Suamiku, Dokter Adrian

Suamiku, Dokter Adrian
Putraku


__ADS_3

NATHAN'S POV


Aku berjalan melewati lorong rumah sakit. Di sebelahku, Lula sedang menggendong Alden yang tertidur pulas. Satu tanganku membawa tas berukuran sedang berisi perlengkapan bayi. Tanganku yang lain menyentuh lembut tulang punggung Lula, membimbingnya menuju jalan keluar rumah sakit.


Ketika kami tiba di pintu keluar utama rumah sakit, bahkan saat pintu kaca itu belum terbuka.. Kami melihatnya. Puluhan orang berkumpul di depan pintu utama itu. Mereka membawa kamera dan ponsel masing-masing untuk merekam gambar dan suara. Saat itu pula aku menyadari bahwa aku telah berbuat kesalahan.


"Nathan Dawson!" Teriak mereka menyerukan namaku.


Aku berbalik menghadap Lula dan Alden, memeluk mereka, menghalangi mereka dari puluhan pencari berita yang sibuk mengambil gambar kami.


Aku mengatupkan rahangku, menahan emosiku.


Sial, Joe. Aku mengutuki nama asisten kepercayaanku. Aku menyesal telah mengirimnya untuk menggantikanku mengikuti sebuah rapat penting. Kini aku sendiri yang harus menanggung akibatnya. Aku melihat sekeliling. Dua sekuriti rumah sakit berusaha membendung pasukan fotografer yang semakin beringas.


Aku menatap wajah Lula yang berada di bawah wajahku, lalu menatap Alden yang sangat tenang berada di pelukannya. Aku harus melindungi mereka.


"Kita cari jalan lain." ujarku pelan.


Aku mendorong lembut punggung Lula agar ia mengikuti langkahku.


"Apa kau malu telah memiliki anak diluar pernikahan??" Teriak salah satu wartawan.


Darahku mendidih. Tapi aku berusaha tenang. Aku berusaha tidak bereaksi sedikitpun dan kembali meneruskan langkahku. Tapi Lula diam. Ia tidak mengikuti bimbingan tanganku pada punggungnya.


Lula berbalik menuju pintu utama rumah sakit. Ia menatap puluhan wartawan yang menghujaninya dengan lampu blitz. Di antara mereka dan kami hanya terpisahkan sebuah pintu kaca yang dapat terbuka dan menutup otomatis.

__ADS_1


"Lula.." Aku menarik pelan sikunya. "Ini yang mereka inginkan. Mereka sengaja mengatakan itu agar kita mau terpancing.." ujarku pelan. Memiliki kedua orang tua yang merupakan publik figur telah mengajariku banyak hal.


Aku sedikit terkejut melihat raut wajah Lula. Aku pikir ia akan terlihat emosi. Tapi tidak. Ia terlihat tenang. Ia bahkan tersenyum ke arahku. "Aku hanya tidak bisa.. membiarkan ada orang yang berpikir bahwa aku malu telah memiliki Alden." ujarnya dengan begitu tenang. Sudut-sudut bibirnya tertarik ke bawah, seolah tidak bisa menyembunyikan kesedihannya.


Kata-katanya seolah menyadarkanku.


Aku juga tidak akan membiarkan seorang pun berpikir demikian.


Aku dan Lula berjalan menuju pintu utama rumah sakit. Entah kenapa kami mampu melakukan sesuatu di luar nalar seperti ini.


Demi Alden.


Pintu otomatis rumah sakit yang terbuat dari kaca terbuka. Kami melangkah keluar dan lampu blitz menyinari mata kami.


Aku berdeham, berusaha merangkai kata-kata di kepalaku. "Ada beberapa hal yang harus saya jelaskan." ujarku. Aku menatap Lula yang berdiri di sebelahku, Alden dalam dekapannya. Ia tampak canggung di tengah keramaian. Aku memeluk lengannya dengan satu tanganku yang bebas, melindunginya.


"Saya tidak malu.. telah melahirkan seorang putra ke dunia ini." suara Lula yang lantang mengejutkan mereka semua, bahkan mengejutkanku. Aku melihat ke arahnya, wajahnya yang tertutup bulu matanya yang panjang. Ia begitu cantik dan kuat. Ia semakin mengejutkanku dari hari ke hari.


"Alden adalah anugerah terindah yang bisa diberikan kepada saya." lanjut Lula. Aku mengeratkan pelukanku dari samping tubuhnya, berusaha menguatkannya. Aku mengerti perasaannya. Bahkan aku pun tersentuh dengan kehadiran Alden.


"Alden, itukah nama yang kalian berikan pada putra pertama kalian?" tanya satu orang wartawan.


Lula mengangguk lalu menatap ke arah Alden.


"Apa harapan kalian untuk putra kecil kalian?" tanya seorang lainnya.

__ADS_1


Lula menatapku, aku mengisyaratkannya untuk menjawab. Karena sejujurnya, jawaban atas pertanyaan itu.. aku sama sekali tidak terpikir.


"Saya harap.. Ia akan menjadi anak yang cerdas, kuat, dan selalu dikelilingi oleh orang yang menyayanginya. Itu saja.." ujar Lula.


"Nathan, apa kau punya pesan untuk putra kecilmu?" tanya seorang wartawan.


Aku tersenyum gugup karena perkataan wartawan itu.


Putra kecilku.


Putraku.


Sesaat kemudian, aku berusaha merangkai kata. "Saya hanya ingin ia tahu bahwa.. Saya akan selalu ada di sisinya. Saya akan selalu melindunginya, dan juga ibunya. Saya akan selalu.. berusaha menjadi ayah yang baik untuknya. Apapun yang akan terjadi di masa depan." Aku tercekat mendengar kata-kataku barusan. Tentu saja, di mata semua orang itu adalah kata-kata yang mengharukan. Aku adalah ayah kandung Alden di mata dunia pada saat ini, detik ini. Tapi bagiku dan Lula, itu adalah kata-kata bermakna ganda. Aku tahu dan sadar posisiku. Aku bukanlah ayah kandung Alden, tapi aku sudah begitu menyayanginya.


Puluhan pasang mata menatapku takjub. Aku juga merasakan Lula menatap ke arahku. Padahal, aku tidak berpikir bahwa apa yang baru saja kukatakan adalah sesuatu yang perlu dibesar-besarkan. Itulah perasaanku sejujurnya saat ini.


Aku mengangguk ke arah Lula, mengisyaratkan bahwa kami harus segera pergi dari sini. Lula mengerti dan sedikit memiringkan tubuhnya ke arah belakang.


"Terima kasih, semuanya. Kami berharap kalian bisa mendoakan yang terbaik bagi keluarga kecil kami." ujarku begitu saja. Aku menatap Lula, takut bahwa ia akan tidak setuju dengan pemilihan kata-kataku. Tapi ia terlihat biasa saja, tidak terganggu sedikitpun. Kami memutar tubuh kami dan berjalan perlahan, menuju apartemenku yang aku tahu akan menjadi tempat teraman untuk Lula dan Alden.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2