
"Ibu apa kabar? Sama siapa kesini?" tanyaku.
Tapi Ibu tidak menjawab.. Ia fokus melihat pria di sebelahku.
"Oh.. Ini Ibu habis ada acara sama teman di atas." Matanya tidak berhenti menatap Nathan.
"Oh, Bu.. Perkenalkan ini atasanku, Pak Nathan." Aku tidak ingin membuat Ibu salah sangka.
"Halo, Tante.." Nathan bersalaman dengan Ibu.
"Halo.. Oh ya, Lula.. Ada sesuatu yang mau Ibu bicarakan sama kamu."
"Oh, ada apa, Bu?" tanyaku.
Wajah ibu berubah sendu. Aku tak sampai hati membiarkannya sendiri. Aku berbalik pada Nathan.
"Maaf, sepertinya aku harus menemani Ibu. Kamu.. gapapa, kan?"
Nathan mengangguk. "Gapapa. You should go. Nanti aku call, ya.." Ia kemudian pergi meninggalkan kami berdua.
"Lula, gapapa kok.. Maksud Ibu.. Nanti Ibu bisa ke rumah kamu.. Gapapa kalau sekarang kamu ada urusan lain." Ibu menatapku lembut.
"Nggak, Bu. Tadi aku cuma mau makan siang aja, kok. Sekarang.. Ibu sudah makan? Mau makan?" tanyaku.
Ibu tak menjawab pertanyaanku. Ia mengajakku ke sebuah restoran di dalam mall itu. Kami memilih meja di sudut, keadaan restoran cukup sepi sehingga kami bisa leluasa berbicara.
Kami memesan minuman. Aku tidak berselera makan karena sepertinya Ibu hendak membicarakan sesuatu yang penting. Ibu terus menatapku. Keraguan sangat terbaca dari wajah cantiknya. Meskipun sudah hampir berusia enam puluh tahun, ia masih sangat cantik.
Ibu terus memainkan jari-jarinya, tampak gugup. Aku hampir tidak pernah melihat Ibu seperti ini. Ia adalah wanita yang sangat percaya diri. Aku hanya bisa bertanya-tanya apa yang menyebabkan Ibu seperti ini. Apa yang hendak ia katakan?
"Adrian resign dari pekerjaannya." Ujar Ibu tiba-tiba.
__ADS_1
Aku berhenti mendengarkan setelah Ibu menyebut nama itu.
"Apa, Bu?" Aku mengerjap-ngerjapkan mata, berusaha fokus.
Ibu tampak lebih gugup dari sebelumnya. Ia menyelipkan rambut pirangnya cepat dengan jari-jarinya ke belakang telinga.
"Adrian.. Dia resign." Kali ini Ibu berbicara lebih lambat. Ia menekankan setiap kata yang ia ucapkan.
Mendengar nama itu lagi membuat jantungku berdebar cepat. Entah kenapa. Seperti ada bermacam perasaan yang tertinggal. Cinta kah? Benci kah? Semua itu membuat dadaku sesak.
Aku tidak tahu reaksi apa yang Ibu harapkan dariku. Pertama, aku tidak mengerti kenapa ia resign. Menjadi dokter adalah keinginannya. Panggilan hidupnya. Kedua, kami sudah tidak pernah berkomunikasi selama tujuh bulan terakhir. Meskipun begitu, Adrian masih mengirimiku uang. Aku sama sekali tidak memakainya. Aku berniat untuk mengembalikannya, hanya saja.. aku belum mempunyai nyali untuk itu.
Ibu tampaknya menangkap kebingungan dari wajahku. Ia pasti tahu bahwa kami tidak saling berkomunikasi. Ibu menggenggam tanganku.
"Dia.. Hatinya hancur, La.."
DEG
Ibu menitikkan air mata.
Ia akan sembuh dengan sendirinya, Bu. Seperti aku.
Entah siapa yang kubodohi. Apakah aku sudah sembuh benar? Apakah hatiku sudah tidak berdarah-darah?
"Dia anak Ibu satu-satunya, La.. Meskipun bukan lahir dari rahim Ibu. Seumur hidupnya, Ibu tidak pernah melihat dia sehancur ini." Ibu terisak.
Aku pikir ia akan senang dengan ketidakhadiran aku. Aku pikir ia akan semakin tenggelam dalam pekerjaannya. Aku pikir.. Ia akan lebih bahagia daripada sebelumnya.
"Aku tidak bisa berbuat apa-apa, Bu.. Mungkin.. Ia membutuhkan lebih sedikit waktu lagi untuk.."
Ibu menggeleng kuat. Aku menyodorkan tisu kepadanya, yang ia ambil untuk menghapus air matanya.
"Ibu mana yang tega, La.. Melihat dia seperti itu.. Sudah lebih dari setengah tahun seperti itu.. Tolong temui dia, La.."
__ADS_1
Aku mengatur nafas, menahan tangis. Aku tidak tega melihat Ibu seperti ini.
"Aku tidak bisa.."
"Semua pelayan Ibu pergi meninggalkan rumah itu, La.. Mereka ketakutan. Ibu sudah berjanji pada Adrian agar tidak memberitahukan ini pada kamu. Ibu hanya berpikir.. bahwa kamu satu satunya orang yang dapat membuat ia bangkit. Ibu bahkan tidak memberitahukan dia tentang kematian Papa kamu. Ibu takut, La.. Ibu takut dia melakukan hal yang ekstrim. Ibu takut dia berniat untuk.. mengakhiri hidupnya.." Suara Ibu berubah pelan di akhir kalimat.
"Tidak bisakah kamu melupakan semua keburukannya, La? Sekali ini saja Ibu mohon padamu.." Ibu hendak turun dari bangku dan berlutut di hadapanku, tapi kucegah.
"Bu.. Bagaimana kalau dia tidak ingin bertemu denganku?" Aku mengusap ujung mataku sebelum air mata jatuh.
"Setidaknya.. Kamu sudah mencoba, bukan? Kalau memang itu yang terjadi.. Biarlah itu menjadi penderitaan Ibu selama sisa hidup Ibu."
Aku menggenggam tangan Ibu kuat. Aku tidak bisa berkata-kata.
"Adrian pasti marah besar kalau tahu Ibu cerita ini.. Tapi.. Kamu tahu kan Ibu dan Bapak mengadopsi dia pada saat usianya lima tahun?"
Aku mengangguk.
"Ibu kandung Adrian.. adalah seorang prostitusi. Bisakah kamu membayangkan itu? Anak laki-lakiku satu-satunya.. Begitu menderita dalam tahun-tahun pertama kehidupannya. Ketika orang-orang menemukannya.. Ia dalam keadaan.. sangat mengenaskan. Gizi buruk, rumah itu benar-benar kotor dan.." Ibu menggeleng tak percaya. Ia masih terisak.
"Para tetangga menemukan Adrian.. yang berusia lima tahun itu.. sendirian di tempat seperti itu. Dan Ibunya.. sudah meninggal karena overdosis di sampingnya. Ketika dokter memeriksa, rupanya sudah berhari-hari Ibunya meninggal. Sedangkan Adrian yang masih kecil itu.. tidak tahu apa yang terjadi pada Ibunya. Tidak tahu kenapa Ibunya tidak bangun saat ia memanggilnya. Kami menemukan banyak lebam di tubuh Adrian kecil. Jangankan untuk diganti popoknya, untuk makan saja.. Menurut dokter, Adrian jarang diberi makan. Apa itu yang dilakukan seorang Ibu pada anaknya?" Mata Ibu berkilat marah.
Ini tidak nyata kan? Bagaimana mungkin.. aku tidak tahu? Bagaimana mungkin Adrian selalu menutup rapat masa lalunya di hadapanku?
"Setiap hari dalam hidupku, aku berdoa dan bersyukur perempuan itu mati. Aku bersyukur Adrian kutemukan di Panti Asuhan. Aku yakin perempuan itu yang memukuli Adrian seperti itu.. Dan entah berapa banyak laki-laki.."
Aku mengerjap-ngerjapkan mataku yang kabur karena air mata. Aku tidak pernah mengetahui fakta ini. Aku tidak menyangka.. pria yang dingin seperti dia ternyata memiliki masa lalu yang sekelam ini.
"Ibu tidak ingin.. Adrian hancur. Ibu tidak membesarkan dia untuk itu, La.." Ibu tersenyum dalam kepedihannya. Aku heran kenapa ia tidak membenciku karena telah menceraikan kesayangannya.
Aku tersadar dan kemudian bangkit berdiri. "Terima kasih, Bu, telah menceritakan semua itu padaku. Aku akan ke rumah Adrian sekarang."
Aku tidak akan membiarkan ia hancur. Aku akan membuatnya bangkit kembali. Ia harus kembali seperti sediakala.
__ADS_1
BERSAMBUNG..