
NATHAN'S POV
Aku sedang berada di perusahaan Om Richard untuk meeting dengannya, ketika aku melewati ruangan Lula yang kosong. Aneh. Selama bertahun-tahun bekerja denganku, ia tidak pernah izin.
Aku merogoh ponselku dan menekan beberapa tombol.
"Halo, Jonas?" aku tidak dapat menyembunyikan kecemasanku.
"Pagi, Tuan.."
"Dimana Lula?" tanyaku tak sabar. Seharusnya kan Jonas yang mengantar jemput Lula kemana pun ia pergi. Bukannya aku menggunakan Jonas sebagai mata-mata, aku hanya ingin membantu Lula sebisaku.
"Itu.. Ibu Lula sedang berada di rumah sakit."
"Apa? Siapa yang sakit? Rumah sakit apa?" cecarku.
"Saya kurang tahu, Tuan. Hanya saja, tadi pagi saat saya sudah tiba di rumah Bu Lula, rumahnya kosong. Ia mengabarkan pada saya bahwa ia sedang berada di Rumah Sakit XX, Tuan."
Berbagai bayangan buruk sulit kucegah. Aku benar-benar.. mengkhawatirkannya.
"Loh, Nathan.. Kamu mau kemana?" tanya Om Richard menegurku. Ia pasti bingung pada tingkahku yang baru saja sampai ke kantornya namun sudah akan pergi lagi. Namun aku tidak dapat berpikir dengan jernih. Aku berlari menuju mobilku dan menuju perempuan itu, perempuan satu-satunya yang pernah kupedulikan itu.
.
.
.
Pernahkah kalian merasakan hati yang hancur? Itulah yang kurasakan saat melihatnya. Ia menangis dalam diam. Aku tidak tahu harus lega atau tidak. Lega karena aku tahu ia berada disini, duduk di ruang tunggu rumah sakit ini, bukan di ruang gawat darurat itu. Ia tidak terlihat sakit atau kurang suatu apapun. Jaraknya hanya kurang dari sepuluh meter dariku. Atau tidak lega karena ia terlihat begitu.. rapuh. Aku ingin mengerahkan segala dayaku agar hanya senyum yang menghiasi wajahnya. Tapi hari ini, usahaku kembali gagal.
Aku duduk di sisinya, tidak ingin mengagetkannya.
Ia tidak menoleh ke arahku. Pandangannya lurus ke depan. Tubuhnya bergetar karena menahan tangis. Itupun, tidak begitu berhasil. Karena air mata tetap mengaliri pipinya.
"Mama?" tanyaku prihatin. Aku tahu tidak ada seorangpun lagi yang ia sayangi di dunia ini. Selain itu, aku juga tahu dari asisten pribadiku bahwa ibunya mengidap penyakit jantung bawaan.
Ia mengangguk sangat pelan, membuatku hampir tidak yakin bahwa ia baru saja meresponku.
Aku memeluk satu bahunya dari samping, dan berusaha memeluk tubuhnya dengan tanganku yang satunya terbuka lebar ke arahnya.
Ia menerima pelukanku, membenamkan wajahnya di dadaku.
__ADS_1
Aku harap, aku bisa meredakan sakitmu.
Aku harap, aku bisa menggantikanmu, merasakan apa yang kau rasakan, membebaskanmu dari lukamu.
Kali itu, aku kembali hancur untuk ke sekian kalinya. Melihatnya dilanda kesedihan seperti itu adalah nerakaku.
.
.
.
Sudah beberapa minggu Mama Lula berada di rumah sakit. Lula masih bekerja, walaupun aku melarangnya. Sepulang kantor, Lula selalu datang ke rumah sakit untuk menjenguk Mamanya. Seringkali, ia pulang tengah malam dari rumah sakit. Setidaknya, Jonas selalu siap sedia untuk mengantarnya.
Hari ini, sepulang kantor, aku juga ikut menjenguk Mama Lula yang belum sadarkan diri. Tujuanku hanya satu, memastikan bahwa Lula baik-baik saja. Aku memasuki ruang VVIP tempat Mama Lula dirawat. Aku yang memaksa Lula agar Mamanya dipindahkan kesini. Aku dengan sangat senang hati menanggung semua biaya rumah sakit. Uang, seharusnya menjadi hal yang paling tidak dipikirkan Lula saat ini.
Aku menatap tubuh Lula yang sedang duduk menghadap ke arah ranjang rumah sakit, membelakangiku. Tubuhnya semakin hari semakin kurus. Aku menutup mataku frustasi. Sulit sekali meyakinkannya bahwa ia tidak perlu bekerja. Sama sekali tidak perlu. Tapi jangankan untuk berhenti bekerja, untuk makan saja ia perlu sedikit paksaan.
Beberapa hari yang lalu Lula menyalahkan dirinya sendiri karena ialah Mamanya menjadi seperti ini. Ia juga telah menceritakan apa yang terjadi padaku. Aku sadar apa yang mereka lalui pasti sangat berat. Mereka sama-sama tidak menginginkan ini. Terlebih lagi aku. Aku mencintai Lula. Tapi, dengan kandungannya saat ini.. menyulitkanku untuk meyakinkannya untuk bersamaku. Ditambah lagi, Mamanya yang sedang sakit sekarang.
Aku melangkah maju, Bu Luna masih terbaring di ranjang seperti biasa dengan banyak selang dan infus terpasang di tubuhnya.
"Maaf, Ma.." ujar Lula lirih.
Aku menghentikan langkah kakiku, tidak ingin mengganggu privasi ibu dan anak ini. Begitu aku hendak berbalik, langkahku terhenti lagi karena kata-kata Lula.
"Mama pantas membenciku.."
Aku mendengarnya terisak. Hatiku terenyuh. Sesaat kemudian, aku memutuskan untuk menghentikannya. Aku tidak ingin ia semakin terjebak dalam kesedihannya. Aku meraih kedua bahunya lembut.
"Lula.. It's okay. Mama kamu pasti maafin kamu." ujarku berusaha meyakinkannya.
Ia menggeleng pelan. "Aku saja.. membenci diriku sendiri.." Ia menunduk, menatap perutnya yang sudah lumayan besar.
Aku kehilangan kata-kata.
Aku hanya bisa berpikir.. andaikan bayi di kandunganmu itu milikku. Apakah semuanya tidak akan menjadi serumit ini? Akankah kamu mau menikah denganku? Akankah hal ini tidak akan terjadi?
"Makan dulu, yuk.." ujarku pelan.
"Kamu duluan sa.."
__ADS_1
"Sekarang, Lula." ujarku dengan suara dalam. Sebenarnya aku tidak ingin memaksanya seperti ini, tapi apa boleh buat. Aku hanya bersyukur ia mau mendengarkan permintaanku. Mungkin ia begitu karena ia masih segan dan menghormatiku sebagai mantan atasannya, entahlah.
Ketika kami sudah berada di koridor rumah sakit, Lula mengeluarkan sebuah amplop kecil berwarna putih.
"Ini untukmu." ujarnya.
Aku mengernyit bingung.
"Apa ini?"
"Aku sudah berjanji bukan? Akan melunasi hutangku padamu? Ambilah.." ujarnya sambil menyodorkan amplop itu padaku lagi.
Aku membelalakan mataku.
"Hutang apa?" tanyaku berusaha fokus, saat paras secantik ini berada di hadapanku mengalihkan pikiran.
"Rumah sakit Mama." ujarnya.
Aku sungguh takjub dibuatnya. Tentu berapapun nominal di dalam amplop ini tidak berarti untukku, dan masih sangat jauh untuk membayar apa yang telah kukeluarkan. Tapi wanita ini, ia benar-benar tidak mau memanfaatkan orang lain. Ia tidak pernah sekalipun, selama aku mengenalnya, mau merepotkan orang lain.
"Lula, simpan saja untuk.."
"Aku tidak akan berbicara denganmu lagi kalau kamu tidak menerima ini. Walaupun sedikit demi sedikit, aku harus melunasinya. Aku tahu ini tidak seberapa.." matanya menatapku sendu.
"Tapi.." Aku berusaha mengurungkan niatnya.
"Aku akan sangat kesal, kalau kamu menolaknya." ujarnya.
"Oke, baiklah. Aku terima. Terima kasih." Aku memasukkan amplop itu ke kantong jasku asal.
Kami sedang berjalan beriringan menuju pintu keluar rumah sakit. Saat aku sedang merogoh ponselku di kantong untuk menghubungi Joe, asisten sekaligus supir probadiku, Lula berjalan mendahuluiku. Tiba-tiba, cahaya putih berkilatan di depan kami. Aku menghalangi cahaya itu dengan tanganku yang kuangkat tepat ke depan dahi. Saat itu juga, baru kusadari..
"Lula!" Aku menarik tangan Lula yang kebingungan. Tepat di hadapan kami, puluhan fotografer dan jurnalis dari berbagai media berusaha mengambil foto kami, menghujani kami dengan sinar lampu blitz.
Aku menarik Lula ke dekapanku, memaksa agar wajahnya terbenam di dadaku. Hanya itu yang bisa kulakukan untuknya, menyembunyikan wajahnya.
"Nathan Dawson! Apakah dia kekasihmu?" teriak satu orang.
"Bagaimana pendapatmu mengenai perceraian kedua orang tuamu?" sahut orang lain.
Aku menarik tangan Lula untuk kembali masuk ke dalam rumah sakit, berharap bahwa tidak ada yang berhasil mengambil fotonya.
__ADS_1
Ketika kami sudah kembali berada di dalam rumah sakit, aku menarik tangan Lula pelan agar ia berjalan di sampingku.
Ia, tampak kebingungan. "Apa yang terjadi, Nathan?"