
Adrian duduk di ruang tamu. Ia menonton televisi dalam keheningan, hal yang tak pernah ia lakukan. Sedangkan aku berniat untuk mengosongkan tempat sampah - tempat sampah seisi rumah. Aku sudah mengumpulkan berplastik-plastik sampah di dapur ketika aku melihatnya.. Di sudut dapur, ada puluhan botol minuman keras. Semuanya kosong. Sepertinya botol-botol itu sengaja disembunyikan. Secara insting, aku membuka lemari atas dapur. Ada beberapa botol minuman lainnya yang belum dibuka, ada yang tinggal setengah.
Aku kembali berjalan ke ruang tamu, hendak bertanya pada Adrian mengenai botol-botol minuman itu. Tapi, ketika melihat wajahnya yang damai fokus pada televisi, aku mengurungkan niatku. Biarlah jika minuman keras pernah menjadi pelariannya, asal ia mau berubah sekarang.
Setelah membersihkan sampah dan botol-botol bekas minuman, aku hendak merapikan kamar kami. Aku berjalan ke lantai dua, Adrian masih terpaku pada layar televisi. Aku membuka kamar yang dulunya kamar tidur kami. Kelihatan sekali bahwa kamar ini sudah lama tak ditiduri. Apa selama ini Adrian tidur di ruang kerja? Atau malah ia tidak tidur sama sekali? Aku merapikan kamar dengan cepat.
Aku mengambil pakaian kotor yang berserakan di lantai kamar dan meletakannya di keranjang. Aku memeluk keranjang itu, berniat membawanya ke bawah untuk dicuci di mesin cuci ketika aku melihat laci nakas sebelah ranjang sedikit terbuka. Aku membukanya. Terdapat beberapa botol berisi obat penenang dan anti depresan. Hatiku seperti ditusuk ribuan jarum. Entah kenapa aku merasa iba pada Adrian. Apa ia berusaha menutupi semua ini dariku? Apa ia akan berpura-pura baik-baik saja?
Aku kembali ke ruang tamu setelah menyelesaikan tugasku. Aku berdiri di belakangnya yang masih duduk di sofa. Ia menoleh padaku. Dari matanya, aku tahu bahwa ia hanya berusaha bersikap tegar. Ia menggantungkan tangan kanannya ke arahku, meminta tanganku seolah meminta kekuatan dariku. Aku memberikannya. Ia menarik tanganku dan menciumnya. Perasaan hangat mengaliri seluruh tubuhku. Aku mengelus kepalanya dengan tanganku yang lain.
Matanya masih terpaku pada televisi, tapi aku tahu ia tidak benar-benar menonton. Aku merendahkan kepalaku, sehingga sejajar dengannya. Sekarang aku seperti memeluknya dari belakang. Ia duduk di sofa, sedangkan aku berdiri. Tubuh kami terhalang sandaran sofa.
Aku berbisik padanya. "Jangan minum lagi.."
Aku bisa merasakan ia mengangguk.
"Jangan minum obat apa-apa lagi.."
Ia mengangguk lagi, sambil mengusap-usap tanganku yang tersampir di pundaknya.
Aku bangkit dari posisi itu, duduk di sebelahnya.
Aku memutar tubuhku menghadap ke arahnya. Ia melakukan hal yang sama ke arahku. Matanya sendu. Aku bisa merasakan kesedihan di hatinya.
__ADS_1
"Janji?" Aku mengarahkan jari kelingkingku ke arahnya.
Ia mengangguk seperti anak kecil. "Janji." Ia menautkan kelingking kami.
Aku merasakan kelegaan yang luar biasa di hatiku. Ternyata Adrian mau menurutiku.
"Sini.." Aku menyandarkan punggungku ke sandaran sofa panjang ini. Aku mengisyaratkan agar ia merebahkan kepalanya di kedua pahaku. Ia melakukan perintahku. Sifatnya benar-benar.. berbeda dari yang kuingat. Dulu, aku kesal padanya karena ia tampak seperti orang yang tidak tahu bagaimana caranya mencintai, dan ternyata memang itulah keadaannya. Sekarang, ia terlihat.. begitu tak berdaya. Jujur, sesungguhnya aku pun tidak tahu apa yang menyebabkan ia seperti ini.
Aku mengelus rambutnya. Ia menatap langit-langit, pandangannya kosong. Hatiku hancur melihatnya. Entah apa yang harus kulakukan agar ia kembali seperti dulu, bekerja dan menjalani impiannya. Aku tahu jika semakin didorong, mungkin ia malah emosi dan akhirnya kembali depresi. Jadi aku memutuskan untuk tidak memaksakannya. Sebaiknya aku mencari topik obrolan yang ringan-ringan saja.
"Besok mau makan apa?" ujarku sambil menyusuri wajahnya dengan jari-jariku.
"Hmm.. terserah." jawabnya singkat. Ia memutar tubuhnya menghadapku. Sekarang wajahnya tepat berada di depan perutku.
Seulas senyum terbit di bibirnya. Aku tahu itu kesukaannya. Ia mengangguk pelan.
"Oke." ujarku singkat. "Gimana disertasi kamu?"
Ia menggeleng pelan. "Nanti aku lanjutin." ujarnya.
Ia melingkarkan kedua tangannya di pinggangku. Tubuhku meremang. Apa mungkin dia.. menginginkan hal itu?
"Maaf.." ujarnya pelan.Ternyata dugaanku salah.
__ADS_1
"Untuk apa?" tanyaku.
"Aku membuatmu.. kehilangan bayi kita."
Aku sudah tidak mengenal pria ini. Ini pertama kalinya ia menyebut bayi kita.
"Ssshh.. Bukan salahmu. Dia sudah tenang di surga." Aku menyisir rambutnya dengan jari.
"Aku tidak pantas.." ujarnya pelan sambil menyembunyikan wajahnya di perutku.
"Tidak pantas untuk?" tanyaku, benar-benar tidak mengerti.
"Menjadi seorang ayah. Aku hanya seorang anak pelacur yang bahkan membunuh anaknya sendiri."
Ia membenamkan wajahnya di perutku dan menangis, sejadi-jadinya. Aku memeluknya erat, tidak ingin ia merasa seperti ini.
Selama masa pacaran dan pernikahan kami, tidak pernah sekalipun kamu membuka masa lalumu padaku. Kenapa sekarang? Kenapa baru sekarang setelah kusakiti perasaanmu dengan perceraian?
"Sayang.. Adrian.. Dengar aku? Kamu.. Tidak bisa memilih dari orang tua mana kamu dilahirkan. Tapi lihat, Tuhan memberikan kamu Ibu dan Bapak sehingga kamu bisa menjadi manusia yang lebih baik. Itu saja yang perlu kamu pedulikan.."
Aku mengusap air matanya dengan ibu jariku.
"Dan mengenai anak kita.. Sama sekali bukan salah kamu.. Semua ini sudah jalannya.." ujarku lagi.
__ADS_1
Aku tahu. Seberapa menenangkannya kata-kata ku tidak akan pernah mampu membuatnya lupa akan lukanya, akan kesakitannya. Sama sepertiku beberapa bulan yang lalu, ingin mati saja rasanya. Tapi kuharap, ia tahu bahwa ia tidak sendiri. Aku berharap dari dalam lubuk hatiku, suatu saat hatinya akan pulih.