Suamiku, Dokter Adrian

Suamiku, Dokter Adrian
Surabaya


__ADS_3

Aku merasa tersesat. Tidak ada lagi yang bisa kulakukan. Aku sudah berusaha sekuat yang aku bisa. Aku mendatangi beberapa bank untuk mendapatkan pinjaman, tapi semua hasilnya nihil. Tidak ada satu pun bank yang mau memberikan pinjaman karena keluargaku sudah kehilangan satu-satunya aset, yaitu rumah kami.


Tabunganku masih sangat jauh dari kata cukup untuk melunasi hutang. Kami bahkan hanya punya satu mobil, yaitu mobil Mama yang sudah mulai usang. Aku menghitung nilai dari beberapa tas bermerek yang ku punya. Semuanya merupakan hadiah, tapi aku tidak bisa mendapat banyak uang dari sana. Lagipula, menjual benda seperti itu dengan harga sepantasnya bukanlah hal yang mudah.


Sudah tiga hari.


Aku berjalan lunglai menuju rumah. Aku baru saja mendapatkan penolakkan lagi dari bank. Aku harus memberitahu Mama bahwa mungkin sebaiknya kami pergi dan mengontrak rumah saja.


Baru saja aku membuka pintu utama, tumpukan kardus sudah mengagetkanku. Dari salah satu kardus yang terbuka, aku tahu bahwa ini semua barang-barangku dan Mama. Semua yang tersisa.


"Lula, Mama ingin bicara.." Ia tertunduk lesu. Aku benar-benar sedih melihatnya. Mama pasti tahu ketidakberhasilanku dalam mempertahankan rumah ini. Semua pasti terpancar dari raut wajah dan gerak-gerikku.


Aku duduk di sebelah Mama, memperhatikannya. Ia tidak seperti dulu lagi. Kini ia sudah tampak jauh lebih tua. Ia tidak lagi merawat dirinya. Rambutnya sedikit berantakan. Namun aku tahu, ia masih memaksakan senyumnya di hadapanku.


"Sebaiknya kita pergi dari rumah ini."


DEG


"Tapi, Ma.." Entah apa yang kupikirkan. Aku pun sudah tahu akhirnya. Bahkan ART kami pun sudah dipulangkan. Kami benar-benar tidak mampu lagi mengurus rumah sebesar ini.


"Mama sudah menghubungi teman Mama yang bekerja di sebuah agensi properti. Nanti malam kita pindah, ya.." Mama memelukku. Aku tahu ia berusaha tegar. Pasti berat untuknya, meninggalkan rumah peninggalan Papa.


"Maafin Lula, Ma.." ujarku menhan tangis.


"Sudah, ya.. Kamu gak salah.. Mungkin sudah takdirnya seperti ini.." ujar Mama.


.


.


.


Sudah seminggu sejak kepindahanku ke sebuah rumah nyaman namun sederhana di Jakarta Selatan. Aku masih sibuk, sama seperti biasanya. Ternyata menyewa rumah itu bukan sesuatu yang murah juga. Aku menghabiskan sepertiga gajiku selama setahun untuk menyewa rumah itu selama dua tahun. Sisanya, hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari.


Kadang aku masih melihat Mama melamun, mungkin.. Ia rindu Papa. Sama sepertiku yang merindukan seseorang yang jauh disana. Aku hanya bisa berdoa agar Mama diberikan kesehatan dan kekuatan. Aku hanya berharap, kehidupanku bersama Mama akan damai dan sejahtera, tanpa kekurangan sesuatu apapun.


.


.


.


"Lula?" Suara Pak Richard mengagetkanku.


"Ya, Pak?" tanyaku.


"Jadi bagaimana mengenai keberangkatan kamu ke Surabaya besok lusa untuk menangani proyek dengan PT. Azura?"


"Ah, iya Pak.. Tiketnya sudah dikirimkan oleh sekretaris Bapak.."

__ADS_1


"Oke.. Tolong kamu atur bagaimana agar nanti proyek ini bisa berhasil, ya.. Tolong entertain semua petinggi-petinggi PT. Azura Surabaya agar mau menyukseskan kerja sama ini."


"Entertain? Maksud Bapak?"


"Ya.. Kamu tahu lah.. Mereka kan kebanyakan laki-laki.. Entah kamu ajak karaoke atau bagaimana.."


Aku lemas mendengarnya. Aku berharap semuanya akan lancar tanpa aku harus mengajak orang-orang asing itu pergi ke tempat hiburan.


.


.


.


Merindukanmu ternyata sangat menyakitkan.


Aku berjanji tidak akan pernah jatuh pada siapapun lagi.


Apakah kamu tidak bersungguh-sungguh saat kamu bilang yang kita punya itu selamanya?


Kenapa aku sendirian sekarang?


Apakah kau tahu betapa hancurnya hati ini? Kau lambungkan lalu kau jatuhkan lagi?


Pernahkah kau mencoba mengerti?


Bisakah kamu jadi aku.. sehari saja?


"Ladies and gentlemen, Garuda Indonesia welcomes you to Surabaya. For your safety and the safety of those around you, please remain seated with your seat belt fastened and keep the aisles clear until we are parked at the gate."


.


.


.


NATHAN'S POV


Aku melihat jam tanganku lagi. Sudah hampir pukul sepuluh, tapi tidak ada tanda-tanda Lula akan datang. Sudah beberapa bulan ini ia menjadi auditor lepas di perusahaanku. Tidak biasanya ia begini. Aku mengambil ponselku, mencoba menghubunginya. Tidak diangkat. Aku mengirim pesan ke ponselnya.


Lula, kenapa gak masuk kantor?


Tidak terbaca.


Kamu sakit?


Tidak terbaca juga.


Aku melesatkan Lamborghini ku membelah jalanan Jakarta, menuju kediamannya.

__ADS_1


Aku sangat terkejut ketika melihat rumah seperti dalam keadaan seperti tidak berpenghuni. Aku turun dari mobil dan melihat sebuah stiker yang tertempel di pagar.


Rumah ini disita Bank.


Astaga.. Ada apa ini? Aku diliputi kekalutan yang teramat sangat. Apa ia kesulitan selama ini? Kami selalu bertemu setiap minggu dan ia terlihat baik-baik saja. Apa ia sudah pergi? Apa aku sama sekali tidak memiliki kesempatan dengannya? Apa ia kembali ke kota-yang-hanya Tuhan-yang-tahu bersama dengan Adrian?


Aku mengeluarkan ponselku dari kantong.


Berpikirlah, Nathan. Berpikir!


Aku mendapat sebuah ide. Mungkin Om Richard tau dimana dia. Tapi, aku ingin tetap profesional di hadapannya. Aku tidak ingin ia tahu aku memang dengan sengaja mencari Lula.


"Halo?" Om Richard menjawab panggilanku dalam dering kedua.


"Halo, Om? Apa saya mengganggu?" tanyaku gugup. Aku hanya tidak ingin membuat hubunganku dengan Lula semakin canggung. Ia pasti tidak suka jika atasannya tahu tentang perasaanku.


"Oh.. Sama sekali tidak. Ada apa, Nathan? Om lagi golf sama rekan-rekan bisnis Om."


Sial. Harus bertanya apa? Astaga..


"Hmm.." Aku berusaha memutar otak.


"Ada apa?"


"Sebenarnya.. Saya.."


"Tanya saja.. Tidak usah sungkan. Kamu ini.."


Aku rasa aku harus bertanya jika aku ingin tahu dimana Lula.


"Om tahu.. dimana Lula?" tanyaku.


Please, Om harus tahu dan memberitahuku. Please, semoga kamu masih di Jakarta.


Tiba-tiba Om Richard tertawa terbahak-bahak.


"Ehm, gini Om.. Lula kan auditor lepas saya.. Jadi.."


"Sudah.. Kamu gak perlu jelaskan itu ke Om. Lula di Surabaya. Om menugaskan dia untuk mengatur proyek perusahaan dengan PT. Azura."


Aku menghela nafas lega. Ternyata Lula masih di Indonesia. Ia belum kembali.. pada pria itu.


"Oke, Om. Terima kasih infonya."


"Ya, ya.."ujarnya lalu menutup telepon.


Seketika itu juga, pikiranku berkecamuk. Aku merasa tidak tega membiarkannya sendiri disana. Aku khawatir padanya. Perasaanku menjadi tidak enak, apalagi setelah melihat rumahnya disita. Kenapa ia tidak cerita apapun padaku? Aku tidak ingin membuang waktu lagi. Aku harus bertemu dengannya.


***Hello

__ADS_1


Maaf baru sempat update


Terima kasih atas dukungannya ❤***


__ADS_2