Aku menyakitimu.
Kau menyakitiku.
Aku menyakiti bayi kita.
Bayiku. Bayiku yang cantik. Maafkan Mama, Nak.. Mama tidak bisa menjaga kamu. Mama manusia paling jahat di dunia ini. Bahkan Mama telah menyakiti Papa kamu. Mama yang bodoh. Mama.
.
.
.
Pintu terbuka tiba-tiba.
"Lula! Apa maksud Adrian barusan!" Papa masuk dan berteriak di hadapanku.
"Jawab Papa!"
"Pa, sudah.. Papa ga denger tadi pesan Adrian.. Lula, apa benar kamu keguguran?" tanya Mama lembut.
"Papa cuma mau tau kenapa menantu sebaik Adrian itu masih juga dibeginikan! Lula!" teriak Papa.
"Pa, aku cuma mau istirahat.." ujarku pelan.
"Papa ga setuju kamu bercerai. Sampai kapanpun!"
"Papa.." Mama berusaha membelaku.
"Memang siapa yang menikah sama Adrian? Papa? Bukan, kan? Aku, kan?!" Balasku berteriak.
PLAKKK..
Papa menamparku. Seumur hidupku, baru kali ini ada orang yang menyakitiku secara fisik.
__ADS_1
"Papa!" Mama menegur Papa.
"Jangan jadi anak kurang ajar kamu! Atau keluar dari rumah ini!"
Aku mendecih. Aku mengambil tas kecil yang berisi dompet dan ponselku, lalu berjalan keluar kamar melewati sepasang manusia yang kupanggil orang tua sejak aku kecil. Sejak kecil itu pula, aku merasakan kurangnya kasih sayang kedua orang tua. Namun meskipun begitu, tak pernah kusangka, mereka akan jauh lebih memilih menantu berharga mereka dibanding aku.
"Lula! Kamu mau kemana?" Mama berteriak dari dalam rumah ketika aku hampir tiba di pagar.
Aku tidak menjawab. Aku berjalan terus. Aku menatap Mercedes Benz pemberian Adrian. Aku memutuskan untuk tidak akan menggunakannya lagi. Aku akan menyuruh orang untuk mengembalikannya pada Adrian nanti.
.
.
.
Aku berjalan dan berjalan. Jalanan waktu itu cukup sepi. Matahari sudah terbenam sejak tadi. Entahlah. Sesekali kendaraan yang melewatiku terlalu dekat atau terlalu mengebut sehingga aku oleng ke trotoar. Jadi begini rasanya tidak punya rumah, tidak punya kendaraan.
Mungkin sudah hampir setengah jam aku berjalan. Fisikku ada di jalanan ini, tapi tidak dengan pikiranku. Pikiranku yang melayang entah kemana. Memikirkan anakku. Memikirkan betapa kecilnya ia, betapa rapuhnya ia. Aku meringis memikirkan dunia yang kejam ini, tempat dimana ia tadinya akan dilahirkan. Setega itukah aku? Aku sedikit lega mengetahui bahwa ia sudah di atas sana. Di dunia yang tenang, damai, dan membahagiakan. Aku tidak perlu membawanya pada kesakitan dari dunia fana ini. Aku memang tidak layak menjadi seorang ibu.
Sebuah taksi berhenti di dekatku. Aku pun memutuskan untuk naik.
"Kemana, Bu?" tanyanya.
"Ke Bar X, Pak." ujarku.
Aku menatap pakaianku dari atas sampai bawah. Aku tidak peduli. Aku tidak peduli jika pakaianku tidak cocok untuk pergi ke bar. Aku hanya ingin minum sampai aku melupakan semua masalahku.
.
.
.
Sesampainya di Bar X, aku membayar taksi dan turun. Aku masuk ke bar itu. Keadaan di dalam cukup ramai. Aku duduk di sudut dan mulai memesan minuman. Seorang bartender pria yang melayaniku berusaha ramah dan membuka obrolan, tapi aku terlalu depresi untuk memedulikannya.
Aku terus minum dan minum. Musik menghentak memekakan telinga. Di tempat seramai ini, aku merasa sepi. Aku meratapi nasibku. Tapi entahlah. Aku rasa aku layak mendapatkan ini semua. Aku pantas dihukum lebih berat dari ini. Harusnya hal lebih mengerikan terjadi padaku. Manusia macam apa aku ini? Benar-benar. Tidak. Berguna.
Saat aku sudah setengah sadar, aku merasakan getaran pada ponselku yang berada di dalam tas.
__ADS_1
Nathan.
Aku membalik ponselku di atas meja, agar aku tidak perlu lagi merasa terganggu. Aku menenggak minumanku kasar. Aku berharap kesadaranku tidak cepat hilang. Aku masih ingin mengenang bayiku. Aku masih ingin menikmati kesakitan ini.
Sesuatu atau seseorang menyentuh punggungku.
"Hai.. Sendirian?" Aku menoleh. Seorang pria seumuranku. Ia menyeringai. Aku tidak peduli padanya dan kembali berkutat pada minumanku. Ia malah duduk di sebelahku. Aku ingin merespons lebih dingin lagi padanya, seperti menatapnya dengan tajam, atau menyuruhnya pergi, tapi seolah aku tidak memiliki kekuatan lagi. Alkohol telah melumpuhkanku.
"Ikut, yuk?" Ia menarik tanganku. Aku berusaha mengelak tapi aku kehabisan tenaga.
"Tolong.. Jangan.." desisku.
"Apa? Ga kedengeran.. Berisik disini.." Ia tetap menarikku keluar dari bar. Saat itulah aku kehilangan kesadaranku.
.
.
.
Aku tersadar beberapa saat kemudian. Aku terkejut. Aku berada di kursi belakang sebuah mobil. Di kursi depan, pria yang kutemui di bar tadi sedang menyetir. Aku mencari ponselku di dalam tas, berusaha tidak membuat suara. Aku membuka aplikasi pengirim pesan. Aku menekan asal sembarang nama yang terakhir kali menghubungiku. Nathan. Aku mengirimkan lokasi ku padanya. Sekarang ia akan tahu dimana aku berada selama ponselku masih menyala. Aku juga hendak mengetik tapi pria menyeramkan ini langsung menoleh ke arahku.
Aku buru-buru memasukan kembali ponselku ke dalam tas.
"Sudah sadar?" Ia terkekeh mengerikan.
"Diam dan jangan bersuara!" Bentaknya.
Kami berhenti di pinggir jalan. Lalu pria itu pindah ke jok belakang, di sebelahku. Ia mengeluarkan sebuah botol minuman dari bawah kursi dan kemudian membukanya.
"Ini.. Minumlah.. Kau sepertinya sangat suka minum di bar tadi.."
Aku menepis tangannya. Disitulah ia terlihat seperti akan mengamuk. Ia membuka mulutku paksa dan mengucurkan alkohol ke dalam mulutku.
"Telan atau pisau ini akan menembusmu." Bisiknya mengerikan. Sesuatu yang tajam dan dingin seperti menyentuh leherku. Dan ia tampaknya terlalu menekan sehingga aku merasakan leherku tergores.
"Bunuh saja aku!" teriakku padanya.
Ia terkekeh lagi. "Sebelum aku membunuhmu.. Ada hal yang harus kita lakukan." Tangannya menggerayangiku. Aku merasa jijik. Aku mengutuki kebodohanku, tapi lagi-lagi bertanya dalam hati bahwa apa mungkin aku layak mendapatkan hukuman ini.
__ADS_1
Ia mengeluarkan sebuah pil dari kantong celananya dan kemudian mencekokiku dengan pil itu. Aku berharap ini akan membuatku mati saja. Aku memohon pada Tuhan agar hal itu terjadi sebelum ia dapat melakukan apapun padaku.
Tiba-tiba saat ia hendak membuka celananya, aku melihat kesempatan untuk kabur. Saat itulah aku berlari keluar dari mobil yang sialnya baginya, tak terkunci. Aku berlari dan berlari tanpa memikirkan apapun. Sialnya bagiku, jalanan itu sangat gelap dan sepi. Tak lama kemudian, ia berhasil menangkapku. Kedua tangannya menarikku jatuh ke aspal. Aku yang sudah kepayahan dan anehnya, kesadaranku mulai hilang kembali. Apakah ini karena pil yang ia berikan? Ia menamparku berkali-kali, lalu mencekikku. Saat itulah aku melihat semuanya berubah menjadi gelap.