
"Kamu pulang ke Jakarta?" tanya Lula setelah kami selesai makan.
"Nanti. Bareng kamu." ujarku.
Ia menatapku dan kemudian tersedak. Aku segera bangkit berdiri sambil berusaha menepuk pundaknya pelan.
"Are you okay?" tanyaku lembut.
Ia mengangguk. Aku tersenyum dalam hati melihat betapa manisnya ia.
"Pelan-pelan, dong.. Minum?" aku menyodorkan segelas air putih padanya, yang langsung diterimanya.
"Kamu pulang duluan aja? Takutnya.. kamu harus nunggu lama?" ucapnya sambil meyelipkan rambutnya ke belakang telinga. Ia terlihat nervous.
"Nggak. Aku mau temenin kamu." ujarku sambil memperhatikan reaksinya. Aku sedikit menyesal telah berbicara lancang seperti itu. Ia tampak tidak nyaman sekarang. Ia membuang muka sehingga aku tidak bisa lagi mengamati raut wajahnya.
.
.
.
Kami tiba di PT. Azura pagi itu. Kami berjalan beriringan. Puluhan pasang mata menatap kami seolah kagum, atau.. mungkin hanya sekedar penasaran akan wajah baru di perusahaan ini. Kebanyakan yang menatap ke arah Lula adalah pria. Tentu saja. Pria mana yang tidak menganggapnya menarik? Aku melempar pandangan sesaat ke arah Lula, ia sama sekali tidak mempedulikan mereka. Ia hanya fokus berjalan, sesekali menatap ke arahku untuk membimbingku ke tujuan kami. Hal itu membuatku tersipu di dalam hati, seolah aku lah yang menang dibandingkan puluhan pria yang menginginkannya.
"Kamu tunggu disini?" tanya Lula sambil mengisyaratkanku untuk duduk di sebuah ruang tunggu.
"Boleh aku ikut? Biar aku bisa meyakinkan CEO nya." ujarku.
Ia tampak berpikir sejenak. "Biarin aku aja. Aku cuma nggak mau.. mereka menyetujui kerja sama ini hanya karena kamu." ujarnya.
Aku terkejut mendengar jawabannya. Bukankah itu bagus? Kalau mereka mau bekerja sama? Tapi aku hanya bisa tersenyum dan mengangguk. Aku duduk di sofa itu dan ia berjalan menuju sebuah ruangan.
.
.
.
Aku bosan menunggu. Aku memutuskan untuk mendekati ruangan tempat Lula presentasi. Aku berdiri di depan pintu yang terbuat dari kaca. Aku bisa melihat beberapa orang sibuk mendengarkan Lula. Aku tidak bisa melihat Lula dari tempatku berdiri, hanya bisa mendengar suaranya.
"Kerja sama ini juga pasti akan menguntungkan perusahaan Bapak."
Aku tersenyum mendengarnya, senang sekaligus bangga karena wanita secerdas itu pernah bekerja di perusahaanku.
__ADS_1
"Sebetulnya.. kami tidak ingin terburu-buru dalam mengambil keputusan." terdengar suara seorang pria yang kuasumsikan adalah CEO PT. Azura.
Oh, tidak.
Aku membuka pintu ruangan meeting itu dan berusaha bergaya setenang mungkin.
"Ehem.. Maaf, saya terlambat.."
Semua orang menatapku. Termasuk Lula yang tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
"Loh itu kan.. Nathan Dawson? Yang suka masuk Forbes itu, kan? Anaknya.." seorang pegawai wanita berbisik kepada temannya yang lain, tapi hal itu tidak luput dari pendengaranku.
"Pak Nathan? Sedang apa disini?" CEO yang bahkan tidak aku tahu namanya itu berdiri seolah tidak enak hati. Aku rasa, semua orang disini mengenalku tanpa harus aku memperkenalkan diri.
"Saya sebenarnya datang kesini untuk membantu Bu Lula. Saya juga adalah salah satu klien Bu Lula dan perusahaan tempat ia bekerja." ujarku penuh percaya diri.
"Ah, begitu, ya? Sebenarnya.. Pak Nathan tidak perlu repot-repot datang kesini. Kami juga sedang dalam proses finalisasi kerja sama." ujar CEO itu sungkan.
Aku hanya tertawa dalam hati, bukankah tadi ia sepertinya enggan melakukan kerja sama dengan perusahaan milik Om Richard?
CEO itu buru-buru mengambil berkas yang ada di hadapan Lula dan menandatanganinya.
"Ini, Bu Lula. Terima kasih atas kesempatan ini. Perusahaan kami akan bekerja sebaik-baiknya."
.
.
.
"Kamu gapapa?" tanyaku pelan. Aku memperlambat langkahku agar seirama dengannya.
Ia menoleh ke arahku dan hatiku sangat diliputi kegembiraan saat ia berkata, "Terima kasih." Hatiku terenyuh. Pasti pekerjaan ini sangat penting baginya. Bahkan, ia sampai kehilangan rumahnya dan tidak bercerita sedikitpun. Kenapa, La? Kenapa.. kamu tidak pernah bersandar di bahuku sebentar saja? Kenapa.. kamu terus berusaha kuat sendirian?
"Terus.. apa rencana kamu sekarang?" tanyaku.
"Aku.. harus pulang ke Jakarta."
Aku mengangguk dan tersenyum. "Yuk.." Aku menarik tangannya pelan, menuju mobilku.
"Eh.. Kita mau kemana?" tanyanya.
"Pulang.. Ke Jakarta, kan?"
__ADS_1
"Tapi.. Aku harus ambil barang-barangku di hotel du.."
"Biar asistenku yang urus, oke? Ikut aja.." ujarku.
.
.
.
Kami tiba di sebuah lantai paling atas salah satu gedung tertinggi di Surabaya. Suara bising baling-baling helikopter begitu keras memekakkan telinga. Tangan kami masih bertaut dan hal itu membuatku tak bisa berhenti tersenyum. Aku rasa.. ia hanya ingin aku membimbingnya. Mungkin.. ia tidak sadar kami masih bergandengan. Tapi itu semua tidak mengurangi kebahagiaanku.
"Nathan.." Ia menahan nafasnya ketika melihat helikopter dari jarak sedekat ini.
Aku mengelus pundaknya yang tertutup kemeja, berusaha menenangkannya.
"Kamu takut?" tanyaku setengah berteriak.
Ia mengangguk.
****.
"Kita naik pesawat komersil aja?" tanyaku.
Ia menggeleng, kemudian mengeratkan pegangan tangan kami berdua. Aku pasti terlihat seperti orang gila karena tersenyum sangat lebar sekarang.
Aku membantunya duduk di sebelahku.
"Kamu kedinginan?" tanyaku.
Ia menggeleng dan tersenyum. Tapi aku tetap membuka jasku dan menyampirkannya di kedua pahanya yang tak tertutup sehelai benangpun. Aku tidak ingin ia masuk angin dan juga tidak ingin orang lain melihat apa yang seharusnya tidak mereka lihat.
Hanya ada empat kursi di helikopter ini. Satu untuk pilot, di sebelahnya asistenku Joe, sedangkan aku dan Lula di belakang.
Setelah semuanya siap, kami pun lepas landas. Lula tidak berhenti memegang tanganku. Aku baru menyadari bahwa daritadi ia menutup kedua matanya.
"Kamu.. baik-baik saja?"
Ia membuka matanya perlahan dan mengangguk.
"It's gonna be okay, La. I'm here." ujarku. Aku harap, ia mengerti. Aku akan selalu ada untuknya.
"It's so beautiful.." Ia menengok ke arah jendela dan menikmati pemandangan yang terpampang di hadapan kami. Ratusan gedung tinggi dan laut di kejauhan.
__ADS_1
"Yes, you are." Aku tak memalingkan pandanganku darinya, memastikan ia aman dan nyaman. Pemandangan seindah apapun tak bisa mengalahkan pemandangan terindah di hadapanku. Semilir angin meniup rambutnya yang panjang teruntai ke arahku. Bahkan dengan hal sesederhana itupun membuatku bahagia.
Ia menoleh ke arahku. Kedua mata indahnya melumpuhkanku. "Thank you, Nathan. For everything."