Suamiku, Dokter Adrian

Suamiku, Dokter Adrian
Nathan


__ADS_3

LULA POV


"Pak Nathan?" ujarku.


Nissa mengangguk. "Iya, dan dia juga lihat ke arah sini. Kita mau nyamperin dia atau..?"


"Haha ngapain, Nis? Disini aja. Ini kan bukan jam kantor. Ribet lagi kalo sampe ngobrol sama atasan di tempat kaya gini." ujarku.


Nissa mengangguk-angguk setuju.


Dion dan Hesti sudah menari-nari di atas meja, mengucurkan Henessy dari botol langsung ke mulut mereka.


"Nis, gue ke toilet dulu ya.." ujarku pada Nissa. Nisa mengangguk.


Aku berjalan menuju toilet sambil memegang apa saja yang bisa kujadikan pegangan. Kepalaku pening. Mungkin dunia malam sudah bukan untukku lagi. Semasa kuliah, memang aku sering ke tempat seperti ini. Sejak bertemu Adrian, hidupku jadi jauh lebih teratur. Ia tidak suka ke tempat seperti ini. Aku berhenti merokok dan minum karenanya.


Seseorang mengangkat sikuku, menopangku. Aku telat menyadari hal itu. Aku menoleh. Nathan. Wajahnya yang tampan diterpa lampu yang berputar-putar di atas kami. Ia mengenakan kemeja biru muda dan celana panjang hitam. Aku bisa menghirup aroma parfum yang ia kenakan. Wangi musk yang sangat maskulin.


Ia tersenyum padaku.


"Pak.. Nathan.."


"Emang kita lagi di kantor, ya?" bisiknya padaku. Aku meremang. Tubuhnya sangat dekat denganku.


Aku menggeleng.


Ia tersenyum dan menarik sikuku lembut, membimbingku berjalan. Tangannya yang lain memeluk lengan atasku, membantuku agar tetap dapat berdiri dan berjalan. Apakah aku semabuk itu?


Ketika kami sudah sampai di pintu toilet, ia melepaskanku.


"Thank you." ucapku.


Setelah selesai, aku merasa alkohol yang tadinya berada di dalam tubuhku sudah keluar separuhnya. Aku merasa sedikit lebih sadar. Aku membasuh wajahku dengan air. Aku menatap jam tanganku. Jam sebelas malam. Aku harus pulang.


Begitu keluar toilet, betapa terkejutnya aku. Nathan masih disana. Ia mengulurkan tangannya ke arahku, takut aku berjalan sempoyongan lagi. Ia terlihat sangat keren.


"Maaf," ujarku sambil meraih uluran tangannya.


Ia terkekeh.


"Happy birthday.." bisiknya padaku. Tubuhku meremang. Lagi.


Aku tersenyum. Pasti ia mendengar Dion tadi waktu ia sedang beraksi di panggung.


"Terima kasih." ujarku.


"Kapan mau pulang?" tanyanya sambil menurunkan kepalanya agar ia bisa melihat wajahku. Entah kenapa hal-hal kecil seperti ini yang tidak pernah dilakukan Adrian.


"Sebentar lagi."


"I'll take you home."


"Ga usah.." ujarku sambil melepaskan tangan kami. Kami bahkan belum berjalan kembali ke table, tapi sudah bergandengan tangan daritadi.


"Kenapa? Saya ga akan membiarkan kamu nyetir dalam kondisi seperti ini."


Aku menahan senyum. Apakah sikapnya selalu semanis ini?


"Tapi.. Nissa.. saya harus anter dia. Mungkin Hesti dan Dion juga. Mereka drunk parah."

__ADS_1


"Supir saya akan antar mereka, dan mobil mereka."


"Mereka cuma bawa satu mobil, sih."


"That's even better."


"Saya.. gatau harus bilang apa lagi."


Nathan menatap kedua mataku, seperti mencari-cari sesuatu disana. Ia menarik tanganku menuntut. Tanpa aba-aba, ia mencium bibirku. Lidahnya menelusuri bibirku yang tertutup. Ia menghisap bibirku beberapa kali. Aku dapat merasakan hembusan nafasnya yang hangat. Aku baru saja hendak membalas ciumannya ketika aku teringat.. pria di depanku ini bukan Adrian.


Aku tersadar, dan mendorongnya pelan.


Ia juga tampak tersadar.


"Maaf," ujarnya.


Aku menggeleng. "It's okay." ujarku. Aku tidak ingin ia merasa bersalah.


"Saya antar kamu ke table?" ujarnya. Ia tidak lagi menatapku.


Aku mengangguk.


Hesti dan Dion yang sedang menari di atas meja tertegun melihatku. Nissa juga. Well, mungkin bukan karena aku. Karena Nathan yang berada di sampingku lebih tepatnya. Nathan tidak melepas tangannya dari pundakku sampai kami tiba di table ku. Sepertinya ia berpikir bahwa aku mabuk.


Hesti dan Dion buru-buru turun dari meja ketika melihat Nathan.


"Pulang yuk?" ujarku setengah berteriak. Musik begitu kencang membuatku harus seperti tarzan.


Nissa, Hesti, dan Dion mengangguk-angguk. Hesti mabuk berat. Nissa dan Dion membantunya berjalan. Ketika kami sampai di kasir, aku hendak membayar, tapi Nathan mencegah dengan menyentuh punggung tanganku. Nathan memberikan kode pada asistennya di belakang agar membayar bill kami.


"Tapi.."


"It's okay.. Anggap saja saya yang traktir." ujarnya sambil terus membimbingku menuju parkiran.


"Emm.. Iya, Pak." ujar Dion setengah sadar.


Aku, Nissa, dan Dion membantu Hesti masuk ke mobil Dion. Setelah itu, Nissa dan Dion pun masuk ke mobil tersebut. Begitu pula supir Nathan yang masuk ke bangku kemudi.


Nissa membuka kaca jendela. "Thank you, Pak! See you, La.."


Aku mengangguk. "Take care, Nis.." ucapku.


Dion dan Hesti yang melihat ke arahku sesaat sebelum kaca jendela ditutup, tampak memelototiku. Mereka seolah bertanya apa yang sedang terjadi antara aku dan Pak Nathan. Tak lama kemudian, mobil mereka melesat pergi.


"Sekarang, dimana mobil kamu? Atau saya bisa pinjem mobil asisten sa.." belum sempat ia menyelesaikan pertanyaannya, aku sudah memotong.


"Itu.." ujarku sambil menunjuk Mercedes Benz ku yang terparkir tak jauh dari situ.


"Oke.. Kunci?" pintanya.


"Emm.. kamu yakin? Aku masih bisa nyetir kok.." ujarku berusaha meyakinkannya.


"No, I won't let you. Kasih aku kuncinya." tuntutnya.


Aku merogoh kunci mobilku dari dalam tas, lalu memberikannya kepadanya.


Ia membukakan pintu untukku. Aku tak kuasa menahan senyum. Ada apa ini sebenarnya? Mengapa ia begitu baik padaku?


Nathan yang masuk ke mobil mengagetkanku. Ia mengatur posisi duduknya. Ia bersandar dan menghela nafas.

__ADS_1


"Kenapa?" tanyaku.


"Ini pertama kalinya saya naik mobil orang lain." ujarnya sambil tersenyum, kemudian menatapku.


"Oh ya?" tanyaku penasaran. Ia mengangguk dan menyalakan mesin.


Ia memakai seat belt. Aku mengikutinya.


"Kalau nyetir? Kapan terakhir kali kamu nyetir sendiri?" tanyaku.


Ia tampak mengingat-ingat.


"Mungkin.. lima tahun lalu?"


Aku tertawa. Ia menatapku heran. Aku tersadar dan segera menutup mulutku.


"Apa yang lucu?" tanyanya serius.


"Engga.. Kamu.. Lucu aja.." ujarku kehabisan nafas karena tertawa.


Seulas senyum terbit dari bibir Nathan.


"Kamu yakin mau nyetir?" tanyaku lagi.


Ia mengangguk.


"Aku bisa kok.."


"Ga, ga boleh." ujarnya serius.


DEG


Apa itu tadi?


Kenapa ia tampak.. entahlah. Aku mencari-cari kata yang tepat. Ah! Perhatian. Kenapa ia tampak perhatian padaku?


Ia melajukan mobilku perlahan.


"Kamu tau jalan?" tanyaku.


"Tau. Aku masih inget jalan ke rumah kamu." ujarnya.


"Engga, maksud aku. Emang kamu masih tau jalan ya lima tahun ga nyetir?" Lalu aku tertawa lagi.


Kali ini ia tersenyum mendengar candaanku.


"Kok kamu ngeledekin aku sih? Aku nih CEO kamu lho.." ujarnya sambil tetap menatap jalan.


Aku akhirnya berhenti tertawa. "Abis.. kamu lucu sih kemana-mana dianter.."


"Kalo kamu? Hari ini ga dijemput kaya kemarin itu?" tanyanya sambil sibuk menyetir.


Aku menggeleng. Sesaat aku teringat Adrian. Apa yang selanjutnya akan menjadi bahan pertengkaran kami? Kapan? Malam ini kah?


Nathan mengusapkan jari-jarinya lembut di lengan atasku, membuyarkan lamunanku.


"Serius banget.." ujarnya.


Aku tersenyum kecil.

__ADS_1


"Maaf ya.. Aku ungkit-ungkit itu." ujarnya.


Aku menggeleng. "Gapapa.."


__ADS_2