Suamiku, Dokter Adrian

Suamiku, Dokter Adrian
Aku Mencintaimu


__ADS_3

Aku baru saja menyelesaikan presentasiku di hadapan petinggi-petinggi PT. Azura. PT. Azura merupakan sebuah perusahaan start-up yang dibangun beberapa tahun lalu. Hampir semua pegawainya merupakan millenials. Di kantor ini, hampir semua karyawannya bersikap dan bertutur kata secara non formal, mungkin karena mengusung new age modernism.


Aku masih tidak tahu apakah mereka akan menerima penawaran kerja sama kami atau tidak. Mereka semua sedang duduk melingkar di sebuah meja panjang, memperhatikanku.


"Sebaiknya kita membicarakan ini di Bar X saja?" usul seorang pria muda dan tampan.


"Setuju! Lula, you should go to Bar X! Itu tempat terbaik di Surabaya!" pekik seorang wanita yang kelihatan sedikit lebih muda dariku.


Aku hanya bisa membalas ajakan mereka dengan senyum.


.


.


.


Aku baru saja turun dari pesawat jet pribadiku ketika seorang bawahanku mempersilahkanku masuk ke sebuah mobil Range Rover hitam. Aku pasti terlihat sangat gusar sekarang, semua pegawaiku tidak ada yang berani menatap mataku.


"Bisa cepat sedikit?" ujarku pada bawahanku yang menyetir.


"Maaf, Tuan. Tapi, sekarang ini memang macet. Ini jam pulang kantor."


Aku mendengus kesal. Perasaanku tidak enak. Aku harus bertemu Lula secepatnya. Bisa-bisanya ia tidak bilang padaku bahwa rumahnya disita? Ia juga tidak bilang padaku bahwa ia pergi ke Surabaya. Apa ada hal lain yang ia tutupi dariku?


Apa aku tidak berlebihan, datang kemari hanya untuk bertemu dengannya? Apa ini tidak terlalu kentara? Argggh.. Aku mengacak rambutku. Ia justru terlalu bodoh, karena tidak pernah menyadari perasaanku. Harusnya aku senang jika ia mengetahuinya. Aku sudah memberikannya terlalu banyak tanda, tapi ia masih tidak sadar juga.


Aku tiba di gedung PT. Azura hampir setengah jam kemudian. Gedung ini sudah gelap gulita.


"Bagaimana bisa kamu tidak tahu bahwa kantor ini sudah tutup!" Teriakku pada bawahan-bawahanku. Mereka menunduk dan meminta maaf.


Aku menekan tombol di ponselku dan berbicara pada orang di seberang telepon.


"Cari dimana hotel tempat ia menginap!" ujarku gusar.


.


.


.


Aku sudah mengitari kota Surabaya selama berjam-jam. Aku sudah ke hotel tempat ia menginap, dengan menggunakan kekuasaanku aku pun tahu bahwa ia bahkan belum check-in. Pasti ia langsung ke PT. Azura setibanya dari bandara.


Aku berpikir dan berpikir. Hanya ada satu kemungkinan. Pasti ia sedang pergi dengan klien dari PT. Azura. Aku menelepon satu-satunya orang yang kutahu mengenal pimpinan PT. Azura.


"Halo.. Om Richard?"

__ADS_1


"Eh, kamu.. Ada apa, Nathan?"


Sudah tidak ada waktu lagi.


"Bisa minta nomor klien Om dari PT. Azura?" tanyaku to the point.


"Lho? Untuk apa?" tanyanya.


"Ehm.. Saya tertarik untuk membuat kerja sama juga Om.."


"Haha.. Bukan urusan kerja sama juga nggak apa-apa, kok.."


"Maksud Om?"


"Kamu di Surabaya, kan?"


"Hah? Om tahu darimana?"


"Hehe.. Memang Om anak kemarin sore. Ya sudah Om kirim kontak nya ke kamu ya.."


.


.


.


Aku tiba di Bar itu pukul sebelas lewat. Aku mendatangi setiap meja dan memperhatikan setiap wajah yang ada di bawah cahaya lampu yang redup.


Bukan dia.


Bukan dia.


Bukan.


Aku berjalan cepat sambil menyeleksi orang-orang itu dengan kedua mataku. Aku mendengar orang berbisik-bisik ke arahku. Mungkin mereka pernah melihatku di Forbes, aku tidak peduli. Di belakangku, beberapa pengawal berusaha membuka jalan untukku di tengah beberapa orang yang sedang berdansa di dance floor.


Tiba-tiba mataku terpaku pada segerombolan orang yang sedang duduk di sebuah sofa berbentuk segi empat, di sisi ujung sofa itu ada seorang wanita yang membelakangiku.


Jantungku berhenti berdetak untuk sepersekian detik ketika aku melihatnya. Wanita yang telah membuatku tidak bisa tenang. Wanita yang telah membuatku mengitari kota Surabaya untuk menemuinya. Rahangku mengeras ketika melihat seorang pria duduk terlalu dekat dengannya, dengan minuman di tangannya, seolah ingin memberikan Lula gelas itu.


Aku berjalan dengan cepat dan sesampainya di meja itu, Lula masih membelakangiku dan belum menyadari keberadaanku.


Aku mendorong tangan pria yang sedang menyodorkan gelas berisi minuman padanya.


"Maaf, Lula harus pulang." ujarku begitu saja. Aku juga tidak tahu darimana aku mendapat keberanian itu. Bukannya aku takut pada orang-orang ini, aku hanya segan pada Lula karena telah berani berbicara begitu.

__ADS_1


Semua mata yang ada di meja itu menoleh ke arahku. Begitu pun Lula. Aku menatapnya yang menatapku. Aku menurunkan tubuhku sehingga kepalaku sejajar dengan kepalanya, kemudian aku menyentuh kedua bahunya dengan lembut. "Yuk?" ajakku.


"Ka.. Kamu?" Lula menatapku takjub. Kemudian ia tertawa.


Oke, apa yang terjadi?


Beberapa orang di meja itu berbicara dengan satu sama lain dan aku yakin telah mendengar kata Forbes dari mereka.


"Maaf, sepertinya Lula mabuk." ujar pria yang duduk di sebelah Lula.


"Apa??" Aku menatapnya tajam. Dan pria sinting ini masih mau memberikan minuman untuk Lula?


"Lula, are you okay?" bisikku pada Lula. Kini ia menyandarkan tubuhnya di sofa, dengan mata terpejam. Ia membuka matanya dan mengangguk.


Aku tidak perlu pamit pada orang-orang ini untuk membawamu. Aku tidak akan membiarkanmu sedetik lagi berada disini. Besok, aku akan membuat pelajaran bagi mereka semua.


Sedetik kemudian, Lula sudah berada di gendonganku ala bridal style.


"Nathan.. Apa.." Lula hendak protes.


Aku tidak menjawab. Semua orang di Bar ini memperhatikan kami seiring aku membawa Lula menuju parkiran.


"Nathan, turunin aku! Aku masih sadar.."


"Apa?" Aku menatapnya tajam. Wajahnya yang cantik tampak kelelahan. Wajar saja, ia belum istirahat seharian setelah terbang tadi.


"Kenapa.. kamu disini?" tanyanya dengan suara serak. Setiap hal di dalam dirinya membuatku frustasi. Membuatku selalu ingin melindunginya.


"Masih haruskah kamu bertanya?" ujarku.


Kami tiba di mobilku. Seorang pengawalku membukakan pintu penumpang dan aku mendudukannya di sebelah bangku kemudi, karena ia tampaknya tidak begitu mabuk dan.. ku pastikan ia tidak mau duduk di belakang.


Setelah aku duduk di belakang kemudi, ternyata ia masih belum ingin tutup mulut.


"Jadi.. apa kamu juga ada urusan bisnis dengan PT. Azura?"


Aku tertawa pelan dan menyandarkan kepalaku di kursi kemudi.


"Apa kamu sebodoh itu?" Tanyaku sambil menatapnya.


Ia balas menatapku dan mengerjapkan mata indahnya, membuatku semakin mengaguminya.


"Maksud kamu apa?" tanyanya.


"Aku mencintaimu."

__ADS_1


__ADS_2