Suamiku, Dokter Adrian

Suamiku, Dokter Adrian
Menata Hidup Baru


__ADS_3

Cahaya matahari pagi samar-samar menembus tirai jendela dan menyilaukan mataku.


Oh, tidak. Dimana aku?


Aku mengingat-ingat kejadian kemarin sambil melihat sekeliling.


Apartemen Nathan.


Aku bergegas bangkit. Aku tidak boleh disini. Aku harus pulang. Aku.. setidaknya aku harus menghibur Mama, tidak peduli apakah ia suka atau tidak dengan kehadiranku.


Aku berniat mengendap-endap, tapi.. Nathan sudah ada di dapur. Ia terlihat seperti habis mandi, rapi.


"Kamu mau pergi?" tanyanya.


"Ya, sepertinya.. Saya harus pulang. Ibu saya.. sendirian." ujarku ragu.


"Baiklah. Tapi, makan dulu." ujarnya. Aku mengangguk karena akan sia-sia saja berdebat dengannya.


"Ehm... Boleh bertanya sesuatu?" tanyaku ragu. Ia meletakkan sepiring sandwich di hadapanku, dan sepiring juga untuknya.


"Ya, kenapa?" ujarnya. Aku tak sengaja bertatapan mata dengannya. Tatapannya begitu.. ramah, penuh kebaikan.


"Apa yang terjadi semalam? Saya tidak ingat apapun." ujarku.


"Ehm, entahlah. Kita minum wine. Lalu, kamu sepertinya mengantuk. Saya mengantarmu ke kamar, dan.."


"Dan?"


"Kita ngga ngapa-ngapain, La. Kalau itu yang kamu pikirkan. Saya tidur di kamar lain. I would never ever do that to anyone." ujarnya lagi. *Aku tidak akan pernah melakukan hal itu pada siapapun


Aku menghela nafas. Kemudian, aku merasa bersalah. Saat melihat dirinya, harusnya aku tahu laki-laki seperti apa dia.


"Kamu sudah gapapa?" tanyanya.


Aku mengangguk. "Terima kasih." ujarku. Sepertinya ratusan terima kasih pun tidak akan cukup untuk mengungkapkan perasaanku atas kebaikan Nathan. Ia yang anehnya selalu ada di saat-saat aku paling membutuhkan bantuan.


.


.


.


Setelah makan, ia memaksa untuk mengantarku ke rumah. Aku tak bisa menolak. Sepanjang perjalanan, kami hanya diam. Aku hanyut dalam kepedihan. Luka di hatiku yang semakin besar karena kehilangan Papa. Terlebih lagi, pertemuan terakhir kami yang begitu menyakitkan. Hal itu membuatku sadar bahwa aku harus menjalin hubungan baik dengan Mama. Aku harus menjaga Mama. Kami berdua harus kuat.


Aku tersadar dari lamunanku. Nathan sudah memberhentikan mobilnya daritadi. Aku semakin merasa tidak enak padanya.


"Maaf," ucapku cepat. Saat ia melihatku hendak buru-buru turun, ia menyentuh punggung tanganku sekilas dengan tangannya.

__ADS_1


"Tidak perlu minta maaf terus.."


Aku menatap matanya.


"Boleh saya minta sesuatu sama kamu?" tanyanya.


"Apa?" aku balik bertanya.


"Tolong, kalau kamu ada kesulitan apapun.. atau perlu bantuan saya.. Saya ada, kok. Telepon saya kapanpun, saya pasti datang." ujarnya meyakinkan.


Aku mengangguk ragu. "Teri.."


"Terima kasih lagi?" Ia menaikkan ujung bibirnya. "Udah sana turun.." ujarnya. Aku tersenyum dibuatnya. Kedua matanya melembut ketika melihat aku tersenyum.


.


.


.


Aku mengetuk pintu kamar Mama, kemudian memberanikan diri untuk masuk. Mama yang sedang duduk di kasur menoleh ke arahku.


"Lula.. Kamu darimana?" suaranya yang teduh menenangkanku.


Ma, are you okay?


Aku berusaha menahan tangis. Aku harus kuat. Demi Mama. Aku harus menghibur Mama. Pasti ini semua lebih berat bagi dirinya.


Mama terdiam. Aku tidak tahu apa yang ia pikirkan. Mataku terpaku pada nampan yang berisi makanan di atas nakas. Mama belum makan.


"Ma, maafkan aku.." Aku berlutut di hadapan Mama. Tangisku pecah.


Mama tampak terkejut. "Kenapa, La?" Ia memaksaku berdiri dengan kedua tangannya. Tapi, ia sedang tidak dalam kondisi prima sekarang. Aku tetap berlutut dan menundukkan wajah, malu jika ia melihatku menangis.


"La.. Kamu kenapa?" Suara Mama berubah keras.


"Maaf, Ma.. Karena aku.. Papa.." ujarku sesegukan.


"La, apa yang terjadi pada Papa itu sudah kehendak Tuhan. Bukan salah siapa-siapa. Mama justru merasa bersalah pada Papa, karena belum menjadi istri yang sempurna untuk dia. Mama juga merasa bersalah sama kamu, karena.. Mama sama sekali bukan ibu yang sempurna." Mama menitikkan air mata. Aku tak percaya pada apa yang kudengar. Jadi.. Mama tidak membenciku? Ia tidak menyalahkanku sama sekali.


"Ma, tolong.. Stop menyalahkan diri Mama. Mama adalah istri dan ibu yang terbaik yang Papa dan Lula punya. Kita berdua harus kuat ya, Ma.." ujarku.


Mama mengangguk pelan.


Oh Tuhan.. Inikah rasanya? Aku benar-benar tak berdaya melihat Mama seperti ini Tuhan..


"Ma, makan ya? Aku suapin.."

__ADS_1


Mama menggeleng. Pupus sudah harapanku agar Mama kembali seperti dulu. Tapi sedetik kemudian, Tuhan seperti menjawab doaku. "Kita makan di ruang makan aja, yuk.." ajak Mama. Aku tersenyum mendengarnya.


"Yuk, Ma.."


.


.


.


Aku menghabiskan hari itu dengan memperbaharui resume dan CV ku. Aku berniat untuk kembali bekerja. Aku tidak dapat mengandalkan warisan dari Papa. Aku yang harus menjaga Mama sekarang. Apalagi karena Papa sempat dirawat berminggu-minggu di rumah sakit, kondisi keuangan keluargaku menjadi terganggu.


Aku mencari lowongan pekerjaan menggunakan laptop. Aku melamar ke beberapa perusahaan. Aku tahu Nathan pasti dengan senang hati mau menerimaku bekerja kembali. Tapi, aku benar-benar tidak enak padanya. Selain itu, aku juga ingin berdiri di atas kakiku sendiri, tidak menyusahkan siapapun.


.


.


.


Enam bulan kemudian..


Mama sudah lebih baik sekarang. Aku tidak bisa bilang bahwa ia kembali seperti dulu, tapi.. sekarang ia sudah bisa tersenyum, tertawa. Aku juga sudah diterima di sebuah bank sebagai wakil manager. Memang, agak sedikit turun derajat dari posisiku dulu di perusahaan Nathan. Tapi, sejujurnya aku senang aku diterima di perusahaan baru ini karena aku benar-benar membutuhkan pekerjaan. Selain karena uang, aku juga perlu tetap sibuk agar bisa melupakan kesedihanku.


Malam ini, sama seperti malam-malam biasanya, aku lembur. Sekarang sudah pukul tujuh malam dan aku masih sibuk dengan laptop ku. Aku cukup senang, karena aku jadi sedikit lupa akan masalahku.


"Lula? Kamu belum pulang?" tanya atasanku, Pak Richard. Ia baru saja keluar dari ruangannya dan berhenti di depan ruanganku saat ia menyadari bahwa aku masih disini. Kami sama-sama terkejut, karena biasanya ia selalu pulang awal sehingga tak pernah bertemu pada jam seperti sekarang ini.


"Ah, iya, Pak. Sebentar lagi mungkin saya sudah selesai. Bapak silahkan duluan." ujarku sopan.


Pak Richard adalah seorang pria berumur empat puluhan. Ia bertubuh tinggi besar dan berkacamata. Ia selalu sopan dan baik kepadaku. Aku tidak dekat dengannya, ia adalah orang yang cukup irit dalam berkata-kata.


"Baik, saya duluan." ujarnya kemudian ia pergi menghilang di balik lift.


Tak lama kemudian, ponselku berdering.


Mama


"Halo, Ma?" jawabku.


"Lula.. Kamu dimana? Sudah di jalan pulang?" tanya Mama.


"Sebentar lagi, Ma.. Ada apa?"


"Oh ini.. Apa kamu lewat supermarket? Mama mau nitip sesuatu, nak.."


Aku menghela nafas. Tadinya aku membayangkan ingin cepat-cepat pulang dan berendam air panas.

__ADS_1


"Baik, Ma.. Mama whatsapp aja yah mau nitip apa, nanti aku belikan." jawabku.


Tak sampai lima belas menit kemudian, aku sudah bersiap-siap pulang, eh maksudnya mampir dulu ke supermarket.


__ADS_2