
LULA POV
Kami menghabiskan malam itu berempat. Aku, Adrian, Mama, dan Papa. Kami makan malam sambil berbincang. Aku sudah sangat kenyang sebenarnya, mengingat ini makan malam keduaku hari ini. Tak sengaja mataku dan mata Adrian bertemu. Kami melemparkan pandangan ke arah lain, seolah muak satu sama lain. Tapi di depan orangtuaku, kami tersenyum. Bagaimana bisa ia memperlakukanku begini? Apa citra menantu yang baik itu terlalu penting baginya?
"Besok Ibu sama Bapak dateng kan? Kalian berdua yang jemput di bandara?" tanya Mama.
Aku menoleh ke Adrian.
"Iya, Ma." jawab Adrian.
Selesai makan, Mama dan Papa pamit pulang. Aku dan Adrian mengantar mereka ke depan pintu.
"Baik-baik ya kalian. Lula, nurut ya kata Adrian. Adrian itu sibuk, jadi kamu yang harus fleksibel. Jadi istri itu harus perhatian sama suami."
Lagi-lagi belain Adrian.
"Sebenernya anak Mama itu aku apa Adrian sih?" tanya Lula. Mama dan Papa hanya tertawa. Mama dan Papa segera masuk ke mobil mereka.
Mereka pun meninggalkan kami. Aku dan Adrian. Keheningan menyeruak. Aku masuk ke dalam rumah, disusul Adrian.
Aku masuk ke kamar untuk mengambil bantal dan selimut lalu keluar lagi. Di ruang tamu, Adrian sedang duduk di sofa sambil mengetik di laptopnya. Seperti biasa. Seolah-olah tak ada yang terjadi.
"Mau kemana kamu?" tanya Adrian tanpa melihat ke arahku.
"Kamar tamu." ujarku singkat.
Adrian berhenti mengetik. Ia menatapku. Aku masih berdiri mematung, tinggal dua langkah lagi menuju kamar tamu.
"Belum cukup kamu tadi siang ninggalin aku demi laki-laki tadi?" Ia bangkit berdiri, mendekatiku.
"Laki-laki apa sih? Nathan maksud kamu? Dia tuh CEO aku!"
"Oh itu yang namanya Nathan.." ujar Adrian seolah meremehkan. Lama-lama aku muak dengannya. Aku membuka kamar tamu dan meletakkan bantal dan selimut di atas kasur. Adrian mengikutiku masuk kamar.
"Tega ya kamu.. Jemput aku cuma demi Mama sama Papa? Biar mereka ga tau kalo kita lagi berantem, iya?" tanyaku dengan suara keras, berusaha mencegah air mataku jatuh.
__ADS_1
"Jadi.. Kamu lebih suka mereka tau kalau kamu lagi selingkuh di belakang aku, gitu??" Suara Adrian juga tak kalah meninggi.
"Aku? Selingkuh?? Emang siapa yang sibuk terus? Yang ga ada waktu buat pasangannya.. Aku bosen diginiin terus!"
"Terus kamu pikir aku selingkuh gitu? Emang kamu ga liat kerjaan aku kaya apa??"
"Iya! Itulah kamu cuma bisa kerja kerja kerja! Sama S3 aja yang dipikirin!"
"Emang aku kerja di bank kaya kamu apa! Yang waktunya bebas.. Yang jam lima sore udah free!"
"Terus.. Salah aku? Aku yang mau kamu jadi dokter?? Demi Tuhan aku nyesel menikah sama dokter!" Air mata sudah memenuhi pelupuk mataku.
"Apa kata kamu?" Adrian mendekat. Ia tampak sangat marah. Matanya dipenuhi kabut emosi.
Aku takut. Tanpa sadar air mata sudah jatuh bercucuran di kedua pipiku.
"Begitu kamu sebut kata itu, aku akan mengabulkannya." Ujar Adrian pelan. Ia menutup mata, menarik nafas dalam-dalam sebelum akhirnya pergi keluar kamar. Aku yang sesegukan menutup dan mengunci pintu. Aku tau kata apa yang Adrian maksud. Cerai.
Aku jatuh ke lantai, memeluk kedua lututku. Cobaan apa ini ya Tuhan? Kami menikah dengan dasar cinta. Sebegitu cepatkah cinta ini berganti menjadi benci? Kenapa ia seolah begitu membenciku? Aku benar-benar merasa sendirian di dalam pernikahan kami.
Kami tidur di kamar terpisah malam itu. Aku di kamar tamu. Adrian di kamar tidur kami. Entahlah. Aku tidak tahu apa dia tidur di kamar kami atau tidak tidur sama sekali karena disertasinya.
Keesokan paginya, alarmku berbunyi pukul enam. Aku harus bergegas menuju bandara untuk menjemput orang tua Adrian. Aku mandi dan berpakaian. Hari ini aku memutuskan untuk mengenakan jumpsuit warna hijau tua.
Tok tok tok.. Pintu kamarku diketuk.
Aku benar-benar malas untuk bertengkar lagi.
Aku membuka pintu kamarku, tanpa menatap matanya.
Ia masih memakai piyama. Sepertinya ia tidak tidur. Kantung matanya tampak gelap. Melihatnya seperti itu membuat hatiku sakit.
"Kamu aja yang jemput Ibu." ucapnya. Ia lalu berjalan pergi menuju kamar kami.
Aku pikir kami akan menjemputnya berdua. Tapi aku salah. Aku juga merasa lega karena di satu sisi aku tidak perlu pergi ke bandara berdua dengan Adrian. Aku juga tahu betapa letih ia, dan seberapapun aku sedang bertengkar dengannya, aku merasa lega saat ia bisa istirahat walau sebentar saja.
__ADS_1
Aku masuk lagi ke dalam kamarku. Begitu melewati kaca, aku sedikit terkejut. Mataku terlihat sembab. Aku memutuskan untuk sedikit berdandan dan memakai kacamata hitam.
Aku mengemudikan Mercedes Benz ku menuju bandara. Aku melihat jam di mobil, hampir jam delapan. Pasti sebentar lagi Ibu dan Bapak tiba. Aku memutuskan untuk turun dari mobil dan tak lama kemudian..
"Lula!" teriak suara yang familier itu. Ibu. Ia terlihat cantik dan berkelas, meskipun usianya sudah hampir kepala enam. Di belakangnya, Bapak membawa sebuah koper besar. Ia juga terlihat gagah dan tampan.
"Ibu! Bapak!" Aku menghambur ke pelukan mereka. Mereka merupakan mertua yang baik. Meskipun aku bukan anak kandung mereka. Meskipun Adrian juga bukan anak kandung mereka. Mereka selalu menganggap kami sebagai anak mereka.
Di belakangku, dua orang bodyguard berpakaian serba hitam mengambil koper dari tangan Bapak. Mereka memasukkan koper itu ke sebuah mobil Alphard hitam.
"Eh.. Bapak sama Ibu dijemput?" tanyaku.
Ibu menggeleng. "Itu.. mereka mau jemput koper. Kalau Ibu sih ikut Lula aja.." ujarnya. Ibu membetulkan syal yang tersampir di lehernya. Ibu dan Bapak memang memiliki berbagai properti di seluruh dunia. Di Jakarta saja ada tiga. Jika keluargaku termasuk keluarga berada, keluarga Adrian termasuk kolongmerat.
"Ibu sama Bapak capek? Mau Lula anter pulang?" tanyaku.
"Boleh. Kita ke rumah Ibu, ya." ujar Ibu.
"Adrian mana?" tanya Bapak.
"Ga ikut, Pak. Dia belum tidur semalaman." ujarku.
Ibu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. "Ya udah, La. Kamu ikut mobil kita aja. Biar pak supir bawa mobil kamu." Aku mengangguk-angguk.
"Maaf, ya, La.. Ibu lupa bilang supir kalau kamu mau jemput."
"Gapapa, Bu."
Kami masuk ke mobil. Aku duduk di kursi depan bersama supir, Ibu dan Bapak di belakang. Seorang lainnya membawa mobilku.
Jika dibandingkan dengan kedua orang tuaku, orang tua Adrian lebih formal. Mereka tahu batasan dan cenderung menjaga jarak dengan kami. Pak Alexander, ayah mertuaku adalah orang yang sangat disegani di dunia bisnis. Ia dingin dan hampir tidak pernah menunjukkan sisi emosionalnya. Mungkin karena itu Adrian juga berperilaku sama. Apalagi Ibunya, juga tidak seterbuka Mamaku yang komunikatif.
Tak lama kemudian kami sampai di rumah Ibu. Rumah besar nan asri yang terletak di pusat Jakarta Selatan.
"Kangen banget sama rumah ini. Yuk, Lula, masuk." ajak Ibu. Aku hanya bisa mengekorinya. Beberapa pelayan menyambut kedatangan kami. Aku dipersilahkan duduk. Bapak izin untuk istirahat ke kamar. Sedangkan Ibu duduk di sebelahku.
__ADS_1
Dengan suara tegasnya, ia bertanya, "Jadi, Lula. Ada masalah apa?"