
Aku memakirkan mobil di depan rumah Adrian. Aku memejamkan mata. Rumah yang penuh kenangan, baik itu indah maupun menyakitkan. Di garasi ada mobil Mercedes Benz yang dulu selalu kupakai dan Range Rover Adrian. Tiba-tiba dadaku berdegup cepat. Ia ada di rumah. Kami hanya terpisah beberapa meter saja sekarang. Aku menguatkan hati untuk masuk dan tidak menjadi pecundang.
Aku mengetuk pintu. Tidak ada jawaban. Aku tidak menekan bel karena aku takut Adrian sedang tidur, jadi aku memutuskan untuk duduk saja di teras. Aku memeluk kedua lututku, bersandar pada pintu. Sesekali aku kembali berdiri dan mengetuk pintu, mungkin setiap sepuluh menit sekali. Tapi tidak ada jawaban.
Langit sudah mulai gelap. Sudah hampir tiga jam aku menunggu. Aku mengetuk pintu lagi untuk yang ke sekian kalinya ketika pintu terbuka dengan lambat. Aku pikir tidak ada orang karena pintu itu sangat lambat membuka. Mungkin terbuka karena angin, pikirku, walau ku tahu itu tidak mungkin. Aku mendorong pintu itu agar terbuka lebih lebar. Saat itulah aku melihat Adrian.
Satu tangannya ia sandarkan pada dinding dan satu tangannya memegang gagang pintu. Ia tampak begitu kurus dan lemah. Ada cekungan hitam di bawah matanya. Pipinya tampak tirus. Rambutnya berantakan. Hatiku mencelos melihatnya.
Mata kami bertemu. Ia tampak begitu terkejut, kemudian secepat kilat ia menutup pintu kembali tepat di depan wajahku dan menguncinya. Ia bahkan tak mengucapkan sepatah katapun padaku.
"Adrian!" Seruku sambil mengetuk pintu lagi, kali ini lebih keras.
"Untuk apa kesini? Pergilah!" Suara yang sudah lama kurindukan itu terdengar lemah. Hatiku tercabik mendengarnya. Sebegitu bencinya dia padaku?
"Aku tidak akan pergi sebelum kamu mengizinkanku masuk." ujarku setengah berteriak.
Aku merosot ke lantai teras yang terbuat dari marmer, menyandarkan tubuhku ke pintu. Aku takkan pernah berhenti mencintaimu, Adrian.
.
.
.
Aku terbangun saat mendengar suara petir. Astaga, aku ketiduran rupanya. Aku melihat jam tanganku. Sudah pukul enam sore. Aku memeluk diriku sendiri, merasa kedinginan. Mendung. Gerimis mulai turun dan angin bertiup lumayan kencang.
Aku mendengar suara kunci diputar. Pintu terbuka sedikit.
"Masuk." ujarnya pelan. Aku tidak bisa melihatnya sama sekali, tapi aku menuruti perintahnya. Aku bangkit berdiri dan masuk ke dalam rumah. Adrian tidak ada dimana pun. Ia pasti sengaja masuk ke kamar atau ke ruang kerjanya setelah menyuruhku masuk.
Rumah ini masih sama seperti ingatanku. Hanya saja.. lumayan berantakan. Beberapa vas yang tadinya ada di ruang tamu sudah tidak ada. Aku terus berjalan menuju dapur.
__ADS_1
"Aw.." Sesuatu menusuk kakiku. Aku mengambilnya. Pecahan kaca. Aku menggelengkan kepala, tidak mengerti. Aku membuang pecahan kaca itu ke tempat sampah. Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling rumah. Hampir tidak ada lagi benda yang terbuat dari kaca di rumah ini. Aneh. Seingatku ada banyak hal yang terbuat dari kaca, namun sekarang semuanya sudah tidak ada lagi.
Aku memutuskan untuk memasak untuk Adrian. Aku membuka kulkas. Betapa terkejutnya aku saat melihat isi kulkas yang hampir kosong. Jika ada sesuatu untuk dimakan pun, itu sudah busuk atau berjamur. Setelah lama mencari bahan makanan, aku memutuskan untuk membuat mie instan. Aku tahu Adrian tidak suka makanan tidak sehat. Tapi ini jauh lebih baik daripada tidak makan sama sekali.
Selesai memasak, aku menuju ruang kerja Adrian. Aku mengetuknya. Sesaat ingatan mengenai masa laluku kembali. Aku takut sekali Adrian malah mengusirku pergi.
Tidak ada jawaban.
Aku menekan gagang pintu. Tidak terkunci. Aku melangkah masuk. Ruang kerjanya sedikit gelap. Hanya ada satu lampu kecil di atas meja yang menyala.
Adrian sedang merebahkan tubuhnya di sofa. Ia menghadap ke sisi luar sofa. Aku tahu ia belum tidur, beberapa menit yang lalu ia masih membukakan pintu utama untukku.
"Makan dulu.." ujarku pelan.
Ia bergeming.
"Tega kamu, Adrian.." gumamku pelan, lebih ditujukkan pada diriku sendiri.
Aku hanya bisa menatap wajahnya yang tertimpa sinar lampu berwarna jingga. Aku lupa bernafas dibuatnya. Meskipun ia tampak kacau, ia masih pria paling tampan yang pernah ada di dalam hidupku.
"Kamu telah menyiksaku dengan melihatmu seperti ini." Aku terisak. "Kamu pikir.. aku akan diam saja melihat kamu seperti ini? Tidakkah kamu kasihan sama Ibu?" Aku menutup wajahku dengan kedua tangan, menangis.
Hal yang paling tidak terduga terjadi. Adrian bangkit berdiri. Ia menarik tanganku yang menutupi wajahku, menyampirkannya di pinggangnya, dan memelukku. Rasa hangat menjalar di tubuhku. Aku benar-benar merindukannya. Tapi.. ada sesuatu yang berbeda darinya. Baunya seperti alkohol.
"Ssshhh.. Aku sudah janji nggak akan bikin kamu nangis lagi." ujar Adrian pelan.
"Kamu jahat.. Kamu bilang kamu peduli sama kesehatan, tapi.." Aku sesegukan.
Ia mengelus-elus puncak kepalaku.
Tiba-tiba perutku berbunyi. ASTAGA.. Perfect timing.. Malu-maluin banget.. Aku teringat bahwa aku belum makan tadi siang.
__ADS_1
Aku bisa merasakan Adrian tersenyum. Ia menarik tanganku pelan, menuju ruang makan.
Kami duduk berhadapan. Di meja makan yang sangat jarang kami gunakan selama menikah.
"Maaf, hanya ada ini.." ucapku. Ia tak menjawab, malah ia langsung memakan suapan pertamanya. Aku takjub. Selama lima tahun bersama, ia tidak pernah makan mie instan.
.
.
.
Kami makan dalam diam. Ia sama sekali tak menatapku. Sebaliknya, aku menatapnya terus-terusan, berusaha merekam dirinya dalam ingatanku. Saat makan, tak sengaja mataku melihat kedua tangannya. Keduanya penuh luka. Aku bertanya-tanya, apa yang terjadi? Dan kemana perginya semua furnitur pecah belah di rumah ini? Sedetik kemudian.. Aku tersadar. Pasti Adrian yang memecahkannya.
Kami baru selesai makan ketika aku memberanikan diri.
"Kenapa kamu resign?" tanyaku.
Ia yang sedang meminum air putih menggeleng pelan, enggan menjawab. Aku merasa hal itu wajar. Sejak dulu ia selalu mengalami kesulitan mengungkapkan dirinya pada orang lain, dan sekarang semua itu sudah menjadi jelas. Ia memiliki trauma yang sangat besar dalam hidupnya. Untuk sesaat, aku merasa menjadi orang paling egois di dunia karena telah menyakitinya.
"Dan juga.. kenapa ini.." Aku mengelus kedua tangannya dengan jari-jariku.
Ia tampak terkejut dan menyembunyikan kedua tangannya di bawah meja.
"Jangan lakukan itu lagi.. Oke?" kataku lembut, seolah aku sedang berbicara dengan anak kecil.
Ia menatapku ragu, lalu mengangguk sedetik kemudian.
"Aku akan kembali lagi besok, dan seterusnya. Sampai kamu bisa bertanggung jawab pada dirimu sendiri. Besok, aku akan bawa bahan makanan kesini." jelasku.
Aku bangkit berdiri dan mencuci piring kami berdua. Ia hanya termenung di kursi makan. Aku sangat sedih melihatnya. Jelas sekali bahwa ia sedang tidak baik-baik saja.
__ADS_1