Suamiku, Dokter Adrian

Suamiku, Dokter Adrian
Adrian II


__ADS_3

"Bu.." tegurku pada Ibu. Ibu balik menatapku. Aku hanya tidak ingin ia memarahi Lula.


Mendengar kata pisah membuat hatiku sakit. Aku bertanya-tanya apa Lula merasakan hal yang sama.


Lula hanya menunduk. Aku yang tadinya duduk berjauhan dari Lula bangkit berdiri dan duduk di sebelahnya. Tubuh kami yang berlapis pakaian saling bersentuhan.


"Maaf, Bu. Semua salah a.." ujar Lula tiba-tiba.


"Salah saya. Saya yang salah." ujarku memotong ucapan Lula.


Lula menoleh ke arahku dengan mata terbelalak. Aku membalas tatapannya santai. Apa kau pikir aku akan membiarkanmu mengaku bersalah di depan Ibu? Apa kau pikir aku sekejam itu?


Aku memang terbiasa berbicara formal di depan kedua orang tuaku ini. Terutama ketika aku sedang diadili seperti ini.


Ibu terlihat bingung.


Lula menundukkan wajahnya lagu. Ia diam. Aku melingkarkan tanganku di pundaknya, berusaha menenangkannya. "Kami sedang berusaha memperbaikinya." ujarku lagi.


"Benar itu, Lula?" ujar Ibu. Lula mengangguk. Ibu kemudian bangkit berdiri dan mendekati Lula. Aku takut Ibu akan menyakitinya. Tapi ternyata dugaanku salah. Ibu mengangkat kedua tangannya dan menghapus air mata Lula dengan kedua ibu jarinya.


"Baik kalau begitu sepertinya kalian harus bicara. Ibu pulang dulu." ujarnya sambil berjalan ke arah pintu keluar. Aku dan Lula hendak berdiri, tapi dicegah Ibu. "Sudah.. Biar Tina yang antar Ibu. Supir Ibu juga sudah nunggu. Lula, kalau ada apa-apa cerita sama Ibu, ya. Jaga kesehatan, ya kalian berdua." Kami mengangguk.


"Bu.." panggilku.


Ibu menoleh.


"Tolong jangan katakan ini sama Bapak." ujarku. Aku tidak takut pada Bapak. Aku hanya tidak ingin membuat Bapak khawatir. Semakin sedikit orang yang tahu mengenai hal ini, semakin baik.


Ibu mengangguk dan berjalan pergi keluar rumah.


.


.


.


Hening.


Sedetik kemudian, Lula bangkit berdiri.


"Makasih.." ujarnya.


"Untuk apa?" ujarku berusaha melihat raut wajahnya.


Ia menggeleng pelan dan mulai berjalan ke arah belakang rumah. Aku mengikutinya.


"Kamu sudah makan?" tanyanya lembut.

__ADS_1


Aku terenyuh. Dia masih mau memperhatikanku.


"Belum." jawabku.


"Aku masakin?" tanyanya.


Aku mengangguk.


Ia berjalan menuju dapur. Tina mengikutinya. Aku juga. Lula berbalik dan berkata, "Tina.. Istirahat aja."


"Tapi, Bu.."


"Sana.." ujar Lula.


Tina menatapku. Aku mengangguk padanya, mengisyaratkannya untuk mengikuti perintah Lula. Tina sudah bekerja pada kami sejak awal pernikahan kami, meskipun baru seminggu ini jadi ART menginap.


Tina pamit pada kami dan segera pergi menuju kamarnya.


"Mau pasta?" tanya Lula sambil membuka kulkas.


"Boleh." jawabku.


Lula mengeluarkan bahan-bahan dan kemudian melemparkan pandangannya ke arahku. "Kamu.. tunggu di ruang kerja aja." ujarnya. Aku menggeleng. Lula tampak keheranan.


Lula fokus memasak sedangkan aku fokus menatapnya. Entah sudah berapa lama aku tidak menatapnya seperti ini. Sangat lama kurasa. Kami jarang menghabiskan waktu bersama, hanya berpapasan di tengah kegiatan kami sehari-hari.


Lula tiba-tiba berbalik mengagetkanku dan meletakkan sebuah piring berisi spaghetti bolognaise di hadapanku.


"Kamu ga makan?" tanyaku.


"Ehmm.." Lula tampak kebingungan mencari alasan.


"Makan. Duduk." ujarku. Ia langsung mengambil satu piring lagi dan duduk di hadapanku.


Kami makan dalam diam. Hanya sesekali terdengar dentingan alat makan kami membentur piring perlahan.


"It's so good." pujiku.


Ia hanya tersenyum. Pada awal pernikahan kami, ia tidak bisa memasak. Meskipun begitu, aku selalu makan masakannya, kecuali jika aku terlalu sibuk hingga tak sempat makan. Ia sepertinya berusaha menjadi istri yang lebih baik. Semakin lama, masakannya semakin enak.


"Kamu belum dinner jam segini?" tanyaku.


"Kamu juga." balasnya.


Aku terkekeh pelan.


Hening lagi.

__ADS_1


"Kamu tinggal dimana?" tanyaku lagi. Parah. Suami macam apa aku ini. Tidak bisa kubayangkan seorang suami tidak tahu dimana istrinya tinggal.


"Ehmm.. Apartemen." Hatiku sakit mendengarnya. Sebenci itukah ia padaku hingga meninggalkan rumah ini? Aku memutuskan untuk tidak bertanya. Aku bisa mencari tahu sendiri. Aku tidak akan memaksanya jika ia tidak mau memberitahuku.


Ia sudah menyelesaikan makanannya. Aku juga. Ia mengambil kedua piring kami dan mencucinya di sink, membelakangiku.


Lula meletakan piring-piring itu di lemari. Ia membalik tubuhnya dan tatapannya bertemu denganku. Ia tampak kaget melihat aku menatapnya. Atau.. mungkinkah ia kaget karena melihatku masih disini? Mengingat aku terlalu sering meninggalkannya sendiri. Sudah berbulan-bulan lamanya kami tidak makan bersama seperti tadi. Pasti aneh baginya.


Ia berjalan menuju ruang tamu, menghindari tatapanku yang sudah seperti elang siap menerkam mangsanya. Jangan salah sangka, aku hanya menatapnya terus-terusan karena aku sudah lama tidak bisa melakukan itu. Aku hanya peduli padanya. Aku ingin tahu apa yang ada di hatinya, pikirannya.


Ia memainkan ponselnya. Tiba-tiba aku tersadar. Aku bangkit berdiri dan berjalan ke arahnya. Aku menarik satu sikunya pelan dan berkata, "Mau kemana?"


"Pulang." ujarnya.


Sakit. Sakit rasanya menganggapku bukan tempat ia pulang.


"Ini rumah kamu." ucapku. Aku menatap wajahnya yang dipoles make-up tipis. Rambutnya yang selalu di blow-dry. Semua hal tentangnya yang sudah seminggu jauh dariku.


Ia menatap mataku, kemudian menggeleng.


"Lula.."


Aku memeluknya dari depan.


"Jangan.." bisikku.


Lula berusaha melepaskan dirinya dari pelukanku. Aku mengambil ponselnya, berusaha membatalkan pesanan taksinya.


Tanganku berhenti ketika aku melihatnya. Ia menangis. Aku kehilangan kata-kata. Aku maju ke arahnya satu langkah, namun ia mundur dengan cepat.


"Oke, kamu boleh ke apartemen. Tapi please, pakai mobil kamu." ujarku berusaha menenangkannya.


Ia menggeleng. Ia mengambil kembali ponselnya yang sedang menggantung di tanganku. Aku membiarkannya. Ia menghapus air matanya dan mengambil tasnya yang berada di sofa ruang tamu dan kemudian berjalan keluar rumah. Dan aku hanya bisa terdiam mematung seperti orang bodoh.


Aku berjalan menuju kamarku ketika suara taksi terdengar menjauh dari rumahku.


Apa-apaan itu tadi? Aku pikir setelah makan bersama, kami sudah baik-baik saja. Tapi kini ia malah meninggalkanku lagi.


Aku mengambil ponselku di nakas. Aku menghubungi salah satu orang kepercayaanku yang juga bekerja untuk Bapak. Namanya Trey.


"Cari dimana Lula." ujarku begitu ia mengangkat telepon. "Jangan beritahu siapapun tentang ini. Terutama Pak Alexander." Trey hanya berkata iya dan kemudian aku memutus telepon. Aku tidak sabar mendengar kabar dari Trey. Meskipun begitu, aku tidak yakin apakah aku harus menghampiri Lula. Ia terlihat begitu.. membenciku.


.


.


.

__ADS_1


Keesokan paginya, aku mengecek ponselku. Ada sebuah pesan dari Trey yang berisi nama apartemen tempat tinggal Lula beserta lantai dan nomor unitnya. Aku mengusap wajahku kasar. Aku memutuskan untuk mandi saja dan pergi ke rumah sakit yang telah menjadi kantorku selama lima tahun belakangan ini.


__ADS_2