
ADRIAN'S POV
Hujan rintik-rintik hari ini di Bujumbura. Sudah tujuh bulan aku menetap dan bekerja disini. Setelah berbulan-bulan berada di negara asing ini, aku tahu masalah utama masyarakat kekurangan, yaitu kelahiran yang tidak direncanakan. Aku miris melihat begitu banyak anak-anak disini mengalami gizi buruk. Banyak dari masyarakat disini juga tidak mengenyam pendidikan, jadi hal ini sudah terjadi selama ratusan tahun, generasi ke generasi.
Aku mendirikan sebuah rumah sakit dan juga beberapa sekolah dari hasil donatur dan juga uang tabunganku sendiri. Disini, aku kenal beberapa petinggi kota. Mereka membantu dalam segala hal yang kuperlukan. Penduduk sekitar juga membantuku, sehingga pembangunan gedung sudah selesai dalam waktu yang terbilang singkat.
Aku tidak lagi melakukan operasi. Selain karena masyarakat disini tidak membutuhkannya, aku juga masih menghukum diriku sendiri. Aku menyesal atas satu nyawa yang pernah hilang dari dunia, darah dagingku sendiri. Aku tidak pantas menyelamatkan nyawa banyak orang sedangkan anakku sendiri pergi untuk selamanya karena keegoisanku.
Aku masih sering bermimpi tentang masa kecilku. Anak kecil berambut pirang bermata biru itu. Hal itu benar-benar membuatku sesak. Tapi setidaknya aku berada disini, jauh dari tanah air tempatku dilahirkan dan merasa terpuruk.
Seseorang menepuk pundakku.
Aku menoleh.
Syena rupanya.
Ia tahu aku membutuhkan banyak obgyn disini. Jadi, ia berinisiatif meninggalkan pekerjaannya di Jakarta dan bekerja disini. Ia mulai bekerja di rumah sakitku sejak dua bulan lalu. Ia meyakinkanku bahwa ia juga tergerak untuk membantu masyarakat kurang mampu disini. Aku kagum pada kebaikan hatinya. Selalu begitu, sejak SMA.
"Memikirkan apa?" tanyanya.
Aku menghela nafas.
"Pekerjaan." ujarku singkat.
"Itu saja yang kamu pikirkan. Sudah waktunya istirahat. Ayo.." Syena merangkul lenganku.
"Apa kamu begini kepada semua pria?" tanyaku setengah bercanda.
"Apa? Tentu saja nggak!" ujarnya setengah cemberut.
Aku tersenyum dalam hati. Bagiku, Syena sudah seperti sahabat. Ia seumuran denganku. Kami kenal ketika kami bersekolah di SMA yang sama. Sejak itu, kami dekat. Ia sosok yang ceria, di tengah kehidupannya yang sulit. Kami sempat berpacaran selama lima tahun, namun semua harus berakhir saat kami sama-sama sibuk dengan pekerjaan kami. Kami memutuskan untuk berteman. Hampir dua tahun kemudian, aku bertemu Lula. Kami berpacaran selama dua tahun, bahkan menikah selama tiga tahun, meskipun akhirnya kami bercerai.
Lula.
Dengannya, semua sungguh berbeda. Aku menjadi diriku yang berbeda. Ia sungguh sempurna. Ia cantik, dewasa, selalu membuat mata pria manapun menatapnya. Aku selalu bertingkah seperti anak kecil di hadapannya. Aku tidak pernah mengungkapkan isi hatiku padanya. Mungkin, kecantikannya terlalu mengingatkanku pada ibu kandungku. Semua kesakitanku pada masa lalu, seolah mencegahku untuk mengutarakan rasa cintaku padanya. Namun dirinya lah satu-satunya wanita yang pernah mengisi hatiku, dan akan tetap begitu.
.
__ADS_1
.
.
"Melamun lagi?" Syena bertanya sambil melahap sandwich nya.
"Ah, maaf. Jadi, kamu bilang apa barusan?" tanyaku sambil mulai sibuk dengan makananku.
"Aku tanya.. mau sampai kapan kamu disini?" tanya Syena lagi.
"Maksudmu apa?"
"Mereka bahkan tidak membutuhkan ahli jantung disini. Kamu lebih tahu itu."
Aku menggaruk pelipisku. Kata-kata Syena ada benarnya. Selama disini, aku hanya bekerja sebagai dokter umum. Mereka tidak membutuhkan keahlianku. Kebanyakan penyakit yang mereka derita mudah diselesaikan dengan makanan bergizi, vitamin, dan obat-obatan yang berkat kerja sama ku dengan pemerintah, berhasil diimpor dari Amerika Serikat.
"Kota ini sudah jauh lebih sehat sekarang. Pemerintah Burundi juga sudah menjadikan ini sebagai kota percontohan. Sebentar lagi di kota-kota lain di seluruh Afrika, akan ada pembangunan sekolah dan rumah sakit baru. You did it, Adrian. Lagipula.. Apa kamu tahu? Negara ini bukanlah satu-satunya tempat yang membutuhkan bantuanmu."
"Maksud kamu.." Aku menggaruk pelipisku. Syena memang selalu berbicara dengan cepat, ia juga selalu mengutarakan pikirannya. Tidak seperti Lula, yang sulit untuk kubaca.
Ah... Lula lagi. Aku rasa, aku tidak akan pernah bisa melupakan wanita itu.
Kadang aku kagum pada cara berpikir Syena. Ia selalu berpikiran luas. Sedangkan aku, aku terlalu fokus pada hal detil sehingga seringkali garis besarnya luput dari pandanganku.
"Well, kamu tahu kan kenapa aku belum bisa pulang.."
Lula.
Lula jawabannya.
Di setiap alam semesta, ia akan selalu menjadi alasan mengapa aku berbuat segala sesuatu. Aku tahu aku tidak akan pernah bisa melupakannya jika aku tetap berada di Indonesia. Aku akan selalu mencari alasan agar aku bisa mengetahui keberadaannya, melihatnya, dekat dengannya, dan entah apa lagi yang akan kulakukan. Aku hanya ingin ia bahagia, meskipun tanpaku.
Syena terdiam. Aku tidak menyadari perubahan suasana hatinya karena aku pun juga larut dalam pikiranku sendiri, memikirkan seseorang yang harusnya sudah kulupakan.
Ponsel Syena berdering, mengejutkan kami berdua. Rupanya salah satu perawat menelepon. Seorang ibu hendak melahirkan. Aku dan Syena segera berlari menuju pasien tersebut.
Syena segera masuk ruang bersalin. Di ruang tunggu, seorang anak berkulit sawo matang tampak gelisah. Usianya sekitar tujuh tahun. Tubuhnya kurus dan kotor. Ia menatapku dengan sedih.
__ADS_1
"Apakah yang di dalam.. ibumu?" tanyaku dengan bahasa inggris. Selama disini, sedikit-sedikit aku mempelajari kirundi, bahasa nasional Burundi. Tapi kebanyakan penduduk Afrika bisa menggunakan bahasa inggris.
Anak itu mengangguk.
Aku mempersilahkannya duduk. "Tenanglah. Ibumu berada di tangan yang tepat. Dimana ayahmu?" tanyaku. Aku hanya prihatin kenapa anak kecil ini seorang diri mengantar ibunya.
Anak itu mengangkat kedua bahunya. Sedikit perasaan iba hinggap di perasaanku.
"Nama kamu siapa?" tanyaku lagi.
"James, Dokter." ujar anak itu pelan. Ia pasti bingung kenapa ada orang asing sepertiku di rumah sakit ini.
"James, nama yang bagus.."
Aku baru saja hendak mengajukan pertanyaan lainnya ketika seorang perawat menghampiriku.
"Dokter, anda sedang ditunggu pasien." ujar perawat itu.
"Baik, saya kesana. Sebelum itu, bisa kamu pastikan anak ini baik-baik saja? Ibunya sedang melahirkan di dalam."
"Baik, Dok. Saya akan sering mengecek kesini."
"Baiklah. Little boy, ibumu pasti baik-baik saja. Tenanglah.." Aku mengusap punggung anak itu dan segera pergi menemui pasien-pasienku.
Tanpa kusadari bahwa itu bukanlah pertemuan terakhirku dengan James. Bahkan, kami akan menjadi dekat dalam puluhan tahun berikutnya. Memiliki pengalaman yang kurang lebih sama membuat kami dekat satu sama lain.
.
.
.
Terima kasih untuk kalian pembaca setiaku.
Please, don't give negative comments or you'll be blocked!
**Barusan author cuma spoiler James, jangan tny James itu siapa etc yaa.. Biarlah itu menjadi SURPRISE nantinya..
__ADS_1
Have a great week ahead, all.. ❤**