Suamiku, Dokter Adrian

Suamiku, Dokter Adrian
Kekasih Nathan Dawson


__ADS_3

LULA'S POV


"Apa yang terjadi, Nathan?" tanyaku.


Nathan terlihat cemas. Itu adalah hal yang baru. Ia tidak pernah cemas. Tidak pernah sekalipun. Ia selalu percaya diri. Tapi tidak kali ini.


Ia tetap diam ketika ia menatapku sekilas sambil membimbingku menuju pintu keluar belakang rumah sakit.


Satu tangannya mengangkat ponselnya ke telinga.


"Joe, dimana kau?" ia terdengar kesal.


Apa ia kesal padaku?


Siapa orang-orang tadi? Mereka terlihat seperti wartawan.


"Aku akan tiba di pintu belakang rumah sakit satu menit lagi." Kemudian ia menutup teleponnya.


.


.


.


Beberapa menit kemudian, kami sudah berada di dalam SUV Nathan. Joe menyetir. Nathan dan aku duduk bersebelahan di kursi penumpang.


Nathan tidak menatapku daritadi. Ia malah menutup gorden kecil di kaca jendelaku. Aku ragu orang-orang bisa melihat ke dalam mobil ini mengingat kaca mobil ini sangat gelap. Tapi aku berpikir bahwa lebih baik untuk tidak mengutarakan pendapatku.


Pikiranku kembali membawaku kepada Mama. Ia tidak bersalah, namun menjadi sakit parah seperti ini karenaku. Aku juga memikirkan tagihan rumah sakit, keadaan fisikku yang begitu mudah lelah akhir-akhir ini.


"Ke penthouse." ujar Nathan pada Joe tiba-tiba.


"Baik." jawab Joe hormat.


Ketika Nathan menatapku pada akhirnya, ia menghela nafas kasar. "Akan kuceritakan begitu kita sampai."


Aku mengangguk pelan, berusaha mengerti keadaan Nathan. Aku harap, ia tidak kesal padaku.


.


.


.


Kami tiba di sebuah penthouse mewah. Joe terus membawa mobil menuju lantai paling atas. Joe membukakan pintu untukku.


"Pulanglah." ujar Nathan pada Joe.


Joe mengangguk hormat.

__ADS_1


"Selamat malam, Pak Nathan, Bu Lula." kemudian ia pergi.


"Joe pulang naik apa?" tanyaku penasaran.


Nathan sekarang berjalan tiga langkah di depanku. Aku harus memacu langkahku agar tidak ketinggalan.


"Mobilnya sendiri. Ia juga parkir di lantai ini." jawab Nathan sekenanya.


Aku mengangguk dan terkesima pada kiri dan kananku. Penthouse ini benar-benar indah. Aku rasa hanya ada satu penthouse setiap lantai gedung ini. Berbeda dengan apartemen yang satu lantainya bisa terdapat belasan bahkan puluhan penghuni.


Nathan hendak menekan pin di sebuah pintu.


Ia mengejutkanku dengan menarik bahuku agar mendekat padanya.


"Ingat ini, untuk jaga-jaga. 5571." Ia menekan pin penthouse nya. Aku tidak mengerti untuk apa ia memberitahukanku itu, tapi aku tidak berkata apapun.


Ketika kami masuk ke dalam, aku tak berhenti mengedip-ngedipkan kedua mataku. Penthouse ini sangat luas. Lantai dan dindingnya terbuat dari marmer yang sangat indah. Semua lampunya menggunakan downlights (lampu yang masuk ke dalam langit-langit) berwarna kuning redup. Semua benda disini mencerminkan kekayaan, harga setiap benda pasti sangatlah mahal.


Nathan mengambil dua buah gelas dari lemari yang berada di atas kepalanya, kemudian mengambil air dari kulkas yang berfungsi juga sebagai dispenser itu.


"Jadi.. Kenapa.. para wartawan itu.." ucapku hati-hati begitu ia mempersilahkanku duduk di kursi tinggi di depan kitchen island. Kami berhadapan sekarang.


Ia meletakkan gelas berisi air di hadapanku, kemudian menghabiskan miliknya.


Ia menghela nafas sebelum menjawab. "Kamu tahu, kedua orang tuaku adalah publik figur. Aku tidak pernah sekalipun mengasosiasikan diri dengan mereka. Tapi tetap saja, mereka selalu mengikutiku. Keadaan orang tuaku saat ini.. sedang tidak baik."


Aku mengangguk pelan, berusaha mengerti keadaan Nathan. Aku memang tidak pernah familiar dengan orang-orang terkenal atau selebritis dan sebagainya.


DEG


Astaga.. Jadi.. Apa tadi mereka.. Berusaha mengambil foto kami? Bagaimana kalau.. semua orang tahu bahwa aku sedang.. mengandung? Bagaimana kalau Mamaku melihatnya dan mengira bahwa anak ini adalah anak Nathan? Bagaimana kalau Adrian melihatnya?


Aku dilanda rasa panik.


"Apa menurutmu.. mereka sudah.." aku memainkan jari-jariku cemas.


"Tenanglah. Aku rasa mereka tidak berhasil mengambil fotomu. Itu kenapa aku memelukmu tadi." Ia menggenggam tanganku, berusaha menenangkanku.


Aku menarik tanganku sehingga lepas dari genggamannya.


"Kenapa kau melakukannya?" tanyaku.


Nathan menatapku penuh tanda tanya.


"Kenapa kamu memelukku?"


Nathan membuka mulutnya, hendak menjawab, tapi ia seperti kehilangan kata-kata.


"Apakah sekarang semua orang akan tahu bahwa aku sedang mengandung?"

__ADS_1


Aku benar-benar kesal padanya sekarang.


"Lula.. Aku hanya.. ingin menutupi identitasmu. Semua terjadi begitu cepat dan.. aku tidak tahu apa lagi yang harus kulakukan." Nathan tampak frustrasi.


"Kamu tahu kan, aku tidak ingin ada yang tahu bahwa.." Aku menjambak pelan rambutku kesal.


"Aku tahu. Maafkan aku." ujarnya sungguh-sungguh.


.


.


.


Aku terbangun dari tidurku, merasa sangat lelah. Perutku yang sudah semakin besar semakin menyulitkanku untuk tidur. Ke kiri salah, ke kanan salah. Aku menatap sekeliling, menyadari bahwa aku tidak berada di kamarku. Aku mengingat kejadian semalam. Penthouse Nathan. Tapi seingatku.. aku tertidur di sofa di ruang tamu? Pasti Nathan yang membawaku kesini. Aku menghela nafas. Nathan benar-benar pria yang baik. Aku tidak sepantasnya marah padanya atas kejadian semalam. Ia juga tidak ingin semua ini terjadi.


Aku harus minta maaf padanya.


Semalam, kami belum benar-benar berbaikan. Aku rasa, aku ketiduran saat kami masih berbincang.


Aku bangkit dari kasur dan berjalan menuju ruang tamu.


Seorang perempuan paruh baya membelakangiku. Ia tampak terpaku pada televisi. Saat itulah aku mendengarnya..


"Nathan Dawson seorang pebisnis sukses sekaligus putra dari pasangan artis terkenal, sedang menanti kelahiran buah hatinya. Kekasihnya, yang saat ini masih menjadi misteri terlihat sedang mengandung. Pertanyaannya adalah.. kapan pernikahan mereka digelar? Apakah mereka sudah menikah? Atau.."


"Ya Tuhanku!" Perempuan paruh baya yang sedang menonton televisi itu mematikan televisi ketika melihatku.


Aku tidak mempedulikan perempuan ini. Otakku terus-terusan mengulang kata-kata pembawa acara itu.


"Nona.. Maaf, saya tidak bermaksud.. Tadi saya hanya melihat-lihat channel televisi dan.." perempuan paruh baya itu tidak berhenti bicara. Aku tahu dari gaya bicaranya yang sangat sopan, bahwa ia pasti pengurus penthouse ini. Tapi aku tidak bergeming. Aku tidak dapat melupakan kata-kata pembawa acara itu.


Aku mengandung.


Aku, kekasih Nathan Dawson yang sukses dan terkenal itu.


Aku, belum menikah.


Dan fakta bahwa seluruh dunia mengetahui hal itu sekarang.


Saat yang bersamaan itu pula, seseorang masuk ke penthouse. Nathan. Ia mengenakan pakaian berolahraga lengkap, sepertinya ia baru selesai lari pagi.


"Ada apa?" Nathan yang peka langsung mengetahui ada sesuatu yang tidak beres.


Ia mengambil remote dan menyalakan televisi.


Mereka masih membahas hal yang sama.


Nathan terbelalak, ia terlihat syok. Tapi sedetik kemudian, ketika berbalik menghadapku, ia berusaha menghilangkan rasa keterkejutannya.

__ADS_1


"Semua akan baik-baik saja."


__ADS_2