Suamiku, Dokter Adrian

Suamiku, Dokter Adrian
Kalimat Paling Menyakitkan


__ADS_3

Halo semuaa..


Maaf belum UP belakangan ini karena kesibukan author..


Sekarang author lagi ngetik nih sambil denger lagu galau.. hehe biar mood nulis lagi..


Selamat membaca semuanya ❤


.


.


.


ADRIAN'S POV


Aku mendengar suara pergerakan dari tempat tidur. Suara itu memberikanku petunjuk dimana ia berada di kamar besar ini.


Dia disana. Di atas ranjang, sedang memeluk dirinya sendiri.


Aku menutup pintu kamar dan menekan sakelar lampu yang berada di sebelah pintu.


Saat itulah aku benar-benar melihatnya. Ia tampak.. kacau. Well, pastinya kami tampak kacau. Setelah apa yang terjadi di antara kami. Aku bahkan meninggalkan ruang operasi, hal yang tak pernah kulakukan.


Ia tampak mengenakan setelan berwarna krem, warna kesukaanku. Tapi rambutnya acak-acakan. Matanya sembab. Ia tampak lebih kurus daripada terakhir aku melihatnya.


Hatiku mencelos melihat tatapannya yang kosong menatap ke bawah.


"Lula.." panggilku pelan.


Ia tidak menjawab. Ia hanya mendongakan kepalanya menatapku.


"Aku ingin tahu apa yang membuat kamu.. mau.. bercerai." Aku mengecilkan volume suaraku saat mengucapkan kata terakhir. Aku tidak ingin mertuaku mendengar.


Ia menitikkan air matanya. Entahlah. Atau aku salah lihat? Jarak kami hampir lima meter sekarang. Aku masih terlalu pengecut untuk mendekatinya.


Ia mengatur nafasnya, sepertinya berusaha mengumpulkan kalimat di benaknya.


"Aku akan kasih tahu alasannya, dengan satu syarat." ujarnya dengan volume yang hampir tidak terdengar.


"Apa?"


"Ini terakhir kalinya kita bertemu."


DEG


Aku menggelengkan kepalaku tanpa sadar. Aku berjalan mendekat ke arahnya.


"Apa salahku?" Nadaku meninggi tanpa sadar. Aku dipenuhi emosi.


Lula tidak menghiraukan pertanyaanku. Ia malah balik bertanya, "Kamu setuju?" tanyanya datar.


Suaranya membuyarkan pikiranku. Aku masih tak percaya dengan indra pendengaranku. Lula tidak ingin bertemu denganku lagi? Bagaimana aku bisa percaya. Minggu lalu kami masih baik-baik saja.

__ADS_1


"Apa.. Apa yang membuat kamu seperti ini?"


Alih-alih menjawab, ia malah menangis. Ketika aku hendak merengkuhnya, ia mengangkat tangannya, menolakku. Sakit. Sakit rasanya melihatnya seperti itu.


"Oke, kalau kamu mau bercerai. Tapi.. gimana soal.. anak.." lidahku kelu. Kita! Anak kita, Adrian! Demi Tuhan apa sesulit itu mengucapkan 'anak kita' !


Lula tersenyum kecut. "Anak apa?"


Ia menangis tanpa suara. Air mata terus berjatuhan dari matanya.


"Anak.. kita." ujarku lagi.


"Hmm? Aku keguguran." ujarnya datar.


DEG


Apa lagi ini ya Tuhan?


Jadi.. Lula..


Aku mengingat-ingat pertemuan terakhir kami. Aku tak sengaja mendorongnya. Apa saat itu..?


"Apa aku yang.. menyebabkannya?" ujarku takut-takut.


Ia tersenyum kecut lagi. Sangat ironi jika disandingkan dengan wajahnya yang basah oleh air mata.


"Bukan. Salah aku kok.." ujarnya datar.


"Jadi.. karena itu kamu mau.. bercerai?" tanyaku. Kata-kata terus berhamburan keluar dari mulutku, tanpa aku sadari dan pikirkan sepenuhnya.


"Lalu?"


"Hmm? Aku baru bilang bahwa aku kehilangan bayi kita dan itu yang kamu pedulikan?"


Malam pertengkaran kami minggu lalu berkelebat dalam bayanganku. Kata-kataku pasti membekas di hatinya. Kata-kata yang menegaskan bahwa aku tidak menginginkan anak.


"Soal kata-kataku yang bilang bahwa aku tidak ingin punya anak? Aku berubah pikiran! Oke, Lula? Itu kenapa aku datang ke kantor kamu. Soal kamu pergi dengan pria lain.. Oke. Aku terima. Tapi ini..? Kamu.. Bagaimana bisa kamu mau mengakhiri pernikahan kita?" Aku berusaha menjaga nadaku tetap teratur. Aku tidak ingin menyulut pertengkaran.


Ia menghela nafas dan kemudian berkata, "Apa yang kamu sebut pernikahan, Adrian? Apa? Setiap malam aku nunggu kamu pulang kerja. Kamu selalu sibuk di ruang kerja kamu dan satu-satunya obrolan kita cuma aku nawarin kamu makan dan kamu suruh aku keluar. Itu yang kamu sebut pernikahan?!"


DEG


Seperti ada ribuan jarum yang menusuk jantungku. Aku tidak menyangka aku melukainya seperti ini. Aku mengabaikannya terlalu lama. Aku juga membuatnya kehilangan bayinya, hal yang mungkin paling berharga untuknya. Aku menyakitinya. Aku terlalu menyakitinya hingga aku membenci diriku sendiri.


Ia tidak menunggu jawabanku. Ia berkata dengan lirih, "Aku mohon, Adrian. Aku mohon. Kalau bahkan kita bertemu lagi, please.. bersikaplah seolah kita ga saling kenal."


Cukup! Hentikan!


Aku tidak pernah mendengar kalimat yang lebih menyakitkan daripada yang baru saja kamu ucapkan.


"Apa kamu yakin?" tanyaku tegas. Malah itu yang keluar dari mulutku. Rupanya harga diriku masih terlalu tinggi. Aku berjanji dalam hati. Hanya satu pertanyaan ini. Aku tidak ingin memaksanya.


Ia mengangguk. Buliran air mata jatuh di pipinya. Itu menghancurkanku lebih dari apapun.

__ADS_1


"Oke. Aku janji. Ini terakhir kalinya kita ketemu." ujarku pelan. Aku tidak ingin melihatnya menangis lagi. Aku tidak ingin melihatnya terluka lagi. Meskipun aku harus menjauhinya dan itu menyakiti hatiku.


"Tapi, boleh aku memelukmu untuk yang terakhir?" tanyaku.


Tatapan matanya berubah tajam.


Aku mendekat, memeluknya.


Ia meronta, hendak melepaskan diri.


"Tenang.. Setelah ini.. Aku akan pergi.. Kamu ga akan lihat aku lagi.. Please, biarin aku kaya gini untuk yang terakhir."


Aku menghirup aroma tubuhnya untuk terakhir kali. Aku mengusap rambut dan punggungnya. Aku bahkan mengecup keningnya. Ia semakin sesegukan di pelukanku. Tanpa sadar, aku juga menitikkan air mata. Apa ini akan menjadi akhir kami? Apa aku bisa hidup tanpanya?


Aku melepas pelukanku, menatapnya untuk yang terakhir kali.


"Kamu harus bahagia." bisikku.


Ia masih diam seribu bahasa.


"Aku pamit, ya.." Aku berjalan pelan keluar dari kamarnya. Tak kusangka air mataku jatuh juga, tapi segera kuhapus dengan cepat. Inikah akhirnya?


.


.


.


"Loh? Adrian? Kok sudah mau pergi?" ujar Papa padaku.


"Maaf, Pa, Ma.." aku tertunduk lesu.


"Loh.. Kenapa minta maaf?" tanya Mama.


"Maaf karena selama ini saya bukan menantu yang baik untuk Mama dan Papa."


"Adrian? Apa maksudnya.." Papa dan Mama tampak terkejut.


"Lula dan saya sudah memutuskan untuk bercerai."


"APA ?!" teriak mereka berdua.


"Bukannya Lula sedang..." kata Mama.


Aku menggeleng.


"Siapa yang mau bercerai, Adrian?" Papa tampak sedih dan marah bercampur menjadi satu.


"Saya yang salah, dan saya tidak ingin menyakiti Lula lebih lagi, Pa."


Aku enggan menjawab pertanyaan Papa. Aku tidak ingin Lula ditegur atau semacamnya. Aku hanya ingin mereka tahu bahwa aku yang salah.


Tak lama kemudian, aku pamit. Aku berpesan agar mereka menjaga Lula. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan begitu aku keluar dari tempat ini. Pikiranku kacau. Salahkah aku terlalu mudah menyerah pada keadaan? Apakah aku harus mempertahankan rumah tangga kami? Tidak, tidak. Aku teringat wajah Lula yang menangis tadi. Aku tidak ingin, melihat ia menangis lagi.

__ADS_1


Aku segera menuju kantor pengacaraku untuk memberikan surat cerai yang sudah kutandatangani.


__ADS_2