Suamiku, Dokter Adrian

Suamiku, Dokter Adrian
Pelarian


__ADS_3

NATHAN'S POV


Aku merenungkan kebodohan-kebodohanku. Mendekati seorang wanita yang sudah menikah. Haha.. Memang apa hal terburuk yang bisa terjadi? Dipukuli oleh suaminya? Ternyata aku lebih gila dan bodoh dari yang kukira. Lihat Lula sekarang.. Ia hancur.. Dan semua itu karena kebodohanku. Apa tidak ada wanita lain di dunia ini??


Aku meninju kaca besar di kamarku.


PRAAANGGG..


Buku-buku jariku mengeluarkan darah segar. Tapi pasti itu tak mengalahkan rasa sakit yang Lula rasakan. Sekarang apa yang harus kulakukan? Memohon pada suaminya agar tidak menceraikannya? Ya, aku rasa aku bisa melakukan itu. Tapi.. Apa bahkan ia sudi untuk bertemu denganku? Bukankah Lula yang menceraikannya? Apa aku harus membujuk Lula agar membatalkan perceraiannya?


Sial. Sial. Sial. Di saat seperti ini pun, masih ada sedikit perasaan senang di hatiku. Senang akan kenyataan bahwa sebentar lagi Lula akan menjadi wanita bebas. Senang bahwa mungkin pada akhirnya, akulah yang akan menang. Aku akan bisa membahagiakannya. Aaaarrrrgggghhh.. Pikiran gila macam apa lagi itu!


.


.


.


Aku Pagi itu aku bangun lebih pagi dari biasanya. Entah apa bisa dibilang begitu, mengingat aku hanya tidur kurang dari satu jam. Kata-kata Lula begitu menusukku. Tidak ada yang dapat kulakukan untuk membuatnya bahagia. Bahkan, kesakitannya disebabkan olehku. Entah bagaimana aku harus melihatnya hari ini. Aku tidak sanggup.


Aku berjalan lunglai melewati kamar Lula. Pintunya sedikit terbuka. Aku mengintip melalui celah yang sempit itu. Lula tidak ada. Aku masuk dan menyadari keadaan kamar sudah sangat rapi. Ada secarik kertas berada di atas tempat tidur. Mataku terbelalak membacanya.


.


.


.


Nathan..


Maaf atas kata-kata saya yang mungkin menyinggung kamu kemarin. Saya harap kamu tidak salah sangka. Saya terlalu emosi. Apapun yang terjadi di dalam hidup saya, itu bukan salah kamu, atau siapapun selain saya sendiri.


Sekarang, saya telah memutuskan bahwa saya akan pergi. Terima kasih atas bantuan yang telah kamu berikan selama ini. Tolong, berikan saya kesempatan untuk melanjutkan hidup saya. Saya berkewajiban untuk mencari ketenangan hidup saya sendiri. Lagipula, saya tidak ingin merepotkan kamu lebih lagi. Selain itu, saya rasa kurang pantas jika saya terus menginap di rumah kamu yang tidak memiliki kewajiban apapun atas saya.


Sekali lagi, terima kasih. Sampai bertemu suatu hari nanti.

__ADS_1


.


.


.


Aku menggenggam kertas itu kuat-kuat. Dia pergi? Begitu saja? Setelah apa yang ia katakan padaku kemarin? Apa ia berpikir aku dapat hidup dengan tenang setelah mengetahui itu semua? Apa katanya? Aku tidak memiliki kewajiban apapun atas dirinya? Setelah apa yang telah kulakukan padanya? Jika saja ia sudah resmi bercerai, aku bahkan sangat rela menikahinya! Aku harus memastikan keadaannya! Akan aku cari sampai ke ujung dunia sekalipun!


"Joe!" teriakku pada supir sekaligus asisten pribadiku.


"Ya, Tuan?" Joe datang terburu-buru.


"Aku butuh bantuanmu untuk melacak seorang perempuan.."


.


.


.


Ah! Mengapa tak terpikir olehku! Aku kan tahu rumah orang tuanya. Aku hanya akan memastikan bahwa ia baik-baik saja dengan mata kepalaku, lalu aku bisa melanjutkan hidupku dengan tenang. Aku setengah berlari menuju Ferarri ku kemudian membawanya melesat di tengah jalanan ibukota.


.


.


.


Sesampainya di rumah orang tua Lula..


Aku menekan bel sekali. Beberapa saat kemudian seorang pelayan membuka pintu.


"Lula ada?" tanyaku.


"Ehm.. Nona Lula.. Sudah beberapa hari ini tidak pulang kesini, Tuan."

__ADS_1


"Oh, baiklah. Terima kasih." Aku pun pergi.


.


.


.


Aku memacu mobilku menuju rumah Adrian. Entah apa yang kupikirkan saat itu. Aku benar-benar harus memastikan keadaan Lula.


Keadaan rumah dalam keadaan sepi. Ada sebuah mobil Range Rover terparkir di depan rumah. Aku ragu sesaat. Tapi akhirnya aku memberanikan diri untuk masuk. Rumah ini sama seperti rumah lainnya di perumahan ini, tidak memiliki pagar. Aku membuka pintu utama yang tak terkunci. Hanya gelap yang kulihat. Ada aroma fermentasi menguar entah darimana. Ruang utama itu begitu luas. Sinar matahari dari kolam renang di belakang rumah menembus ruang utama dan ketika aku mengedarkan pandanganku.. Disitulah aku melihatnya. Di tengah belasan botol minuman keras yang berserakan. Seorang pria terbaring di atas lantai ruang utama. Ia sepertinya hampir kehilangan kesadarannya.


Adrian.


Tubuhnya terkulai tak berdaya. Aku juga baru menyadari bau yang menyengat daritadi adalah bau alkohol. Aku baru saja hendak berbalik dan pergi, ketika ia menoleh ke arahku. Aku tidak bisa melihatnya dengan jelas. Aku hanya tahu ia menatapku. Aku mundur perlahan, tapi suaranya menghentikanku.


"Lula?" Ujarnya serak.


Oke. Aku rasa ia benar-benar mabuk.


Ia terkekeh kecil, masih terbaring tak berdaya di lantai. Sedikit bagian diriku berfirasat bahwa mungkin ia tertawa karena ia tahu aku bukan Lula. Atau mungkin itu pengaruh minuman? Aku tak sanggup melihatnya. Seorang pria yang begitu sempurna.. hancur separah-parahnya. Pasti sakit sekali rasanya kehilangan wanita itu. Apakah aku rela mempertaruhkan kewarasanku untuknya? Bagaimana jika suatu saat ia juga meninggalkanku? Haha.. Siapa yang kubodohi kali ini? Bagaimana bisa ia meninggalkanku jika bahkan ia tak mau bersamaku?


Aku membalik tubuhku cepat. Aku berjalan secepat kilat menuju pintu. Oke. Lula tidak ada. Selesai sudah urusanku disini.


.


.


.


Aku merasa bersalah. Entah pada siapa. Pada Adrian kah? Apa yang harus kulakukan? Apa aku harus menyadarkannya? Memberikannya petuah tentang kehidupan? Jika aku jadi dia, aku tidak akan menginginkan itu. Aku pasti akan menghabisi orang yang menjadi penyebab kehancuran rumah tanggaku.


Dering telepon membuyarkan lamunanku. Joe. Aku yang memang sedang menunggu kabar darinya langsung mengangkat panggilannya.


"Ia naik pesawat pertama ke Bali tadi pagi. Sekarang, orang suruhan saya juga sudah berada di Bali. Sepertinya wanita itu sudah menyewa sebuah villa. Apa yang sebaiknya kami lakukan sekarang, Tuan?" ujar Joe.

__ADS_1


"Biarkan. Biarkan dia. Tapi tetap ikuti kegiatannya. Pastikan dia aman. Laporkan keadaannya setiap hari padaku." ujarku. Aku menutup telepon. Rasa sedih menyeruak kembali. Apa dosaku di masa lalu sehingga aku harus merasakan kepahitan ini? Menyakiti seseorang yang kucintai separah itu. Ia pantas membenciku. Pantas. Dan anehnya, aku tetap menginginkannya. Semakin menginginkannya. Aku tidak bisa berpikir dengan jernih. Aku menatap lemari minuman kerasku. Sepertinya malam ini akan menjadi malam yang panjang. Aku butuh pelarian.


__ADS_2